The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization

The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization
jejak


__ADS_3

"Pak...dari laboratorium kami tidak menemukan jejak apapun selain darah di artefak yang berbentuk kujang" kata Ardi kepada atasannya.


"Lalu bagaimana hasilnya...apakah jejak darah itu milik professor atau pelaku?" tanya Iptu Dany


"Setelah mendapatkan hasilnya...ternyata sampel darah tersebut sama sekali tidak cocok dengan milik profesor pak"jawab Ardi dengan tegas.


Iptu Dany dan Ardi masih berkutat di TKP untuk menemukan jejak & bukti lainnya, karena menurutnya pembunuhan ini tanpa meninggalkan jejak apapun bahkan di tubuh profesor, satu-satu nya jejak hanyalah setitik darah di artefak, itu pun kita belum bisa memastikan milik siapa, karena ada sedikit keanehan, darah yang menempel itu beresus negatif, diketahui bahwa golongan darah ini merupakan resus langka, karena hanya dimiliki oleh penduduk ras kaukasoid, jadi mustahil dimiliki seseorang yang memiliki ras melanesia, bahkan jejak kaki pun tidak mereka temukan. Apakah sang pembunuh adalah orang asing?, mengingat profesor memiliki & menyimpan banyak artefak kuno. Tapi artefak apa yang mereka inginkan, sedangkan tak ada satupun artefak yang diambilnya. Sepertinya si pembunuh cukup profesional pikir mereka.


"Pak...coba lihat ini! kata Ardi kepada Iptu Dany. Dengan menggunakan sinar ultraviolet berwarna ungu yang bisa menemukan jejak di dalam gelap. Mereka berdua cukup tercengang, sembari memperhatikan artefak berbentuk batu yang bertulis mereka menemukan jejak seperti kaki hewan, tidak hanya itu, bahkan di tembok pun ditemukan jejak mirip kaki kadal yang cukup besar bahkan lebih besar sedikit dengan ukuran manusia. Jejak di tembok berbentuk vertikal mengarah turun kebawah dan naik ke atas, sedangkan jejak di batu artefak seperti posisi memegang, seperti akan mengambilnya tetapi tidak jadi dan anehnya hanya batu artefak itu saja yang disentuh.


"Ya Tuhan..jejak apa ini, apa di masa sekarang ada manusia kadal, manusia komodo, atau apakah seorang manusia yang memakai kostum reptil hanya untuk mengelabui kita?" tanya Iptu Dany sambil bergumam.


"Saya juga sampai tercengang pak...saya sampai menghayal berada di film horror"jawab Ardi dengan sedikit meringis.


Iptu Dany hanya terdiam dan menatap tajam Ardi, mengisyaratkan bahwa TKP ini bukanlah mainan anak kecil. Ekspresi Ardi langsung berubah serius.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak mereka dikagetkan suara keributan kecil diluar.


"Ardi coba kamu ambil sampel yang ada di tembok dan bawa ke laboratorium. Aku mau kalian memeriksa DNA jejak tersebut dan samakan dengan DNA darah yang kemarin"perinta Iptu Dany.


"Siap pak!, saya akan segera membawanya" jawab Ardi.


Iptu Dany segera meninggalkan Ardi dan keluar untuk melihat keributan tersebut. Dilihatnya ada 2 orang wanita dan satu laki-laki sedang berdebat dengan petugas untuk memaksa masuk ke dalam TKP.


"Ada apa ribut-ribut! apa kalian tidak lihat garis polisi yang terpasang di pintu depan ruangan ini!"kata Iptu Dany kepada mereka dan seketika mereka terdiam.


Tiba-tiba Janitra maju ke arah Iptu Dany.


"Seperti yang kamu lihat" jawabnya.


"Pak izinkan saya masuk sebentar saya harus menemukan sesuatu di dalam"kata Janitra

__ADS_1


"Jadi kamu kenal dengan profesor?, kamu pasti tahu sesuatu tentang kematiannya" kata Iptu Dany


"Saya belom tahu pak untuk itulah saya harus masuk dan mencari sesuatu"jawab Janitra.


"Sekali lagi...apa kamu tidak mendengar kata-kataku! sebaiknya jelaskan saja di kantor polisi"bentaknya


"Kami tidak salah apa-apa, kenapa harus ke kantor polisi?"jawab Sonia dengan ketus.


Tiba-tiba Edo memukul seorang petugas untuk membuat keributan. Perkelahian pun tidak bisa dihindarkan. Iptu Dany pun dibuat bingung dengan keadaan ini, segera selama keributan sedang berlangsung Janitra merangsek masuk ke dalam ruangam profesor, karena pikirnya Iptu Dany sedang lengah karena keributan ini, dan berusaha menghentikan keributan mereka dan tanpa disadari Janitra sudah menghilang dari hadapannya dan terlihat berlari ke dalam ruangan.


"Heeeyyyy...berhenti!!!..."Teriak nya kepada Janitra.


Gadis itu tak menghiraukan teriakan sang polisi, dia terus saja mencari-cari apa yang dimaksud profesor. Dia sempat memperhatikan batu artefak yang bertuliskan huruf kuno, serta dia sedang mencari "Sang Dewi" yang dimaksud profesor. Belum lama dia memperhatikan tiga lukisan di dinding, tiba-tiba tangannya segera ditarik dan diborgol paksa oleh Iptu Dany.


"Pak...kasar sekali!, apakah begini anda memperlakukan seorang wanita" kata Janitra sedikit kesakitan karena tangannya ditarik paksa.

__ADS_1


"Beginilah cara polisi menangkap sang pembangkang..sudah diperingatkan tapi masih menerobos masuk TKP, sebaiknya kalian jelaskan saja nanti di kantor polisi" kata Iptu sambil memperhatikan tanda di pergelangan tangan Janitra, sepintas mirip bunga atau segel kuno. Apakah wanita ini bergabung dengan sekte tertentu, pikirnya. Apapun yang terjadi mungkin gadis ini bisa menjadi petunjuk, gumamnya.


Tampak kedua temannya pun sudah tidak bisa berkutik ketika para polisi membawa mereka ke mobil polisi, mereka pun segera dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, tidak hanya karena keributan yang mereka buat saja tetapi kemungkinannya mereka akan dihubungkan dengan kematian sang profesor.


__ADS_2