
Boy mengangguk kepalanya dan dia mulai fokus untuk mengerjakan pekerjaan yang di bawa dari kantor.
Sedangkan di satu sisi. Setelah sampai di toko perhiasan. Citra segera meminta perhiasan model terbarunya yang dia lihat di media sosialnya toko tersebut.
"Mas, ini bagus, tidak?" tanya Citra menunjukkan cincin berlian yang sangat langka.
Davien mengangguk, "Bagus." jawabnya.
"Bagus ini atau yang ini?" tanya Citra yang ragu.
"Dua nya bagus, Cit!" jawab Davien.
"Aku serius, Mas. Bagus ini atau ini?" kesal Citra.
"Bagus semuanya, Citra sayang! Ambil saja dua cincin itu!" titah Davien menatap etalase cincin.
"Kamu sedang apa, Mas? Jangan bilang, kamu sedang memilih cincin untukku?" tanya Citra tak percaya.
Davien menatap wajah istrinya dengan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin melihat-lihat saja, Cit. Jika ada yang bagus untukmu. Maka aku akan merekomendasikannya, tapi jika tidak ada, aku tidak akan merekomendasikannya." jawab Davien.
"Aku tidak suka yang di etalase ini, Mas. Aku suka dengan dua cincin yang sedang aku pakai ini. Kamu tidak perlu melihat etalase itu, karena etalase itu model keluaran lama." ujar Citra.
Davien mengangguk. Tak sengaja ekor matanya melihat cincin yang sangat cantik dan elegan. Cincin dengan berlian kecil berwarna merah muda yang tertanam di tengah-tengah.
"Citra, carilah lainnya. Apa kau tidak ingin membeli kalung atau gelang atau lainnya?" tawar Davien yang lagi dan lagi membuat Citra bahagia.
"Kamu benar mau membelikanku apa yang aku mau, Mas?" tanya Citra tak percaya.
"Iya. Belilah apa yang kamu mau. Aku akan tunggu di sini. Dan pakai kartu ini untuk membayar semua total belanjaanmu." titah Davien mengeluarkan kartu ATM berwarna hitam yang limitnya tiada batas.
Citra mengambil kartu tersebut lalu meminta pelayan toko untuk mengeluarkan koleksi barang-barang terbarunya.
Melihat istrinya fokus dengan perhiasan, Davien langsung melambaikan tangannya, memerintahkan pelayan toko yang tak jauh darinya untuk mengambil cincin yang baru saja dia lihat.
"Ambilkan itu!" titah Davien.
__ADS_1
pelayan toko langsung mengambil cincin yang ditunjukkan oleh Davien.
"Pakailah!" titahnya lagi membuat pelayan toko itu kebingungan.
"Sa-saya Pak?" tanya pelayan toko tersebut.
"Kecilkan suaramu. Aku tidak mau istriku mendengar percakapan kita. Iya, pakai saja! Aku sedang mengukur jarimu!" titah Davien.
"Baik, Pak!"
Akhirnya pelayan wanita itu memakai cincin yang di rekomendasikan oleh Davien. "Bagaimana, pak?"
"Aku ambil yang ini. Bungkus secepatnya. Jangan sampai istriku tahu!" titahnya lagi sembari mengeluarkan kartu ATM lainnya.
Pelayan toko langsung membungkuskan pesanan Davien.
Setelah pesanan selesai. Davien mengambil cincin dan memasukkan ke dalam saku celananya.
"Mas, kamu sedang apa?" tanya Citra saat melihat suaminya mengobrol dengan salah satu pelayan toko.
"Lalu, kamu menemukan yang cocok untukku?" tanya Citra yang mendapat gelengan kecil dari suaminya.
"Tidak ada yang cocok. Aku capek! Aku menunggumu di sofa dekat dengan pintu keluar, ya!" titah Davien.
"Okeh, Mas. Kamu tunggu aku saja di sana. Sebentar lagi, aku selesai memilih." jawab Citra.
Davien berjalan menuju sofa dekat dengan pintu. Di raihnya ponsel yang berada di saku celananya.
'Bagaimana, apa wanita itu ada di rumah sakit?' kirim Boy.
Sedangkan di satu sisi. Melihat ponselnya menyala di samping laptopnya, Boy langsung mengambilnya. Dia melihat notifikasi pesan masuk dari bosnya.
'Sudah Tuan. Nyonya Liana sudah berada di samping saya. Mungkin, dia takut dengan ancaman Tuan." kirim Davien.
"Siapa yang mengirim pesan, Mas?" tanya Liana saat melihat gerak gerik mencurigakan dari pria di sampingnya.
__ADS_1
"Tuan Davien!" jawab Boy meletakkan ponselnya lagi di atas meja.
Liana menatap sekilas adiknya yang sedang tertidur. "Dia mencariku, Mas?" bisik Liana.
"Nona tidak perlu tahu. Karena ini masalah saya dan Tuan Davien." jawab Boy yang semakin membuat Liana penasaran.
"Mas Boy memang menyebalkan. Eh, tapi Mas. Aku boleh bertanya sesuatu tentang Mas Davien?" tanya Liana lirih.
Boy menghentikan jarinya yang menari di papan keyboard laptopnya.
"Bertanya tentang apa, Nona?" jawab Boy serius.
"Em, begini Mas. Aku heran dengan rumah tangga Mas Davien dan Bu Citra. Bukankah mereka saling mencintai? Tapi kenapa Bu Citra tidak mau melahirkan anak dari Mas Davien?" bisik Liana yang sesekali menatap ranjang adiknya.
"Nona tidak perlu tahu penyebab dan alasannya. Karena semua itu, di luar kendali kita semua. Hanya Nyonya Citra yang bisa memberikan alasan dan jawaban. Jadi, jika Nona Liana penasaran dengan jawaban itu. Lebih baik, Nona Liana tanyakan saja pada Nyonya Citra!" jawab Boy masuk akal.
Liana memicingkan matanya tak suka saat mendengar jawaban dari pria di hadapannya.
"Mas, aku sedang serius, jawab pertanyaanku dengan serius juga!" kesal Liana.
"Bukankah, saya menjawab pertanyaan Nona Liana dengan serius?"
"Tapi bukan jawaban seperti itu yang ingin aku dengar, Mas! Aku juga butuh jawaban yang masuk akal. Aku tahu, Bu Citra mempunyai alasan tersendiri, tapi Mas Boy pasti tahu alasannya, kenapa Bu Citra sampai tidak mau mengandung anak dari Mas Davien? Atau mungkin, Mas Davien terlalu mencintai Bu Citra sampai sikapnya overprotektif dan Bu Citra tidak suka dengan sikap Mas Davien sampai di mana ... Bu Citra ragu hamil anak suaminya sendiri? Atau ada sesuatu lain lagi?" ujar Liana panjang lebar.
"Maaf, tapi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Nona. Lebih baik, Nona tanyakan sendiri pada Tuan Davien. Hanya dia lah yang pantas menjawab semua pertanyaan Nona bukan saya!" jawab Boy lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhambat.
Liana menghembuskan napasnya kasar. Dia beranjak berdiri, Ya, sudah, terimakasih atas jawaban dari Mas Boy. Semua jawaban Mas Boy memang benar." ketus Liana melangkahkan kakinya menuju ranjang adiknya.
Boy tersenyum tipis saat mendengar nada kecewa dari istri muda Tuan nya.
'Aku pikir, orang sepertinya akan bersikap cuek dengan masalah orang lain, tapi ternyata tidak! Justru orang sepertinya sangat tinggi rasa penasarannya.' batin Boy.
Liana menjatuhkan pantatnya di samping ranjang adiknya, dia mencari ponselnya dan melihat ponselnya yang sedang di isi daya.
'Bukankah pertanyaanku sangat wajar? Tapi kenapa Mas Boy menjawabnya seperti itu. Aku juga istri Mas Davien. Dan aku sangat penasaran dengan rumah tangga yang di bina Mas Davien dan Bu Citra. Aku rasa, mereka saling mencintai. Bahkan, Mas Davien sangat takut kehilangan Bu Citra, tapi kenapa Mas Davien tidak membujuk Bu Citra untuk hamil? Dan kenapa harus mencari wanita lain? Bukankah, semua ini sangat menyakitkan untuk Bu Citra, kelak?' batin Liana.
__ADS_1