
"Kamu abaikan saja, Vi. Memang kamu mau, istri Mas Davien tahu tentang kita? Jangan membuat masalah baru untuk Mas Davien ya?" pinta Liana.
"Ya, sudah Kak! Kakak hati-hati." teriak Viola saat melihat kepergian Liana.
Setelah Liana keluar ruang inap adiknya. Dia menarik ke dua sudut bibirnya ke atas, "Akhirnya, apa yang aku tunggu-tunggu tercapai juga. Mas Davien tidak akan menggangu kehidupanku lagi!" gumam Liana dengan wajah berseri-seri. Dia melangkahkan kakinya dengan perasaan bahagianya.
Sedangkan di meja makan. Terlihat sepasang suami istri yang sedang menikmati sarapan paginya dengan nikmat.
"Sayang, hari ini, kau harus temani aku ke Mall. Aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Kebetulan aku melihat cincin berlian keluaran terbaru. Dan cincin itu sangat langka. Kamu mau ya, temani aku! Kamu gunakan kekuasaanmu di sana!" pinta Citra meletakkan sendoknya dan meraih tangan suaminya yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
"Hari ini, aku ada meeting di kantor, Cit. Ajak teman-teman sosialitamu saja. Aku sibuk!" tolak Davien.
Mendengar kata penolakan, seketika Citra melepas genggaman tangannya.
"Kamu menyebalkan sekali, Mas! Ini kemauan istrimu sendiri. Seharusnya, kamu senang, karena istrimu merepotkanmu!" kesal Citra meminum su su hangatnya.
Davien tersenyum sekilas, dia menghembuskan napasnya kasar. "Aku sedang sibuk, Citra sayang. Atau begini saja, aku akan suruh Boy untuk menemanimu. Bukankah, wajah Boy terlihat lebih mengerikan dari pada wajahku?" bujuk Davien.
"Memangnya, yang suamiku siapa, Mas? Kamu atau Boy?" sindir Citra bangkit dari tempat duduknya, "Kalau kamu tidak mau menemaniku, aku tidak masalah! Tapi ingat, aku tidak mau hamil anakmu," ancam Citra berjalan menaiki tangga agar sampai ke kamarnya.
Davien menatap kepergian istrinya, dia meminum secangkir kopinya sampai tandas.
'Bicara tentang anak, kenapa aku teringat dengan Liana. Tapi untuk sekarang ini, aku tidak bisa menemuinya dahulu. Aku tidak mau Citra curiga padaku!' batin Davien berjalan menyusul istrinya yang sedang merajuk.
Citra menutup pintu kamarnya keras. Dia mengambil tas dan ponselnya yang berada di atas kasur.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Cit?" tanya Davien saat melihat istrinya memasukkan ponsel ke dalam sling bag nya.
"Pergi. Aku punya suami seperti tidak mempunyai suami." jawab Citra enteng.
"Jangan seperti ini, Cit. Okeh, aku akan temani kamu ke Mall. Tapi tunggu dulu, aku harus menghubungi Boy untuk menghandle semua pekerjaan di kantor. Aku tidak bisa membiarkan meeting penting ini terbengkalai. Kamu tahu sendirikan, bagaimana susahnya memenangkan tender besar?" titah Davien yang mendapat anggukan kecil dari istrinya.
"Okeh, suamiku sayang. Cepatlah kamu hubungi Boy, aku sudah tidak sabar pergi ke toko perhiasan." jawab Citra melingkarkan tangannya di lengan suaminya. "Mas, kamu tahu, aku sangat dan sangat mencintaimu. Kamu ini hanya milikku, jangan pernah mengkhianatiku ya!" sambungnya lagi.
Davien menci um pucuk kepala istrinya berulang kali, "Aku juga mencintaimu, dan aku tidak akan meninggalkanmu, Cit. Sekarang, lepaskan aku dulu, bagaimana aku bisa menghubungi Boy, jika tanganmu menghalanginya terus." ucap Davien yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Tidak mau, sayang. Biasanya kamu juga bisa menghubungi Boy dengan tanganmu yang lain. Cepat, Mas! Aku tidak sabar mengunjungi toko perhiasan itu!" titah Citra antusias.
Davien menelan salivanya susah, 'Bagaimana aku menanyakan kabar Liana, jika Citra terus bersikap manja padaku.' batin Davien merogoh ponselnya yang berada di saku celana.
Tut ... Tut ....
"Kemungkinan, Boy sedang dalam perjalanan ke kantor. Dia tidak mengangkat telfon ku. Sebaiknya kita pergi saja. Aku bisa menghubunginya di jalan nanti! Tapi ingat, waktuku tidak banyak. Setelah aku menemanimu ke toko perhiasan, aku harus ke kantor!" jawab Davien mengusap tangan istrinya yang melingkar di lengannya.
"Okeh, aku tidak akan mempermasalahkan semua itu. Tapi dengan catatan, aku ikut ke kantormu, sayang. Entah kenapa hari ini aku selalu ingin berdekatan denganmu!" bisik citra sembari menaik turunkan alisnya.
Davien terkekeh, dia mengacak-acakan rambut istrinya sampai berantakan.
"Mas, apa yang kamu lakukan, ha! Aku tidak suka ya, kamu mengacak-acakan rambutku. Apa kamu tidak tahu, hampir satu jam aku merapikan rambutku agar terlihat cantik, tapi dengan santainya kamu mengacak-acakan rambutku! Aku marah padamu!" ketus Citra menarik tangannya dan berjalan keluar kamar.
Melihat kemarahan istrinya, entah kenapa Davien seketika teringat dengan sosok Liana yang lemah lembut.
__ADS_1
'Walaupun Liana berasal dari keluarga tidak mampu. Tapi dia mempunyai sikap dan hati yang lembut. Kenapa aku jadi merindukan sosoknya, ya? Apalagi saat aku melihat dia pasrah kemarin.' batin Davien membayangkan kejadian kemarin sore di dalam rumah istri mudanya.
"Mas!" panggil Citra dari luar kamar membuyarkan lamunan Davien.
'Kenapa aku memikirkan dia? Padahal, aku sedang bersama wanita yang aku cintai?' batin Davien berjalan keluar kamar. "Tidak perlu teriak-teriak. Aku tidak tulli, Citra!" kesal Davien.
"Kamu kenapa sih? Aku ini sedang marah. Seharusnya kamu membujukku bukan malah membiarkanku. Memangnya, kamu mau melihatku marah terus? Memangnya, kamu mau melihat wajahku cepat keriput karenamu?" kesal Citra sembari berkacak pinggang.
Davien menghembuskan napasnya kasar, "Ayo kita berangkat! Jangan sampai orang lain membeli cincin berlian itu lebih dulu." ajak Davien mengulurkan tangannya.
Citra menatap sekilas uluran tangan suaminya, "Nah, kalau sikapmu manis seperti ini, aku jadi tambah cinta." ujar Citra dengan senyum manisnya. Akhirnya mereka pergi bersama ke Mall terbesar yang berada di kota Jakarta.
Sedangkan di satu sisi. Liana berjalan di pinggir jalan. Sudah berulang kali, dia menawarkan jasanya ke setiap toko yang di lewatinya, tapi tidak ada satupun orang yang mau menggunakan jasanya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku sudah berkeliling kota ini, tapi tidak ada satupun orang yang mau memperkerjakan aku. Rasanya sangat lelah." lirih Liana melihat halte bus. Segera dia mempercepat langkahnya dan menjatuhkan pantatnya di kursi yang terbuat dari besi.
"Huh, lelahnya!" ucapnya lagi sembari menghapus keringat yang menetes di keningnya.
Di dalam mobil. Tak sengaja Citra melihat wanita yang tak asing baginya berada di halte bis.
"Sayang, berhenti!" titah Citra membuat Davien menepikan mobilnya di dekat halte bis.
"Ada apa, hem? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Davien memastikan.
"Tidak. Tapi aku melihat dia!" tunjuk Citra ke arah Liana. "Kamu tahukan, wanita itu sudah merusak tasku. Jadi, aku mau minta ganti rugi tasku yang rusak padanya! Kamu tunggu di sini saja!" titah Citra keluar dari mobil.
__ADS_1
"Hei, Citra tunggu--" ucapan Davien terhenti saat melihat istrinya menghampiri wanita ya sudah berstatus sama.