
Sore hari di ruangan sang pangeran
__ADS_1
Begitu tiba di istana, sang raja beserta para dewan segera menyambut sang pangeran, segera membicarakan rencana pernikahan dan aliansi kerajaan. Segera setelah selesai, sang pangeran segera diantar ke ruangan khusus yang telah disiapkan. "Apakah wanita tadi itu adalah putri Mahacharya?"tanya sang pangeran kepada Dhurna sang pengawal setianya. "Iya benar pangeran, wanita tadi adalah sang putri" jawab Dhurna. "Hhmmmm....tidak begitu cantik, ternyata selera kakakku hanya sebatas ini"kata sang pangeran sambil memainkan gelas araknya. Dhurna hanya diam mendengarkan kata-kata sang pangeran. Aaahh emang selera sang pangeran ini setinggi langit, tapi putri adalah seorang wanita yang mempesona dan berkelas mengingat dia terlahir dari keluarga bangsawan, tapi ada yang janggal kenapa sang pangeran melempar senyumnya, padahal kepada wanita yang tidak menarik hatinya dia selalu bersikap dingin, pikir Dhurna dalam hati. "Bagaimana menurutmu Dhurna?" tanya sang pangeran sambil mengerlingkan mata pertanda bahwa ada seorang penyusup yang sedang menguping pembicaraan mereka. Sadar akan kode tersebut, Dhurna lantas menjawab dengan lantang "Iya benar sekali yang Mulia, harusnya anda mendapatkan seorang yang lebih menarik" jawab Dhurna. "Begitulah maksudku" jawab pangeran. Nampak seseorang yang memakai jubah dan tudung hitam berlari dengan cepat meninggalkan tempat pangeran. Setelah dirasa mata-mata tersebut sudah pergi, Dhurna bertanya pada pangeran, "Kenapa anda mengatakan hal ini Yang Mulia?, apakah anda benar-benar tidak menyukai sang putri"tanya Dhurna kepada tuannya. "Aku tidak bodoh Dhurna, kerajaan Tamoor adalah kerajaan terbesar di benua Mu ini, apalagi sang putri adalah putri mahkota dan harapan besar kerajaan tidak mungkin jika tidak ada masalah internal perebutan kekuasaan dari para pangeran putra para selir dan satu lagi sang raja tidak pernah mengangkat selir manapun untuk menjadi permaisuri setelah sepeninggal permaisuri Zhehras yang paling dicintainya" kata sang pangeran. "Hamba mengerti yang Mulia...tapi tentang....?" tanya Dhurna. "Hhmmm....itu, yaaa sang putri memang tidak terlalu cantik...tapi dia begitu mempesona dan menarik" jawab sang pangeran sambil tersenyum. "Lalu apa yang akan pangeran lakukan?" tanya Dhurna. " Kamu tidak usah khawatir aku punya rencana dan kamu juga ikut andil dalam melaksanakan rencana ini" jawab pangeran. "Baik yang Mulia" jawab Dhurna.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian
__ADS_1
Di ruangan sang putri
__ADS_1
Terlihat seseorang tergesa-gesa menghampiri sang putri, "Yang Mulia...hamba mendengar beberapa pelayan para selir sedang membicarakan berita yang buruk" kata Mubai kepada tuannya. "Tenangkan dulu dirimu Mubai...baru bicara yang jelas" kata putri. "Yang Mulia...pangeran..." kata Mubai terbata-bata. "Kenapa dengan sang pangeran?" tanya sang putri kembali. "Seseorang mendengar pembicaraan pangeran dengan pengawal setianya di ruangannya...dan orang itu mendengar kalau sang pangeran sebenarnya tidak tertarik dan tidak ingin menikahi anda Yang Mulia" kata Mubai dengan mata yang berkaca-kaca. Bagai disambar petir di siang bolong, sang putri begitu kaget. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mencuri mimpi-mimpinya pada kenyataannya telah membuat hatinya begitu sakit seperti ada racun yang menggerogotinya bahkan lebih sakit dibanding terkena goresan pedang di medan perang. Tanpa sadar sang putri berdiri dari tempat duduknya berjalan menyusuri lorong dan tanpa sengaja menarik gordin-gordin indah yang menghiasi setiap jendela ruangannya. "Putri anda mau kemana?" tanya Inoi. "Jangan ikuti aku...sementara ini aku ingin sendiri" jawab sang putri dengan tanpa sadar meneteskan air mata. Seumur-umur sang putri belum pernah jatuh cinta. Baru kali ini hatinya berbunga-bunga karena seorang lelaki tetapi juga yang telah menghancurkan harapannya. Inoi dan Mubai tetap mengikuti tuannya, mereka berdua tidak akan meninggalkan tuannya, takut akan terjadi apa-apa dengannya meskipun mereka berdua tahu putri bukanlah orang yang berpikiran sempit. Beberapa menit Mahacharya berjalan tibalah di sebuah taman indah yang nampaknya tempatnya tertutup, sepertinya hanya putri beserta Inoi dan Mubai saja yang tahu. Dibalik tembok besar taman tersebut ada lubang besar yang cukup dimasuki oleh orang dewasa. Setelah putri melewati tembok tersebut terlihatlah hamparan padang rumput penuh bunga warna-warni, pemandangan air terjun yang begitu indahnya dengan air yang begitu jernih dan berkilauan bagaikan permata putih terkena sinar mentari. Sejenak putri melepaskan rasa sakit di hatinya dengan memandangi pemandangan sekitar, disinilah sang permaisuri sering mengajaknya, mengajari nya ilmu sastra termasuk puisi, ilmu politik dan latihan berperang. Yaa permaisuri Zhehrass adalah seorang wanita bangsawan yang cerdas, bijaksana dan bertalenta, tak ayal sang raja begitu mencintainya. "Aku tidak mungkin lemah seperti ini hanya karena lelaki, tak masalah...aku adalah seorang putri toh nyatanya suatu saat nanti pangeran akan mempunyai selir...jadi kenapa aku harus sakit hati, lebih baik jalani saja apa adanya" gumam sang putri.
__ADS_1