The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
Chapter 9 : Static Mystic


__ADS_3

Kemudian Kamadev menulis sebuah rune di tangannya dan membentuk sebuah lingkaran di punggung tangannya. Budi ingat kalau yang dilakukan oleh Kamadev, mirip yang dilakukan Kyoden sebelumnya. Orang itu menulis sebuah Rune dan membuat Budi merasa ingat kembali dengan kengerian kekuatan yang disebabkan oleh arcana.


Karena sudah tahu kehebatan dari kekuatan itu dan belum mengetahui seluk beluknya, membuat Budi merasa tertarik sekali untuk mempelajarinya.


"Ehm, kau sepertinya tertarik melihat static mystic ini. Tak seperti pelajaran yang diberikan oleh Sisilia," kata Kamadev yang melihat wajah senang dari Budi.


"Saya sudah melihat satu dan itu sangat kuat hingga aku kalah dihadapan penggunanya. Itulah menjadi faktor penting mengapa aku mengikuti Mizushima-san."


"Faktor penting? Ehm, sepertinya akan menarik jika kau menceritakannya..."


Kamadev tidak menyelesaikan runenya dan malah tertarik dengan cerita Budi. Hal itu membuat Budi tersenyum kecut. Apakah cerita lebih penting daripada latihanku, batin Budi.


"Baiklah, aku akan menceritakannya..." Budi kemudian menceritakan kejadian tempo lalu ketika dia dipojokkan oleh kelompok Kyoden hingga bertemu dengan Mizushima si putri sultan. Sultan yang dimaksud di sini adalah orang yang kaya dan berpengaruh.


"Ha ha ha, begitu yah. Pantas kau kalah dengannya, kelas bangsawan memiliki pelajaran berbeda dengan kelas umum dan lebih baik dan ketat tentunya. Sebagai calon tonggak masa depan manusia, mereka harus berkompeten dan berusaha untuk yang terbaik agar tidak tertinggal dengan lain. Apa kau tahu salah satu pelajaran mereka?"


Budi menggeleng untuk menjawab pertanyaan Kamadev.


"Aku tidak tahu sama sekali, atau lebih tepatnya tidak peduli." Lanjutnya yang membuat Kamadev tersenyum kecut, berpikir bahwa siswa ini benar-benar santai.


"Salah satu pelajaran mereka adalah Arcaner Matrial Art. Pelajaran ini benar-benar menjadi pelajaran wajib ketika ada peraturan yang dibuat pada 5 tahun yang lalu. Mereka harus diatas KKM untuk lulus dari akademi Rakuen dan masuk ke akademi Rakuen lanjutan. Jadi, wajar jika kau kalah dengan memalukan karena semua dari kelas bangsawan adalah orang yang tidak bodoh dalam hal bela diri."


Kemudian Budi mengangguk dan memahami faktor penyebab dia menjadi kalah. Dia awalnya tak menerima kekalahan yang dialaminya, tetapi sekarang perasaan itu susah hilang dari diri Budi. Meskipun dia menerima kekalahannya, tapi dia masih belum memaafkan kedamaian yang diganggu oleh Kyoden. Dia tak begitu mengerti, mengapa dia yang hanya menabrak lalu meminta maaf kepada orang itu harus menderita?


"Ah, aku terlalu bersemangat mendengarkan ceritamu sampai-sampai melupakan tujuan kita."


Budi ingin mengumpat sepuasnya di depan muka Kamadev, tapi tak mempunyai keberanian karena trauma mengingat kejadian yang sebelumnya dan juga tak mempunyai alasan kuat untuk mengumpat kepadanya.


Tapi entah mengapa Budi ingin sekali mengumpat di depan mukanya.


"Aku sebenarnya ingin menunjukkannya di sini, mengingat kau sedang sakit. Tapi melihat kondisimu, pasti kau masih bisa berdiri, kan?"


"Biar kucoba..."


Kemudian Budi turun dari ranjangnya dan berdiri. Yah, dia masih bisa berdiri bahkan bisa berjalan meskipun badannya sakit semua. Rasa sakit yang dialami Budi mengingatkan salep itu. Salep yang digunakan untuk luka memar dan luka dari benda tumpul yang begitu ajaib karena penyembuhannya sekejap mata, bekas luka dan rasa sakitnya akan menghilang cepat.

__ADS_1


"Kamadev-sensei, apakah anda bisa memberikan salep penyembuh?"


"Salep penyembuh apa yang kau maksud?"


"Salep yang diberikan oleh Mizushima-san tadi."


Kemudian Kamadev menggeleng dan berkata, "nak Budi, kau harus belajar akan sakitnya perjuangan. Kau tidak akan berkembang, jika kau masih seperti itu."


Kamadev tahu tentang salep itu dan merasa bahwa Budi tak memerlukan salep itu.Permintaannya ditolak dan Budi menghela nafas. Dia sudah menebak kalau itu terjadi, tapi dia mencoba memintanya karena dia lumayan tak tahan dengan sakit yang dialaminya. Kemudian Kamadev mengajak Budi keluar ruangan setelah melihat kondisi Budi yang cukup membaik.


Budi dibawa oleh Kamadev ke tempat mesin tes pukulan. Mesin itu digunakan untuk mengukur seberapa besar kekuatan dari pukulan yang diberikan. Kamadev meregangkan bahunya dan maju ke depan mesin pengukur itu.


Kemudian dia memukul bagian datar dari alat pengukur itu. Budi membelalakkan matanya mendengar suara keras dari pukulan tersebut dan melihat meteran alat itu.


"68,4 kJ." Nafas Budi tertahan sejenak.


Budi merasa beruntung karena Kamadev tidak terlalu serius dalam sparring tadi. Jika tidak mungkin, dia akan berakhir lumpuh di rumah sakit.


"Mengapa kau begitu terkejut?" Kamadev memasang senyumnya di bibir, seperti bangga dengan kekuatannya.


"Ini masih belum seberapa...Lihat dan pahami."


BAAMM!!!


Suara menggema keras dan lebih mengejutkan Budi daripada sebelumnya. Dan kabar mesin tes pukulannya? Benar-benar buruk. Tempat datar untuk memukulnya rusak hingga penyok mengecap lubang dan meteran yang merupakan jenis digital delay beberapa saat dan mengeluarkan angka yamg benar-benar membuat jantung Budi berdegup kencang.


"2...mega joule...apakah si John Wick yang asli?"


"Bagaimana, hah? Bagaimana kekuatanku?" Kamadev membusungkan dadanya seraya menyombongkan dirinya.


"Bocah..." batin Budi. Budi lalu melihat tangan kanan Kamadev dan tersenyum.


"Ehm, ada apa dengan tangan kanan anda, Kamadev-sensei? Tangan anda tak berhenti bergetar, apa anda terkena penyakit parkison?"


Kemudian Kamadev melihat tangan kanannya yang tak berhenti bergetar. Dia tersenyum bukan keceriaan, melainkan rasa malu.

__ADS_1


" Ha ha ha, ini hanya efek samping menggunakan Static Mystic "Muscle Shock". "Muscle Shock" adalah Static Mystic yang kuciptakan sendiri dan cara kerjanya adalah menyimpan tenaga Cells dalam otot lalu melepaskannya. Nah, tekanan dalam "pelepasan"-nya itu membuat kekuatan tambahan untuk memukul. Sederhana, kan? Tapi lihatlah kekuatannya...."


Kamadev menunjuk lubang yang ia buat. Kedalamannya sekitar 10 cm dan aku tak bisa membayangkannya jika terkena organ vital.


"Meskipun kekuatan ini mudah dilihatnya, tapi ini punya resiko yang sangat besar bahkan mendekati kematian..." Kata Kamadev.


"Resiko? Resiko seperti apa itu?" Tanya Budi.


"Kau tahu hukum Newton ketiga? Gaya aksi sama dengan gaya reaksi. Kau menyimpan energi Cells dalam jumlah yang lebih dari kapasitas ototmu, dan kau mendapatkan kekuatan besar dengan satu otot itu. Tapi ketika kau akan memukul, kau akan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Jika kau berlebihan, badanmu bisa saja rusak dan hancur lantaran gaya reaksi yang terpental dari benda yang kau pukul...."


"Aku tak paham." Ucap singkatnya.


"Baiklah aku ringkas. Jika kau menyimpan tenaga Cells dalam otot secara, tapi kapasitas ototmu kurang. Lalu ketika kau memukul, kekuatannya akan terlalu kuat dan tanganmu menerima dampaknya. Bisa saja tanganmu hancur atau tulangnya akan patah."


Budi menarik nafas dingin. Dia agak takut, tapi tak mengurangi rasa ketertarikannya terhadap kekuatannya.


"Ehm, ok. Sepertinya itu tak mengurangi semangatmu dalam belajar. Baiklah, aku akan mengajarimu ketika fisikmu sudah siap."


Kemudian Kamadev menjelaskan beberapa hal tentang dasar Arcaner Matrial Art dan beberapa mempraktekannya di sana. Sedangkan Budi diam dan memperhatikannya. Hingga di suatu momen, dia lalu bertanya.


"Kamadev-sensei, bolehkah aku menginap di sini?"


"Tidak bisa!"


Kamadev langsung menjawab langsung tanpa delay sedikitpun.


"Eh, tapi mengapa? Bukankah aku bisa belajar lebih full daripada 2 jam setiap pelajaran seperti ini."


"Sebenarnya 2 jam setiap pelajaran hanya untuk hari ini saja. Untuk lain hari, beda hal. Bisa saja full."


"Tapi hari ini aku ingin full pelajaran bela diri."


Akhirnya terjadi perdebatan antara Kamadev dan Budi, lalu ditariklah hasil akhir yang menguntungkan kedua belah pihak.


"Baiklah, kau boleh menginap. Tapi hanya tiga hari, jika lebih kau akan mengganggu kami dalam melakukan aktivitas."

__ADS_1


Kemudian Budi tersenyum dan menyepakati keputusan tersebut.


***


__ADS_2