The Peace Hero And A Frontal Hero

The Peace Hero And A Frontal Hero
Chapter 7 : Latihan Dynamic Mystic


__ADS_3

"Ehm, sekarang bisa kita hentikan pembicaraan kosong ini dan memulai latihan. Kita sudah mengambil beberapa menit...."


"Kau benar, tapi aku ingin bertanya? Apakah belajar arcana ini menjadikanku kuat?"


Fox-sensei tertawa kecil dan mengatakan bahwa, "yah, tak hanya kuat, kau juga bisa melakukan apa saja yang kau mau jika sudah menguasai ilmu ini."


Kemudian Fox-sensei berjalan ke suatu sudut di ruangan itu yang ada sebuah papan tulis dan deretan kursi-kursi. Budi mengikuti Fox-sensei sesuai instruksinya dan duduk di salah satu kursi-kursi tersebut.


Fox-sensei menulis sebuah tulisan kanji di papan tulis yang dibaca oleh Budi adalah 'Dynamic Mystic'.


"Karena kau hanya bisa mengeluarkan api kecil, aku akan mengajarkanmu tentang dasar-dasar Dynamic Mystic..."


Fox-sensei mengajarkan Budi dari terdasar terdahulu. Itu agar Budi tak akan bingung dengan pelajaran selanjutnya. Budi menyimak baik penjelasan dari Fox-sensei karena yang dia inginkan adalah kekuatan untuk menyamai Kyoden.


Hanya beberapa penjelasan sudah dijelaskan oleh guru-guru di akademi Rakuen dan sebagian besar belum dijelaskan sebelumnya. Itu berarti kelas umum benar-benar tertinggal dalam pelajaran dasar Dynamic Mystic. Atau mungkin Fox-sensei yang menambahkan penjelasan itu.


"Jika ada yang kurang dimengerti, kau bisa bertanya?"


"Aku ingin bertanya, apakah itu merupakan pelajaran kelas 1 fisika? Karena saya rasa penjelasan-penjelasan itu sepertinya tak masuk dalam penjelasan di kelasku."


"Uh, ini adalah pelajaran kelas 1-fisika dan aku jamin itu...."


"Anda percaya diri jika itu pelajaran kelas 1?"


"Yah, karena aku adalah guru akademi Rakuen. Lebih tepatnya, walikelas dari kelas 1-A fisika."


Budi tersentak kaget dengan orang yang di depannya. Berarti dia akan diajarkan oleh guru yang mengajarkan kelas-kelas bangsawan. Siswa kelas umum pasti akan terkesan jika diajarkan secara eksklusif guru kelas bangsawan, karena cukup jarang mereka melihat guru dari kelas bangsawan bahkan siswanya itu sendiri sebab kelas umum dan kelas bangsawan dipisahkan bagaikan bumi dan surga.


"Ehm, segitu rendah kah kelas umum sampai hal dasar saja tidak selesai dijelaskan."


"Ehm, saya rasa juga begitu. Tapi, apakah kelas umum membutuhkan ilmu lebih dari itu jika hanya untuk berkontribusi di masyarakat umum?"


"Itu sangat dibutuhkan, setidaknya untuk menambah bobot otak mereka. Kalau saja seperti itu-itu saja yang dijelaskan, maka itu akan berdampak ke keturunannya."

__ADS_1


Budi setuju dengan pendapat Fox-sensei. Karena orang tua mereka hanya diajarkan seperti itu-itu saja, maka apa yang diajarkan kepada anaknya akan terbatas. Jika mereka ingin anak mereka menjadi Arcaner hebat, pada umur belia diharuskan untuk diajarkan tentang bagaimana cara menjadi Arcaner sejati yang benar.


Untuk Budi dulu, dia tak pernah diajarkan arcaner sama sekali oleh orang tua. Jadi, pengetahuan tentang arcana art sangatlah terbatas dan membuatnya berada di peringkat terpuruk ketiga di kelas.


"Ok, kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, kita akan mulai prakteknya..."


Kemudian Fox-sensei mengayunkan jarinya di udara seperti menulis sesuatu. Gerakannya hampir sama seperti Budi lakukan yang lalu, namun bedanya dia melakukan di udara kosong, bukan di telapak tangan.


Dalam 2 detik, Budi melihat sudah 9 rune terbentuk dan itu benar-benar sangat cepat bagi Budi dalam menulis rune. Budi tak bisa untuk tak terkesan melihatnya.


Setelah selesai terbentuk lingkaran arcana sempurna, barulah keluar api yang berputar-putar di atas jari Fox-sensei. Budi mengetahui Arcana Art ini karena ada di buku dari perpustakaan yang pernah ia pinjam. Namanya adalah Spirit Fire, kegunaannya adalah sebagai penerangan dalam kegelapan dan juga sebagai korek api.


"Baiklah, kau tahu apa ini?"


"Spirit Fire..."


"Betul, ini adalah bentuk terdasar Arcana Art dalam Throne Of Mystic. Kau harus bisa membuatnya dalam waktu 5 menit, jika tidak maka aku tidak akan segan-segan menghukum beratmu..."


"Baiklah, tapi bagaimana bentuk formulanya?"


Kemudian Fox-sensei menggambar di papan tulis bagaimana bentuk arcana art dan desain lingkarannya, yang disebut juga "formula" dari Spirit Fire. Formula adalah rumus dan bentuk desain untuk membuat sebuah arcana. Atau bisa dibilang seperti cetak biru lingkaran arcana yang tak berwarna biru.


Setelah melihat bentuk formula dari Spirit Fire, Budi langsung membuatnya. Dia menulis di tangannya, tak seperti Fox-sensei karena melukis di udara butuh keahlian yang cukup tinggi.


Setelah 14 detik menulis rune, atau 12 detik lebih lambat dari waktu Fox-sensei menulis rune, akhirnya terbentuklah lingkaran arcana meskipun sedikit terlihat terdistorsi dan tak sesempurna milik lingkaran arcana.


"Ehm, benar-benar payah..."


"Sensei, aku belum pernah membuat arcana yang asli. Jadinya wajar jika aku melakukan kesalahan..."


"Baiklah, cobalah alirkan energi Cells-mu ke dalam lingkaran itu..."


Kemudian Budi mengikuti perintah sensei-nya dan setelah itu, bukannya api bergerak yang muncul malah sebuah letupan kecil layaknya kembang api di perayaan tahun baru dari tangan Budi. Budi gagal dalam percobaan pertama.

__ADS_1


"Ah, anak kecil yang baru belajar membuat arcana saja lebih baik daripada kamu...." Ejek Fox-sensei.


Budi mengerutkan dahinya karena dibanding-bandingkan dengan anak kecil. Namun, Budi tak punya waktu untuk membalas karena dia hanya butuh beberapa menit untuk melakukan percobaan. Dia sudah mengambil 1 menit untuk melihat arcana tadi, jadi sekarang dia hanya punya waktu 3 menit 46 detik sekarang.


Budi mencoba lagi membuat lingkaran dasar itu berkali-kali dan gagal berkali-kali hingga akhirnya dia berhasil membuat Spirit Fire walaupun sementara di tangannya pada saat 10 detik terakhir yang tersisa, nyaris saja Budi mendapatkan hukuman oleh Fox-sensei.


"Ehm, baiklah, sedikit lumayan. Kau sudah ada kemajuan dari kutu menjadi semut."


"Jadi, dari tadi kau menganggapku kutu..." Batin Budi.


"Sekarang, kita mulai tahap yang kedua. Kau lemparkan Spirit Fire tadi ke sini..." Fox-sensei mengeluarkan sebuah tempat pensil yang berdiri tegak dan menyuruh Budi untuk menjatuhkan kotak pensil.


"Batasan waktumu sama seperti tadi, 5 menit. .."


Budi menelan ludahnya dan merasa tak percaya diri dengan kemampuannya. Tadi saja hampir dia mendapatkan hukuman jika tak bisa membuat Spirit Fire pada 10 detik terakhir. Selain itu juga, Spirit Firenya tak bertahan lama tadi lalu menghilang setelah beberapa detik dibuat. Budi ragu bahwa Spirit Firenya bisa sampai ke kotak pensil itu sebelum menjadi asap.


"Keraguan adalah hambatan terbesar untuk perkembangan manusia. Jadi, aku tidak boleh ragu lagi sekarang.."


Budi menguatkan hatinya dan mulai membuat Spirit Firenya. Berulang kali dia membuat dan berulang kali dia gagal, tapi pada percobaan kelimanya dia berhasil membuat Spirit Firenya dan Budi berkonsentrasi mempertahankan Spirit Firenya agar tidak menghilang.


Menjadi Arcaner sejati tidaklah cukup menghapal jenis-jenis lingkaran dan membuat penelitian untuk membuat lingkaran arcana baru, tetapi kontrol dan pengendalian lingkaran itu adalah salah satu kunci terbesar menjadi arcana sejati. Mereka harus bisa mengontrol tenaga Cells-nya agar tepat takarannya dan tidak kurang ataupun tidak lebih. Jika kurang maka lingkaran itu tidak akan menghasilkan kekuatan mistis dan jika lebih maka lingkaran itu terdistorsi dan rusak.


Itulah mengapa orang-orang yang menjadi Arcaner sejati itu cukup jarang, seperti seorang sarjana di masyarakat umum.


"Konsentrasi, konsentrasi...." Budi perlahan mengeluarkan kekuatannya sedikit demi sedikit agar Spirit Firenya memiliki tenaga untuk sampai ke tempat pensil itu dan menjatuhkannya. Dia hanya memiliki waktu 20 detik lagi dan itu berarti dia hanya punya satu percobaan untuk melempar Spirit Fire, dia tak ingin melewatkan satu momen pun.


Spirit Firenya kian membesar ukurannya dari pertama dibuatnya, lalu merasa cukup Budi Spirit Fire bertenaga, dia melempar Spirit Firenya ke kotak pensil itu tanpa keraguan.


Spirit Firenya lurus meluncur ke kotak pensil itu dan terus meluncur hingga sampai akhirnya sesuatupun terjadi.


"Bagaimana bisa?!" Budi melotot ketika Spirit Firenya melenceng ke jalur yang berbeda dan akhirnya tidak mengenai kotak pensil itu walaupun tenaga yang dikeluarkannya cukup untuk menjatuhkan kotak pensil itu.


"Waktu habis!" Kata Fox-sensei sambil melihat jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya.

__ADS_1


Dan yah, tanpa tahu penyebab kesalahan sebenarnya, Budi mendapatkan hukuman dari Fox-sensei.


****


__ADS_2