Terpaksa Menjadi Istri Simpanan

Terpaksa Menjadi Istri Simpanan
Bab 30


__ADS_3

"Citra dan Viola tidak akan curiga pada kita. Asalkan kau pandai menutup rapat mulutmu!" ketus Davien.


Liana menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mas. Aku tidak mau ikut. Aku tidak mau membuat Viola curiga. Aku janji, aku pulang, tapi aku tidak bisa ikut bersamamu. Apa yang akan di pikirkan Viola. Kamu pulang saja, aku akan menyusulmu!" titah Liana tetap pada pendiriannya.


Mendengar ucapan Liana. Davien langsung bangkit dari sofa dengan berkacak pinggang.


"Kau tidak bisa mengaturku, Liana! Ingat statusmu yang sekarang!" ketus Davien.


Liana menundukkan kepalanya. "Aku ingat statusku yang sekarang, Mas. Tapi maaf, aku tetap tidak bisa. Biarkan aku pulang sendiri. Kita bisa bertemu di rumah. Kamu percaya denganku, kan, Mas?"


Davien mencengkram dagu Liana erat, membuat Liana sedikit terkejut dengan tindakan suaminya.


"Aku berusaha adil padamu dan Citra. Jadi, jangan pernah membantah ucapanku. Kau mengerti!" ketus Davien membuat Liana menganggukkan kepalanya.


"A-aku mengerti, Mas. Tapi lepaskan cengkramanmu. Aku takut Viola terbangun dan melihat sikapmu padaku." lirih Liana yang dapat di dengar oleh Viola.


Viola mengintip sedikit sikap pria yang sedang berbicara dengan Kakaknya.


Syok, Viola syok saat melihat Kakaknya yang sedang ketakutan.


'Kak Li dan Kak Davien. Kenapa Kak Davien begitu berani memperlakukan Kak Li dengan kasar. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan mereka.' batin Viola.


Davien melepas cengkraman tangannya. "Ikut aku pulang!" titahnya tak ingin di bantah.


Liana mengangguk sembari tangannya mengusap area dagunya yang terasa sakit.


"Iya, tapi setelah Viola bangun, Mas. Aku tidak bisa meninggalkan Viola tiba-tiba, pasti dia mencariku." jawab Liana.


"Okeh. Sekarang, panggilkan Boy. Dan jaga cincin dariku."

__ADS_1


"Iy-iya, Mas." jawab Liana beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar ruangan memanggil Boy.


Setelah memanggil Boy. Liana berjalan masuk lagi dan duduk di samping adiknya.


"Boy, kau jaga Viola dengan baik. Aku mau bersenang-senang dengan istriku!" titah Davien dengan enteng.


'Istri? Apa yang di ucapkan Kak Davien? Kenapa Kak Davien bilang, kalau dia mau bersenang-senang dengan istrinya? Padahal, dia baru saja memaksa Kak Li untuk ikut pulang bersamanya. Apa jangan-jangan istri yang di ucapkan Kak Davien itu Kak Li? Tapi tidak mungkin Kak Li mau menikah dengan pria yang sudah bersuami.' batin Viola membuka kelopak matanya perlahan.


Melihat kelopak mata adik bergerak, Liana memberi isyarat pada dua pria yang sedang berbicara.


"Kak?" panggil Viola, "Kakak masih di sini?" sambungnya lagi.


"Iya. Kakak masih di sini. Kakak tidak bisa membiarkanmu sendirian. Bagaimana, apa tidurmu sangat nyenyak? Pasti iya, dong! Karena tidurmu di temani oleh Mas Davien dan Mas Boy." jawab Liana dengan senyum manisnya.


"Hahaha ... Kakak bisa saja. Bukan Kak Davien dan Kak Boy saja yang menemaniku, tapi ada Kak Li juga yang selalu stay di sisiku. Tapi, kenapa dagu Kakak merah? Apa yang terjadi, kak?" tanya Viola berpura-pura.


"Merah? Kamu bohong, mana mungkin dagu Kakak merah. Memangnya, kakak mengoleskan bush on di dagu? Kamu ada-ada saja!" jawab Liana sembari mengusap punggung tangan adiknya.


"Tenang saja, sebentar lagi kita pulang. Setelah dokter memastikan kondisimu dalam keadaan baik-baik saja." jawab Liana melihat suaminya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearahnya.


"Viola, bagaimana keadaanmu?" tanya Davien basa basi.


"Seperti yang kakak lihat. Aku sudah jauh membaik. Oh, iya. Kak Davien sudah lama di sini?" tanya balik Viola.


"Lumayan lama. Tapi Kakak tidak bisa berlama-lama di sini. Sebentar lagi, matahari tenggelam. Kakak harus pulang. Kasihan istri Kakak sudah menunggu di rumah." ujar Davien.


'Astaga, ternyata aku sudah salah berpikir. Aku pikir, wanita yang di sebut istri oleh Kak Davien itu Kak Li, tapi ternyata bukan. Beruntung, aku belum menanyakan hal ini. Tapi kenapa Kak Davien memberikan cincin yang sangat indah untuk Kak Li? Dan aku juga sempat mendengar, kalau cincin itu sebagai hadiah karena kak Li sudah patuh dengan Kak Davien. Bukankah semua ini terlihat aneh?' batin Viola bertanya-tanya.


"Vi, kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan, Hem?" tanya Liana membuyarkan lamunan adiknya.

__ADS_1


"Eh, tidak, Kak! Siapa yang melamun. Aku senang saja, saat mendengar Kak Davien memprioritaskan istrinya. Semoga saja, suamiku kelak mempunyai sifat dan sikap seperti Kak Davien." jawab Viola menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.


'Jangan Viola. Kakak harap, suamimu tidak seperti Mas Davien. Kakak tidak mau hidupmu tersiksa seperti apa yang sedang Kakak rasakan. Kamu berhak bahagia, sayang!' jerit Liana.


Davien tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Kakak do'akan, semoga suamimu nanti, akan mempunyai sikap dan sifat seperti Kakak. Kalau begitu, Kakak harus pulang. Dan Liana, kau tidak pulang?" tanya Davien basa basi.


Liana mendongakkan wajahnya, "Iy-iya, aku pulang, Mas. Kamu duluan saja!" jawabnya.


"Aku antarkan kamu saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." ajak Davien.


"Tapi, Mas. Aku harus izin dengan Viola." jawab Liana menatap wajah adiknya. "Kakak boleh pulang? Kebetulan, pakaian kotor di rumah kita sudah menumpuk banyak." tanya Liana.


'Kak Li bohong padaku. Tapi kenapa alasannya? Aku tahu, Kak Li bukan tipe orang yang suka bohong. Pasti, apa yang sedang di sembunyikan Kak Li merupakan rahasia besar.' batin Viola.


"Viola sayang, kakak tinggal sebentar, boleh? Kakak janji, setelah selesai, nanti. Kakak akan kembali menjagamu. Kamu tenang saja, Kakak akan meminta Mas Boy untuk menjaga selama kakak tidak ada, bagaimana?" tanya Liana.


Viola menganggukkan kepalanya. "Kakak hati-hati dan kembalilah besok pagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Kakak, jika memaksakan datang ke rumah sakit malam-malam." titah Viola. "Kak Davien, titip Kak Li, ya! Antarkan dia sampai rumah dengan selamat." pinta Viola yang mendapat anggukkan kecil dari Davien.


"Itu sudah pasti. Tanpa kamu memintanya, aku akan menjaga Kakakmu, karena apa? Karena dia--"


"Uhuk ... Uhuk ...." suara batuk Liana menghentikan ucapan Davien. "Mas, sebaiknya kita pergi sekarang. Jangan sampai kamu sampai rumah malam hari. Pasti Bu Citra mengkhawatirkanmu di rumah!" ajak Liana.


"Viola, Kakak tinggal, ya!" titah Liana lagi.


"Kak Li, hati-hati." pekik Viola menatap kepergian Kakaknya.


Melihat kepergian Tuan dan Nyonya muda. Boy langsung menghampiri wanita yang sedang berbaring di ranjang.


"Jika terjadi sesuatu, berteriaklah." titah Boy.

__ADS_1


"Iya, Kak!" jawab Viola, 'Apa aku tanya saja tentang apa yang aku lihat ke Kak Boy? Tapi aku takut, Kak Boy mengatakan semuanya ke Kak Davien?' batin Viola kebingungan.


__ADS_2