The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
Chapter 1 : Hari Yang Tenang


__ADS_3

Namaku adalah Budi Setiawan, pemuda biasa yang berasal dari Indonesia dan umurku masih 15 tahun saat ini. Aku belajar di akademi Arcana Master dari Kota Tokyo, Jepang. Sebenarnya aku tak berniat sekolah di sana karena aku tak berniat menjadi Arcaner. Tetapi karena keinginan orang tuaku dan aku tak ingin mengecewakan mereka, aku bersekolah di sana.


Yah, sesuai dengan perkataanku tadi. Aku hanya ingin hidupku tenang dan damai. Aku tak ingin hidupku menjadi susah lantaran menjadi Arcaner. Tidak ada hari yang tak tenang bagi Arcaner. Mereka adalah orang giat yang berkontribusi besar bagi masyarakat. Yang berarti, hidupnya menjadi susah lantaran tanggung jawab yang besar sebagai Arcaner. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tak bisa membantah orang tuaku.


Tetapi seiring berjalannya waktu, aku paham bahwa ketenangan tidak didapatkan dengan berdiam diri dan tak berbuat apa-apa. Mereka "sang pengganggu" akan muncul mengganggu orang-orang kelihatan lemah. Termasuk aku contohnya yang sering diganggu lantaran tak menonjolkan diri sebagai orang yang kuat.


Ah, kalau itu terjadi. Prinsip hidup tenangku akan kuubah menjadi hidup untuk tenang. Akan kucari ketenanganku sendiri, bahkan menjadi iblis.


Namaku adalah Budi Setiawan, pemuda berumur 15 tahun yang hidup seperti seekor angsa damai dan menjadi ganas ketika kedamaian dan ketenanganku diganggu.


***


16 September 20**, hari ke-122 untuk siswa tahun pertama bersekolah. Hari itu tidak ada yang spesial dan tidak ada kejadian yang menarik. Semua berjalan sangat normal dan tidak ada yang lebih ataupun kurang.


Di waktu itu, Budi baru saja keluar dari kamar apartemennya. Saat itu masih jam 7 pagi, waktu yang cukup normal untuk para pelajar rajin. Di jendela dekat dengan tangga, Budi melihat jalanan mulai agak ramai. Mereka adalah orang-orang yang memulai aktivitas baru di hari itu, tak terkecuali pelajar. Setelah turun ke lantai dasar dan menuju ke jalanan, dia melihat sebuah apartemennya secara sekilas dan sedikit tersenyum.


Apartemen sederhana, tetapi masih nyaman untuk ditinggali. Kamarnya cukup kecil, namun itu tidak masalah bagi Budi yang tinggal seorang diri. Yah, Budi anak perantauan dari negeri yaitu Indonesia dan mengingat mengapa dia berada di sini membuat Budi sedikit kesal.


Entah kenapa orang tuanya begitu keras kepala untuk mengirim Budi ke tempat jauh untuk belajar Arcana, sebuah ilmu mistik yang menggabungkan ilmu penulisan rune dan pengendalian tenaga dalam.


"Bukankah di negara ini ada akademi Arcaner? Kenapa harus di Jepang?" Tanya Budi pada saat pertama kali dia diminta belajar di Jepang oleh orang tuanya.


"Di sini tak semutakhir itu. Di Jepang, kau akan mendapatkan ilmu tinggi tentang Arcana dan menjadi Arcaner yang hebat," kata ibunya.


"Benar kata Ibumu. Kau akan menjadi Arcaner hebat dan masa depanmu akan menjadi cerah setelah itu. Kau tidak ingin seperti itu?"


"Bukan seperti itu, ayah. Aku ingin sekali mendapatkan masa depan yang cerah bahkan tak terbatas. Tetapi, aku tidak mau menjadi Arcaner karena itu sangat....menyusahkan. Pokoknya aku tidak mau menjadi Arcaner."


Hingga, Budi dan kedua orang tuanya saling berdebat. Ketika sudah mencapai klimaksnya, ibunya mengeluarkan jurus pamungkasnya.


"BUDI!!! APA KAMU MENENTANG KAMI?! KALAU SAMPAI KAMU MEMBANTAH LAGI, IBU AKAN BUNUH DIRI!!!"


Dan kata itulah membuat Budi menjadi menurut dengan perintah kedua orang tuanya. Ibunya memang tak main-main kalau berucap. Ibunya pernah ingin menggantung dirinya ketika Budi tak berangkat sekolah pada hari senin karena Budi saat itu sedang malas upacara. Kenapa Ibu sampai menyakiti dirinya ketika pendapatnya tak bisa dituruti olehku? Itulah pertanyaan yang selama ini berada di benak Budi.


"Ah, punya orang tua begini amat dah..."

__ADS_1


Kata itu selalu diucapkan ketika dia mengingat tentang itu. Tetapi apalah daya, nasi sudah jadi bubur. Dia sudah terlanjur lahir di keluarga tersebut dan mau tak mau, dia harus menjalaninya. Yah, hidup tak jarang tak sesuai dengan harapan dan satu-satunya cara untuk menghadapi kata-kata tersebut adalah tetap menjalaninya dan tetap bersyukur dengan hal tersebut.


Budi kemudian berjalan ke sekolahnya, akademi Shirogami. Dia berjalan dengan melihat-lihat pemandangan kota tersebut. Salah satu cara menjadi penikmat ketenangan dunia adalah melihat paronama dari lingkungan yang ada. Tak perlu ke taman Disney atau wisata pantai dewata bali, cukup melihat lingkungan yang ada.


"Ohayo, Budi-san..." Ketika dia berada di zebra cross, seseorang menyapa Budi dalam bahasa Jepang. Dia adalah seorang wanita berambut hitam dengan gaya ikal 2. Wajahnya datar yang terkesan dingin, tetapi Budi tahu kalau dia adalah orang yang baik. Dia adalah teman satu kelasnya selama 3 bulan ini.


"Ohayo, Awatake-san..." Kemudian dia menyapa wanita itu. Hidup tenang bukan berarti menjadi pendiam. Justru hal itulah yang membuat hidup tak tenang.


"Apa kau sudah mengerjakan tugas Imasaki-sensei?"


Budi kemudian terlihat berpikir dan akhirnya dia mengingat tentang tugas fisika lanjutan tersebut. Dia pastinya mengerjakan tugasnya, karena konyol rasanya mencari damai tetapi masih mencari masalah hanya tugas konyol.


"Yah, aku mengerjakan tugas tersebut. Memangnya ada apa? Apa kau tidak mengerjakannya?" Tanya Budi.


Awatake berkata, "aku mengerjakannya. Tadi itu aku memastikan kalau rekan squadku akan mengerjakan tugasnya agar tidak mengganggu aktivitas nanti."


"Ehm..."


Budi terkadang bingung dengan orang bernama Awatake Rein ini. Dia membahas yang tak perlu dibahas saat itu dan juga melakukan sesuatu yang aneh menurut Budi. Padahal "itu" akan dilaksanakan 2 bulan lagi dan tidak ada rencana tentang latihan untuk melaksanakan hal "itu". Lalu, mengapa dia membahasnya?


"Tidak, bukan apa-apa. Aku harus memikirkan tugas presentasi pelajaran material dasar nanti pagi."


"Oh, begitu ya. Kalau begitu selamat berjuang," kata Awatake yang sebenarnya sudah maju melakukan presentasi sebenarnya.


Kemudian mereka menyebrang zebra cross bersama-sama. Setelah itu mereka harus menempuh sekitar beberapa puluh meter lagi untuk sampai di gerbang akademi Rakuen, tempat mereka berdua belajar Ilmu mistik bernama Arcana.


***


"Baiklah, hanya itu yang kami sampaikan. Terima kasih atas perhatian anda sekalian, selamat siang." Seorang siswa berdiri di depan kelas bersama 4 orang siswa yang merupakan kelompoknya. Orang itu adalah Budi dan dia adalah moderator dari kelompok untuk mewakili kelompoknya tersebut.


Dia saat ini sudah selesai melakukan tugas presentasinya dan melakukan penutupan pembahasan mereka. Setelah itu, Imasaki-sensei membahas beberapa hal sebelum dia menutup pelajaran hari itu. Lalu, dia pergi ketika bel istirahat berbunyi.


Lalu, kelas tersebut menjadi sedikit berisik setelah guru tersebut pergi.


"Ah, akhirnya selesai juga," Kata salah seorang siswa.

__ADS_1


"Apa kalian lapar? Yuk, ke kantin. Di sana sudah ada menu Roti Kare murah." Kemudian salah seorang siswa menawarkan siswa yang lain untuk pergi bersama-sama ke kantin.


"Benarkah? Ayo kita ke sana!!"


Kemudian sekelompok siswa itu langsung pergi ke kantin.


"Hei, kita makan bekal di atap sekolah, yuk." Seperti tak mau kalah, salah seorang siswi langsung mengajak siswi yang lain untuk ke atap


"Hayuk!"


Kemudian para siswi ke atap seperti para siswa yang pergi ke kantin.


Lalu, bagaimana dengan Budi? Dia hanya melihat semua itu dengan kepala berpangku di tangan. Dia sudah membereskan beberapa hal tentang presentasinya dan sedang menganggur.


Semua orang mengucap bahasa mereka, bahasa Jepang dan tidak satupun bahasa Indonesia yang keluar dari mulut mereka. Walaupun begitu, Budi masih mengerti apa yang mereka katakan karena sedari kecil dia sudah belajar Jepang. Bahasa Jepang sudah seperti KKM wajib bagi keluarganya, entah alasan apa yang membuatnya seperti itu.


"Budi-san, apa kau membawa bekalmu?" Kemudian seorang perempuan ikal 2 tiba-tiba bertanya kepada Budi. Dia tak lain Awatake Rein, orang yang mengobrol di zebra cross.


"Iya, sebentar lagi aku membukanya."


"Kalau begitu, bagaimana kita makan bersama? Teman makanku saat ini sedang sakit."


"Iwatani-san sakit? Aku tak menyangka gadis gorila itu bisa sakit."


"Ehm, kau benar."


"Baiklah, kita makan di sini."


Kemudian mereka lalu makan bersama di satu meja. Layaknya sebuah pasangan.


***


**Ini cerita nggak mirip-miripin cerita yang ada di novel mangatoon. walaupun ada nama Arcana yang sama, tapi konteksnya mungkin berbeda. dan juga ceritanya sangat berbeda.


catatan penting :

__ADS_1


kalau ada yang karyanya sama, yang ada nama Arcananya, tolong komentar**


__ADS_2