The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
Another Day Budi


__ADS_3

"Hei, Rein. Apa yang kau lihat di Handphone-mu?"


Iwatani penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Awatake. Dari tadi, dia selalu melihat-lihat handphonenya dan benar-benar aneh melihat karakter Awatake yang tak sering melihat Handphonenya di sekolah.


"Aku hanya melihat satu colsplayer yang tidak pernah upload dan online di MojoMojo dari 2 bulan yang lalu. Padahal foto colsplayer sudah bagus, tapi mengapa dia seperti ingin hiatus?"


Awatake menjawab dengan nada bingung.


"Memangnya siapa colsplayer itu?" Tanya Iwatani.


"Nama akunnya Best Henslinki, dia berasal dari Indonesia."


"Indonesia?" Iwatani kemudian menengok ke arah Budi yang memang dari Indonesia.


Budi tak paham, mengapa Iwatani menengok ke dia. Tapi, sepertinya Iwatani ingin menanyakan pertanyaan mengapa salah satu colsplayer itu menghilang tanpa jejak kepada Budi.


"Aku tidak tahu, lagipula aku juga tidak tahu apa itu MojoMojo."


"Heh, kamu tidak tahu tentang MojoMojo? Kau tinggal di gua mana sih? Itu aplikasi untuk kreator dan sekarang ini begitu populer. Pengguna MojoMojo sudah sampai 1 Miliyar lebih." Jelas Iwatani.


"Kau dari Indonesia, kan? Seharusnya kamu dapat kabar berita lokal di sana. Tentang pemilik akun Best Henslinki ini."


"Sejak aku berada di Jepang, aku tidak pernah melihat berita dari Indonesia. Dan juga kalau tahu, mungkin aku akan melupakannya karena itu tak penting."


Kemudian Budi dan Iwatani berdebat untuk beberapa waktu yang menurut Budi tak penting. Tapi itu lebih baik, daripada harus membahas orang yang mati.


"Moo, Aku tak akan berteman lagi dengan Budi."


"Yah, memangnya apa peduliku." Balas singkat Budi. Kemudian Budi menengok ke meja Mizushima yang berada paling belakang. Dia melihat gadis pendiam itu sedang membaca novel yang sepertinya novel romance.


Budi melihat wajah tanpa ekspresi dia yang sepertinya sedang meresapi isi novel tersebut.


"Apakah membaca itu menarik?" Budi bertanya dalam hatinya ketika itu.


Budi sepertinya akan mengevaluasi lagi membaca buku yang sebelumnya menurut Budi adalah neraka. Budi sepertinya mulai tertarik dengan novel.


"Apa yang kau lihat?" Suara itu terdengar di dekat telinga Budi.


Budi terkejut dan menengok ke sumber suara yang mengganggunya. Awatake menatap Budi yang habis mencuri pandang ke Mizushima. Awatake memasang wajah yang cemberut seperti ingin marah dan membuat heran Budi.


"Apakah salahku?" Batin Budi.


"Ehem, ada apa?" Budi kemudian membuka percakapan dengan bertanya.


Iwatani saat ini sedang pergi ke toilet ketika Budi mencuri pandang ke Mizushima. Jadi hanya ada Awatake dan Budi saja yang mengobrol.

__ADS_1


"Kau malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Apakah kau melihat wanita Jorogumo itu?"


"Ehm, aku heran, apakah ada kesalahan dari Mizushima yang membuatmu sakit hati? Dia hanya wanita baik yang introvert."


Awatake kemudian mengangkat alisnya. Karena menurutnya, 4 hari yang lalu Budi tak seperti itu. Dia tak pernah mengatakan Mizushima adalah wanita baik, apakah Budi terpengaruh dengan Jorogumo?


"Budi, apakah kau bertemu dengannya 4 hari yang lalu?"


Budi sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia terbata-bata ketika menjawab.


"A-aku tak bertemu dengannya."


"Ehm, tidak usah berbohong."


"Sungguh! Aku tak bertemu dengannya..."


"Hah, sudah jika kau tidak mengaku."


Kemudian Awatake menghela nafasnya dan tidak membahasnya lagi karena membuang-buang waktu. Kemudian dia menyerahkan handphonenya kepada Budi.


"Hei, mengapa kau memberikan handphonemu?"


"Lihatlah dan pahami..."


Budi menerimanya dan melihat sebuah thumbnail video yang memperlihatkan Mizushima bersama dengan 1 orang pria berwajah preman. Dia kemudian memutar video itu dan terkejut.


Dia adalah pemimpin preman kelas 3 SMA yang merupakan orang dibalik dalang kasus pemecahan kaca jendela kantor guru dan pada hari sama membuat kerusuhan antar kelas-kelas bangsawan. Meskipun dipisahkan jarak yang besar, namun berita itu terlalu besar sampai ke telinga kelas umum lainnya.


Kata orang itu, dia adalah pengikut "Jorogumo yang agung" dan dia disuruh oleh Si Jorogumo untuk melakukan 2 hal itu.


"Kapan kau memvideokan ini?" Tanya Budi setelah melihat video itu. Dia hanya melihat gambarnya, tetapi tidak mendengar suara percakapan antara 2 orang itu.


"Sebelum peristiwa besar itu terjadi..."


Budi memahami apa yang dimaksud Awatake. Budi lalu menatap langsung Mizushima. Dia tak menyangka wanita yang baik itu ada hubungannya dengan peristiwa itu.


Budi dan Awatake saling diam setelah beberapa menit hingga akhirnya suara memecahkan suasana diam itu.


"Ada apa dengan suasana berat ini?" Iwatani yang sudah selesai dengan urusannya datang dengan suara manis.


"Bukan apa-apa..." Jawab Budi.


"Paling hanya perasaanmu saja, Iwatani." Jawab Awatake.


Iwatani kemudian diam dan bertanya-tanya dalam hatinya, "apakah mereka bertengkar?"

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian, jam istirahat pun datang. Semua siswa menghela nafas dalam hati mereka karena lega, terlepas dari penderitaan belajar di sekolah. Kebanyakan siswa langsung pergi ke perkumpulannya dan menghabiskan waktu istirahat bersama perkumpulannya itu. Tak terkecuali dengan para siswa dari kelas D. Banyak siswa yang pergi ke kantin untuk makan siang atau sekedar mojok sama kekasihnya, Sisanya tinggal di kelas dengan menikmati hidangan bekal yang dibawa dari rumah bersama kawan-kawannya.


Namun, di antara siswa-siswa kelas D itu, ada satu anak yang tidak melakukan apa-apa. Budi, nama pemuda itu hanya duduk dengan mendekap tangannya di atas meja dan dekapannya itu sejajar dengan kepalanya, membuat wajahnya tertutupi dengan dekapan itu. Wajahnya terduduk dan lesu, seperti orang buang air besar tapi yang keluar hanya kentut.


"Apakah Mizushima itu adalah Jorogumo?"


Pertanyaan itu menggiang-giang dalam kepala Budi dan cukup mengganggu hingga dia tak bisa berkonsentrasi dengan baik pada saat pelajaran itu.


Dia ingin tahu lebih tentang video itu. Tetapi saat ini Awatake sedang pergi bersama Iwatani entah kemana.


Jorogumo adalah sosok amat ditakuti di akademi Rakuen. Dia bisa memanipulasi orang untuk melakukan kejahatan dan membuat seseorang bisa punya reputasi jelek setiap kendalinya. Itu tidak baik untuk mendapatkan sebuah kedamaian bagi Budi. Dia adalah mitra Mizushima dan ada hal buruk yang akan terjadi dengan Budi jika benar Mizushima adalah momok paling menakutkan di akademi Rakuen. Budi tak mau dikendalikan seperti preman-preman sekolah itu atau dia akan kehilangan masa damainya yang ia agung-agungkan.


"Aku harus mencari tahu lebih tentang sosok misterius Mizushima-san, tapi aku harus berhati-hati dalam bertindak..."


Budi ingin menyelidiki siapa Mizushima dan latar belakang apa yang dibalik tubuh Mizushima dan dia memikirkan cara menyelidikinya tanpa diketahui oleh orang lain.


"Sepertinya aku tidak nafsu makan..."


Budi yang gundah hati tak berselera untuk makan di kantin. Dia tak membuat 'bento'-nya lantaran terlalu malas untuk membuatnya. Budi kemudian keluar dari ruangan kelasnya untuk mencari udara segar, sekaligus berkeliling di sekitar akademi. Dia hampir 4 bulan di akademi, tapi belum pernah sekalipun berkeliling secara penuh di akademi Rakuen itu.


"Ah, sepertinya aku terlalu berkeinginan untuk membaca buku..." Budi pun sedikit tertawa melihat ruangan di depannya, yang di atasnya bertuliskan "library".


Budi membiarkan kakinya untuk melangkah kemana tujuannya dan malah tersasar ke perpustakaan yang dikhususkan untuk kelas umum. Budi pun masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan buku-buku itu.


Ada siswa di meja penjaga yang mungkin pengurus kesiswaan dari akademi Rakuen. Wanita itu cukup cantik, tapi masih belum cukup untuk menarik perhatian Budi.


Budi berjalan-jalan memperhatikan setiap rak serta judul-judul buku yang ia cari. Ketika tidak ada yang menarik untuk dibaca, dia kemudian berpindah ke rak lainnya dan melakukan hal sama seperti di rak sebelumnya.


"Golden Star In Dream...."


Langkah Budi terhenti ketika melihat sebuah buku novel di salah satu rak buku. Dia tertarik dengan judul buku tersebut yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Dia kemudian mengambil dan membacanya di tempat itu.


"Pufft, novel apa ini?!" Budi mencoba menahan tawanya ketika melihat isi novel itu. Bagaimana tidak? Ejaannya sangat kacau, isinya sangat buruk dan candaannya benar-benar garing.


Ia tidak tahu genre novel itu jika saja diberitahu di depan sampulnya, karena isinya sudah sangat kacau dan tak begitu dimengerti oleh Budi.


"Mungkin yang membuatnya sangat jenius sampai membuat karya tidak logis seperti ini." Batinnya.


Walaupun begitu, Budi tetap membacanya (meskipun cuma buka-buka halaman saja). Sampai ketika selesai dia membaca buku itu, Budi pun menaikkan alisnya.


***


Bobby Belpois

__ADS_1


(2020-5-16)


__ADS_2