Terpaksa Menjadi Istri Simpanan

Terpaksa Menjadi Istri Simpanan
Bab 23


__ADS_3

"Kakak bohong!" ucap Viola dengan raut wajah kecewanya.


"Siapa yang bohong, Vi! Kakak tidak mungkin berbohong. Apa yang diucapkan oleh Kakak, semuanya benar!" jawab Liana meyakinkan adiknya.


Viola tersenyum getir, "Aku tidak percaya, aku mempunyai Kakak pembohong seperti Kak Li. Aku sudah salah sangka! Aku tidak tahu, dengan cara apalagi, agar kakak mau jujur padaku!" ketus Viola berjalan menuju ranjangnya.


Liana meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah itu, dia mengikuti adiknya menuju ranjang.


"Kakak tidak bohong, Vi. Untuk apa Kakak bohong padamu. Kita saudara!" ujar Liana lagi.


Viola meletakkan infusnya, dia berusaha menaiki ranjang tanpa meminta bantuan pada siapapun.


"Biar Kakak bantu!" titah Liana yang mendapat gelengan kecil dari adiknya.


"Jangan sentuh aku. Aku tidak mau di sentuh wanita pembohong sepertimu." ketus Viola.


Liana menjatuhkan pantatnya di kursi samping ranjang adiknya.


"Apa susahnya jawab pertanyaanku dengan jujur sih, aku tidak mungkin semarah ini, kalau Kakak menjawab pertanyaanku dengan jujur!" kesal Viola membuang muka.


Liana meraih dan menggenggam tangan adiknya. "Okeh, Kakak akan jujur, tapi Kakak mohon padamu, jangan marah lagi. Kakak tidak bisa melihatmu marah." pinta Liana.


"Katakan saja. Aku tidak akan marah, kalau semua yang Kakak katakan jujur!"


"Okeh, iya memang benar, ponsel itu pemberian Mas Davien, tapi--"


"Benar kan dugaanku!" potong Viola.


"Tunggu dulu, Vi. Kamu harus mendengarkan semua penjelasan Kakak. Mas Davien meminjamkan ponsel itu untuk Kakak. Karena sewaktu kakak pulang tadi, kamu di jaga oleh sekertaris Mas Davien, kan? Sedangkan Mas Davien juga sibuk mengurus pekerjaannya. Jadi, dia meminjamkan ponselnya untuk Kakak menghubungi sekertarisnya. Dan jika terjadi masalah denganmu, sekertaris Mas Davien bisa langsung menghubungi Kakak. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, Kakak akan kembalikan ponsel ini lagi. Kamu harus percaya, Vi!" lirih Liana.

__ADS_1


"Kakak tidak berbohong, kan? Aku benci kebohongan!" tanya Viola yang mendapat gelengan kecil dari Liana.


"Apa wajah Kakak seperti wajah pembohong?" jawab Liana, 'Maafkan Kakak, Vi. Terpaksa Kakak bohong lagi, karena Kakak tidak mau kamu tahu yang sebenarnya. Tapi tumben sekali, Mas Davien tidak mengirimku pesan. Atau jangan-jangan dia marah denganku karena semalam aku tidak membalas dan mengangkat telfonnya? Baguslah, kalau dia marah. Setidaknya, kemarahan Mas Davien akan mengurangi rasa curiga viola.' batin Liana mengusap punggung tangan adiknya.


"Kakak tidak mempunyai hubungan apapun dengan Kak Davien, kan? tanya Viola memastikan.


"Ya ampunan, Vi. Mas Davien sudah mempunyai istri. Mana mungkin, Kakak mempunyai hubungan dengan pria yang beristri. Pikiranmu aneh sekali. Sudah berulang kali Kakak bilang, kalau kakak tidak mempunyai hubungan apapun. Kakak dan Mas davien murni berteman." jawab Liana tersenyum manis untuk menutupi kebohongannya.


"Aku takut, Kak! Aku takut kalian mempunyai hubungan yang terlarang. Apa aku tidak boleh takut? Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu ke Kakak." lirih Viola, "Aku takut, kalau Kak Davien memaksa kakak untuk kepentingannya sendiri dan dia membalasnya dengan cara membiayai semua pengobatanku. Lebih baik, aku matti dari pada aku sembuh tapi masa depan Kakak hancur. Aku tidak mau semua itu terjadi, kak! Aku tidak sanggup melihat Kakak menangis. Aku tidak sanggup melihat hati Kakak hancur karenaku."


"Kamu tenang saja, Vi. Masa depan Kakak tidak hancur. Kakak janji itu!" jawab Liana kemudian menatap langit ruangan rumah sakit. 'Aku tidak boleh menangis di depan Viola. Aku tahu, masa depanku sudah hancur, tapi Viola tidak boleh tahu. Semua ini demi Viola. Aku tidak bisa kehilangan Viola, hanya dia yang aku punya di dunia ini!' batin Liana lalu menatap pintu ruangan yang terbuka.


Boy masuk ke dalam ruang inap Viola tanpa mengetuk pintu. Dia dapat melihat dua wanita yang sedang menatap ke arahnya.


"Nona Viola dan Nyo-Nona Liana. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Boy setelah berdiri di dekat Liana.


Boy mengangguk paham. "Kedatangan saya kemari hanya ingin melihat keadaan kalian berdua."


"Terimakasih Kak Boy. Oh, iya. Kapan aku boleh pulang?" tanyanya lagi.


"Tunggu perintah dari dokter saja, Nona!" jawab Boy.


"Lalu, di mana Kak Davien? Biasanya dia datang lebih awal?" tanya Viola lagi.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Viola, Boy menyempatkan diri untuk menatap wajah Liana dari samping.


"Tuan Davien tidak bisa datang menjenguk anda, karena istri Tuan Davien sudah pulang. Dan Tuan menitipkan kalian pada saya!" jawab Boy jujur.


Mendengar jawaban dari Boy, entah kenapa perasaan Liana sangat senang. Dia menatap wajah Boy dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


"Benar, Mas? Istri Mas Davien sudah pulang?" tanya Liana antusias membuat Viola dan Boy saling menatap.


"Kak, kenapa kakak senang sekali saat mendengar istri Kak Davien sudah pulang?" tanya Viola kebingungan.


"Em, kamu benar, Vi. Kakak senang sekali saat mendengar istri Mas Davien sudah pulang. Itu artinya, Kakak tidak akan di curigai lagi olehmu." jawab Liana, 'Dan itu artinya, Mas Davien tidak ada waktu untukku. Setidaknya, aku bisa bernapas lega di depan Viola!' batin Liana.


'Aku pikir, Liana akan sedih saat mendengar ucapanku, tapi ternyata sebaliknya, dia sangat bahagia.' batin Boy tak percaya.


"Ya, sudah. Saya tidak bisa berlama-lama di sini karena ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Jika terjadi sesuatu dengan Nona Viola. Nona Liana bisa menghubungi saya." titah Boy.


"Viola sudah membaik, dan dia tidak membutuhkan sesuatu lagi. Selamat bersenang-senang. Dan ucapkan selamat untuk Mas Davien, akhirnya istrinya sudah pulang dengan selamat." jawab Liana.


"Iya, apa yang di katakan Kak Li benar. Aku sudah membaik. Dan aku ucapkan juga selamat untuk Kak Davien." timpal Viola membuat Boy mengangguk.


'Kalau Tuan tahu apa yang diucapkan mereka semua, pasti Tuan akan murka.' batin Boy berjalan keluar pintu ruangan Viola.


Melihat kepergian Boy, Liana langsung berlari mengambil ponselnya lalu menjatuhkan pantatnya di kursi samping ranjang adiknya.


"Vi, Kamu mau pinjam ponsel Kakak tidak?" tawar Liana.


"Boleh, Kak! Aku mau pinjam ponsel Kakak untuk selfie!" jawab Viola antusias.


"Okeh, kakak titip ponsel Kakak padamu." ujar Liana menghapus semua pesan dan panggilan dari Davien. Tak lupa, dia membuat password untuk pesannya.


"Emang Kakak mau kemana?" tanya Viola.


"Kakak mau cari pekerjaan, Vi. Kamu tahu sendirikan, setelah ini ... kita harus melanjutkan hidup kita berdua." jawab Liana memberikan ponselnya. "Kamu jaga ponsel ini, ya! Jika ada pesan atau telfon, kamu abaikan saja."


"Kalau dari Kak Davien, bagaimana Kak?" tanya Viola.

__ADS_1


__ADS_2