
"Citra, aku pikir yang menelfonku Liana, tapi malah Citra." gumam Davien menggeser tombol hijau.
"Sayang, aku mau memberi kabar baik. Aku sudah di dalam perjalanan pulang. Salah satu temanku tiba-tiba mempunyai acara, jadi kita memutuskan untuk pulang lebih awal. Walaupun, kabar ini kabar yang cukup mengecewakan aku, tapi bukankah kamar ini, kabar yang sangat membahagiakan untukmu? Dan aku mau, kamu menjemputku di bandara, ya?" titah Citra dari sebrang sana.
"Iya, aku akan menjemputmu. Jika sudah sampai, hubungi saja aku. Kamu hati-hati," titah Davien menghembuskan napasnya kasar.
Citra menautkan ke dua alisnya saat mendengar nada lesu dan hembusan kasar dari ponselnya.
"Ada apa denganmu, sayang? Apa jangan-jangan kamu tidak senang kalau aku pulang berlibur?" tuduh Citra.
"Tidak. Aku justru senang. Ya, sudah. Hubungi aku saja, Cit. Hari ini pekerjaanku sangat banyak. Mungkin aku terlalu lelah." jawab Davien.
"Oh, iya, sudah. Kamu tidur saja dulu. Setelah sampai, aku akan menghubungi suamiku, bye bye!" ucap Citra lalu mematikan telfon
Setelah telfonnya berakhir. Davien mencoba menelfon istri barunya, tapi lagi dan lagi, Liana tidak mengangkat telfonnya, membuat Davien kesal dan frustrasi.
"Ah, ternyata wanita itu sudah berani melawanku. Lihat saja nanti, jika aku bertemu dengannya, aku akan beri dia pelajaran!" geram Davien menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar rumah yang sudah di sediakan untuk istri barunya.
Di satu sisi, Liana meletakkan ponselnya saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari suaminya.
'Mas Davien menelfonku. Aku pikir, Mas Davien sudah tidur. Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa mengangkat telfon dari kamu. Aku tidak mau pulang, aku mau di sini menjaga Viola.' batin Liana.
Tanpa Liana tahu, sedari tadi Viola mendengar suara notifikasi pesan dan telfon yang masuk dari ponsel Kakaknya dengan cara berpura-pura tertidur.
Syok, itulah yang sedang di rasakan Viola saat mendengar notifikasi pesan dari ponsel Kakaknya, yang dirinya tahu, jika kakaknya sudah tidak memiliki ponsel. Apalagi, tanpa sengaja ... Viola melihat ponsel Kakaknya merupakan ponsel keluaran terbaru.
'Ponsel Kak Li baru? Tapi, siapa yang membelikan ponsel itu? Apa Kak Davien yang memberikan ponsel untuk Kak Li? Jika benar, kenapa semua ini terasa aneh. Apalagi, saat melihat ponsel Kak Li, yang harganya sangat mahal. Aku tidak yakin, jika mereka tidak ada apa-apa. Pasti, ada yang mereka sembunyikan dariku. Tidak mungkin juga, Kak Li membeli ponsel sebagus dan semahal itu. Kak Li, tidak punya uang sebanyak itu.' batin Viola berpura-pura menggeliat.
Davien menjalankan mobilnya menuju kediamannya yang bersama Citra. Tak henti-hentinya, di dalam mobil, Davien selalu mengecek ponselnya berharap akan ada notifikasi masuk dari istri baru nya.
__ADS_1
"Apa wanita itu sudah berisitirahat?" gumam Davien menatap fokus ke depan, "Mungkin saja, wanita itu sudah berisitirahat. Pasti dia kelelahan dengan kejadian hari ini yang menimpanya. Sebaik, aku tidak mengganggunya dulu. Aku akan fokuskan diriku untuk Citra. Aku tidak mau membuat Citra curiga." lirih Davien.
Setelah menunggu beberapa jam. Akhirnya pesawat yang di tumpangi Citra mendarat sempurna di bandara yang cukup terkenal di kota Jakarta.
Davien yang tak mau istrinya menunggu lama pun sudah berada di bandara beberapa menit yang lalu.
Citra turun dari pesawat dan dia berjalan menemui suaminya yang sudah menunggu dirinya.
Tak henti-hentinya, Davien tersenyum manis ke arah istrinya yang sedang mendorong koper.
"Sayang, terimakasih sudah mau menungguku di sini." ucap Citra memeluk tubuh suaminya erat.
Davien membalas pelukan istrinya sembari sesekali menci um pucuk kepala istrinya dengan lembut.
"Bagaimana liburanmu?" tanya Davien melepaskan pelukannya dan mengambil alih koper istrinya.
Davie mengangguk. Mereka berjalan keluar bandara dan masuk ke dalam mobil.
Ke esokkan harinya.
Liana menggeliat, dia terbangun dari tidurnya yang nyenyak pukul 7 pagi.
"Hoam," lirih Liana beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Sebelum sampai di dalam kamar mandi. Liana menyempatkan dirinya untuk melihat adiknya yang masih tertidur.
"Tumben sekali Viola belum bangun. Apa karena efek obat?" gumam Liana tak ingin ambil pusing dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mengintip Kakaknya yang masuk ke dalam kamar mandi. Kini Viola merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
__ADS_1
"Aku harus memastikan ponsel milik Kak Li." lirih Viola menurunkan kakinya dan mengambil cairan infus.
Dengan sekuat tenaga, Viola berjalan dengan tertatih menuju sofa, tepat di mana ponsel Kakaknya berada.
Dia dapat melihat ponsel Kakaknya yang tergeletak.
Sedangkan di satu sisi. Liana membersihkan telapak tangannya dengan tissue. Setelah itu, dia berjalan dan membuka pintu kamar mandi.
Krek.
Pintu kamar mandi terbuka membuat Viola meletakkan ponsel yang baru saja di pegangnya.
Liana menautkan ke dua alisnya saat tak melihat adiknya di ranjang, ekor matanya tak sengaja melihat adiknya yang sedang berdiri di dekat sofa.
"Vi, apa yang kamu lakukan, Hem? Kamu belum boleh berjalan. Sekarang, kakak bantu kamu ke ranjang!" titah Liana menghampiri adiknya.
Viola menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau, Kak! Aku mau melihat ponsel Kakak. Sepertinya, Kakak punya ponsel baru. Boleh aku lihat?" titah Viola menjatuhkan pantatnya di sofa. "Aku sudah sehat dan aku mau lihat ponsel Kakak!" sambungnya lagi.
"Ponsel apa, Vi? Itu bukan ponsel Kakak!" jawab Liana bohong.
"Bukan ponsel Kakak kenapa ada di tangan Kakak? Aku bukan anak kecil yang gampang Kakak bodohi. Aku sudah besar." kesal Viola meraih ponsel milik Liana. "Kakak dapat ponsel ini dari mana? Tidak mungkin, Kakak punya uang untuk membeli ponsel ini. Aku tahu harga ponsel ini sangat mahal, Kak!" sambungnya lagi membuat Liana semakin kebingungan.
"Em ... itu bukan ponsel Kakak! Sebaiknya, kamu letakkan ponsel itu di atas meja. Kakak menemukan ponsel itu di depan rumah sakit!" jawab Liana merebut ponselnya. "Kamu tidak boleh memegang barang orang lain, Vi."
"Kak, Kakak bisa ... jangan berbohong padaku. Aku tahu, ponsel itu milik Kak Li. Semalam aku melihat Kak Li bermain ponsel dan aku juga sempat mendengar bunyi telfon dari ponsel ini. Apa Kak Davien yang memberikan ponsel ini?" tanya Viola penasaran. "Jawab, Kak! Apa benar, Kak Davien yang memberikan ponsel ini ke Kak Li?" ucapnya lagi.
"Ma-mana mungkin Mas Davien memberikan ponsel ini." jawab Liana terbata.
"Kakak bohong!" ketus Viola.
__ADS_1