
Setelah tiga hari dia berlatih di rumah Mizushima, dia pulang ke apartemen tempat ia tinggal. Dia bukan pulang dengan kemauannya sendiri, melainkan diusir oleh kepala pelayan yang ada di sana dan tentu kepala pelayan itu bernama Kamadev Banu yang juga seorang mentor bela diri untuk Arcaner.
Setelah berjalan seorang diri dengan lelah di badannya, akhirnya Budi sampai di depan apartemennya. Namun, tak disangka-sangka dia bertemu dengan Awatake. Dia kemudian berniat menyapa dan mengobrol sebentar.
"Ehm, ya sudah. Aku akan pulang dan ini bikisan dariku." Awatake memberikan sebuah kotak buah dan berbalik badan.
"Bikisan? Eh, tunggu kau tak bertamu dulu ke apartemenku?"
"Tidak, ini sudah sore dan aku punya jam kerja sampingan. Aku akan dimarahi oleh bos jika bolos kerja."
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Sampai jumpa lagi di akademi."
"Sampai jumpa.."
Kemudian Awatake pergi meninggalkan Budi sendirian. Budi kemudian melihat bingkisan yang ia bawa berisi buah-buahan. Dia pun merasa aneh dengan apa yang terjadi dengan Awatake.
"Ehm, ini bukan karakter dari Awatake. Entah kenapa dia terlihat berbeda dari yang kukenal." Batinnya. Awatake yang dia kenal bersifat dingin dan datar. Meskipun dia baik, namun yang ia lakukan terlalu baik untuk seorang Awatake.
Budi berpikir menemukan jawaban yang membuat Awatake terlihat berbeda, tapi dia menggelengkan kepala.
"Ah, bodo amatlah. Anggap saja ini adalah ide dari Iwatani-san, temannya..."
Budi kemudian masuk ke kamar apartemennya dan tak memperdulikan apa yang terjadi. Jika saja dia yang memberi buah-buahan itu tahu, mungkin dia akan sakit hati mendengarnya karena itu adalah idenya sendiri bahkan kode keras yang diberikannya kepada Budi.
Kemudian Budi menaruh bingkisan tersebut ke meja dan mengganti pakaiannya di kamar. Ngomong-ngomong setiap Budi memakai seragam, baju dalamannya adalah kaos polos dan di tasnya selalu membawa plastik yang berisi celana panjang karena bisa saja dia ada keperluan dan tak sempat pulang ke rumah. Akan sangat tak enak, jika selalu membawa seragam di luar sekolah menurut Budi. Maka dari itu dia tak ketahuan memakai seragam oleh Awatake karena dia sudah memakai pakaian yang berbeda.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaian, dia langsung ke dapur. Dia ingin mengisi perutnya yang lapar. Selama pelatihan, dia selalu memakan makanan instan sehingga sangat rindu dengan nasi. Maklum, dia orang Indonesia asli yang tak akan kenyang jika tak makan biji-bijian tersebut. (orang Jepang mungkin seperti itu juga)
Setelah memasak nasi beserta lauk-pauknya sekaligus menaruh buah-buahan di kulkas, dia pun mengambil 3 centong nasi dan beberapa lauk di piring.
Kemudian dia berjalan sofa, duduk dan menyalakan televisi yang berada di depan sofanya. Dia menonton sebuah program berita dan memakan makan malamnya dengan tangan.
Yah, anda tidak salah baca. Si anak Indonesia ini menggunakan tangannya untuk mengambil suapan makan malamnya. Itu merupakan kebiasaannya dari kampung halamannya. Dia biasanya makan malam bersama kakeknya dan kakeknya selalu menyuruh Budi untuk makan dengan tangan, dengan alasan mengikuti leluhur mereka. Dan yah, Budi nurut-nurut saja dan menjadikan hal itu kebiasaannya.
"Permisa, The Normies membuat kericuhan di negara Paraguay....." Seorang presenter cantik berbicara tentang kabar kericuhan berskala besar. Namun, Budi nampak cuek saja.
"Ah, ulah The Normies lagi. Apakah mereka tak lelah membuat masalah dimana-mana?" batin Budi.
The Normies adalah organisasi militan ekstrimis alias ******* yang bersifat global. Mereka mempunyai tujuan untuk menghapus ilmu arcana yang menurut mereka adalah ajaran sesat. Mereka akan melakukan apa saja untuk menghancurkan apa yang disebut dengan ajaran sesat itu.
Budi yang bukan pelaku saja lelah, saking seringnya mendengar berita-berita itu. Dia kemudian mendengarkan kejadian berita itu yang terjadi kemarin pada siang hari jam 9 pagi waktu setempat dan berarti kejadian itu jam 10 malam kemarin kalau dihitung di Tokyo. Si presenter itu menjelaskan bahwa ada 600 korban jiwa pada kejadian itu dan membuat hari kericuhan itu menjadi hari berdarah bagi Paraguay.
Menurutnya perbuatan mereka ini tak termaafkan dan ingin bertindak. Tetapi dia ingat bahwa dia hanya warga sipil yang memiliki impian untuk hidup tenang dan damai. Dia seharusnya tak mempunyai urusan tentang itu.
Sang presenter itu berkata lagi, "...kami akan memutar video dari salah satu anggota The Normies pada 2 hari yang lalu."
Kemudian scene itu berubah menjadi seseorang yang menggunakan masker hitam dan berpakaian merah. Itu adalah video viral beberapa minggu yang lalu dari salah satu anggota The Normies.
"Namaku Black, salah satu petinggi di The Normies. The Normies adalah organisasi yang akan memperbaiki dunia. Lalu kalian pasti bertanya, mengapa kami melakukan hal sejauh ini? Maka kami akan menjawabnya dengan pertanyaan, Apakah kalian sadar akan dunia ini? Dunia rusak ini, ada sebuah ajaran sesat yang sangat besar. Ajaran itu dianut banyak orang dan menjadi hal lumrah di masyarakat. Kami tak ingin masyarakat dibodohi dengan lingkaran setan itu dan berniat untuk meng-"
"Ah, membosankan....matiin ajalah."
Budi langsung mengambil remote dan mematikan televisinya, membuat Black tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia sudah melihat itu lebih dari 7 kali selama 2 hari dan lama-lama menjadi kesal mendengarnya. Dan akhirnya, mendengarnya sama saja mendengar orang gila yang sibuk mengoceh tak jelas.
__ADS_1
Dia kemudian pergi ke dapur untuk menaruh piringnya karena dia sudah menyelesaikan makan malamnya sejak presenter tengah melaporkan beritanya. Dia mencuci piringnya dan mencuci tangannya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Dan setelah mandi, dia pun tidur tanpa peduli dengan pelajaran esok hari. Karena dia bisa menata buku pelajaran di pagi hari.
***
Jam 5 pagi, keesokkan hari.
Yoloooooooooooooo!!!!!
"A-ah, ehm..."
Budi menggeliat dan terbangun dengan suara alarm smartphone-nya. Suara yang barbar dan berisik itu adalah suara efektif untuk membangunkan Budi yang lebih sulit untuk sadar dari tidurnya.
Setelah mematikan alarm smartphone-nya, dia kemudian bangun dari tempat tidurnya dan meregangkan badannya yang sedikit kaku. Lalu, dia mulai berjalan ke dapur untuk mengambil susu di sana.
"Ehm, tidak ada susu...." Budi mendecak kecewa. Tapi dia melihat buah-buahan yang tersusun di kulkas. Dia ingat kalau buah-buahan itu berasa dari bingkisan Awatake kemarin. Agar tak mubazir, dia mengambil buah Apel dan memakannya. Setelah menutup kulkas, dia pergi ke sofa dan menyalakan televisinya.
Dan kali ini dia adalah menonton sebuah anime, Anime yang diadaptasi dari light novel. Lalu, setelah melihat-lihat sebentar, dia akan mematikan televisinya dan pergi ke kamar, untuk menyusun buku pelajaran. Namun diurungkan niatnya ketika tayangan anime itu dihentikan oleh sebuah program berita darurat.
"Sudah berapa kali dalam seminggu ini terjadi?" Budi sedikit aneh dengan hal itu. Berita darurat selalu muncul beberapa kali dengan berita yang berbeda. Namun dia tak mempertanyakannya lagi dan melihat berita itu.
"Maaf mengganggu tayangan anda pagi ini. Sebuah mayat ditemukan di sebuah rumah yang berada di distrik 3, kota Tokyo pada jam 3 pagi lalu. Keadaan mayat itu cukup mengenaskan, yaitu kepalanya terlepas dari dan kepalanya dibakar tak jauh dari tempat kejadian perkara hingga tak bisa diidentifikasi lagi. Beruntung, di tubuh korban ada sebuah kartu guru di kantongnya. Identitas korban adalah..."
Di tengah dia mendengar berita, dia pergi ke dapur dan ingin meminum air putih.
"...Seorang guru akademi Rakuen, Takenaka Koki."
__ADS_1
Budi memuncratkan minumannya ketika mendengar akademi Rakuen dilaporkan oleh reporter.