
"Ini semua gara-gara kamu deh Do!, coba kalo kamu gak nekad buat keributan pasti kita gak akan ada disini!!"kata Sonia bersungut-sungut.
"Yaaa...khan kita harus bantu Jani agar bisa masuk ruangan profesor"jawab Edo serasa membela diri.
"Kita sudah ada di kantor polisi jadi gak ada yang perlu kita ributkan, hanya perlu jawab yang kita tahu"kata Jani menengahi.
Kini mereka bertiga sedang ada di sebuah ruangan kantor polisi, bercat kuning muda, ada bangku panjang sebagai tempat tunggu dan 2 meja petugas serta komputernya untuk membuat laporan. Selang beberapa menit kemudian muncullah Iptu Dany dan Ardi ke ruangan itu. Tatapan tajam mengarah ke Jani, mereka hanya lewat saja, tetapi cukup membuat Jani merasa aneh dengan tatapan itu, setelah memperhatikan beberapa detik, mereka berdua memasuki sebuah ruangan. Tak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan, Jani, Sonia dan Edo sempat bergumam pasti ada sesuatu yang agak serius.
selang beberapa menit kemudian, muncullah Ardi dari ruangan tersebut dan segera menuju ke mereka bertiga.
"Kamu....siapa namamu?" sambil menunjuk Jani
"Jani...Janitra"jawabnya
"Pak Dany sedang menunggumu di ruangannya...masuklah!"perintah Ardi.
Sambil setengah was-was Jani menuju ruangan inspektur muda bersama Ardi sebagai pemandunya. Segeralah Ardi mengetuk pintu ruangan itu dan menyuruh Jani masuk.
"Apa yang kamu ketahui tentang kematian profeso?"tanya Iptu Dany ke Jani.
"Kalau saya tahu, gak akan jauh-jauh dari Surabaya kesini pak"jawab Jani.
"Lalu...apa yang menuntunmu kesini?, apa yang sedang ingin kamu cari tentang kematian profesor?, seperti yang kamu bilang tadi?"tanya Iptu Dany kembali.
"Pak...malam bertepatan di hari kematian profesor, selang beberapa menit sebelum kematiannya, profesor mengirim email, tapi hanya sebaris kalimat saja, profesor hanya mengetik, "IBU DEWI", itu saja pak, untuk itulah saya berniat kesini, mencari tahu petunjuk apa yang sedang ditinggalkan profesor"jelas Jani.
__ADS_1
Iptu Dany mendengarkan penjelasan Jani dengan seksama, semakin hari kasus ini semakin menarik saja pikirnya.
"Bisakah kamu menunjukkan Email itu?"pinta Iptu Dany.
Janitra segera mengambil ponselnya dan membuka Email serta segera menunjukkan isi Email itu.
Setelah melihat isi Email itu Iptu Dany pun nampak berpikir keras, apa maksud dari "IBU DEWI" yang diketik profesor, apa itu mengarah kepada artefak-artefak yang ada di TKP atau ada benda lain.
"Menurutmu apa petunjuk ini mengarah ke benda-benda purbakala yang ada di ruangan profesor?" tanya Iptu Dany.
"Ada kemungkinan mengarah kesana pak"jawab Jani singkat
"Apa hubunganmu dengan profesor?" tanyanya dengan tiba-tiba.
"Kenapa profesor begitu mempercayaimu?, apa ada hubungan yang istimewa an...."tanya Iptu Dany yang membuat Janitra emosi setengah mati.
"Pak!!...anda jangan bicara yang tidak-tidak...dan pertanyaan ini sudah terlalu jauh dari kasus profesor, saya harap kepolisian segera menemukan siapa pembunuhnya dan setidaknya petunjuk yang jelas...bukan malah bertanya hal-hal yang gak penting seperti ini anda ini tidak profesional sama sekali (sambil menggebrak meja) !!!" jawab Janitra dengan marah.
Iptu Dany sempat terkaget dengan ekpresi sedikit terkejut, bagaimana mungkin gadis yang dilihatnya sedari tadi dengan wajah yang tenang tiba-tiba menjadi marah seperti kesetanan, dalam benaknya.
"Baiklah..tenang...jika kamu yakin bisa menemukan sesuatu disana, aku sendiri yang akan membawamu kesana, yaa anggap saja sebagai tebusan kekacauan tadi pagi"kata Iptu Dany dengan sedikit seringai liciknya.
"Dasar alasan...padahal hanya memanfaatkan untuk menemukan bukti, dasar licik"batin Janitra dengan ekspresi kecutnya.
"Tapi sebelumnya...aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu"kata Iptu Dany sembari menyodorkan amplop berisi foto dari TKP.
__ADS_1
Janitra segera menerima sodoran amplop itu, dan ketika membuka isinya, betapa terkejutnya dia, jejak kaki reptil???...Janitra terdiam beberapa menit sambil memikirkan sesuatu, apa peradaban itu benar-benar nyata beserta makhluk setengah manusia.
"Kamu tahu sesuatu?" tanya Iptu dany yang sempat membuat Janitra terkejut.
"Apa bapak pernah mendengar peradaban kuno?" tanya Janitra kepada Iptu Dany
"Banyak peradaban kuno yang dipelajari sejak Sekolah Dasar"jawabnya.
"Bapak pernah mendengar Atlantis & Mu?"tanya Jani.
"Heheehe....menurutku hanya dongeng Plato, karena tak pernah ditemukan keberadaannya, penemuan-penemuan purba pun masih spekulasi"kata Iptu Dany.
"Bapak salah...selama bertahun-tahun profesor melakukan penelitian peradaban ini pak, salah satu bukti mengarah ke Jawa Barat yang merupakan salah satu kebudayaan Sundaland, dan Gunung Padang lah yang dipercaya merupakan salah satu peninggalan peradaban kuno tersebut pak" penjelasan Janitra panjang lebar.
Iptu Dany hanya bisa mengernyitkan dahi tanda dia sedang berpikir keras tentang sejarah, baginya pelajaran sejarah adalah salah satu pelajaran yang membuatnya bosan karena harus mengetahui masa lalu yang amat sangat terlampau jauh, bahkan nilainya pun tak pernah bagus.
"Baiklah..aku memang tak pernah tertaril dengam sejarah, tapi sepertinya menarik jika dikaitkan dengan kasus ini, jadi menurutmu jejak apa itu?" tanyanya dengan tergesa.
"Apakah jika saya mengatakannya bapak akan percaya?"tanya Jani memastikan.
"tergantung"jawabnya dengan singkat
"Mereka adalah salah satu suku yang hidup di zaman peradaban Atlantis & Mu...bisa dikatakan mereka merupakan percampuran genetik dengan bangsa Nisnas setengah manusia & setengah hewan...tapi ini hanya asumsi saja pak, saya juga masih ragu mengapa masih ada makhluk seperti ini di zaman modern"jawab Jani.
Iptu Dany hanya bisa menggelengkan kepalanya, kasus seperti apa ini, baru pertama kali dia menangani kasus aneh yang tidak masuk akal, bukan hantu atau supranatural tapi peradaban purba yang masih misterius keberadaannya. Dia hanya bisa tertegun dengan pemikirannya sendiri, bahkan setengah tak mendengarkan penjelasan Janitra.
__ADS_1