
"Jangan menangis lagi, ya, Kak! Maafkan aku, aku tarik semua ucapanku!" lirihnya lagi.
Liana menggelengkan kepalanya. Dia menggenggam tangan adiknya erat.
"Tidak Viola. Kamu tidak salah, justru kakak yang salah. Kakak sudah mengambil jalan yang salah, kakak pantas mendapatkan teguran darimu. Dan Kakak sama sekali tidak tersinggung dengan ucapanmu. Terimakasih sudah mau menegur kakak, Vi!" lirih Liana berusaha menampilkan senyum manisnya.
"Apa arti ucapan kakak? Mengambil jalan yang salah? Memangnya, Kakak melakukan apa? Pasti ada sesuatu yang Kaka sembunyikan dariku, kan? Sekarang, ceritakan saja padaku. Apa yang Kakak sembunyikan, cepat katakan, kak!" ujar Viola penasaran. Dia menarik tangannya yang berada dalam genggaman Liana.
'Aku tidak bisa menceritakan semuanya. Aku belum siap, kalau Viola membenciku dan tidak mau menganggapku sebagai Kakaknya lagi. Aku tidak mau semua itu terjadi. Ini terlalu berat bagiku!' jerit Liana dalam hati.
Melihat Kakaknya melamun, Viola mencoba merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Aw," ringis Viola membuat Liana tersadar dari lamunannya.
"Vi, kamu mau apa? Apa yang kamu butuhkan, biar Kakak yang ambilkan!" titah Liana.
"Aku mau Kakak ceritakan apa yang terjadi selama aku di operasi. Aku yakin, Kakak menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Apa itu, Kak! Apa semua ini ada hubungannya dengan operasiku? Jawab, Kak! Aku butuh jawaban dari Kakak!" pekik Viola.
"Kakak sama sekali tidak menyembunyikan apapun darimu, Vi. Kakak--" ucapan Liana terhenti, dia tidak tahu harus berbicara apalagi untuk menutupi kebohongannya.
"Apa? Kakak apa? Aku tidak suka mempunyai Kakak pembohong! Cepat, beritahu aku, kak! Jangan sampai aku dengar dari orang lain, Kak!"
"Biar Kakak jelaskan, tapi sebelum Kakak menjelaskan, Kakak ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, ya! Karena semua ini di luar nalar Kakak!" ucap Liana. Dia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
Viola menatap wajah serius Kakaknya. Dia begitu penasaran dengan kejujuran apa yang akan di ucapkan oleh Kakaknya.
'Aku belum siap memberitahukan semua, tapi aku harus beralasan apalagi?' batin Liana kebingungan.
__ADS_1
"Cepat, aku sudah tidak sabar menunggu kejujuran dari Kakak!" titah Viola penasaran.
Dengan sekuat hati, Liana meraih dan menggenggam tangan adiknya erat.
"Maafkan Kakak, Vi, Kakak sudah melakukan kesalahan besar!"
"Kesalahan besar apa, Kak? Jangan membuatku penasaran dong!"
"Kakak terpaksa mengosongkan rumah peninggalan ke dua orang tua kita, Vi." lirih Liana.
Viola terkejut saat mendengar jawaban dari Kakaknya.
"Kak, tapi kenapa? Ada apa dengan rumah itu? Apa Kakak menjual rumah peninggalan Ayah karena aku? Kakak butuh uang, iya?" tanya Viola yang syok.
"Bukan, bukan karena kamu, Vi. Tapi--"
"Tapi karena ... em, karena tiba-tiba atap rumah kita bocor," jawab Liana kebingungan.
"Bocor? Memangnya semuanya yang bocor, Kak? Lalu, kita tinggal di mana? Aku tidak apa-apa tinggal di rumah dengan atap yang bocor. Kakak tidak perlu mempermasalahkan itu." jawab Viola.
"Tapi Kakak sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Dan Pak RT yang meminta Kakak untuk menempati tempat tinggal yang baru ini. Jadi, Kakak menyetujuinya. Pak Rt dan warga setempat juga sudah membantu Kakak berkemas." lirih Liana.
"Jadi, Pak RT yang meminta Kakak untuk pindah? Pasti bocornya parah, ya, Kak? Sampai-sampai Pak RT tidak tega melihat kita. Tapi tenang saja, sekarang aku sudah sembuh dan semua biaya sudah di tanggung oleh Kak Davien. Jadi, setelah ini ... aku bisa membantu Kakak, aku akan coba mencari pekerjaan agar kita bisa memperbaiki rumah peninggalan ke dua orang tua kita, Kak! Oh, iya. Kapan aku boleh pulang? Dan di mana tempat tinggal kita yang baru, Kak? tanya Viola penasaran.
"Em, kakak tidak bisa menjelaskan titik rumahnya. Setelah kita keluar dari rumah sakit ini, Kakak akan tunjukkan. Sekarang, kamu istirahat. Hari sudah malam," titah Liana membantu merebahkan tubuh Viola.
Setelah merebahkan tubuh adiknya. Liana menci um sekilas kening adiknya, "Kakak istirahat di sofa, ya? Kamu tidur yang nyenyak!" titah Liana kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa.
__ADS_1
"Tunggu, Kak! Apa Kak Davien tahu semua ini? Apa Kak Davien membantu Kakak pindahan juga?" tanya Viola meraih tangan Liana.
Liana terdiam, dia berpikir sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat.
"Iya, Mas Davien tahu. Dan Pak RT juga yang meminta Mas Davien membantu kita. Karena, sewaktu dia mengantarkan Kakak pulang, dia melihat keramaian di rumah Kakak. Tapi kamu tidak perlu khawatir, Kakak dan Mas Davien tidak mempunyai hubungan apapun. Kakak tidak mungkin menjadi duri dalam rumah tangga orang yang sudah menyelamatkan nyawamu, Vi!" jawab Liana dengan senyum manisnya.
"Syukurlah, aku senang mendengar jawaban dari Kakak. Berarti, aku sudah salah menuduh Kakak dan Kak Davien, dong? Sebelum Kakak menjelaskan semuanya, terbesit di dalam pikiranku--" ucapan Viola terpotong saat melihat gelengan kecil Liana.
"Tidurlah, Kakak tidak mungkin menghancurkan rumah tangga orang. Dan ... hoam ... Kakak ngantuk, kakak mau tidur, kamu istirahat!" titah Liana melepas genggaman tangan adiknya. "Selamat malam!" ucapnya lagi.
"Selamat malam, Kak! Semoga mimpi indah!" balas Viola kemudian memejamkan mata.
Liana menjatuhkan pantatnya di sofa, dia menatap adiknya dari kejauhan.
'Maafkan Kakak, Viola. Kakak sudah berani membohongimu, tapi semua ini demi kebaikanmu. Kakak tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Biarkan semua ini menjadi rahasia.' batin Liana lalu merasakan getaran di ponsel yang pagi tadi di berikan oleh suaminya.
Segera, Liana mengambil ponsel yang berada dalam saku celananya. Dia bisa melihat notifikasi pesan dari pria yang berstatus sebagai suaminya.
'Mas Davien mengirim pesan? Apa dia memintaku untuk pulang? Jika benar, itu artinya ... kejadian di sore hari akan terulang lagi? Itu tidak boleh terjadi. Lebih baik, aku tidak usah membaca pesan darinya. Maafkan aku, Mas. Untuk kali ini, aku mau mengingkari perjanjian kita. Aku sudah memberikan apa yang aku punya padamu.' batin Liana meletakkan ponselnya di atas meja.
Perlahan kakinya dia luruskan di sofa. Karena rasa kantuk sudah menyerangnya sedari tadi, akhirnya tanpa menunggu lama, Liana sudah berhasil masuk ke alam mimpi.
Sedangkan di satu sisi, Davien yang sedang menunggu balasan dari istrinya pun tak bisa tidur dengan nyenyak. Berulang kali dia mengecek ponselnya tetapi tidak ada notifikasi pesan balasan dari istrinya yang masuk.
"Apa dia sengaja tidak membuka pesan dariku, atau dia memang sibuk dengan adiknya? Padahal, aku ingin memberitahukan kalau semua barang-barang miliknya sudah tertata rapi di kamar." gumam Davien lalu merasakan getaran di ponselnya, membuat dia berpikir jika itu balasan dari istri barunya.
Senyum yang sempat terbit, kini memudar saat melihat nama istrinya yang lain.
__ADS_1