
{"Jaga baik-baik peta ini, jangan sampai jatuh ke tangan yang salah, kamu adalah salah satu prajurit bayanganku yang terbaik, peradaban ini bergantung padamu"ucap seorang wanita kepada seorang wanita bertudung hitam yang segera berlalu meninggalkannya"}
Suara burung terdengar saling bersautan di luar, bersamaan dengan itu berhembuslah angin dengan sepoi-sepoi. Dengan tersentak kaget aku bangun dari tidur, kulihat cahaya mentari pagi menembus jendela kaca dengan gordin tipisnya warna putih.Aku masih berusaha untuk mengingat penggalan mimpiku, tapi semakin membuat kepalaku pusing. Segera ku beranjak dari ranjang, tak kudengar suara Sonia yang biasanya cerewet, ahh makhlumlah dia
khan suka bangun siang pikirku. Segera kulangkahkan kaki ku ke kamar mandi.
10 menit kemudian
Aku melangkahkan kaki ku untuk menuruni anak tangga menuju lantai bawah, inginku sekedar menyeduh segelas teh di dapur, untuk menghangatkan perutku, tentunya karena sudah mendapat ijin dari tante Rieneta.
"Duduklah disini bersamaku, Janitra Surya Kencana, kita minum teh bersama"suara yang memanggilku dengan tiba-tiba tepat satu langkah sebelum kakiku menginjak di lantai dapur, aku segera menoleh ke sebelah kanan arah meja makan, kulihat tante Rieneta sudah duduk disana dengan 1 teko teh dan beberapa gelas serta 3 piring kudapan pedampingnya. Tunggu tapi ada yang sedikit membuatku kaget.
"Tante tahu nama lengkapku?" kataku.
"Kenapa tidak?, bahkan tanda itu pun aku tahu, sebenarnya tanda itu lah yang selalu menuntunmu dan semakin mendekatkanmu ke Sonia"jawabnya
Aku semakin dibuatnya bingung, tanda apa, aku merasa tak memiliki tanda apapun, kecuali tanda lahir tipis berwarna hitam di pergelangan tangan kiriku, itupun aku tak tahu bentuknya.
"Apa maksud tante, aku gak ngerti sama sekali, apa hubungan semua ini dengan Sonia, apa hubungan tanda yang tante sebut tadi""tanyaku.
Tiba-tiba tante menarik tangan kiriku dengan agak kasar. "Aduh..tante sakit, apa yang mau tante lakukan"kataku.
"Sebentar lagi kamu akan segera mengetahuinya dan jangan sepelekan tanda ini, dengan adanya tanda ini aku tahu siapa kamu sebenarnya, dan jangan lupa takdirmu adalah melanjutkan tugas ini", sambil menunjukkan tanda lahir jelekku itu dan sedikit seringai, yaaa seringai yang cukup mengerikan bagiku..
__ADS_1
"Sekarang segera lah pergi dan temukan tujuanmu, aku sudah menyuruh Edo untuk mengantar kalian ke tempat professormu itu khan"lanjutnya sambil berdiri dari kursinya dan berlalu meninggalkanku dengan tanda tanya..
Dengan sedikit jengkel bak serasa ditindas, akupun ikut berdiri, "Ini semua tak ada hubungannya dengan tante, aku hanya mau mendapatkan keadilan bagi kematian professor"kataku.
Tante Rieneta segera menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku, "Lakukan saja tugasmu, seperti yang dilakukan oleh leluhurmu yang terhormat"katanya yang semakin menambah bingung dan kesal.
Aku kembali terduduk dan memandangi tanda lahir di pergelangan tanganku dengan seksama, tapi aku tak juga mengerti apa maksudnya, mungkin aku harus menanyakannya lagi kepada tante Rieneta pikirku.
Tiba-tiba aku dikagetkan tepukan lumayan keras di pundakku.
"Kawan kenapa sih dari tadi melamun sambil memandangi pergelangan tangan, kamu ini makin aneh deh"ternyata Sonia cerewet.
"Duuhh kamu ini ngagetin aja deh"kataku dengan sedikit kesal.
"Ya sudah ayok kita segera berangkat ke balai Purbakala"kataku.
"laahhhh gak sarapan dulu kita?" tanya Sonia.
"Aku udah minum teh, nanti saja sekalian makan siang"jawabku.
"Duuhhh nanti khan laper neh perut"kata Sonia
"Ribet banget sih, nihhh bawa sekalian buat kamu makan nanti di mobil"kataku sambil menyodorkan piring berisi beberap biskuit kepadanya.
__ADS_1
Setelah mengambil biskuit-biskuit itu Sonia dan aku segera menuju keluar, ternyata Edo sudah menunggu kami sambil mempersiapkan mobil.
"Selamat pagi nona-nona"sapa Edo.
"Selamat pagi Edo"jawabku.
"Norak!!!" jawab Sonia dengan manyun yang hanya dibalas dengan tawa oleh Edo.
"Mau kemana kita?" tanya Edo.
"Langsung menuju Balai Purbakala ya Do"jawabku
"Baiklah....meeluunnccuurrr"
Akhirnya kita akan menuju TKP terbunuhnya Professor, rasanya hatiku berkecamuk antara penasaran dan takut, hhmmm tunggu, rasanya ujung mataku sebelah kiri menangkap sesuatu, aku melihat seseorang bertudung hitam di balkon lantai 2 tepat di depan kamar tante Rieneta, aahh aku pasti salah lihat.
__ADS_1