
'Jika Bu Citra belum siap hamil, itu artinya Mas Davien harus meyakinkan istrinya, bukan malah menikahiku. Tapi aku harus mengambil hikmahnya. Viola bisa sembuh karena pengobatan yang di berikan Mas Davien.' batinnya lagi.
Setelah memilih beberapa perhiasan. Akhirnya Citra dan Davien memutuskan untuk singgah di salah satu restoran favorit. Mereka memesan makanan untuk makan siangnya.
"Setelah ini, aku akan antar kamu pulang, Cit. Dan aku harus pergi ke kantor. Aku tidak bisa bersantai-santai, kasihan Boy menghandle semua pekerjaan kantor!" ucap Davien menyendokkan nasinya ke dalam mulut.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu berangkat saja ke kantor. Lagi pula, aku lelah. Setelah pulang nanti, aku mau istirahat. Kelihatannya enak, rebahan di kasur!" ujar Citra dengan senyum bahagianya.
'Maafkan aku Cit, aku memang egois. Tapi aku harus melakukan semua ini. Aku tidak mau, kesepian di kehidupanku jika sudah tua nanti. ' batin Davien.
Setelah menyelesaikan makan siangnya. Davien mengantarkan istrinya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di halaman rumah, Davien meminta istrinya untuk keluar dari mobilnya.
"Beristirahatlah. Jangan sampai istriku yang cantik ini sakit! Dan tidak perlu fokus dengan ponselmu. Ingat, kamu baru saja pulang dari luar kota!" titah Davien menci um kening Citra dengan lembut.
"Okeh. Kamu hati-hati di jalan." jawab Citra membuka pintu mobil dan keluar.
Davien mengendarai mobilnya keluar gerbang rumah menuju rumah sakit dengan sebelumnya, dia menghubungi sekertarisnya yang sedang berjaga.
Boy yang mendapat notifikasi pesan masuk dari Tuan nya pun tersenyum tipis. Jarinya dengan lincah membalas pesan tersebut.
Setelah mendapat balasan dari sekertarisnya. Davien semakin menambah kecepatan gas mobilnya.
"Aku harus menemui Liana. Aku harus membuatnya bertekuk lutut padaku." gumamnya.
Liana menautkan ke dua alisnya saat mendengar notifikasi pesan masuk dari ponsel sekertaris suaminya. Rasa penasaran itu semakin tumbuh saat melihat Boy membalas pesan tersebut dengan sesekali melirik ke arahnya.
Boy meletakkan ponselnya dan tak sengaja ekor matanya bertemu dengan mata Liana yang tengah menatapnya.
"Nona, ada apa?" tanya Boy.
__ADS_1
Liana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya heran dengan perubahan sikap Mas Boy. Baru saja, wajah Mas Boy terlihat sangat serius saat bekerja, tapi saat melihat notifikasi pesan masuk dari seseorang, wajah Mas Boy terlihat berbeda." jawab Liana dengan senyum palsunya. 'Apa pesan itu dari Mas Davien? Tapi tidak mungkin Mas Davien mengirim pesan yang tentangku. Aku tahu, Mas Davien sedang bersama istrinya yang lain. Mungkin, ini perasaanku saja!' batin Liana.
'Lebih baik, aku tidak menceritakan kedatangan Tuan kepada Nona. Biarkan ini menjadi kejutan untuk Nona Liana.' batin Boy melanjutkan pekerjaan tanpa ingin menjawab pertanyaan Liana.
Merasa pertanyaannya di abaikan, pandangannya Liana kembali tertuju pada adiknya yang sedang tertidur.
'Ish, apa menurut Mas Boy pertanyaanku tidak penting? Benar-benar menyebalkan!' gerutu Liana dari dalam hati.
Setelah mobilnya membelah jalanan ibukota. Kini mobil yang di kendarai Davien sudah sampai di depan lobby rumah sakit.
Sebelum dirinya keluar dari mobil. Sekali lagi, Davien memastikan cincin yang baru saja di belinya terlebih dahulu.
"Aku harus bersikap adil. Aku akan memberikan cincin ini untuk Liana, sebagai hadiah pertamanya karena sudah membuatku puas!" gumam Davien keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit, di mana ruangan adik iparnya berada.
Krek!
Pintu ruang inap Viola terbuka.
Mata Liana membulat sempurna saat melihat sosok pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan adiknya.
'Mas Davien. Kenapa Mas Davien ada di rumah sakit? Bukankah, Mas Davien sedang bersama istrinya?' batin Liana terkejut.
Davien berjalan menuju Liana yang tengah terkejut.
"Kita harus bicara! Dan aku tunggu kamu di sofa!" titah Davien setengah berbisik, lalu memutar tubuhnya menuju sofa.
'Apa yang ingin Mas Davien bicarakan? Kenapa raut wajahnya terlihat sangat serius? Atau jangan-jangan, dia mau membicarakan masalah pernikahan kita? Atau jangan-jangan istri Mas Davien sudah tahu, kalau Mas Davien menikah lagi di belakangnya? Tidak! Aku tidak bisa biarkan semua ini.' batin Liana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa di mana suaminya berada.
Boy berjalan keluar kamar setelah mendapatkan peringatan khusus dari Tuannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" tanya Liana setelah menjatuhkan pantatnya di dekat suaminya. "Apa ini masalah pernikahan kita?" sambungnya lagi berbisik.
__ADS_1
Davien mengeluarkan kotak merah yang berisi cincin berlian yang baru saja di belinya.
"Untukmu!" titah Davien.
"Untukku?" gumam Liana menerima kotak berwarna merah tersebut, "Tapi ini apa, Mas? Aku tidak meminta apapun darimu, atau jangan-jangan ... ini hukumanku? Tapi aku sudah sampai di rumah sakit sebelum Mas Boy datang. Kamu bisa tanyakan saja. Tolong jangan hukum aku, Mas!" ujarnya lagi.
Davien menghembuskan napasnya kasar, dia menatap wanita di hadapannya dengan kesal.
"Memangnya, hukuman apa yang aku berikan di dalam kotak kecil ini, ha! Cepat terima dan buka!" paksa Davien membuat mau tak mau Liana mengambil kotak kecil berwarna merah pemberian suaminya.
"Aku tidak butuh ini, Mas!" ujar Liana menatap kotak kecil berwarna merah.
"Buka atau aku akan--"
"Okeh. Jangan mengancamku dengan hukuman, Mas. Aku akan membukanya." potong Liana.
Dengan sedikit keraguan, Liana membuka kotak berwarna merah. Matanya membulat sempurna saat melihat cincin yang indah di dalam kotak tersebut.
Tanpa di sadari oleh Davien dan liana, sedari tadi, Viola mengintip serta menajamkan pendengarannya.
"Mas, apa ini milik Bu Citra?" tanya Liana polos.
Davien memutar bola matanya jengah, "Apa telingamu tulli atau telingamu tertinggal di rumah, ha! Ini untukmu. Aku sengaja membelikan cincin untukmu. Cepat pakai!" titah Davien yang mendapat gelengan kecil dari Liana.
"Tidak, Mas. Aku tidak pantas memakai cincin mahal seperti ini. Lebih baik, kamu berikan saja kepada Bu Citra. Bukankah, aku dengar tadi, jika kalian--"
"Aku tidak butuh di bantah. Ini hadiah untukmu, karena kamu sudah menuruti semua perintahku. Dan satu lagi, malam ini ... Boy akan menjaga adikmu di rumah sakit. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah!" potong Davien yang lagi dan lagi tidak di setujui oleh Liana.
"Aku tidak setuju, Mas. Kamu tidak perlu mengantarkanku pulang. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau Bu Citra dan Viola tahu semuanya. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa ikut denganmu." tolak Liana.
'Tahu semuanya? Memangnya, apa yang Kak Li dan Kak Davien sembunyikan dariku dan Bu Citra? Bukankah, Bu Citra itu istri dari Kak Davien? Atau jangan-jangan Kak Li menjalin hubungan terlarang dengan Kak Davien?' batin Viola.
__ADS_1