Terpaksa Menjadi Istri Simpanan

Terpaksa Menjadi Istri Simpanan
Bab 8


__ADS_3

Davien datang dengan langkah tegap dan lebarnya.


Mata Liana tak berhenti menatap saat melihat Davien menggunakan pakaian santainya. 'Mas Davien benar-benar tampan. Astaga Liana. Kamu bicara apa, sih! Ingat, Mas Davien sudah punya istri. Kamu tidak boleh menjadi pelakor atau duri dalam rumah tangga orang yang sudah mau menolong Viola!' batin Liana.


"Bagaimana, apa sudah ada yang bersedia mendonorkan jantungnya untuk Viola?" tanya Davien setelah berhadapan dengan Boy dan Liana.


"Untuk saat ini mereka semua sedang mencari pendonor jantung nona Viola." jawab Boy.


"Cari sampai dapat, Boy. Bayar berapapun, asalkan dia mau mendonorkan jantungnya untuk Viola!" titah Davien lagi.


"Tidak perlu, Mas. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk Viola. Kita baru saja kenal, Mas!" tolak Liana halus.


"Aku tidak butuh penolakan!" jawab Davien dengan tegas.


Merasakan ponselnya bergetar, Boy langsung melihat notifikasi pesan masuk dari anak buahnya.


"Tuan, sudah ada orang yang mau mendonorkan jantungnya untuk Nona Viola. Baru saja, saya mendapat kabar dari kalian anak buah saya!" titah Boy.


"Syukurlah!" ujar Liana lega. "Terimakasih Pak Boy, terimakasih Mas Davien. Aku benar-benar berhutang budi pada kalian. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian!" ucap Liana terharu


"Boy kau harus urus semuanya sampai operasi itu berjalan dengan lancar. Aku tidak mau ada kata kegagalan dari mulutmu!" titah Davien.


"Baik Tuan!" jawab Boy.


Davien tersenyum, dia memberikan paper bag pada wanita di depannya.


"Ini apa, Mas?" tanya Liana.


"Bukalah. Ini hadiah untukmu!" titah Davien.


"Tapi aku tidak ulang tahun. Dan aku tidak butuh hadiah dari Mas Davien." tolak Liana.

__ADS_1


"Aku tidak butuh penolakan. Sekarang, kamu buka ini." titah Davien membuat Liana menerima paper bag berwarna coklat.


Liana tersenyum lalu membuka paper bag tersebut. "I-ini untuk siapa, Mas?" tanya Liana terkejut saat melihat ponsel keluaran terbaru.


"Untukmu. Dan ponsel itu sudah aktif. Aku juga sudah menyimpan nomerku dan Boy di dalam ponselmu. Jadi, jika kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa telfon aku ata Boy!" jawab Davien.


Liana memasukkan ponselnya lagi, dia memberikan paper bag tersebut pada Davien. "Aku tidak bisa menerima ponsel ini, Mas. Aku tidak pantas!"


"Aku tidak butuh penolakan. Kau tahu itu." kesal Davien.


"Tapi, Mas. Ponsel ini harganya sangat mahal. Aku tidak pantas menerima barang mahal seperti ini. Kamu bisa simpan atau jual saja. Mas Davien sudah mau menolong adikku saja, aku sudah bahagia.". ujar Liana.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Liana, Boy tersenyum tipis, 'Akhirnya Tuan Davien sudah memantapkan hatinya.' batin Boy.


"Jika kamu tidak mau menerima ponsel ini, itu artinya dengan sangat terpaksa aku tidak akan memberikan bantuan apapun termasuk donor jantung yang baru saja Boy dapatkan. Kamu mau, terjadi sesuatu dengan adikmu? Tidak, kan!" ancam Davien.


"Ja-jangan. Adikku sangat membutuhkan donor jantung itu." ujar Liana mengambil paper bag dan menerima ponsel pemberian Davien. "Terimakasih!"


"Gadis yang patuh. Kalau begitu, kita cari makanan di kantin. Aku tahu, kamu belum sarapan, kan?" ajak Davien.


"Sekali ada penolakan, aku akan membatalkan operasi donor jantung--"


"Iya, aku mau makan!" potong Liana membuat Davien tersenyum manis.


"Boy, jaga Viola. Aku harus mencari makan bersama Liana!" titah Davien.


"Baik, Tuan!" jawab Boy.


Davien berjalan menuju kantin rumah sakit di ikuti oleh Liana di belakangnya dengan wajah tertunduk.


'Sebenarnya, apa yang direncanakan Mas Davien pada keluargaku. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Viola harus sembuh.' batin Liana.

__ADS_1


Setelah sampai di kantin. Liana dan Davien duduk saling berhadapan.


"Pesan makanan kesukaanmu." titah Davien.


"A-aku terserah Mas Davien saja." jawab Liana.


"Baiklah." ujar Davien kemudian berjalan ke stand makanan dan memesan bubur ayam untuk Liana.


Liana menatap punggung Davien, 'Apa sebaiknya aku tidak berprasangka buruk? Siapa tahu, Mas Davien mempunyai sikap yang baik hati pada siapapun. Dan dia memang ikhlas.' batin Liana kemudian menundukkan kepalanya lagi saat melihat Davien berjalan ke arahnya.


"Aku ada kerjaan untukmu!" titah Davien menjatuhkan pantatnya di kursinya.


"Apa, Mas?" tanya Liana penasaran.


"Kamu bersedia bekerja? Jika bersedia, aku bisa memberikan uang lebih banyak lagi dari semua ini. Dan aku janji, aku akan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Aku juga akan membelikan rumah baru untukmu dan adikmu." ujar Davien.


"Memangnya, pekerjaan apa itu, Mas? Aku mau bekerja apapun asalkan pekerjaan itu halal, Mas!" jawab Liana penasaran.


"Kau masih ingat dengan semua ucapanmu, yang akan menuruti semua permintaanku?" tanya Davien membuat Liana kembali berpikir.


"Iya, aku masih ingat, Mas. Aku melakukan semua itu karena kamu sudah mau membantu Viola sampai Viola bisa di operasi. Aku tidak akan melupakan semua janjiku padamu, Mas!"


"Bagus. Sebelum adikmu di operasi, aku mau kamu menandatangani surat perjanjian yang aku buat!" titah Davien.


"Surat perjanjian? Surat perjanjian apa, Mas?" tanya Liana penasaran.


"Jadilah istri simpananku. Aku hanya membutuhkan keturunan. Tapi seperti kamu lihat, istriku belum siap hamil. Jadi, aku mencoba cara lain agar aku cepat mempunyai keturunan." titah Davien.


Liana yang mendengar ucapan Davien pun sontak terkejut. "Aku tidak bisa, Mas! Aku tidak bisa menjadi istri simpananmu!" tolak Liana.


"Kalau kamu tidak bisa. Aku bisa dengan mudah membatalkan donor jantung itu. Semua keputusan ada di tanganmu. Mencari donor jantung tidaklah mudah, Li. Jika ada orang yang bersedia pun, kita harus membayarnya dengan mahal. Aku bukan menghina keadaanmu, tapi apa kamu punya uang untuk semua pengobatan adikmu? Dan satu hal lagi, setelah adikmu melakukan donor jantung, aku yakin ... adikmu harus rajin kontrol ke dokter. Semua itu butuh uang, kan? Kamu bisa berpikir sampai operasi itu akan di laksanakan. Jika kamu menolakku, maka aku akan menghentikan operasi itu!" ancam Davien membuat Liana terpaku.

__ADS_1


'A-apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menjadi benalu di rumah tangga Mas Davien. Tapi bagaimana dengan Viola? Apa yang diucapkan Mas Davien semuanya benar. Kalau pun aku bekerja, aku harus mengumpulkan uang gajiku selama bertahun-tahun dan semua itu akan membuat Viola tersiksa. Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menyetujui permintaan konyol dari pria di hadapanku.' batin Liana.


"Jika kamu bersedia, aku akan menjamin kesembuhan Viola sampai Viola benar-benar sembuh. Dan kamu tenang saja, kita akan merahasiakan pernikahan ini dari siapapun termasuk istriku. Setelah kamu berhasil melahirkan anakku, kita akan berpisah dan aku akan mengambil anakku." tawar Davien.


__ADS_2