
Langit begitu cerahnya, matahari bersinar dengan segenap kelembutannya. Hamparan rumput dan rindangnya pepohonan yang menghijau, seolah menggambarkan permadani hijau yang begitu luas dan lembut. Tampak di sekitar bangunan-bangunan besar yang begitu megahnya, tampak menara-menara yang berkilauan ketika sinar mentari menerpanya, tak ayal karna kubah-kubah menara tersebut berlapis emas. taman -taman istana yang dipenuhi dengan patung-patung bidadari dan binatang-binatang surgawi, tak lupa sebagai pelengkap terdapat kolam-kolam yang begitu jernih airnya. Di atas sebuah balkon sebuah menara, tampak berdiri seorang wanita yang sedang memperhatikan hiruk-pikuk kegiatan orang-orang di taman. "Yang Mulia Tuan Putri, hamba membawa pesan dari Yang Mulia Raja agar putri segera menghadapnya" ucap seorang dayang. Wanita diatas balkon tersebut membalikkan badannya ke arah sang dayang, "Baiklah, katakan kepada ayahanda, putri akan segera menghadap" jawabnya. Yaaa dia adalah Putri Mahacharya, putri sulung dari Raja Mouri, Putri kesayangan yang terlahir dari Permaisuri yang sangat dicintainya, yang telah terlebih dahulu berpulang ketika melahirkan putra bungsunya. Putri Mahacharya memiliki aura kecantikan yang khas, berkulit kuning, berambut coklat tua panjang sepinggang dan berombak, bermuka bulat, beralis tebal, berhidung kecil dan berbibir kecil mungil, tetapi bermata bulat kecil yang tajam, berbalut sutra berwarna salem, ditambah perhiasan sederhana tetapi berukir khas kerajaan, hiasan rambut emas yang dihiasi batu permata ruby dan zamrud menambah kesan elegannya sebagai seorang putri.
__ADS_1
***********
__ADS_1
"Hahahahahhaa....benda ini sangat bagus sekali, kerja bagus kalian" Ucap seorang yang sedang duduk di singgasana, yaa dialah Raja Mouri, ayah sang putri. "Aku rasa benda ini akan kupercayakan kepada putriku Mahacharya, aku yakin dia bisa menjaganya. Karena benda ini adalah kunci pembuka bagi harta peradaban kerajaan Tamoor" lanjutnya. "Apa yang Mulia yakin kunci ini akan diberikan kepada Putri Mahacharya?, dia hanya seorang wanita, suatu saat nanti dia harus pergi meninggalkan kerajaan ini untuk mengikuti suaminya, dan harta kerajaan Tamoor akan lenyap" Ucap seorang pemuda, dia adalah Suriyya, putra sulung dari selir Noor yang tampaknya tak suka dengan keputusan sang ayah yang lebih menyayangi Mahacharya. "Apa maksudmu!!!...apa kamu meragukanku, meragukan keputusanku sebagai seorang raja yang sudah ratusan tahun memerintah negeri ini dan memenangkan peperangan haahhh!!!!!" bentak sang raja kepada putranya. "Maaf yang Mulia Ayahanda...hamba tidak berani dan tidak bermaksud menentang keputusan yang mulia" jawabnya, dalam hatinya begitu kesal dan mengepalkan tangganya begitu kuat sebagai tanda bahwa dia memiliki rasa dendam terhadap kakak sulungnya. Setelah bentakan sang raja menggema di seluruh ruangan, sejenak ruang pertemuan istana tersebut hening dan sunyi tanpa ada yang mengeluarkan sedikipun suaranya. "Yang Mulia Putri Mahacharya sedang memasuki ruangan" teriak para prajurit penjaga. Seketika orang-orang segera berdiri memberi hormat kepada sang putri, dan rona muka sang raja berubah menjadi cerah seketika, ketika melihat putri kesayangannya sedang menuju kepadanya. "Hamba Mahacharya memberi hormat kepada yang Mulia Raja, ada apakah gerangan yang mulia memanggil hamba" ucapnya. "Putriku...duduklah disampingku, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu" ucap sang raja. "Terima kasih Yang Mulia" jawab sang putri. "Lihatlah benda ini putriku, bukankah benda ini sangat bagus. Ini adalah sebuah kunci yang akan melindungi peradaban Tamoor yang sebenarnya" Ucap sang Raja. Sejenak sang putri memperhatikan benda itu, berbentuk memanjang sekitar 10 cm, di salah satu ujungnya terdapat sebuah batu permata tunggal yang cukup besar berwarna biru tua, di ujungnya terdapat batu-batu kecil berwarna putih. di ujung yang satunya terdapat dua buah pengait, seperti sebuah kunci menuju suatu tempat pikir sang putri. "Benda seberharga ini, hamba belum yakin untuk bisa melindunginya yang mulia" ucap sang putri. "Kenapa kamu ragu dengan dirimu sendiri, aku yang mendidikmu sendiri, kamu bisa melindungi dirimu dan orang lain, ayah yakin kamu memang pantas, jangan menolak lagi!!" ucap sang raja. "Baiklah jika ini adalah keinginan yang mulia, hamba menerimanya" ucap sang putri. Segera setelah menerima benda tersebut, sang putri mohon diri untuk pamit kembali ke ruangannya. Dengan selesainya acara penyerahan kunci tersebut kepada sang putri, sang raja pun membubarkan para tamunya.
__ADS_1