
"Apa maksudmu...jangan sembarang bicara!!!!..kamu adalah salah satu dewan peramal istana, posisi yang sangat dihormati..bisa-bisanya kamu ngomong sembarangan!!!" Teriak sang Raja kepada Modibai. "Saya tidak bohong yang Mulia....ini bukan desas-desus..tpi semua orang di istana sudah membicarakannya dan saya yakin ini tidak hanya penghinaan bagi Raja tapi juga kerajaan Tamoor" jawab Modibai. Sang Raja langsung terduduk, dia masih belum yakin dengan kata-kata salah satu peramalnya tapi juga tidak serta merta percaya dengan pangeran Su-Shino. Baginya jika apa yang dikatakan peramalnya benar maka ini adalah merupakan suatu tamparan yang begitu keras baginya dan begitu memalukan. Putri sulung
yang sangat dicintainya ditolak mentah-mentah. Mengetahui kebimbangan hati sang Raja Modibai menyeringai dengan liciknya. Perlahan tapi pasti sang Raja berusaha menenangkan diri dan bersikap lebih bijaksana. Dengan melambaikan tangan segera menyuruh Modibai pergi. Setelah kepergian sang peramal tersebut dia segera memanggil pengawal kepercayaannya. "Kamu awasi terus pangeran Su-Shino dan Modibai!!" perintah sang Raja. Sang pengawal setia segera memenuhi perintah sang Raja, "Siap yang Mulia" jawabnya.
Pagi Hari di tempat Latihan
__ADS_1
Pagi ini begitu cerah dan semilir angin yang sejuk. Waimana beterbangan di langit istana, tidak hanya itu, para hewan eksotik bersayap yang dikendalikan oleh tuannya juga saling berlomba untuk menuju suatu tempat. Pangeran Su-Shino dengan gagahnya sedang menyusuri tiap sudut istana seorang diri. Dia ingin menikmati pemandangan istana Tamoor pikirnya, dan yang lebih penting adalah dia ingin bertemu dengan sang putri sekali lagi. Setelah melewati taman istana sang pangeran menuju ke sisi timur, disana dilihatlah suatu pemandangan beberapa orang yang sedang beradu perang. Menarik sekali pikirnya, perlahan-lahan mendekatlah pangeran "Tring....tring....brakkkkk" bunyi pedang beradu. Nampak seseorang memakai pakaian latihan lengkap dengan penutup muka sedang menjatuhkan lawannya. Pangeran semakin tertarik, semakin diperhatikannya pangeran sedikit terkejut, gerakan yang cukup gemulai tapi kuat, bulu mata yang lentik dan riasan mata...yaaa tidak salah lagi, pasti seorang perempuan pikir sang pangeran, semakin menarik dan berkeinginan untuk ikut andil dalam latihan tersebut. "Aayyooo....siapa yang berani maju lagi dan kalahkan aku" kata sang penantang, "Aku....aku ingin menantangmu" jawab sang pangeran. Sedikit terkejut sang putri yang menyamar sebagai sang penantang segera memalingkan muka tak ingin menatap lama sang pangeran. "Pilih senjatamu dan segera kalahkan aku" jawab sang putri. "Tunggu...aku ingin taruhan" kata pangeran. "Apa maksudmu...ini adalah arena latihan..bukan taruhan" jawab sang putri. "Tapi aku ingin...bagaimana, bukankah akan lebih seru" jawab pangeran. "Baiklah...dengarkan aku...jika aku bisa mengalahkanmu, pergilah segera dari kerajaan ini" kata sang putri. Dengan tersenyum sang pangeran menjawab, "Baiklah aku setuju...tapi jika aku yang menang...maka....." kata sang pangeran terputus. "Maka apa...?" tanya sang putri. "Maka kamu harus menikah denganku" jawab pangeran. Gilaaa ini orang pikir sang putri. Tapi putri akan mencari berbagai akal untuk mengalahkan pangeran. "Bagaimana?....apakah deal?" tanya pangeran sekali lagi. "Kalo aku tidak mau menikah denganmu?...." tanya sang putri. "Kalau begitu kalahkan saja aku segera!!" kata sang pangeran sambil posisi menyerang. Pertarunganpun tak terelakkan. Sang putri beberapa kali menyerang pangeran, tetapi selalu bisa menghindar. Begitupun sang putri tak mau kalah, tiba-tiba karena kelengahan sang putri, pedang pangeran mengenai penutup mukanya dan terbukalah serta terlihat jelas kalau itu sang putri dengan rambut terurainya. Oohhh pangeran terpesona dengan sang putri, kesempatan ini tidak disia-siakan dan sang putri berhasil menjatuhkan pedang sang pangeran. Seolah tak mau kalah, pangeran berusaha meringkus dari belakang, "Menyerahlah....kamu akan segera jadi permaisuriku" kata pangeran. "Tidak akan pernah" kata sang putri. "Jika kamu ingin mempertahankan kerajaanmu, ikutilah rencanaku, kita akan membicarakannya nanti malam setelah upacara pernikahan" kata pangeran. "Apa kamu bilang!!!" kata sang putri.
Bersamaan dengan itu,
Di ruangan sang Raja
__ADS_1
"Hormat hamba kepada Yang Mulia" kata sang mata-mata. "Info apa yang kamu dapat tentang pangeran Su-Shino?" tanya Raja. "Ampun Yang Mulia....yang saya amati dari pangeran adalah saat ini sedang beduaan dengan sang putri, nampak mereka baik-baik saja bahkan mereka berlatih pedang bersama" jawab sang mata-mata. "Jadi menurutmu?" tanya kembali sang Raja. "Sepertinya ini hanya rumor yang disebarkan pihak yang tidak suka dengan pernikahan dua kerajaan Yang Mulia" jawab sang mata-mata. "Baiklah kamu boleh pergi" perintah Raja. Bersamaan dengan itu datanglah putri dengan pangeran Su-Shino menghadap sang Raja. "Hormat hamba kepada Yang Mulia" sapa mereka berdua. "Bangunlah kalian, apa yang ingin kalian sampaikan?" tanya Raja. "Yang Mulia mohon maaf....hamba pangeran Su-Shino memohon kepada anda untuk segera menikahi putri nanti malam secepatnya di Bukit Aula Cahaya" kata pangeran. "Kenapa secepat ini?, bagaimana denganmu putriku?"tanya Raja. "Hamba mengikuti kehendak pangeran Yang Mulia" jawab putri. Raja begitu terkejut dengan keputusan mereka tapi juga cukup bahagia karena rumor itu ternyata salah. "Baiklah nanti malam pernikahan kalian akan secepatnya dilaksanakan, tapi hanya beberapa orang saja yang cukup tahu, karena aku yakin kalian pun sudah mencium aura pemberontakan. "Itu benar Yang Mulia, kita harus hati-hati bahkan dengan orang dalam kerajaan" jawab sang pangeran.
Di ruangan gelap selir Noor
"Aapppaaaa!!!....apa kamu tidak salah lihat?, apa benar mereka tampak baik-baik saja?" tanya selir Noor. "Benar Yang Mulia hamba melihatnya sendiri" jawab sang mata-mata. "Dasar bodoh!!!!" kata selir Noor dan seketika menghunuskan pisaunya ke dada sang mata-mata dan segera tersungkurlah dengan bersimbah darah. "Bagaimana denganmu Modibai, bukankah kamu sudah menghasut sang Raja, kenapa kejadian seperti ini masih bisa terjadi?" tanya selir Noor. "Ampun Yang Mulia...hamba benar-benar sudah menghasut Raja" jawab Modibai. "Kamu harus mati Modibai...kamu bodoh dan tidak berguna!!!" kata Selir Noor. "Tidak Yang Mulia ampuni saya...aarrrrggghhhhh" teriak modibai. Tanpa ampun selir Noor menghabisi orang-orang bodohnya. "Ibu..bagaimana ini?" tanya pangeran Suriyya. "Tidak ada cara lain, kita harus segera memberi tahu aliansi tiga kerajaan pemberontak" kata selir Noor.
__ADS_1