
Hari yang begitu menegangkan bagi seisi anggota kerajaan Tamoor. Waimana dan hewan-hewan eksotik bersayap tidak terlihat berlalu lalang diatas kerajaan, sang Raja telah memerintahkan sebagian dari mereka berjaga di Bukit Aula Cahaya. Aroma pemberontakan semakin tercium. Menambah gelisah Raja dan Sang Putri, beruntung sang Pangeran selalu meyakinkan sang putri untuk melangkah maju.
Di ruangan sang Putri
"Yang Mulia...kenapa anda begitu gelisah, jika seandainya terjadi apa-apa..ada pangeran dan kami" kata Inoi. " Aku gelisah karena memikirkan nasib kerajaan ini, jika terjadi apa-apa siapa yang akan mempertahankannya...aku masih belum memberikan keturunan bagi kerajaan ini" kata sang putri. "Putri jangan bicara seperti itu....bukankah kalian akan menikah dan segera memberikan keturunan" kata Mubai. "Tapi tidak mungkin secepat itu...kerajaan dalam bahaya..Inoi, Mubai berjanjilah padaku, siapapun diantara kalian yang masih punya kesempatan hidup bawalah peta sebagai petunjuk dimana aku menyimpan kunci rahasia kerajaan" kata putri. Inoi dan Mubai saling berpandangan, mereka kini jadi sama-sama khawatir.
__ADS_1
Di ruang pertemuan
tampak Raja berbincang dengan sang pangeran
"Aku sudah menempatkan beberapa prajurit kepercayaanku di Bukit Aula Cahaya" kata Raja. "Tapi Yang Mulia sepertinya tidak usah terlalu mencolok, karena musuh akan secepatnya mengetahui nya hamba sudah mengirim prajurit untuk kembali ke istana timur..nanti malam Ayahanda akan berada menemani kita" kata pangeran. "Baiklah sebelum bulan Purnama kalian harus segera menjadi suami istri" kata Raja. "Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia" jawab pangeran
__ADS_1
tampak pangeran Suriyya dan selir Noor sedang menyusun rencana "Sepertinya Raja sudah mengetahui rencana pemberontakan ini ibu" kata pangeran Suriyya. " Kamu tidak perlu khawatir...aliansi tiga kerajaan sudah bersiap dan Raja masih belum tahu kita lah dalang dibalik semua ini" kata selir Noor. "Kamu memang pintar ibu" kata pangeran. Mereka berdua tenggelam dalam keserakahan, tawa jahat mereka memenuhi seisi ruangan.
kembali ke ruangan sang putri
Tampak Inoi dan Mubai sibuk mempersiapkan tuannya berdandan secantik mungkin. Mereka tak mau menyia-nyiakan acara pernikahan ini. Dengan memilih sutra merah yang begitu halus berkualitas tinggi sebagai baju pengantin, disertai mahkota dan beberapa perhiasan emas seperti kalung, anting dan gelang bertahtahkan batu permata berwarna ungu. sang putri nampak semakin cantik dan berwibawa. "Tuan putri apakah anda sudah siap berangkat?, Raja sudah mempersiapkan waimana untuk putri naiki agar segera sampai di Aula Bukit Cahaya" kata Inoi. "Tunggu...bagaimana dengan ayah dan pangeran?"tanya putri. " Kita akan berangkat bersama...tuan putri" jawab pangeran Su-Shino. Inoi dan Mubai membelalakkan matanya tanda kaget karena seharusnya sepasang pengantin harusnya bertemu ditempat upacara. "Tapi pangeran..." sela Inoi dan Mubai. "Kalian jangan membantah..ini demi keselamatan sang putri, aku sendiri yang akan melindunginya" jawab pangeran. "Lalu bagaimana dengan ayahanda?" tanya putri. "Jamgan khawatir ayahmu sudah di sana" jawab pangeran. Mereka pun segera menaiki waimana dan berangkat ke Bukit Aula Cahaya.
__ADS_1
Bukit Aula Cahaya tempat dimana para leluhur tukuh kerajaan di benua Mu bersatu untuk membangunnya, bukan hanya sebagai tempat pemujaan dewa Matahari tetapi juga sebagai tempat pertemuan para raja-raja besar tidak hanya di benua Mu tetapi juga dari benua lainnya. Bangunan megalitikum yang begitu besar berada di sebuah bukit dan batu-batu alam yang disusun sebagai penyanggah bukit agar bangunan itu kuat dan tidak mudah longsor, tembok-temboknya begitu kokoh, Terdiri dari beberapa undakan yang sekelilingnya merupakan taman yang indah. Dan di puncaknya terdapat sebuah bangunan kecil seperti kuil dan altar sebagai persembahan kepada sang dewa. Tampak sang Raja dan para bangsawan dari aliansi 3 kerajaan sekutu sudah berkumpul disana...sang pendeta pun sudah bersiap dan membacakan mantera-mantera. Akhirnya setelah beberapa saat, waimana sang putri tiba. "Pangeran...tunggu sebentar" kata putri. "Ada apa?" tanya pangeran. "kunci ini harus aku sembunyikan di tempat ini, agar suatu saat nanti keturunan kita menemukannya" kata putri. "Apa kamu yakin" tanya pangeran. "Iya.."jawab putri. "Inoi & Mubai aku serahkan peta ini kepada kalian...siapapun yang selamat hari ini harus mempertahankan harta kerajaan"kata putri. "Putri kami mohon janga berbicara seperti itu" jawab Inoi & Mubai sambil menangis. Setelah putri menyembunyikan kunci di tembok sebelah barat mereka segera menuju kuil di puncak. Setelah upacara beberapa saat tibalah akhir dari upacara pernikahan dan disaat bersamaan tiba pula selir Noor membawa pasukan tiga aliansi kerajaan pemberontak. "Serahkan kunci itu Putri...jika tidak maka tidak akan ada yang hidup di tempat ini!!!!" bentak Selir Noor kepada putri Mahacharya. "Kaauuu....ternyata kau biang semua ini!!!!" kata raja dengan marah..."Tentu saja Raja...aku akan membalaskan dendam ayahku dan segera kukuasai kerajaanmu" jawab selir Noor. "Tidak semudah itu selir Noor, kunci itu sudah aku simpan rapat-rapat" jawab putri. "Dasar kau ular kecil kurang ajar!!!!" bentak selir Noor. Akhirnya perangpun tak terelakkan. Waimana disertai senjata-senjata dahsyat saling melemparkan serangan. Hewan-hewan eksotik bersayap pun saling menyerang. Yyaaaaa inilah akhir dari benua Mu...tetapi kunci rahasia itu masih tersimpan rapat-rapat..apakah kunci itu akan segera ditemukan, mengingat kuil Bukit Aula Cahaya telah hancur lebur.