The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
chapter 3 : kegelisahan Awatake


__ADS_3

Akademi Rakuen adalah salah satu 3 akademi pencetus setelah 40 tahun peristiwa hebat terjadi yang bernama detuman None. Akademi ini berada di Tokyo, Jepang dan sudah meluluskan 1 juta lebih arcaner yang hebat. Sama seperti akademi pencetus lainnya, akademi Rakuen lebih diunggulkan dari akademi arcaner yang diluar 3 akademi. Walau Rakuen mengalami kemunduran dan menjadi terlemah dari 2 akademi lainnya karena faktor jumlah dan kualitas peserta didik. Sehingga membuat kepala sekolah Rakuen harus gigih dalam memajukan akademi Rakuen.


Struktur kelas didik dibagi 2 jenis sesuai standar internasional pendidikan arcana. Yaitu, kelas umum dan kelas bangsawan. Kelas bangsawan di Rakuen ada 3, yaitu kelas A, kelas B, dan kelas C. Kemudian kelas umum di Rakuen berjumlah 3 juga, yaitu kelas D, kelas E, dan kelas F. Dibaginya kelas bangsawan dan kelas umum agar bisa membedakan potensi peserta didik sehingga mendapatkan prioritas pengajaran yang berbeda. Walau terdengar kejam bagi peserta didik yang memiliki potensi rendah, tetapi mau bagaimana lagi. Walau peristiwa hebat sudah hampir setengah abad berlalu, tapi dampak dan akibat peristiwa itu masih terasa kuat dan manusia membutuhkan orang-orang hebat untuk memperbaiki dampak tersebut.


Di kelas jenis umum yaitu kelas D, ada seorang siswi yang memangku kepalanya di tangan dan melihat ke luar jendela dimana langit cukup cerah. Dia berada di kursinya yang berada di samping jendela barisan kedua jika dihitung dari depan. Wajahnya manis dengan kesan datar yang dingin sehingga banyak orang yang enggan mendekati siswi tersebut. Walaupun begitu, jika mereka mengenal baik siswi tersebut pasti akan mengganggap bahwa kesan datar hanya topeng belaka.


"Rein, makan yuk!"


Seseorang memanggil siswi tersebut dari belakangnya. Awatake Rein, seorang siswi yang menatap langit tersebut menengok ke sumber suara dimana dia melihat seorang siswi berambut panjang berwarna merah dengan pucuk pirang sedang tersenyum kepadanya. Dia tahu siapa siswi tersebut karena dia mengenal dekat dengannya. Dia adalah Iwatani Ritsu, sahabatnya yang pernah Budi panggil gorila tersebut.


"Iya, kita akan makan dimana?"


"Tentu saja di tempat biasa."


"Oh, baiklah..."


Kemudian Iwatani dan Awatake pergi ke tempat mereka biasa makan, yaitu di atas atap sekolah. Tempat itu biasanya sangat ramai dengan para siswa-siswa yang beristirahat. Namun, mereka berdua tak akan terganggu dengan hal tersebut karena adanya Iwatani, sang gorila merah.


Iwatani dan Awatake kemudian duduk di tempat mereka biasa makan dan membuka bekal yang mereka bawa. Tidak ada sepatah kata ketika mereka makan kecuali ucapan sebelum mereka makan. Hal itu tidak wajar menurut si gorila, karena biasanya Temannya ini membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Rein, apa kau sedang sakit?"


"Sakit? Tidak, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"


"Heh, hari ini kau tidak seperti biasanya. Walaupun kau pendiam, tetapi kau sering membuka percakapan. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Kemudian Awatake menghela nafas dan berkata, "aku baik-baik saja, kok. Bahkan sangat baik hingga bisa joging keliling lapangan sepuluh kali."


"Ehm, kau berbohong. Kau memiliki asma, Rein. Mana ada orang penyakitan sepertimu bisa joging keliling lapangan."


Kemudian wajah datar Awatake berubah menjadi senyum masam yang terlihat menyeramkan bagi Iwatani. Dia pun berkata, "Ara, ara. Apa yang kau katakan tadi?"


"Eh, aku hanya bercanda, Rein, Bercanda. He he he."


Kemudian raut wajah Awatake kembali datar seperti semula. Dia lalu memfokuskan makanan dalam bekalnya tanpa perpatah kata dengan Iwatani.


"Kau khawatir, kan?" Tanpa angin tanpa hujan, Iwatani mengucapkan 1 kalimat tanya kepada sahabatnya.


"Eh?" Awatake nampak terkejut.


"Tak perlu terkejut, Rein. Meskipun kau terlihat biasa-biasa saja, sebenarnya kau terlihat aneh di mata sahabatmu ini." Kemudian Awatake menatap mata Iwatani yang terlihat bertanya-tanya.


"Kau selama tiga hari ini sering mencuri-curi pandang ke belakang. Hanya ke tempat satu orang yang kutahu kamu akan mencuri pandang."


Nafas Awatake tertahan untuk beberapa saat. Dia seperti sudah terciduk mengambil gorengan di warung pak Mamat oleh pak Mamat itu sendiri.


"Budi, kau mengkhawatirkan Budi, kan?"

__ADS_1


Kemudian Awatake melepas nafas panjangnya, seperti melepas beban yang ada di dirinya dan dia mengangguk mengiyakan pertanyaan sahabatnya.


"Ah, kau aneh sekali. Kenapa dari semua pria di sekolah ini, hanya dia yang kau sukai?" Kata Iwatani.


"Su-suka? Tidak-tidak, aku tidak suka dengannya. Aku hanya mengkhawatirkannya karena dia partner ujian itu. Lagipula kenapa aku suka dengan si lembek itu."


"Kau berbohong lagi, Rein. Ujiannya diadakan 2 bulan lagi dan tidak ada yang bisa dilakukan sebelum detail ujian diungkap. Lagipula dari matamu, aku bisa mengungkap bahwa perasaanmu bukanlah rasa khawatir antar partner ataupun teman, melainkan rasa khawatir dengan orang yang disukainya."


Kemudian wajah Awatake langsung menunduk malu dan menutup matanya. Dia seperti tak ingin sahabatnya melihat matanya.


"Eh, ternyata benar toh. Aku hanya bercanda tadi, dan kau benar-benar menyukai Budi."


"Ritsu!"


"Ha ha ha...."


Kemudian Iwatani Ritsu tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya itu bertingkah aneh. Cukup jarang ada kejadian ini bagi Iwatani. Biasanya Awatake Rein mempunyai sifat kalem, lemah lembut, dan berbicara seperlunya saja. Dan sekarang, dia memukuli Iwatani dengan gaya feminim anak perempuan dan raut wajah yang memerah. Awatake benar-benar malu sekarang.


"Jadi, kau benar menyukai Budi? Ini berita besar bagiku."


"He-hentikan..."


"Tak apa-apa, aku tak akan mengejekmu, kok. Meskipun aku sedikit kecewa, tapi aku merestui dan melakukan apa saja agar hubungan kalian terwujud. Aku janji sebagai sahabat Awatake Rein."


Awatake ingin membenamkan wajah sahabatnya ke dalam lautan yang terdalam karena kesal, dan berharap hari akan berganti cepat. Tetapi, kata-kata dari Iwatani Ritsu benar-benar membuat hatinya tenang entah kenapa. Dia seperti tak menyangkal bahwa dia menyukai lelaki berbangsa Indonesia tersebut.


"Kemana dia berada?" Awatake Rein setelah pulang dari akademinya, dia langsung meluncur ke apartemen milik Budi. Ini bukan ide darinya sendiri, melainkan ide dari sahabatnya sendiri, Iwatani.


"Kalau kau khawatir, kenapa kau tidak datangi saja apartemennya?" Saran Iwatani.


"Ehm, untuk apa?" Ketus Awatake.


"Eh, kita tidak tahu keadaannya, bahkan dia sendiri tak memberi kabar ke sekolah. Siapa tahu dia sakit di apartemennya dan tak ada orang yang mengurusinya."


"Ehm, aku tak peduli..."


"Heh, tampaknya aku melihat wanita tsundere di sini."


"Siapa yang tsundere?!"


Iwatani hanya tertawa dan di dalam hatinya, dia bertaruh bahwa sahabatnya itu akan datang ke apartemen Budi hari ini yang ternyata taruhan Iwatani benar terjadi. Awatake Rein benar-benar datang ke apartemen Budi. Dalam hatinya, dia memaki-maki dirinya yang tak tahu diri datang ke apartemen Budi tanpa diundang. Yah, kalau di luar hatinya, dia terlihat wanita anggun yang kalem dan dingin. Awatake benar-benar bermuka 2.


"Ah, Awatake-san?"


Di telinga Awatake dia mendengar suara khas yang sebenarnya ia ingin kunjungi. Dia adalah Budi.


"Ah, Budi-san. Sudah 3 hari...." Awatake tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat wajah Budi.

__ADS_1


"Apa ada yang aneh, Awatake-san?" Tanya Budi.


"Sangat aneh..." kata Awatake yang terkesan datar.


Namun, di dalam hatinya, "Kenapa muka lebam-lebam begitu?! Apa yang terjadi dengan Budi?!! Apakah dia habis dipukuli preman sekota?!! AAAAH!!! BUDI!!"


Dia sangat panik melihat keadaan Budi yang penuh luka memar dan tertatih-tatih.


"Kau habis darimana hingga kau terluka seperti itu?"


"Yah, aku memiliki urusan dengan temanku. Dia mengajakku sparing dan aku menjadi seperti ini."


"Kau berbohong."


'Aku tak mungkin mengucapkan hal jujur kepadamu, Awatake-san.' Batin Budi.


"Kenapa kau berbohong?" Tanya Awatake.


"Ah Awatake-san, ini urusanku. Kenapa kau ingin sekali tahu urusanku ini? Apa jangan-jangan kau suka denganku?"


"Jangan bercanda..." Kata Awatake dengan kesan dingin.


"Ah, Ba-baka, baka. Kau bodoh sekali, Budi-san! Kau fakboy profesional! Budi-aho!" Batin Awatake bergetar hebat dan merasakan malu sekali. Yah, itu tertutupi dengan kesan datar dan dinginnya.


"Oh, aku ingin bertanya kepadamu. Selama 3 hari ini, alasan kau tak masuk ke akademi karena hal itu?" tanya Awatake.


"Yah, sebenarnya ada alasan lain. Tapi aku tak mau memberitahunya."


"Tapi aku bisa membantumu untuk memberitahu alasan kau absen di sekolah."


"Tidak perlu. Besok aku akan sekolah seperti biasa dan biar aku sendiri yang memberitahu alasanku tersebut." Ucap Budi sambil menggeleng.


Awatake menghela nafas panjang dan berkata, "baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku, tidak apa-apa. Aku ke sini hanya melihat keadaanmu dan tak menyangka orang yang damai serta menjaga dirinya dari konflik tak penting sepertimu bisa punya luka memar."


"Yah, ini tak aneh. Akan terasa naif jika kita mau damai, tetapi tak bisa menjaga kedamaian dari perusak."


"Ehm, ya sudah. Aku akan pulang dan ini bikisan dariku." Awatake memberikan sebuah kotak buah dan berbalik badan.


"Bikisan? Eh, tunggu kau tak bertamu dulu ke apartemenku?"


"Tidak, ini sudah sore dan aku punya jam kerja sampingan. Aku akan dimarah oleh bos jika bolos kerja."


"Oh, baiklah kalau begitu."


"Sampai jumpa lagi di akademi."


"Sampai jumpa.."

__ADS_1


Kemudian Awatake pergi meninggalkan Budi sendirian.


__ADS_2