The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
Chapter 8 : Menjadikan Pengalaman Sebagai Guru Terbaik


__ADS_3

Hukuman yang diberikan oleh Fox-sensei termasuk mudah-mudah sulit, yaitu menyuruh Budi untuk menghapal 50 nama-nama Dynamic Mystic yang terkenal. Itu cukup melelahkan otak Budi karena sebelumnya dia berkonsentrasi habis-habisan untuk mempertahankan Spirit Firenya yang akhirnya tak berguna juga.


"Sensei, saya ingin bertanya, mengapa Spirit Fire tadi bisa berbelok tadi?" Tanya Budi.


"Ehm, apakah kau lupa dengan penjelasanku?" Fox-sensei menjawab pertanyaan Budi dengan pertanyaan.


Budi kemudian mengotak-atik ingatannya tentang pelajaran Dynamic Mystic tadi. Namun, dia hampir tidak menemukan kesalahan dan solusi dari penjelasan Fox-sensei.


"Jadi, kau tidak ingat?"


Budi menggeleng dan Fox-sensei menghela nafas berat.


"Kesalahanmu tadi adalah kau mengeluarkan tenaga Cellsmu sekali lagi untuk membuat Spirit Firenya sedikit bertenaga. Itu sangat tidak diperlukan, karena itu membuat lingkaran Arcana tidak stabil dan sulit dikendalikan." Jelas Fox-sensei.


Mendengar penjelasan itu, Budi akhirnya mengingatnya. Tapi, penjelasan Fox-sensei tadi mengatakan arcana tidak akan mengeluarkan kekuatan mistik jika kekurangan dan jika kelebihUEan akan membuatnya terdistorsi, tidak stabil, atau rusak. Budi memahami bagian itu dan tak tahu-menahu tentang penjelasan yang baru dijelaskan.


"Aku tak mendengar kalau ada penjelasan seperti itu..."


"Memang, karena aku harap kau bisa belajar dari pengalaman. Lagipula aku menyiapkan kemungkinan kau tidak melakukan kesalahan, tapi sepertinya aku mengevaluasi ulang karena kau benar-benar melakukan yang tak diperlukan."


"Jadi, sebenarnya kau menjebakku?" Budi merasa dijebak ketika mendengar kalimat pertama yang diucapkan Fox-sensei.


"Ayolah, memanas-manaskan otak dengan menghapal 50+ nama-nama Dynamic Mystic tidak membuatmu merasa kepala pecah."


"Tidak, sebenarnya otakku sedang mendidih karena emosi..."


Kemudian Budi membuat Spirit Firenya dan mencoba untuk menemukan takaran tepat energi Cells yang dibutuhkan. Lalu, melempar itu ke kotak pensil sampai durasinya habis. Tapi berulang kali dia tak bisa menjatuhkan kotak pensil itu dan paling parah ketika dilempar sudah menjadi asap.


Dan akhirnya pelajaran Mystic Arcana Art sebagian besar berkutat Spirit Fire dan beberapa Arcana dasar.


***


Setelah menghabiskan pelajaran Mystic Arcana Art 2 jam, pelajaran bela diri dimulai. Kamadev mengajarkan bela diri tidak menggunakan pakaian maidnya, tetapi memakai tanktop yang memperlihatkan otot-otot kekarnya.


"Kita mulai sparing saja..."


Kamadev berpikir untuk melihat potensi yang dimiliki Budi dalam hal bela diri dengan sparing. Dia berpikir juga bahwa Budi tak pernah belajar bela diri, yang membuatnya terpaksa untuk mengajarkan satu dua ilmu bela diri.


"Baiklah!"


Kemudian mereka langsung di ring tinju untuk memulai sparing mereka. Budi memakai jaket olahraga yang disediakan di ruangan tersebut dan berhadap-hadapan dengan Kamadev.


"Kau tidak memakai pelindung kepala?"


Budi menggeleng.

__ADS_1


"Itu membuatku tidak fokus...."


Kamadev tidak peduli dan menyiapkan kuda-kudanya. Dia mengangkat tangannya ke atas kepalanya dan menghentakan kaki kanannya hingga bergemuruh.


BUMM!!!


Suaranya menyeramkan jika membayangkan kalau kaki itu menginjak badan. Tapi, Budi tak peduli dan langsung menyiapkan kuda-kudanya juga. Jari-jari tangan kirinya melurus membentuk seperti pedang dan tangan kanannya mengepal dengan posisi kaki yang melebar. Kuda-kuda ini bukanlah kuda-kuda asal-asalan, tetapi kuda-kuda yang dilatih oleh guru di kampung halamannya.


"Ehm, sedikit menarik..." Melihat kuda-kuda Budi, Kamadev sedikit tersenyum dan membayangkan bahwa yang terjadi selanjutnya tak membosankan, menurutnya.


Budi lalu maju duluan ketika melihat bahwa Kamadev tak mengambil inisiatif. Dia lalu melepaskan tendangan menuju ke pinggang bagian kirinya, padahal dia berniat untuk mengincar perut Kamadev, tapi badan Kamadev teralu tinggi.


Kamadev mengangkat lutut kiri dan menahan tendangan Budi. Suara adu fisik itu mengeluarkan suara keras dan Budi mundur 2 langkah.


Raut wajahnya tak menyembunyikan rasa sakit dari kaki kanannya, karena mengadu pergelangan kaki dengan tempurung lutut.


"Permulaan yang bagus, jika itu amatir pasti tidak bisa ditahan dengan mudah."


"..." Budi kemudian maju dan kali ini dia menggunakan kombo pukulan dan tendangan.


Tapi semua ditahan dengan mudah oleh Kamadev. Kamadev tidak memberi serangan balasan dan hanya bertahan sehingga Budi merasa dipermainkan oleh Kamadev.


Kemudian setelah pukulan ke-20 Budi berikan, Budi yang merasa lelah tiba-tiba mengangkat tangannya ke atas kepalanya dan terhempas ke belakang. Budi tidak tahu penyebab mengapa dia sampai terhempas dan dia mengangkat tangan karena merasa ada hal yang "dingin" menyerang kepalanya.


"Jangan-jangan...."


"Aku tak menyangka masih ada yang bisa menahan pukulan super cepatku. Kau benar-benar beruntung, anak muda!"


Tak perlu waktu lama Budi sudah menyadari sebab kenapa terhempas. Pukulan dari Kamadev adalah penyebabnya, dan pukulan itu sangat cepat hingga tak terlihat oleh mata. Tapi, beruntung pukulannya belum cukup kuat untuk mematahkan pergelangan tangan Budi.


"Sekarang adalah giliranku anak muda...." Kemudian Kamadev melakukan pemanasan. Budi yang sudah bangun dari posisi tidurnya melihatnya dengan aneh.


Seharusnya dia melakukan pemanasan sebelum memasang kuda-kudanya. Benar-benar tidak urut, pikir Budi.


Setelah melakukan pemanasan, dia memasang kuda-kuda dan beberapa tarikan nafas sudah ada di depan Budi.


"Baga—" belum selesai berkata-kata, pukulan diberikan dari Kamadev. Sangat cepat, namun lebih lambat dari pukulan yang diterima Budi tadi.


Budi menahan pukulan itu dengan cekatan, mencoba mundur beberapa langkah lagi. Namun, Kamadev tidak membiarkan itu terjadi. Kamadev memberikan rentetan pukulan sambil melangkah ke depan. Budi tak bisa menahan semua serangan itu dan membuat badannya kembali babak belur lagi.


Budi merapatkan giginya dan memberikan satu serangan balasan, namun dia hanya memukul kehampaan. Kamadev sudah ada dibelakangnya dan membekap badan Budi lalu membantingnya ke belakang, layaknya bantingan khas pemain MMA kelas berat. Dengan bantingan itu, Budi tersentak dan tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur oleh lantai Ring tinju.


****


"Eh..." Budi mengerang ketika melihat ada lampu menyinari kelopak matanya dan rasa dingin di kepalanya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun, anak muda." Seorang keling kekar dan berwajah mirip John Wick melihat dirinya.


"Dimana aku?" Tanya Budi.


"Kau berada ruang istirahat di bawah tanah..."


Kemudian Budi mencoba bangun dan melihat sekitar. Ada banyak kasur di sekitar yang menyatakan bahwa ini tempat kasur, bukan lagi tempat istirahat. Tapi Budi tak peduli dan memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Maafkan aku, anak muda. Aku terlalu bersemangat sampai membuatmu seperti ini." Kamadev membungkukkan badan dan kepala, mengikuti tradisi Jepang dalam meminta maaf.


Budi bingung dengan apa yang terjadi dan kepalanya tidak bisa mengingat tentang kejadian yang lalu. Dia hanya mengingat memberikan satu pukulan pembalasan kepada Kamadev untuk membalas rentetan pukulan yang diberikan oleh Kamadev dan setelah itu, dia tak ingat apa-apa.


"Bisa anda jelaskan, mengapa saya tak sadarkan diri tadi, Kamadev-sensei?"


Budi menyerah untuk mengingat dan menyerahkan penjelasan kepada Kamadev.


"Ketika kau memberikan satu pukulan kepadaku, aku menghindarnya dan mengambil langkah cepat menuju ke belakangmu. Setelah itu, aku membekap badanmu dan membanting ke belakang."


Budi terlihat berpikir untuk sementara dan melihat lagi Kamadev. Si kepala pelayan itu benar-benar merasa bersalah dengan yang dilakukannya, itu yang terlihat di mata Budi.


"Yah, tidak masalah, Kamadev-sensei. Kecelakaan dalam belajar merupakan hal yang biasa. Bahkan itu bisa menjadi pengalaman saya untuk lebih berhati-hati lagi dan pengalaman anda juga untuk berhati-hati dalam mengajar. Kejadian ini mengingatkanku dengan sebuah pepatah 'Pengalaman merupakan guru terbaik'."


Budi tersenyum untuk menenangkan hati Kamadev. Namun, Budi merasa bahwa senyumannya terasa aneh karena dia jarang sekali tersenyum.


"Bisa kita lanjutkan pelajaran kita, sensei?"


"Oh, baiklah...."


Kemudian raut wajah Kamadev berubah menjadi serius dan membuatnya seperti Harimau yang bersiap untuk memburu mangsanya.


"Dari waktu sparing kita tadi, aku bisa menyimpulkan 3 hal. Hal pertama, kau sudah belajar ilmu bela diri, atau lebih tepatnya ilmu pencak silat, benar?"


"Yah, setengah benar. Aku juga belajar taekwondo dari ekstrakurikuler sekolah."


"Yah, aku sudah menebak seperti itu. Tapi, aku merasa bahwa kau belajar Pencak Silat lebih lama daripada Taekwondo dan juga, semua gerakan bela dirimu tadi didominasi oleh gerakan Pencak Silat..."


Budi merasa takjub kepada Kamadev, karena selain bisa menebak ilmu bela diri yang diambil, juga tahu kelebihan Budi dalam bela dirinya. Budi menyimpulkan bahwa kepala pelayan ini bukanlah kepala pelayan biasa.


"Hal kedua, meskipun belajar lama, tapi pendalaman pencak silatmu masih kurang. Ini akan menjadi hambatan terbesarmu di masa depan kalau menghadapi musuh-musuh yang kuat."


Budi memang tak memperdalam ilmu bela dirinya, karena paksaan orang tuanya untuk memperdalam ilmu yang lain. Memang orang tuanya sedikit plin-plan dalam mendidik dirinya, tapi Budi hampir tak peduli dan tetap mengikuti keinginan mereka.


Mendengar perkataan Kamadev Budi, merasa bahwa perkataannya sedikit berlebihan. Tapi tetap saja, dia tak mau membantah karena merasakan sakit di kepalanya.


"Hal terakhir, ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, mengajarkanmu tidaklah sulit karena kau sudah memiliki landasan seni bela dirinya. Dan kabar buruknya, dibutuhkan waktu yang lama untuk mengajarimu bahkan tak akan sampai ke waktu yang direncanakan."

__ADS_1


__ADS_2