Terpaksa Menjadi Istri Simpanan

Terpaksa Menjadi Istri Simpanan
Bab 27


__ADS_3

Liana mempercepat langkahnya agar cepat sampai di ruangan adiknya.


Setelah sampai di depan pintu, Liana langsung masuk, membuat Viola yang baru saja memejamkan matanya terkejut.


"Kak, kakak sudah pulang, cepat sekali?" tanya Viola.


Liana mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, "Di mana Mas Boy?" tanya Liana.


"Kak Boy?" jawab Viola menautkan kedua alisnya, "Bukankah, Kak Boy sudah pulang? Apa kakak lupa?" tanyanya lagi.


"Pulang?" gumam Liana, 'Jadi, Mas Boy belum datang lagi. Syukurlah, aku bisa bernapas lega.' batin Liana.


"Memangnya, kenapa kak? Apa yang terjadi dengan Kak Li? Kenapa aku melihat raut wajah Kakak yang panik?" tanya Viola merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


Liana berjalan dan menjatuhkan pantatnya di kursi samping ranjang adiknya.


"Tidak apa-apa." jawab Liana dengan senyum manisnya.


"Minum dulu, Kak! Ini minum yang baru saja suster berikan." titah Viola menyodorkan gelas panjang berisi segelas air putih.


"Kakak minum sedikit, ya!"


"Habiskan saja, Kak! Aku sudah kenyang. Bagaimana, apa Kakak sudah mendapat pekerjaan?" tanya Viola yang mendapat gelengan kecil dari Liana.


Glek ... Glek ....


"Kakak belum mendapatkan pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan sangat sulit, Vi. Tapi kakak tidak akan menyerah. Kakak bakal lebih giat lagi mencari pekerjaan.". jawab Liana meletakkan gelasnya di atas meja.


"Tenang saja, Kak. Lagi pula, aku sudah sembuh. Tidak ada yang merepotkan kakak lagi. Aku bisa membantu kakak." ucap Viola lalu melihat pintu ruangan yang terbuka.


Mendengar pintu ruangan terbuka, Liana seketika menoleh, dan dia dapat melihat sekertaris suaminya yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


'Mas Boy datang? Beruntung aku lebih dulu sampai.' batin Liana.


"Maaf Nona, saya datang lagi." ujar Boy menatap wajah Liana dan Viola secara bergantian.


"Ada apa kak Boy datang lagi? Bukankah, Kak Boy sedang banyak pekerjaan?" tanya Viola kebingungan.


"Saya datang karena saya berpikir, saya tidak bisa membiarkan kalian berdua sendirian di ruangan ini. Jadi, saya memutuskan untuk menemani kalian semua di sini. Saya akan mengerjakan pekerjaan di ruangan ini." jawab Boy.


"Oh, aku kira, Kak Boy datang karena ada barang yang tertinggal. Syukurlah, kalau Kak Boy mau menjaga kita. Aku bisa lebih tenang berisitirahat." jawab Viola, "Iya, kan, Kak?" sambungnya lagi sembari menyenggol lengan Liana.


Liana hanya menganggukkan kepalanya, "Hem!"


"Kak, jawab yang benar, dong! Jangan ham, hem, ham, hem. Kasihan kak Boy!" titah Viola.


Dengan ekspresi malasnya, Liana mencoba tersenyum di hadapannya adiknya, "Iya, Viola sayang. Kakak senang sekali jika Mas Boy menemani kita di sini!" ucap Liana.


"Jangan ke aku, Kak! Ucapkan terimakasih juga ke Kak Boy!" titahnya lagi.


"Sama-sama, Nona!" jawab Boy kemudian berjalan menuju sofa.


"Kakak temani Kak Boy saja. Aku mau tidur, aku ngantuk. Baru saja, dokter menyuruhku meminum obat!" titah Viola.


"Kakak tunggu di sini saja. Lagi pula, Mas Boy sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya." jawab Liana.


"Kak!" panggil Viola sembari melambaikan tangan agar mendekat ke arahnya.


Liana menautkan ke dua alisnya, dia mendekatkan wajahnya ke arah adiknya.


"Apa?" tanya Liana.


"Kakak jangan jutek ke Kak Boy. Aku takut, kalau kakak jutek dan ketus ke kak Boy, kakak tahu sendirikan ... kalau orang jutek itu bisa--" ucapan Viola terhenti, dia menggambar hati dengan jari tangannya.

__ADS_1


Liana menautkan ke dua alisnya, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih kecil, tapi pintar sekali menasehati kakak." kesal Liana.


"Siapa yang menasehati Kakak? Kita belajar dari pengalaman saja, Kak! Banyak laki-laki dan wanita yang bermusuhan, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan cinta malah tumbuh di benaknya mereka. Tapi kalau kakak bersama kak Boy, aku setuju saja, sih. Aku tahu, kalau Kak Boy masih single," ucap Viola panjang lebar.


"Tidak mungkin, Vi! Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Tidak perlu menasehati Kakak!" kesal Liana bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana, kak?" tanya Viola melihat Kakaknya berdiri.


"Temani Mas Boy. Dari pada kakak temani kamu, dan kamu mengatakan hal yang tidak benar. Lebih baik, kakak temani Mas Boy saja!" jawab Liana membuat Viola terkikik di dalam hati.


'Hahaha ... tapi di lihat-lihat mereka cocok juga. Semoga saja mereka berjodoh!' batin Viola merebahkan tubuhnya.


Liana menjatuhkan pantatnya di sofa, "Mas," panggil Liana membuat Boy menatapnya sekilas. "Kamu pergi saja ke kantor. Aku janji, aku tidak akan keluar dari rumah sakit." sambungnya lagi.


"Tuan memerintahkan saya dan saya hanya akan patuh dengan Tuan Davien." jawab Boy.


"Tapi--"


"Nona, sebaiknya jangan mengganggu pekerjaan saya. Atau saya akan laporkan kepada Tuan Davien. Dan Tuan Davien akan memberi hukuman untuk Nona. Apa yang Nona lakukan tadi, membuat Tuan Davien murka. Beruntung ada Nyonya Citra, jadi Tuan Davien tidak bisa berbuat apa-apa."


"Okeh. Maafkan aku, aku sudah mengakui kesalahanku. Aku tidak akan kabur lagi!" ucap Liana.


"Ya, saya harap itu bukan hanya ucapan, dan jangan lupa ... semua pesan dari Tuan Davien wajib Nona balas." titah Boy.


"Pesan? Aku tidak memegang ponselku."


"Sekarang, Nona cari ponsel Nona dan balas pesan dari Tuan Davien, tapi tunggu dulu, jangan sekarang. Tuan Davien sedang bersama nyonya citra. Saya tidak mau, mereka berdua bertengkar." ujar Boy.


"Iya, kau benar, Mas. Lebih baik, aku balas pesan Mas Davien nanti saja. Aku tidak mau membuat mereka bertengkar." jawab Liana menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.

__ADS_1


__ADS_2