
"Enak saja, Mas. Bagaimana, kalau dia kabur? Orang susah sepertinya, seharusnya kita bawa saja ke kantor polisi. Jangan diberikan waktu!"
"Citra, ini masalah kecil. Masalah tas saja. Tidak perlu lapor polisi. Itu sama saja, kita menindas rakyat kecil. Sudahlah, sebaiknya kita masuk ke dalam mobil dan pergi ke Mall!" titah Davien.
Citra berjalan dan masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan kesal di ikuti oleh Davien di belakangnya.
Sedangkan di satu sisi, Liana bergegas kembali ke rumah sakit. Dia tidak mau mendapatkan hukuman dari suaminya.
Setelah sampai di rumah sakit, dia berjalan menuju taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit. Di jatuhkan pantatnya di kursi besi yang sudah tersedia.
"Kemungkinan Mas Boy belum sampai di kamar Viola. Tidak mungkin, aku tiba-tiba kembali ke kamar Viola. Bisa-bisa Viola curiga padaku." lirih Liana mengatur napasnya dengan pandangan yang lurus ke depan.
Satu persatu bayangan suaminya yang membela istri Sah nya pun mulai teringat di otak Liana, membuat wanita itu tanpa sadar meneteskan air matanya.
'Aku tidak akan mengizinkanmu bekerja. Kau tanggungjawabku. Dan tugasmu hanya melahirkan anak untukku!' ucapan itu terus terngiang-ngiang di otak Liana. "Melahirkan anak? Setelah aku berhasil melahirkan anaknya, aku akan di buang seperti sampah? Aku tidak masalah, jika aku di perlakukan seperti sampah, tapi apa Bu Citra mau menerima anak suaminya dari wanita lain? Aku takut, anakku nanti akan di perlakukan kasar oleh Bu Citra. Tapi jika aku tidak bisa memberikan anak, itu artinya ... selamanya aku akan terikat dengan pernikahan siri ini?" lirih Liana lalu menghapus air matanya. Tak sengaja, ekor matanya melihat anak kecil yang memakai pakaian rumah sakit sedang duduk di kursi roda dengan tangan yang terinfus. Segera Liana menghampiri anak kecil tersebut.
"Hei," sapa Liana mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil yang cantik. "Siapa namamu? Dan kenapa kamu sendirian?" sambungnya lagi.
"Namaku Intan, Kak!" jawab gadis kecil yang berada di kursi roda.
"Intan, nama yang cantik sama seperti orangnya. Dan di mana orang tuamu?" tanya Liana lagi.
"Ibuku sudah meninggal, Kak. Dan Ayahku pergi meninggalkanku setelah ibuku pergi." jawab Intan gadis kecil berusia 10 tahun.
"Maafkan Kakak, ya. Kakak tidak tahu, kalau ibumu sudah tidak ada. Tapi kenapa kamu ada di sini? Di mana orang yang menjagamu. Sinar matahari di sini sudah menyengat. Lebih baik, kita pindah di sana, yuk!" titah Liana menunjuk kursi dekat pohon. "Biar Kakak bantu, ya! Kamu tidak perlu khawatir, Kakak bukan orang jahat." sambungnya lagi.
"Iya, Kak. Terimakasih sudah mau membantuku!" ucap Intan.
__ADS_1
Liana mengangguk, lalu mendorong kursi roda Intan sampai di dekat bangku.
"Kakak kenapa bisa di rumah sakit? Apa Kakak sakit? Tapi kenapa Kakak tidak memakai baju sama sepertiku?" tanya Intan polos.
"Adik Kakak yang sakit. Kakak hanya menjaganya sebentar. Oh, iya. Kamu di sini sendirian? Tidak ada yang merawatmu?" tanya Liana mengalihkan pembicaraan.
"Ada, Kak! Nenek datang menjengukku, tapi hanya seminggu sekali. Setelah itu, aku sendirian." jawab Intan dengan wajah sedihnya, "Adik Kakak beruntung, ya. Mempunyai Kakak yang sangat cantik. Dan siapa nama Kakak?" tanya Intan lagi.
"Oh, iya. Kakak belum memperkenalkan nama Kaka, ya! Perkenalkan, nama Kakak adalah Liana. Kamu sakit apa?" ucap Liana mengulurkan tangannya.
Intan menerima uluran tangan dari Liana. "Aku sakit paru-paru. Dan aku harus di rawat di rumah sakit ini. Semenjak ibuku meninggal, ayahku menikah lagi. Dan ibu tiriku tidak mau mengasuhku. Dan di situ juga, paru-paruku mulai bermasalah. Aku sering sesak napas. Jadi, nenek membawaku ke rumah sakit." lirih Intan.
"Ibu tirimu tidak mau mengasuhmu? Dan Ayahmu mendukung sikap ibu tirimu, ini?" tanya Liana tak percaya.
Intan mengangguk. "Iya, Kak! Apalagi aku sakit-sakitan, Mana mau ... seorang ibu tiri mau mengasuh anak tirinya yang sakit-sakitan. Aku juga harus terpaksa menghentikan sekolahku karena penyakitku ini." jawab Intan dengan senyum getirnya.
Liana menatap wajah gadis kecil di depannya dengan iba. 'Apa nasib anakku akan sama seperti Intan setelah anakku kelak berada di tangan Mas Davien dan Bu Citra?' batin Liana.
"Kakak bantu, ya?" tawar Liana. "Kebetulan, adik Kakak sedang istirahat." sambungnya lagi.
"Boleh. Kalau kakak mau bantu aku, aku justru sangat senang. Aku tidak perlu memanggil suster untuk membantuku." jawab Intan bahagia.
Melihat raut wajah bahagia Intan. Entah kenapa hati Liana juga merasa bahagia.
"Tunjukan ruanganmu." titah Liana.
"Iya, Kak!"
__ADS_1
Setelah mengendarai mobilnya di jalanan ibu kota. Kini mobil yang dikendarai Davien sudah terparkir mulus di parkiran bawah tanah Mall terbesar di kota Jakarta.
"Mas, aku senang deh, akhirnya kamu mau menemaniku keliling Mall." ucap Citra merangkul mesra lengan Davien sembari berjalan masuk ke dalam Mall.
Davien mengusap tangan istrinya lembut. "Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik!" jawab Davien sembari memikirkan wajah Liana yang terlihat pucat.
Melihat suaminya melamun, Citra menghentikan langkahnya, "Kamu kenapa, Mas?" tanya Citra membuat Davien tersadar dari lamunannya.
"Aku kenapa? Aku tidak apa-apa. Memangnya, aku kenapa?" tanya Davien kebingungan.
"Mas, sedari tadi kamu melamun. Kamu sedang memikirkan apa, ha? Jangan bilang, kamu memikirkan wanita miskin, tadi? Aku tidak mau, ya! Kamu tergoda wanita miskin seperti dia! Ingat, kamu ini pebisnis terkenal di seluruh dunia. Dan kamu juga ingat, kamu sudah menikah denganku. Kamu milikku, Mas!" ketus Citra.
Davien tersenyum tipis, dia melihat sepasang suami istri yang sedang membawa bayi tak jauh darinya.
"Siapa yang memikirkan wanita lain, Hem? Aku sedang melihat mereka!" tunjuk Davien dengan jari telunjuknya.
Citra melihat arah tangan suaminya. "Bayi?" gumam Citra.
"Iya. Aku menginginkan status Ayah." jawab Davien.
"Tapi, Mas. Kamu tahu kan, kalau aku--"
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku sudah tahu kelanjutan ucapanmu. Dari pada kita bertengkar di depan umum. Lebih baik, kita kunjungi tempat perhiasan yang kamu mau!" ajak Davien menggenggam tangan istrinya.
"Terimakasih, kamu memang suami terbaik. Kamu mau mengerti apa yang aku rasakan." jawab Citra dengan senyum bahagianya.
'Citra memang istriku, tapi dia ragu memberiku keturunan. Maka dari itu, aku akan pastikan, Liana bisa memberiku keturunan. Walaupun, aku akan melukai hati wanita yang aku cintai, setelah aku mengatakan kejujuran,' batin Davien.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Intan ke kamarnya, Liana bergegas menuju kamar adiknya.
"Jangan sampai Mas Boy sampai lebih dulu!' batin Liana.