The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization

The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization
5000 tahun kemudian


__ADS_3

Pada pukul 01.00 dini hari


Tampak seorang laki-laki berkisar umur 60 tahunan sedang serius memperhatikan monitor komputer nya, di atas meja tersebut berjajar benda-benda purbakala semacam artefak-artefak yang terlihat sangat tua umurnya. Ada benda yang berbentuk seperti mata tombak yang terbuat dari besi yang telah membatu nampak tulisan di atasnya menggunakan kode kimia “Fe” (Ferrum/Besi) dan “O” (Oksigen), bentuknya seperti ada rongga-rongga kecil di sekujur materialnya, di sebelah kananya ada yang bentuknya seperti senjata, ada bagian pegangan, semacam pinggang, bagian bilah yang bifacial, tajaman dibuat dari dua sisi. Benda yang ditemukan ini terbuat dari batu, kalau orang sunda sekarang menyebutnya kujang. Artefak serupa kujang merupakan cerminan dari konstanta “pi” itu sendiri. Konstanta “pi” dalam kujang itu bisa diketahui ketika mengukur panjang dan lebar bagian kujang yang meruncing. Bagian yang meruncing punya panjang 22 cm dan lebar 7 cm. Di sebelah kirinya ada batu yang berbentuk limas segiempat yang lebih dikenal dengan batu berbentuk piramida. Dan yang tidak kalah pentingnya, yang sangat menyita perhatian lelaki ini adalah sebuah lempengan batu yang berisi tulisan-tulisan yang belum pernah dilihat sebelumnya.


"Tidak salah lagi...ini adalah petunjuk dimana peta itu berada...aku harus segera menerjemahkannya secara penuh, agar Janitra segera menemuannya" Gumam lelaki itu


"Matahari bersinar terang, terhalang oleh kereta-kereta terbang. Ketika sang bidadari biru diterpa sinar sang fajar, pintu 4 (empat) penjuru peradaban akan terbuka. Di saat pintu telah terbuka, anak-anak barat akan terbangun, maka segeralah kamu akan melihat cahaya yang lebih terang dan lembut dari sinar sang mentari"


"Akhirnya selesai juga aku menerjemahan tulisan-tulisan kuno ini" gumamnya kembali. Maka segeralah dia menyimpan terjemahan teka-teki itu ke dalam flash drivenya. Setelah selesai dengan flash drive nya tak lupa dia segera membungkus patahan lempengan batu tersebut ke dalam sebuah kantong kain hitam serta memasukkan juga flash drive ke dalamnya. Bergegaslah dia membuka salah satu pigura lukisan yang paling besar dan di selipkannya ke dalam pigura tersebut dengan rapi dan tergesa-gesa seolah-olah dia sudah mencium bau kematiannya sendiri.


Segera dia kembali ke meja komputernya dan menghancurkan semua data-data penting yang berhubungan dengan artefak tersebut, tanpa jejak, tanpa penjelasan, tetapi dia sudah memperhitungakan bahwa salah satu muridnya akan mengeri dengan apa yang sudah ia tinggalkan. Segeralah dia mengirim email ke murid kepercayaannya.


Tiba-tba terdengar langkah kaki yang begitu pelan dan halus tetapi masih bisa terdengar karena suasana yang begitu sunyi di dalam ruangan yang mirip dengan ruangan kerja seorang arkeolog.


"Siapa kamu????...." tanya lelaki tersebut.


"Halloo...profesor Dicky, lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabar anda beserta benda-benda kesayangan anda?" sapa seseorang yang memakai pakaian serba hitam dengan penutup wajahnya. Seolah dia sudah kenal lama dengannya. Profesor Dicky Baharu, seorang arkeolog senior yang sudah ikut andil dalam berbagai macam penemuan bangunan atau benda-benda purbakala terutama dalam peradaban prasejarah. Lelaki jangkung berambut putih ini juga sangat menyukai petualangan khususnya di tempat-tempat yang penuh dengan bangunan-bangunan bersejarah. Ketepatan dan ketangkasannya dalam mengamati artefak dan bangunan kuno 95% selalu akurat, tak ayal benda-benda temuannya selalu menjadi incaran para kolektor gelap (illegal).


"Katakan saja apa maumu..aku tidak pernah mengenalmu!!..pergi kamu segera dari sini!!" bentak profesor.


"Ayolah prof..aku tak mau berlama-lama bermain denganmu disini, tunjukkan saja dimana benda itu berada, setelah itu aku akan membiarkanmu tetap bersenang-senang hahahahahaha" katanya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Katakan pada penjahat itu..sampai mati pun aku tidak akan menyerahkannya!!!" kata profesor sambil setengah berteriak.


"Baiklah prof...jangan salahkan aku kalo kamu akan segera menemui malaikat maut" sambil menusukkan pisau ke perut profesor berkali-kali. "Mati kau pak tua...tanpa kamu beritahu pun aku akan segera menemukannya


Sang profesor segera tumbang bersimbah darah. Seseorang yang berpakaian serba hitam tersebut langsung mengeledah ruangan profesor...membuka semua laci dan meraba-raba di setiap sudut yang dia lihat. Tapi tak menemukan apapun. Tiba-tiba matanya tertuju pada tiga lukisan yang tergantung di dinding dengan sejajar. Dilihatnya lukisan pertama yang berukuran sekitar 90 x 60 cm, dilihatnya dinding dibelakangnya, tak menemukan apa-apa, beralih ke lukisan kedua yang berukuran agak besar sedikit 120 x 60 cm juga tak menemukan apapun, dan beralih ke lukisan yang lebih besar, lukisan dewi ibu pada salah satu peradapan sungai indus di Mohenjodaro, India. Dibukanya dan diamati dengan seksama dinding yang ada di baliknya, diketuk-ketuknya berharap ada rongga, tapi lagi-lagi gagal, dia tidak menemukan apapun.


"Ahhh sial!!...kenapa aku tak menemukan apapun, jika misi ku gagal lagi aku bisa dipenggalnya" teriaknya sambil marah. Tak ambil banyak waktu dia segera meninggalkan ruangan itu dan menghilangkan semua jejak yang kemungkinan masih tertinggal disana. Serta meninggalkan mayat profesor yang bersimbah darah.


 

__ADS_1


Di suatu tempat yang terpisah ratusan kilometer


Seorang gadis berkutat dengan buku-buku besar dan nampak serius di depan laptopnya. Berperawakan kecil, dengan kaca mata minus yang selalu menghiasi wajahnya. Berpenampilan kasual dengan rambut yang selalu di ikat, bahkan kadang terkesan acak-acakan karena baginya menyelesaikan tesisnya dengan cepat adalah prioritas, tetapi ada yang khas dengan penampilannya, di pergelangan tangan kirinya terdapat sebuah tanda yang jika diamati berbentuk seperti matahari tetapi lebih ke simbol kuno, bukan tato tapi tanda ini sudah ada sejak aku dilahirkan ke dunia ini oleh ibuku. Yaa aku adalah Janitra, Mahasiswi S2 jurusan ilmu budaya di salah satu Universitas Negeri Di Surabaya, Sejak kecil aku sangat menyukai dan terkesan dengan bangunan dan benda-benda purbakala, dengan mempelajari mereka seolah-olah aku melihat kebesaran nenek moyangku, mengetahui asal-usulku. Aku adalah salh satu mahasiswi asuhan profesor Dicky Baharu sebelum dia pindah ke salah satu universitas negeri di Bandung. Profesor selalu mengirimkan data-data artefak dari peradaban gunung padang agar aku mempelajarinya dan ikut memecahkannya.


"Jan..Jani!!!!....."Seseorang berteriak memanggil namaku secara membabi buta seperti dikejar setan. Dia adalah salah satu sahabat seangkatanku, Sonia.


"Ada apa sih teriak-teriak...apa kamu mau kita diusir oleh penjaga perpustakaan karena berisik sekali??" kataku dengan sedikit kesal.


"Hosh..hosh...hosh..." Sonia menata nafasnya


"Jani...aku mau mengatakan sesuatu tapi kamu tolong sabar ya...jangan shock" kata Sonia.


"Apaan sih...cepetan dong jangan bikin orang penasaran" kataku sekali lagi dengan setengah kesal.


"Jani..apa kamu tidak dengar dari dosen-dosen barusan...mereka dapat kabar kalau profesor Dicky Baharu meninggal dibunuh tadi malam" kata Sonia lagi.


"Apaaaa!!!!....kamu ga bohong khan Son?" tanyaku dengan kaget setengah mati. Segera aku beranjak mengambil buku-buku diatas meja dan mengembalikan ke raknya dan kuraih tas ranselku setengah berlari aku keluar dari perpustakaan menuju ruangan dosen diikuti oleh Sonia yang dari tadi berisik.


"Janniii....tunggu aku dong jangan tergesa-gesa" kata Sonia dengan memohon.


"Son..aku memutuskan untuk ambil cuti selama sebulan..aku mau ke Bandung. Mencari tau apa yang sedang terjadi dengan Profesor Dicky" kataku kepada Sonia.


"Gila kamu Jani....itu biarkan saja polisi yang urus" kata Sonia.


"Ada yang janggal dengan kematian profesor..aku yakin dia pasti meninggalkan suatu petunjuk padaku" kataku dengan yakin.


Dengan setengah berlari dengan cepat, aku tak memperdulikan sekitarku, karena pikiranku hanya tertuju pada kematian profesor yang sangat misterius bagiku, bahkan aku pun hampir tak memperdulikan Sonia yang semakin jauh tertinggal di belakang sambil merutuk.


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2