
"mas El kita mau kemana? Katanya tadi pulang kenapa malah belok kiri." Yana mengernyitkan keningnya. Suaminya sedari tadi tak mengajaknya bicara.
"Jangan pernah berteman dengan istrinya Rey." Gabriel tak menjawab perkataan istrinya. Ia malah berbicara dengan topik yang berbeda dari pertanyaan Yana.
Yana berbalik menatap Gabriel yang masih fokus dengan kemudinya. Makin bingung ia di buat dengan ucapan sang suami.
"Mba nata?" Tanya Yana memastikan. Ia tak butuh lagi jawaban pertanyaan awalnya.
Gabriel mengangguk, mimik wajahnya datar.
"Kenapa? Mba nata ada salah sama kita?"
"Kalau aku bilang nggak boleh yah nggak boleh." Gabriel menoleh ke arah istrinya yang menatapnya dengan serius.
"Tapikan harus ada alasannya. Mas El nggak bisa begitu aja melarang aku menjauhi mba nata. Apalagi kan mba nata kakak iparnya mas El."
"Kalau aku bilang nggak boleh, nggak boleh Yana. Kamu bisa nggak sih sekali aja dengar apa yang aku kasih tau ke kamu." Bentak Gabriel membuat nyali Yana menciut.
Mata Yana berkaca-kaca mendengar bentakan dari suaminya. Mendengar bentakan dari Gabriel membuat ia diam seribu bahasa. Entah dimana letak kesalahan istri dari kakak suaminya sampai Gabriel melarangnya berteman dengannya. Ia ingin mendengar penjelasan alasan suaminya melarangnya. Bukannya bentakan.
Yana memperbaiki duduknya dengan lurus menghadap ke depan. Tetapi, tatapannya mengarah luar jendela melihat jalanan.
Gabriel yang menyadari kesalahannya merutuki dirinya karna berani membentak wanita yang mengisi hatinya begitu cepat.
"Maaf, bukan maksud aku melakukan itu." Gabriel benar-benar menyesal sudah membentak istri kecilnya.
Yana menangis, awal pernikahan yang terpaksa itu gabriel tak pernah membentaknya padahal suaminya cuek padanya. Sekarang, pria di sampingnya membentaknya dengan alasan yang tak ia ketahui.
"Maaf."
Yana tak merespon apapun. Tatapan matanya tetap mengarah keluar menatap jalan yang ia lewati.
Gabriel meminggirkan mobilnya. Tangannya menarik Yana masuk ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanitanya. Kesalahan itu tak ingin ia lakukan lagi. Istrinya semakin menangis sejadi-jadinya.
"Maaf."
Yana melerai pelukannya. Matanya menatap mata Gabriel yang merasa bersalah.
Gabriel menghapus air mata istrinya. "Maafin aku. Aku melarang mu dekat dia karna ada alasannya. Aku belum bisa mengatakannya sekarang." Gabriel menjelaskan walaupun itu belum seutuhnya setidaknya bisa membuat istrinya mendengarkan kata-katanya.
Yana hanya mengangguk. Ia sebenarnya penasaran, tetapi tak ingin memaksa suaminya untuk jujur.
"Kita mau kemana?" Tanya Yana balik dari pembahasan awalnya.
"Temenin aku ketemu dengan klien."
Yana mengangguk dan tersenyum. Tangisnya sudah reda, bekas air matanya juga sudah hilang karna di usap oleh jari gabriel. Walaupun tadi sempat merasa sedih, dengan cepat hatinya berubah menjadi senang saat mendengar suaminya mengajak dirinya bertemu dengan klien pria itu.
Sebelum Gabriel menjalankan mobilnya, ia menyempatkan diri untuk mengecup kening Yana dan bergantian mengecup bibir istrinya dengan singkat.
*****
"Mama." Teriak anak kecil berlari dan memeluk paha Yana yang sedang duduk di salah satu kursi dalam restoran tempat janji temu suaminya dengan klien.
__ADS_1
Gabriel naik pitam melihat anak kecil yang dengan lancangnya memeluk kaki istrinya. Tangannya menarik anak kecil yang pernah ia temui saat belanja bulanan pertama kali bersama Yana.
"Om kenapa narik tangan Rio. Rio mau meluk mama." Rio memberontak di genggaman Gabriel.
"Dia bukan mama kamu. Wanita itu istri saya." Gabriel menunjuk Yana.
"Mas, jangan kek gitu. Lepasin tangan Rio."
"Om, tangan Rio sakit. Nanti Rio aduin om ke papa." Mata Rio berkaca-kaca merasakan tangannya sakit karna genggaman tangan Gabriel begitu kuat.
"Aduin sana, saya tidak takut sama papa kamu." Kesal Gabriel, tangannya melepaskan tangan kecil Rio.
"Mas, jangan kasar-kasar sama anak kecil, ih. Kan bisa di kasih tau baik-baik." Kesal Yana melihat suaminya yang terlihat berlebihan menanggapi anak kecil yang memanggilnya mama.
Rio berlari memeluk Yana dan menangis kencang. "Mama, om itu jahat sama Rio." Tangan kecilnya menunjuk kearah Gabriel yang menatapnya jengah.
"Tuhkan mas, kita jadi bahan tontonan orang-orang."
"Anak itu menyebalkan. Merusak suasana." Kesal Gabriel melihat Rio berada di pelukan istrinya.
"Ma, bukan Rio yang salah, tapi om itu yang mulai duluan liat tangan Rio merah karna dia." Rio menunjuk Gabriel dengan mata yang masih berair. "Ma, kita lapor papa yah." Lanjut Rio.
'anak yang menyusahkan, meluk-meluk istri saya dengan kek gitu. Yana kenapa harus membalas pelukan bocah ingusan itu.' batin Gabriel dengan hati yang panas melihat adegan mesra di hadapannya.
"Jangan nangis lagi yah, nanti gantengnya hilang lho. Rio kan pintar. Nanti kakak obatin tangan Rio yah."
Gabriel mendengus sebal. Telinganya gatal mendengar ucapan istrinya.
"Mama pukul om itu, dia udah nyakitin aku."
"Yang ada saya duluan mukul kamu bocah ingusan."
"Mas." Peringat Yana. "Rio masih kecil lho kenapa mas kek gitu."
"Dia yang mulai." Gabriel melirik kesana kemari untuk menjauhkan tatapan matanya pada bocah yang dengan berani memeluk istrinya. Emosi masih menguasai hatinya.
"Rio." Panggil seorang laki-laki. Kakinya menghampiri anaknya yang sedang memeluk seorang perempuan bercadar seperti mendiang istrinya.
Yana, Gabriel dan Rio memalingkan wajahnya kearah sumber suara. Gabriel semakin di buat emosi saat melihat pria yang mendekat memperlihatkan senyuman manisnya.
"Papa." Rio berlari ke arah pria yang di sebut papa. Tangan kecilnya memeluk kaki papanya dengan erat di barengi dengan tangisan kecil. Dengan tingkah Rio yang seperti itu membuat para pengunjung makin penasaran dengan apa yang terjadi.
Gabriel menatap Rio dengan santai, tak merasa bersalah sedikitpun dengan perbuatan yang ia lakukan pada anak kecil itu.
Pria itu membawa Rio ke dalam gendongannya. Jari telunjuknya menghapus sisa air mata yang jatuh di pipi anak semata wayangnya.
"Boy, kenapa menangis?" Tanya Anjas pada anaknya.
Rio menunjuk Gabriel. "Om itu menyakiti Rio, dia juga menjauhkan Rio dari mama. Om itu melarang Rio bertemu sama mama." Rio menatap Gabriel dengan tatapan kesal. Seakan memancarkan aura permusuhan di dalam matanya.
Yana menatap Gabriel yang terlihat santai. Ia merasa tak enak hati dengan perbuatan suaminya. Hal yang seharusnya di bicarakan baik-baik malah membuat situasi menjadi sulit.
"Saya minta maaf atas apa yang di lakukan suami saya. Lain kali ini tak akan terjadi lagi." Yana berucap dengan penuh penyesalan dengan ulah suaminya.
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf, Kitakan nggak salah." Gabriel menatap Yana dengan kesal.
"Mas, Rio masih kecil pakai kekerasan tak baik untuk otaknya, kan bisa di bicarain baik-baik." Yana berucap lembut takut menyinggung perasaan suaminya.
"Tapi, bocah ingusan itu sudah lancang meluk kamu."
"Mas, namanya Rio. Jangan asal mengganti nama orang lain. Nama juga adalah doa." Suara Yana makin lirih. Tapi, masih di dengar Gabriel dan juga Anjas.
"Sudah, jangan berdebat lagi. Saya yang seharusnya meminta maaf pada kalian. Nanti saya akan mengajari anak saya untuk tak memanggil anda mama lagi. Saya minta maaf sekali lagi." Anjas tersenyum, ia merasa kagum dengan wanita bercadar di hadapannya.
Yana mengangguk. Dirinya sangat memaklumi yang di lakukan Rio padanya. Pasti anak kecil di pelukan papanya masih merasa kehilangan.
"Rio, minta maaf sama mereka yah. Jangan memanggil Tante." Anjas menatap Yana untuk mengetahui nama wanita itu.
"Yana."
"Jangan memanggil Tante Yana dengan sebutan mama lagi. Dan juga minta maaf sama om." Ucapannya tergantung lagi dan matanya bergantian menatap ke arah Gabriel.
Gabriel hanya diam tak peduli dengan ucapan pria itu. Hatinya masih kesal melihat tatapan papa Rio yang menatap kagum istrinya.
"Nama suami saya Gabriel." Yana menjawab cepat karna tak ada respon dari suaminya.
Anjas mengangguk mendengar Yana dengan gamblangnya memperkenalkan pria di hadapannya sebagai suami, tanpa tau kalau dia harus tau diri untuk tak mengagumi wanita itu.
"Rio, sekarang minta maaf sama Tante Yana dan juga om Gabriel."
Rio terlihat enggan melakukannya.
"Mama Rio minta maaf yah. Om jahat Rio minta maaf." Pada akhirnya Rio meminta maaf.
Ucapan Rio membuat Gabriel naik pitam. Yana dengan cepat memegang tangan Gabriel dan menggelengkan kepalanya untuk menghalangi Gabriel yang ingin protes.
"Rio minta maaf dengan benar." Anjas memarahi anaknya.
"Nggak apa-apa, jangan di paksa. Saya dan suami saya nggak apa-apa."
Anjas merasa tak enak hati karna sudah mengganggu pasangan suami-istri di hadapannya.
"Sekali lagi saya minta maaf karna anak saya sudah mengganggu waktu kalian."
"Kalau sudah tau lo mengganggu harusnya tadi sudah pergi dari sini, tak usah banyak omong."
"Mas." Peringat Yana karna mendengar ucapan suaminya yang kasar.
Anjas sangat mengerti dengan keadaan. "Kalau begitu saya pamit dulu."
Yana hanya mengangguk menanggapi ucapan Anjas.
******
Maaf yah kalau membuat kalian menunggu. beberapa hari ini othor benar-benar drop. kondisi belum fit bener, tapi harus tetap up..
sekali lagi maaf yah. othor nggak janji, tapi nanti di usahain untuk up tiap hari.. doain othor cepat pulih yah..
__ADS_1