The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization

The Bloods Of Seven Nobles : Hidden Civilization
Akhirnya tiba juga


__ADS_3

"Apa ini...kenapa aku berada di tengah peperangan. Banyak api dimana-mana..tapi, tunggu...dimana ini kenapa semua terlihat aneh, kenapa banyak kereta beterbangan di langit. Hewan-hewan itu terlihat sangat aneh..kenapa kepalaku tiba-tiba sakit" beberapa menit kemudian Jani tiba-tiba berada di atas sebuah bangunan megalitikum yg begitu megah, dia melihat beberapa orang sedang berkumpul, tampak dari pakaian mereka sepertinya para bangsawan dikelilingi dayang-dayangnya dan salah satu nya sedang meletakkan sesuatu di bangunan sisi sebelah timur, disertai dengan lambang seperti matahari dan sebuah senjata kuno, ahh rasanya tak asing dengan lambang senjata itu, kemudian membuka tumpukan bebatuan dan meletakkan sebuah kotak.


Setelahnya "peta!!..aku yakin benda yang diberikan wanita itu kepada wanita lainnya adalah sebuah peta" gumamnya "aahh kepalaku sakit sekali" pekiknya...tiba-tiba saja dalam pikirannya terdapat gambaran samar peta tersebut, tapi dia sama sekali tidak mengerti lambang-lambang yang ada dalam peta itu. kemudian waktu serasa berputar dan dia seperti terseret dalam pusaran yang membuat tubuhnya semakin lemah.


Di kereta


"Jan...Jani..hheeeiiii aayyookkk bangun!!!"sentak Sonia yang seperti orang khawatir sedang membangunkanku.


"Astaghfirullah Alladzim..hosh hosh hosh"ucapku sambil membuka mata dengan jantung yang berdebar serta melihat sekeliling dengan kebingungan.


"heh Jani...kamu gak apa-apa?, kamu tau ga tadi kamu tidur itu kayak orang yang udah di alam kubur...aku sampe kebingungan bangunin kamu..untung akhirnya kamu masih bisa bangun..kamu nih bikin orang jantungan aja. Kita udah hampir sampai loh di Stasiun Hall" kata Sonia sambil manyun. Aku masih diam saja mendengarkan ocehan Sonia, aku masih syok dengan apa yang aku lihat tadi di alam mimpiku. Sangat seperti nyata. Aku masih bertanya-tanya siapa mereka, kenapa mereka berpakaian kuno sekali.


"Heh malah melamun aja, ayookkk bergegas dong" ucap Sonia lagi.


"Iya maaf Son"kataku sambil mengusap wajah, tanda aku masih belum sadar sepenuhnya dan penuh tanda tanya di dalam otak.


"Aku tadi mimpi aneh Son. Aku seperti berada di alam yang berbeda..Ahhh nanti saja kalau sudah sampai rumah tantemu aku cerita"kataku kepada Sonia.


"oke oke Jan...sekarang kita siap-siap turun kereta"kata Sonia.


Stasiun Hall


akhirnya sampai juga kami di Stasiun Hall, yaitu Stasiun terbesar di kota Bandung, yang lebih dikenal dengan sebutan stasiun Bandung karena namanya lebih familiar. Setelah melewati pintu keluar, nampak Sonia sibuk dengan ponselnya, berusaha menelepon seseorang tetapi sepertinya tidak juga tersambung. Aku pun nampak bingung dengan sekeliling karena begitu ramai sekali stasiun Ini, apalagi baru pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi Siliwangi ini dan aku pun bertanya-tanya petualangan apa yang akan kami alami di tempat ini.


"Soniaaaaa!!!" teriak seorang lelaki muda sekitaran umur 20an tahun. Terlihat dia Memegangi ponselnya sambil berlarian kecil ke arah kami.


"Dduuhhh kenapa ama ponsel loe, dihubungi gak bisa-bisa juga!" kata lelaki tersebut dengan dongkolnya.


"iiihh apaan seh orang kamu nya yang sulit dihubungi" jawab Sonia.


"Udah udah aayyookkk cepat jalan, udah capek plus laper deh neh perut...ohh ya lupa, kenalin dong si jenius di fakultas arkeologi, Janitra"kata Sonia kepada saudara sepupunya.

__ADS_1


"apaan sih lebay banget deh Son" kataku sambil meringis.


"hhaaiii aku edo...sepupu jauh Sonia dari pihak ibu"ucap Edo sambil menyodorkan tangannya tanda ingin berjabat tangan.


"Janitra Surya Kencana"jawabku singkat.


"waahhh nama yang bagus, seperti deretan nama-nama di pewayangan"kata Edo.


"terima kasih"jawabku sambil tersenyum.


Setelah percakapan singkat tersebut akhirnya kami bertiga menuju parkiran mobil.


Dalam perjalanan menuju rumah Edo aku selalu dibuat takjub dengan pemandangan di kota Bandung ini. Alamnya begitu hijau, setiap jalan yang kami lewati berupa persawahan terasering yang begitu menakjubkan, perbukitan yang menghijau dan gunung-gunung yang berdiri dengan kokohnya. Pantas saja jika kota ini di gadang-gadang merupakan salah satu kota tertua jika dilihat dari penampakan alam geografisnya. Tak terasa kurang lebih 45 menit perjalanan kami yang tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku karena ketakjubanku akan alam kota Bandung akhirnya kami sampai di sebuah gerbang komplek perumahan yang cukup mewah di kota Ini, tampak tertera di gerbang masuk "Cikancana Residence & Resort". Sepertinya ini adalah salah satu komplek perumahan yang cukup terkenal di kota ini.


"Gimana Jani...kamu puas dengan perjalanan kita kali ini?"tanya Sonia.


"belom puas karena belom memecahkan teka-teki professor"jawabku.


Setelah memasuki gerbang komplek perumahan, beberapa meter mobil kami berbelok ke sebelah kanan, setelah perempatan kami pun kembali berbelok kanan hingga ujung komplek dan sampai lah kami di depan rumah besar 2 (dua) lantai bercat kuning muda. Nampak rumah bergaya mediteranian tetapi tidak terlalu besar. Kami pun segera turun dari mobil dibantu Edo menurunkan barang-barang dari mobil. Di dalam rumah kami disambut tante Sonia yang segera memeluk keponakannya.


"Dduuhhh ponakanku udah besar, gimana keluarga di Surabaya?"tanya tante Sonia.


"Alhamdulillah baik semua tante"jawab Sonia.


"Ohh ya tan...ini temanku yang aku cerita ke tante"lanjut sonia.


"haallooo....Rieneta tante Sonia"katanya sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan dengan tatapan mata tajamnya.


"Haallooo tante, salam kenal Janitra"jawabku sambil tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tekanan yang kuat di telapak tangan, sepertinya tanganku diremas dengan kuatnya, aku tidak salah lagi, tante Rieneta meremas tanganku dengan kuat. Setelah aku agak merasa kesakitan dan menatap wajahnya, sepertinya dia sudah tahu aku merasa kan keanehan.


"Oohh ya maaf sampai lupa, Edo sekarang antar mereka menuju kamar di lantai 2 (dua)"tiba-tiba perintahnya kepada Edo dengan wajah yang berubah ramah.

__ADS_1


"Baik Ma"jawab Edo sambil membimbing kami menuju kamar.


Tapi aku masih melihat tatapan mata tante Rieneta begitu aneh, aku pun bingung kenapa begitu tajam tatapan mata nya kepadaku, apa aku sudah melakukan kesalahan kepadanya tanya ku dalam hati. Ahh kutepis jauh jauh pikiran itu, karna kami pun baru pertama kali bertemu.


"Ini kamar Janitra, dan di depan kamar ini kamar Sonia, sekarang kalian istirahat lah karna pasti capek" kata edo sambil turun ke lantai 1 (satu).


"Iya terima kasih"jawabku.


hmmm kamar yang cukup luas bagiku, dengan dinding yang bercat salem yang lembut, terdapat satu ranjang yang begitu elegan dengan warna senada dengan dinding kamar. kamar mandi pun di dalam kamar. Di di sebelah kiri tempat tidur terdapat meja kecil yang diatasnya ada lampu hias, berdampingan dengan jendela kaca yang langsung menghadap pemandangan hamparan perbukitan dan terasering. Di sebelah kanan tempat tidur terdapat meja rias yang agak kuno dengan cermin ukir. Lantainya yang putih bersih berhias karpet yang tidak terlalu besar.


Sekilas aku masih memikirkan tatapan tajam sampai kejadian meremas tanganku sampai kesakitan. Apakah tante Rieneta orangnya seperti itu, ahh tidak mungkin. Apa dia menyimpan suatu rahasia. Dduuhhh rasanya kepalaku penuh teka-teki.


"Janitra aku boleh masuk gak?"tanya Sonia.


"masuk aja Son, pintu tidak dikunci!"jawabku.


Sepertinya Sonia menagih janji cerita mimpiku tadi waktu di dalam kereta.


"Jani...kamu mimpi apa sih sampai kayak patung"tanyanya penasaran.


"panjang Son, pokoknya aku melihat hewan-hewan aneh, kereta emas beterbangan di langit. Api dimana-mana pokoknya peperangan itu menghancurkan sebuah peradaban. Tetapi aku juga melihat beberapa orang berkumpul di titik timur sebuah bangunan megah ada lambang surya, sekilas aku melihat suatu benda berkilauan yang dimasukkan kedalam kotak.aku yakin itu mungkin gunung padang Son, ada suatu misteri disana, mungkin professor tidak salah" ceritaku kepada Sonia.


"waahhh kayak di cerita film-film kolosal cerita Jani, tapi bagaimana kamu yakin kalau itu gunung padang?"tanya Sonia.


"Professor selalu bilang, gunung padang adalah peradaban besar megalitikum di pulau jawa yang menyimpan suatu rahasia harta karun nenek moyang nusantara, ada suatu catatan kuno yang di temukan di sekitar gunung lalakon, yang kata professor merupakan bangunan kedua setelah bangunan induk yang diperkirakan di gunung padang"kataku lagi.


"Oke lah Jani gimana kalau kita istirahat dulu, besok kita langsung meluncur ke TKP"jawab Sonia.


"yaaa kamu benar Son, aku juga sudah capek"jawabku.


misteri masih belom terpecahkan, Janitra dan Sonia masih harus bekerja keras untuk memecahkannya, ditambah lagi misteri yang dibawa oleh tante Rieneta.

__ADS_1


__ADS_2