
Citra menghampiri Liana yang tengah mengusap keningnya.
"Hei, wanita tidak tahu diri. Akhirnya, kita ketemu juga di sini!" sindir Citra membuat Liana menatap ke arah wanita yang sedang memakinya.
"Bu-bu Citra?" pekik Liana ketakutan, lalu dia dapat melihat pria yang berstatus sebagai suaminya tak jauh darinya. 'Mas Davien juga ada di sini.' batinnya.
"Hem, rupanya kau tahu namaku. Kedatanganku kemari, hanya ingin menagih janjimu. Kau berjanji akan mengganti tas mahalku. Jadi, berikan aku uang untuk mengganti tas mahalku sekarang juga!" titah Citra dengan tangan menengadah.
Liana kebingungan, dia mengatupkan kedua tangannya di dadda, "Maafkan saya, Bu Citra. Tapi untuk sekarang, saya benar-benar tidak mempunyai uang. Apa saya bisa meminta sedikit waktu? Dan bukankah, saya sudah menuruti semua permintaan ibu Citra untuk menjaga suami Bu Citra sendiri sewaktu Bu Citra--"
"Hei, kamu pikir, dengan menjaga suamiku, hutangmu lunas? Hutang akan tetap menjadi hutang. Dan aku tidak mau tahu, kamu harus mengganti tas mahalku sekarang juga! Atau, suamiku akan bertindak. Dia akan melaporkanmu ke polisi." ancam Citra.
Liana melihat wajah pria yang tak jauh darinya. "Maaf, Bu. Tapi saya sama sekali tidak mempunyai uang sebanyak itu."
"Aku tidak mau tahu, mau kamu tidak punya uang atau banyak uang, itu bukan urusanku. Yang aku minta hanyalah uang! Uang untuk membeli tas mahalku yang sudah kau kotori! Memang ya, bicara dengan orang susah sepertimu hanya membuang-buang waktuku saja!" kesal Citra memutar tubuhnya dan berlari menuju suaminya. "Mas, kamu harus penjarakan dia. Kamu tidak boleh diam saja. Kamu harus--"
"Kita masuk ke mobil!" potong Davien membukakan pintu mobil untuk istrinya, Citra.
"Tapi, Mas. Kamu tahu sendiri, harga tasku yang kemarin? Bahkan aku membelinya saat kita liburan di di luar negeri. Intinya, aku tidak mau tahu. Dia harus mengganti semua kerugian ini!" kesal Citra.
"Okeh. Kamu masuk ke dalam mobil. Biar aku yang bicarakan semua ini dengan wanita itu." titah Davien yang mendapat gelengan dari Citra.
"Aku tidak mungkin membiarkan suamiku ini berbicara berdua dengan wanita kampung sepertinya, Mas. Bisa-bisa, kamu di goda. Cukup tasku saja yang rusak, dan aku tidak mau rumah tanggaku rusak karena wanita sepertinya!" ketus Citra.
Davien menghembuskan napasnya kasar saat mendengar semua ucapan istrinya.
__ADS_1
"Citra, jika kamu berbicara dengannya menggunakan emosi. Itu artinya, kamu akan membuang tenagamu, saja. Sebaiknya, aku yang bicara berdua dengannya. Kamu tunggu di dalam mobil. Hari mulai panas, aku tidak mau istriku yang cantik ini kepanasan." bujuk Davien sembari menci um kening Citra di depan Liana.
Liana tersenyum getir, dia bangkit dan berjalan menjauh dari halte.
Melihat kepergian Liana, Davien segera meminta istrinya masuk lagi dan berlari mencegah kepergian Liana, wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya juga.
"Tunggu!" titah Davien meraih tangan Liana.
Liana memutar tubuhnya sembari tersenyum manis. "Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa mengganti rugi tas Bu Citra yang pernah aku kotori. Tapi aku berjanji, aku akan--"
"Hust, diam! Aku tidak mau membahas tas itu!" lirih Davien lalu melirik sekilas Citra yang sedang menunggunya di dalam mobil. "Di mana ponselmu dan mau kemana, Hem? Aku berusaha menghubungimu sedari semalam, tapi kamu sama sekali tidak mengangkat atau membalas pesanku!" tanya Davien sedikit emosi.
Liana menarik tangannya dari genggaman pria di hadapannya, "Maaf, Mas. Aku tidak ada waktu untuk membalas atau mengangkat telfonmu. Aku fokus kesembuhan Viola. Dan sebaiknya, kamu pergi saja. Jangan temui aku di saat kamu sedang bersama Bu Citra. Aku tidak mau melihat Bu Citra sakit hati." titah Liana.
"Aku tidak akan menemuimu di saat ada Citra. Tapi aku butuh jawaban darimu. Lain kali, jika aku menelfon atau mengirim pesan. Aku harap balas dan angkat telfon ku. Kamu ini sudah menjadi istriku, walaupun istri simpanan, tapi perlu kamu ingat, Liana. Adikmu bisa sembuh karenaku. Tanpa uang dariku, adikmu tidak akan bisa mendapatkan donor!" ucap Davien.
"Sekarang aku bertanya, kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini? Bukankah, ada Boy yang bertugas menjaga kalian selama aku tidak ada di samping kalian?" tanya Davien.
"Mas Boy juga mempunyai kesibukan di luar sana. Aku juga tidak mau membuat Viola curiga karena kedekatanku dengan Mas Boy. Jadi, aku meminta Mas Boy pergi. Dan aku mau meminta izin darimu, Mas. Aku mau mencari pekerjaan, setidaknya untuk menyambung hidupku dan Viola setelah keluar dari rumah sakit." lirih Liana yang mendapat gelengan kecil dari pria di hadapannya.
"Kau gila, aku tidak akan mengizinkanmu bekerja. Kau tenang saja, semua kebutuhanmu akan aku penuhi sampai kau melahirkan anakku."
"Tapi, Mas. Aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku harus be--"
"Aku bukan orang lain. Aku suamimu. Kembalilah ke rumah sakit!" potong Davien.
__ADS_1
Di dalam mobil. Tak henti-hentinya, Citra menatap suaminya yang sedang berbicara dengan wanita yang merusak tasnya.
Pembicaraan yang terlihat serius, membuat Citra penasaran dengan apa yang suaminya bicarakan.
"Sebenarnya, mereka bicara tentang apa? Kenapa raut wajah mereka sangat serius? Dan tunggu dulu, seharusnya Mas Davien memarahi wanita itu, tapi kenapa aku tidak mendengar Mas Davien memarahi wanita itu? Aku jadi penasaran dengan topik pembicaraan mereka!" gumam Citra membuka pintu mobilnya.
"Aku akan telfon Boy. Jika Boy tidak melihatmu di rumah sakit. Itu artinya, kau berani melawanku, dan akan ada hukumannya jika ada yang berani melawanku!" ancam Davien.
Liana membuang mukanya saat mendapatkan ancaman dari suaminya. Tak sengaja ekor matanya melihat Citra keluar dari mobil.
"Maafkan saya, Pak! Saya belum bisa mengganti tas mahal milik istri Bapak. Tolong beri saya waktu, saya janji ... saya akan mencicil uang untuk ganti rugi tas istri Bapak!" ucap Liana sedikit keras membuat Davien yang mendengarnya kebingungan.
"Telingamu tuli atau--"
"Mas, sudahlah kita penjarakan saja! Setelah itu, kita ke Mall. Kamu sudah janji, mau belikan aku perhiasan keluaran terbaru!" potong Citra membuat Davien menatap tajam Liana.
"Beri saya waktu, Bu. Saya janji, saya akan--"
"Pergi!" titah Davien, "Pergi atau aku penjarakanmu!" ancamnya lagi.
Liana mengangguk, dia berlari menjauhi citra dan Davien.
Citra menghentakkan ke dua kakinya kesal secara bergantian.
"Kenapa kamu lepaskan dia, Mas!" kesal Citra.
__ADS_1
"Biarkan saja, Cit. Dia tidak ada uang sama sekali. Sebaiknya, kita beri waktu beberapa hari!" jawab Davien