TERPAKSA MENIKAHI MU

TERPAKSA MENIKAHI MU
TM : Part - 29


__ADS_3

"Nata tolong kamu telpon Yana kesini yah. Hari ini mama mau acarain keberhasilan kamu masuk di universitas yang kamu inginkan." Mama iren menyiapkan semua makanan untuk membuat syukuran kecil-kecilan. 2 hari lagi nata masuk kuliah kedokteran sesuai keinginannya.


Sekecil apapun prestasi yang di raih oleh nata, mama iren merasa bangga. Karna tak semua orang bisa meraih itu.


"Iya ma, nata ambil hp dulu di kamar." Nata tersenyum bahagia, mertuanya sangat baik padanya.


Mama iren mengangguk dan membalas senyuman menantunya.


Nata mulai berjalan menuju kamarnya.


"Jangan lari-lari, kamu baru saja sembuh." Teriak mama iren mengingatkan nata yang akan berlari.


Nata terkesiap mendengar teriakkan mama iren. Ia berbalik menatap mama iren dan terkekeh.


"Nata nggak lari, ma."


Setelah mengucapkan itu, nata melanjutkan jalannya dengan hati berbunga-bunga. Ia sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga kaya raya yang tak memandang statusnya.


Nata membuka pintu dengan pelan dan berjalan masuk ke dalam menuju meja riasnya. Jari-jarinya dengan cepat mencari nama Yana di kontaknya.


Tiga kali ia menelpon Yana tak ada respon pada telponnya. Telpon yang keempat kalinya malah di tolak, membuat ia bingung kenapa adik iparnya menolak panggilannya. Nata kembali menelpon Yana sekali lagi. Tetapi, tetap sama malah di tolak.


Nata berjalan keluar dengan heran. Apa dia punya salah sampai adik iparnya sampai menolak panggilan darinya. Padahal di chat mereka baik-baik saja, bahkan Yana dengan sopan mengajari dirinya soal agama.


Nata menepuk jidatnya. Ia lupa jika Yana orang yang sibuk, seorang arsitek pasti akan membuatnya kewalahan atau bisa saja dia ada klien.


"Aduh, mba Yana maaf kalau aku mengganggu." Monolog nata memukul-mukul jidatnya.


"Mba Yana kan banyak kerjaan makanya telpon aku nggak di angkat, harusnya aku ngechat dulu sebelum nelpon dia." Monolognya lagi masih dengan memukul jidatnya merasa bodoh.


Tangan nata di tahan oleh seseorang saat ia lagi-lagi ingin memukul jidatnya.


"Sampai kapan mau memukul jidat seperti itu? Jangan menyakiti diri sendiri." Ucap Rey yang menahan tangan istrinya menyakiti dirinya sendiri.


Nata menggigit bibirnya merasa malu karna di lihat oleh suaminya.


Nata menggeleng. "Aku mukulnya pelan kok mas." Elak nata.


"Kenapa harus mukul-mukul begitu? Kamu ada masalah?" Tanya


Nata menggeleng. "Nggak ada kok mas." Yana menjawab dengan cepat.


"Terus kenapa seperti itu."


Nata malah nyengir. "Nggak ada. Oiya mas, aku kedapur dulu yah, mama pasti udah nungguin aku."


Rey mengangguk mengiyakan. Ia tak berangkat kerja karna di larang oleh mamanya, yang katanya akan di adakan syukuran untuk istrinya.


"Ma, mba Yana lagi sibuk kayaknya, telpon aku nggak di angkat." Ucap nata saat berada di dapur.

__ADS_1


"Oiya, nanti mama nelpon Gabriel aja."


Nata mengangguk dan kembali mengerjakan kerjaannya.


******


Yana cemberut dengan kelakuan suaminya yang sudah seenaknya mematikan ponselnya saat melihat siapa yang menelpon. Bisa saja itu hal penting tetapi suaminya begitu kekeh tak ingin mengangkatnya.


"Mas El kenapa harus di matiin sih, siapa tau ada yang penting." Ucap Yana sekesian kalinya mengatakan itu. Gabriel bahkan tak merespon dirinya yang terus menerus mengulang kata-katanya.


"Mas, sekali aja aku ngomong sama dia. Bentar lagi dia masuk kuliah lho ma, aku mau ngucapin selamat aja."


"Mas, kerjaan aku kan sudah selesai. Berikan ponsel ku, aku mau nelpon mami, pas pergi tadi kita nggak pamit sama mami."


Yana menghampiri suaminya di meja kerjanya. Ia beneran ingin menelpon sang mami karna pergi tanpa pamit, Gabriel dapat masalah soal pembangunan hotelnya. Makanya ia pergi terburu-buru dari rumah orang tuanya, yang sudah 2 hari ia nginap disana karna Yana merindukan mami papinya. Mandipun tak sempat ia lakukan karna suaminya yang keluar dengan cepat.


"Mau ngapain?" Tanya Gabriel menatap tangan istrinya yang dengan berani memeriksa saku jasnya.


"Ngambil hp mas, sampai kapan mas El nyita hp aku?" Yana menatap sebel suaminya.


Gabriel memberikan ponselnya kenapa Yana. Bukan ia tak percaya dengan istrinya lakukan, tetapi lebih berhati-hati jika saja istri kakaknya kembali menghubunginya.


"Kenapa ponsel mas El yang di kasih ke aku? Kenapa bukan ponsel aku aja?"


"Pake aja itu, sama-sama ponselkan." Gabriel tak merespon protesan istrinya.


Yana menatap bingung Gabriel yang terlihat santai memberikan ponselnya pada dirinya.


"Hmm." Dehem Gabriel.


Yana menyalakan ponsel suaminya membuat ia terkejut melihat wallpaper layar Gabriel adalah fotonya tanpa cadar membuatnya tersipu malu.


"Mas El kapan ngambil foto aku yang ini?" Tanya Yana malu-malu karna merasa bahagia suaminya ternyata memotretnya tanpa sepengetahuan dirinya.


"Udah lama." Jawab Gabriel acuh, ia tetap sibuk dengan leptop dan berkas miliknya.


"Sandi ponsel mas berapa?" Yana kembali bertanya.


"Tanggal lahir kamu."


"Ha?" Yana kembali di buat terkejut dengan pernyataan suaminya yang menjadikan tanggal lahirnya sebagai sandi di ponsel laki-laki itu.


"290920."


Yana mengangguk pelan dan memasukkan tanggal lahirnya. Ternyata benar, suaminya tak main-main. Saat masuk ke layar utama kembali ia melihat foto dirinya dengan gaya berbeda masih tak menggunakan cadar. Yana hanya senyum-senyum sendiri, tak ingin bertanya lagi pada Gabriel untuk kejutan istimewanya ini. Tanpa di suruh suaminya sudah melakukannya sendiri.


Yana mencari kontak maminya, belum juga ia memencet nomor maminya. Ponsel Gabriel lebih dulu berbunyi, melihat nama 'mama' tertera di layar ponsel itu.


"Mas, mama nelpon." Ucap Yana memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.

__ADS_1


"Angkat aja."


"Mas aja yang angkat, siapa tau ada hal penting." Yana ragu mengangkat telpon dari mama mertuanya.


"Angkat aja, kamu yang ngomong." Titah Gabriel kembali. Membuat Yana mengangkat telpon itu dan menspeaker agar suaminya mendengar yang dikatakan mama iren.


"Halo, assalamu'alaikum." Sapa Yana memberi salam ke mertuanya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mama iren dengan lembut. "Kamu sama El sayang?" Lanjut mama iren.


"Iya ma, mama mau ngomong sama mas El?" Yana bicara hati-hati.


"Nggak kok sayang. Tadi nata nelpon kamu kenapa nggak di angkat?" Mama iren membahas soal telepon dari iparnya membuat Yana kalang kabut harus menjawab apa.


Gabriel yang mendengar pertanyaan mama iren dengan cepat mengambil alih telpon dari genggaman istrinya.


"El yang memegang hp Yana, tadi sibuk makanya nggak bisa angkat." Ucap Gabriel dengan santai. Yana melihat suaminya yang berbohong.


Tangan Yana dengan cepat memukul lengan Gabriel. Ia mendelik tak suka karna suaminya berbohong. Ia tak ingin melakukan kebohongan yang bisa merugikan dirinya.


"Oh, kalau gitu pulang kerja ke rumah mama, nanti malam kita akan buat acara kecil-kecilan untuk nata yang lusa sudah masuk kuliah." Ucap mama iren.


"Hmm." Dehem Gabriel.


"Jangan sampai lupa."


"Hmm."


"Salam sama Yana yah."


"Hmm."


"Hmm Mulu, nggak ada kata lain apa." Protes mama iren mendengar jawaban anaknya.


"Iya ma."


"Ah sama saja, ya sudah mama matiin, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Yana dan Gabriel berbarengan.


Setelah telpon mati Gabriel menatap istrinya yang menatap dirinya tajam.


"Kenapa?" Tanya Gabriel mengernyitkan dahinya.


"Mas kenapa bohong sama mama?" Tanya Yana bersedakap dada.


"Nggak usah di bahas." Elak Gabriel kembali fokus ke pekerjaannya.


"Tapi, mas bohong." Lirih Yana.

__ADS_1


"Nanti nggak bakal bohong lagi."


Yana hanya mengangguk merespon ucapan suaminya. Ia menatap berkas di depannya. Ia harus membantu suaminya menyelesaikan beberapa laporan yang bermasalah. Bahkan sekretaris dan asisten suaminya begitu sibuk.


__ADS_2