
Gabriel berusaha melepaskan tangannya di bantu oleh Tasya.
"Apa-apaan sih lo. Lo nggak liat kalau ada pacarnya disini?" Gertak Tasya pada Esya. Tangisnya sudah mereda saat melihat Esya datang.
"Kayaknya seru deh drama kali ini. Apalagi kalau ada Yana, makin seru." Ledek Rey. Ia sungguh senang melihat pertikaian cinta segiempat ini.
"Eh, tunggu kayaknya aku pernah liat kamu deh. Tapi dimana yah." Esya berpikir sambil memandang wajah Tasya yang terlihat familiar.
"Dia model dari agensi SR Wan." Celetuk Rey terus berdiri di tempatnya. Tak berniat untuk beranjak dari sana.
Gabriel dengan kencang melepas pegangan tangan Esya. Ia tak peduli lagi jika harus menyakiti wanita yang pernah hadir di hidupnya.
"Auh. Gabriel kamu nyakitin aku." Ringis Esya dengan manja. Dulu jika ia sakit sedikit saja Gabriel akan sangat perhatian padanya, sekarang malah pria itu yang menyakitinya. Membuat hatinya jengkel setengah mati.
Niatnya kembali ke kota ini untuk kembali pada mantan kekasihnya malah di luar dugaan. Ternyata Gabriel telah memiliki istri, bahkan selingkuh dari istrinya. Jika seperti itu mungkin ia punya kesempatan merebut kembali Gabriel.
"Gue nggak peduli." Ketus Gabriel berjalan melewati Esya. Tapi, ia kembali di buat kesal karna tangannya kembali di tahan.
Gabriel berhadapan dengan Rey. Mereka berdua adu pandang.
'Kenapa lagi sih aku di tahan.' Gabriel membatin dengan kesal. Geram juga berlama-lama dihadapan para wanita munafik ini.
"By, tunggu aku."
Gabriel menghela napas. Itu tak luput dari penglihatan Rey dan membuatnya terkekeh karna adiknya terlihat frustasi menghadapi dua wanita.
Rey maju selangkah wajahnya mendekat ke arah telinga Gabriel.
"Jika kau tak sanggup menghadapi para wanitamu. Berikan aku istrimu, aku janji akan menjaganya, akan membahagiakannya." Bisik Rey dengan enteng. Wajah Rey mundur dan melihat wajah Gabriel yang di penuhi emosi. Rahang Gabriel mengeras, tangannya pun mengepal dengan kuat.
Gabriel menarik tangannya dengan keras membuat Tasya hampir jatuh.
Gabriel memegang kerah baju Rey. "Kenapa sekarang lo malah ingin membahagiakannya setelah lo ngecewain dia saat pernikahan kalian? Apa lo gila, ha. Lo nyakitin dia, dan sekarang lo mau ngambil dia. Dalam mimpi lo pun nggak bakal gue biarkan itu terjadi. Satu lagi jangan pernah sentuh istri gue." Gabriel berucap dengan penuh emosi. Rahangnya makin mengeras melihat wajah Rey yang terlihat santai.
Gabriel melepas kerah baju Rey dengan keras membuat kakaknya mundur.
Rey terkekeh. "kalau masih bisa aku raih, kenapa harus memikirkan yang dulu-dulu." Ujar Rey santai. "Oiya satu lagi, kamu nggak usah jemput Yana di rumah sakit, biarkan aku yang mengantarnya pulang." Lanjut Rey menyeringai.
"Jangan sentuh istri gue, baj*ngan." Teriak Gabriel lantang.
Bugh.
Bogem mentah Rey dapatkan dari Gabriel.
"Ini untuk lo yang sudah mengecewakan istri gue."
Bugh.
__ADS_1
Gabriel kembali melayangkan bogeman pada pipi kiri Rey.
"Dan ini untuk lo yang sudah berpikiran ingin mengambil Yana dari gue. Gue ingatin jangan pernah nyentuh istri gue. Karna gue nggak bakal ngelepasin Yana sampai kapanpun."
Gabriel beranjak dari sana setelah memukul dua kali pada kakaknya.
"By, tunggu." Teriak Tasya ingin mengejar Gabriel. Malah lengannya di tahan oleh Rey.
"Mau kemana? Percuma kau mengejarnya." Rey terkekeh dan pergi dari hadapan dua wanita yang wajahnya terlihat kesal dan masam.
Tasya berbalik menatap Esya yang juga menatapnya. Esya melipat tangan di depan dadanya. Wajahnya terlihat mengejek Tasya.
"Cih, lo bahkan di acuhkan sama Gabriel. Padahal kalian pasangan kekasih." Esya tersenyum pongah menatap Tasya yang kesal.
"Jadi menurut lho, lo yang bakal di pilih Gabriel?" Tasya menantang Esya.
"Pastinya. Gue tau Gabriel masih cinta sama gue. Lo itu pasti cuman di jadiin pelampiasan. Liat aja bahkan Gabriel dengan begitu cepatnya mencampakkan lo." Esya tertawa remeh.
'dasar wanita gatal. apa bedanya dia sama wanita bercadar yang sok suci itu.' batin Tasya dengan kesal. Saingannya a muncul lagi satu.
Tasya menghentakkan kakinya karna kalah telak dengan ucapan Esya. Ia berjalan meninggalkan Esya yang masih menertawainya. Hatinya jengkel bukan main di permalukan oleh kekasih dan mantan kekasihnya. Mau taro dimana harga dirinya ini setelah ia di permalukan kekasihnya sendiri.
"Apa kau puas?" Tanya izan pada Rey yang masih terus terkekeh melihat Esya yang tertawa.
Rey mengangguk. "Mereka bertiga sangat lucu. Percintaannya sungguh rumit."
"Apa aku sejahat itu dimata mu? Aku hanya terhibur melihat itu."
Izan menggelengkan kepalanya.
*
Setelah terbebas dari dua perempuan yang membuat Gabriel jengah. Kakinya dengan cepat melangkah menuju mobil. Hatinya bergemuruh saat kakaknya dengan blak-blakan mengucapkan ingin mengambil istrinya. Setelah apa yang ia lakukan pada istrinya kenapa dengan entengnya mulutnya mengeluarkan kata-kata menjijikan itu.
Gabriel akhirnya sampai di rumah sakit. Dengan tergesa-gesa Gabriel menyusuri lorong untuk ke kamar yang ia tuju. Gabriel membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Yana memakaikan nata jilbab sederhana miliknya. Itu permintaan dari nata yang ingin memakai jilbab secara perlahan.
"Ma sha Allah, mba nata cantik banget pakai jilbab seperti ini." Puji Yana dengan binar di matanya.
Nata tersenyum malu mendengar pujian adik iparnya. Ia penasaran gimana bentuk wajahnya setelah memakai jilbab.
"Makasih mba Yana sudah mau membantu nata memakai jilbab." Nata berucap lirih.
Yana mengangguk. "Aku malah senang melihat kamu mau memakai jilbab."
Yana dan nata bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupnya. Bagaimana keseharian mereka yang hidup dengan keadaan terbalik tapi begitu menikmati semua keadaannya.
__ADS_1
Perhatian Yana dan nata teralihkan karna terdengar suara pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu, sungguh tak sopan. Yana dengan cepat menarik turun cadar yang ia kenakan yang tak ia lepas.
Yana bernapas lega karna yang datang adalah suaminya. Matanya menatap bingung Gabriel yang ekspresi wajahnya terlihat masam. Tak seperti biasanya yang selalu datar jika ada orang lain bersama mereka.
"Ayok pulang." Tanpa ba-bi-bu Gabriel dengan tegas mengatakan kalimat singkat itu di depan istrinya.
Yana mengangkat alisnya bingung dengan tingkah suaminya yang sulit di tebak.
"Kenapa?" Tanya Yana.
"Bukannya pamit mau ke rumah mami!"
Yana mengangguk membenarkan ucapan suaminya. "Tadi mau kesana. Tapi, mama nelpon buat nemenin mba nata disini, makanya aku ada disini sekarang."
"Ayok pulang." Ajak Gabriel sambil menarik tangan Yana untuk ia bawa keluar dari kamar kakak iparnya.
"Tunggu mama kesini dulu, setelah itu kita pulang." Yana bernegosiasi pada suaminya agar menunggu sebentar lagi.
"Ada suster yang bakal datang nemenin dia."
"Mas El.."
Nata memegang tangan Yana. Matanya mengisyaratkan pada Yana untuk ikut pada suaminya. Ia merasa tak enak hati harus menahan Yana disaat suaminya sudah menyuruhnya pulang.
"Sudah, jangan membantah, ikut aja sama suami kamu. Aku nggak apa-apa disini sendiri." Nata berucap lembut. Perasaan tak enak hati menyelimutinya.
"Tapi, mba nata nanti sendiri."
"Nggak apa-apa, bentar lagi suster datang kesini. Pulang gih."
Dengan berat hati Yana mengangguk mengiyakan keinginan nata. Ia mendelik saat melihat Gabriel yang terlihat datar.
"Mas aneh tau nggak, tiba-tiba datang nyuruh pulang." Kesal Yana saat sudah berada di koridor.
"Salah kalau aku datang ngejemput istri?"
Yana gelagapan dengan jawaban dari suaminya. "Yah-yah nggak sih. Tapi, kan aku harus sebentar lho disini nemenin mba nata. Kasian dia sendiri, kalau butuh pertolongan dia harus ngelakuin sendirian."
"Kamu nggak ada bilang sama aku mau kesini."
"Yah, terus mas tau darimana aku datang kesini?" Yana menghentikan langkahnya dan beralih menatap Gabriel dengan tatapan mencurigakan. "Mas El mata-matain aku yah? Mas El nggak percaya sama aku?" Lanjut Yana masih menatap suaminya.
Gabriel menghela napas sebentar, perasaannya kembali bergejolak saa mengingat perkataan Rey yang menginginkan istrinya. "Rey yang ngasih tau aku kalau kamu ada disini."
Yana mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya diikuti oleh Gabriel di dekatnya.
maaf yah kalau othor lama ngeup ceritanya. othor lama karna ada masalah, terus habis sakit juga. maaf yah sekali lagi
__ADS_1