
Budi dibawa ke ruangan bawah tanah oleh seorang pelayan pria yang dipanggil Kamadev oleh Mizushima. Di ruangan itu benar seperti tempat olahraga kebugaran, Gym Center dengan tambahan adanya tempat latihan menembak dengan sasaran tembak dan sebuah ring tinju.
"Apa yang aku harus lakukan di sini?" Tanya Budi.
"...." Kamadev tak menjawab pertanyaan Budi dan Budi lalu diam melihat bahwa sepertinya saat ini bukan waktu yang cocok untuk mengobrol dengannya.
"Tuan Kamadev! maafkan saya yang terlambat ini." Seorang wanita yang tak Budi kenali datang dengan terburu-buru.
Wanita itu memakai kacamata dan berpakaian layaknya wanita kantoran.
"Tidak masalah, lagipula "Partner rencana" baru saja datang ke sini. Dan ini orangnya." Kata Kamadev dengan menunjuk Budi.
Wanita itu kemudian menengok ke Budi dan entah kenapa mulai mengerutkan dahinya. Dia lalu mendekati Budi dan memperhatikan atas dan bawahnya, seperti meragukannya.
"Dia tak berbakat dalam bidang Arcana..." Katanya dan entah mengapa ada rasa sesak di hati Budi setelah wanita itu berbicara.
Dia lalu menengok ke Kamadev dan bertanya, "apakah ini yang dipilih oleh nona muda? Dia hampir tak berbakat dalam terapan Arcana..."
Kamadev mengangguk.
"Uh, nona muda benar-benar membuat kita kesusahan saja..." Ceplos wanita itu.
Kamadev berbantuk dan menatap dingin wanita itu. Hal itu membuat wanita itu merinding.
"Eh, Tu-tuan Kamadev, saya hanya bercanda kok."
"Jika kau tidak suka dengan perintah nona muda, mengapa kau tidak keluar saja dari pelayan keluarganya nona?"
"Ehm, sa-saya suka kok. Saya tetap mengabdi kepada nona muda dan keluarganya, sesuai janji ketika saya direkrut." Ucapnya dengan nada terbata-bata.
Kamadev menatap sorot mata wanita itu dan menghela nafas. Dia tak melihat adanya kebohongan dalam mata wanita itu.
"Lain kali, jika kau jangan berucap seperti itu lagi. Itu membuat seperti harga diri nona muda diturunkan olehmu."
"Baik!"
Mereka berdua kemudian menatap Budi secara bersamaan yang masih bingung dengan yang dimaksud "partner rencana" atau yang lain.
"Sebelum kita mulai latihannya, kita harus mengenalkan diri terlebih dahulu..." Kata sang pelayan pria itu yang sebenarnya Budi sudah tahu namanya.
Kemudian dua orang itu mengenalkan diri mereka. Sang butler itu melangkah maju sedikit daripada si wanita.
"Namaku adalah Kamadev Banu, seorang kepala pelayan rumah ini dan akan menjadi guru bela diri anda...."
Kemudian si butler itu mundur selangkah dan si perempuan itu maju yang juga akan mengenalkan dirinya.
"Namaku Sisilia Fox, seseorang yang akan menjadi guru Arcana Art anda...."
Kemudian wanita yang bernama Sisilia itu mundur selangkah. Budi masih kurang tahu tentang tata krama Jepang, agak canggung dalam situasi seperti ini. Mungkin dia harus mengenalkan diri atau tidak sama sekali. Namun, Budi melihat kalau 2 orang itu menunggu sesuatu hal dan menyimpulkan bahwa Budi harus mengenalkan dirinya.
"Nama saya adalah Budi Setiawan, seorang siswa dari akademi Rakuen dan orang yang ingin menjadi kuat. Jadi, mohon bantuannya, Kamadev-sensei, Fox-Sensei."
__ADS_1
Budi membungkuk untuk memohon bantuan dari orang lain ala Jepang dalam meminta bantuan.
Kamadev dan Fox menggangguk, tanda menerima Budi sebagai murid.
"Baiklah, Budi. Biar kujelaskan singkat tentang latihan yang kami adakan ini...." Kemudian Kamadev mencoba untuk menjelaskan latihan apa yang akan dilakukan nanti.
"Ada 2 latihan yang kau lakukan nanti, yaitu latihan Arcaner Matrial Art dan Mystic Arcana Art. Arcaner Matrial Art sepenuhnya diajarkan olehku dan Mystic Arcana Art diserahkan oleh Sisilia. Dan untuk jadwal malam ini, Mystic Arcana Art akan dilakukan sebelum pelajaran Arcaner Matrial Art selama 2 jam. Begitu juga denganku, 2 jam juga. Ada pertanyaan?"
Kamadev menyilangkan tangannya di dada dan menatap Budi yang sepertinya tidak ingin bertele-tele.
"Bisa kita mulai saja?" Tanya Budi yang sepertinya bergemuruh di hatinya.
"Ehm, benar-benar anak muda berdarah panas. Baiklah, kita langsung latihannya..."
Kemudian Kamadev menyingkir karena dia orang mengganggu yang tak berguna untuk saat ini.
"Aku ingin tahu, Budi-kun. Apakah kau berada di kelas fisika?"
"Yah, aku kelas 1-fisika."
"Ehm, syukurlah kalau begitu. Ini akan mempermudah semuanya."
Fox-sensei mengelus dadanya dan berkata lagi, "aku ingin tahu sampai mana kau mempelajari Dynamic Mystic?"
Dynamic Mystic atau bisa juga disebut Kinetic Mystic, adalah cabang arcana di bidang fisika yang cara kerjanya mengeluarkan energi Cells sampai keluar dari tubuh dan mengubah komponen energi itu di lingkaran Arcana yang sudah dibuatnya. Prinsipnya itu bergerak dan dinamik layaknya aliran air di sungai dangkal.
"Eh, kami kelas 1 sudah mempelajari pembuatan lingkaran 9 rune dan sudah melakukan beberapa kali praktek minggu-minggu ini...."
Setiap lingkaran arcana memiliki Rune dan itu adalah bahan yang digunakan untuk membentuk lingkaran itu. Setiap banyak rune semakin tinggi tingkatan dari lingkaran Mystic Arcana itu.
"Ehm, lalu apa yang kau praktekan?"
"Sebuah api...."
Kemudian Budi menulis rune berjumlah 3 dan membentuk suatu lingkaran di telapak tangan. Lalu, api muncul di tangannya bersamaan menghilangnya lingkaran tersebut. Lingkaran itu adalah syarat untuk memanggil kekuatan mistik dan jika sudah tak berguna lagi, dia otomatis hilang.
"Ah...." Fox-sensei menghela nafas dan memijat keningnya. Dia sepertinya depresi setelah melihat Budi mengeluarkan api itu.
"Apa ada masalah?" Budi menangkap ekspresi itu.
"Sangat bermasalah, kukira aku bisa mengajarimu dengan mudah." Fox-sensei mencela Budi.
"Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?" Tanya Fox-sensei.
"Yah, hanya itu yang kulakukan..." Kata Budi yang membuat Fox-sensei mengacak-acak rambut panjangnya.
"Sebenarnya apa yang kau pelajari selain Dynamic Mystic dan lingkaran 9 rune itu?"
"Materialisasi, Kuantum Mekanika, dan...."
"Tak perlu kau lanjutkan lagi. Aku sudah paham, kau pasti berada di kelas umum itu, kan?"
__ADS_1
Fox-sensei belum mengetahui detail identitas dari Budi, misalnya umur dan kelasnya. Karena sebelumnya belum diberitahu oleh Kamadev si kepala pelayan.
"Dengar, Budi-kun. Yang kau lakukan itu hanyalah permainan anak-anak SD. Itu tidak masuk ke tingkatan standar Throne of Mystic bahkan."
"Yah, aku mengetahuinya..."
"Lalu, mengapa kau mempertahankannya? Mengapa kau tak berkeinginan untuk berkembang?"
"Karena itu tak dibutuhkan...."
"Tunggu! Apa maksudmu 'tak dibutuhkan'?"
"Karena itu tak dibutuhkan untukku sendiri. Aku tak pernah ingin menjadi Arcaner karena itu merepotkan, jadi mengapa aku harus repot-repot belajar arcana art?"
"Aku tak mengerti dengan pemahamanmu..."
"Semisalnya kau jadi tukang reparansi elektronik. Apakah perlu belajar lingkaran 25 rune ke atas untuk memperbaiki sebuah televisi? Itu akan membuat televisi itu meledak."
"Jadi, sebenarnya kau hanya ingin menjadi tukang reparansi elektronik?"
"Tidak, tapi jika itu pilihannya maka aku akan menjadi tukang reparansi elektronik daripada menjadi Arcaner yang stress setiap saat."
Fox-sensei benar-benar bingung dalam hatinya. Di dunia yang luas ini, ada seorang calon Arcaner yang mengatakan ketidaksukaannya untuk menjadi Arcaner dan menaruh penilaian rendah kepada Arcaner itu. Apakah itu tak terasa semacam paradoks?
"Anda mungkin merasa aneh denganku, karena mengapa saya yang tak suka menjadi arcaner harus bersekolah di akademi Rakuen, salah satu akademi terbaik untuk yang menjadi Arcaner..."
Budi mengingat tentang kejadian sebelum dia berangkat di kota Jepang. Dia harus dipaksa orang tuanya dan berakhir ancaman bahwa ibunya akan gantung diri jika dia tak menuruti keinginan mereka. Ultimate card milik ibunya itu pasti selalu berhasil karena siapa juga yang mau melihat ibunya gantung diri. Bahkan orang gantung diri pun pasti tidak tega.
"Pasti paksaan orang lain, atau lebih tepatnya paksaan orang tua, kan?" Budi sedikit terkejut dan terkesan dengan perkataan Fox-sensei tadi.
"Bagaimana anda tahu?"
"Untuk memenuhi keinginan mereka dari orang lain hanyalah kekerasan ataupun paksaan yang bisa mengabulkannya. Umurmu pasti belum genap 16 tahun dan paksaan yang ampuh untuk seumuranmu adalah paksaan dari orang tua, karena kendali penuh dirimu berasal dari orang tuamu."
"Benar, anda benar-benar bisa menebaknya..."
TBC
***
Informasi singkat untuk episode ini :
Throne of Mystic
Sebuah peraturan standar untuk lingkaran arcana art yang mengacu kepada jumlah Rune. Peraturannya seperti berikut, 9 sampai 25 rune adalah lingkaran arcana dasar, 26 sampai 55 rune adalah lingkaran arcana menengah, dan 56 ke atas adalah lingkaran arcana lanjutan.
Arcaner Matrial Art
Suatu Ilmu yang menggabungkan antara ilmu bela diri dengan kekuatan mistik arcana untuk mendapatkan kekuatan dan efektivitas dari sebuah ilmu bela diri itu sendiri. Misalnya kapoera dari Brazil yang mengandalkan tendangan mautnya, maka itu bisa ditambahkan dengan sebuah arcana untuk menciptakan tendangan maut yang double damage.
Mystic Arcana Art
__ADS_1
Sebuah seni mistik yang menggunakan ilmu penulisan dan penggunaan tenaga Cells.