
Isi kesepakatan sudah disebutkan dan Budi kembali memasuki perasaan dilemanya lagi. Dia memikirkan cara untuk mendapatkan kekuatan yang ternyata adalah sebuah latihan. Dia penasaran dengan latihan apa yang dimaksudnya. Selain itu juga, dia penasaran siapa orang dimaksudkan oleh Mizushima yang akan Budi 'lindungi' nanti.
"Apakah kau setuju dengan kesepakatan ini?" Mizushima mengulur tangannya untuk berjabat tangan, menandakan persetujuan kedua belah pihak dengan kesepakatan itu.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya...."
"Kau terlalu banyak bertanya, tinggal setuju saja dan selesai. Ya sudah, apa pertanyaanmu?"
"Kau menyebutkan bahwa aku harus dilatih untuk menjadi kuat. Nah, latihan macam apa itu? Apakah efektif untukku atau tidak? Dan juga siapa orang yang akan kulindungi nanti? Yah, setidaknya beritahu sedikit petunjuk tentang orang itu kalau kau tidak menyebutkan namanya."
"Kau tak bertanya apakah latihan itu sulit atau tidak, kah? Menarik! Yang jelas latihan ini sangat efektif untuk para lelaki berdarah panas sepertimu..." Ucap Mizushima dengan senyum khasnya. "Dan untuk siapa orang yang akan kamu lindungi itu, aku tak akan memberitahu apapun tentangnya. Nanti kau akan tahu sendiri, lah. Jadi, apakah kau menerima kesepakatan itu?"
Budi mulai menimbang-nimbang tentang kesepakatan itu walaupun sakit dari luka memar di sekujur tubuh membuatnya tak fokus.
'Meskipun sedikit mencurigakan dan samar-samar, tapi boleh juga untuk dicoba. Aku akan butuh kekuatan untuk membalaskan dendam kepada orang yang mengganggu itu.'
"Baiklah, aku menerima tawaranmu itu...." Budi menjabat tangan Mizushima Saya, menandakan ia setuju dengan kesepakatan itu.
"Bravo! Aku sudah menebak kalau kau akan menerimanya." Mizushima mengeluarkan senyum yang menurut Budi sedikit menakutkan.
"Hei, Mizushima-san. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
"Ikut aku. Kita akan langsung latihan malam ini."
"Langsung latihan?! Jadi, kau sudah mempersiapkan semuanya."
"Tidak, tapi dengan kegesitan pelayanku akan butuh waktu sebentar untuk mempersiapkannya."
Budi bingung dengan perkataan Mizushima, tapi dia bisa menangkap sesuatu dari perkataan Mizushima. Yaitu, gadis di depannya termasuk orang berada. Budi menebak bahwa dia pasti orang yang kaya dan bisa melakukan apapun dengan uang, meskipun Budi tak mengenal dirinya.
"Baiklah..." Kemudian Budi menurut saja mengikuti kemauan Mizushima.
***
"Njirr, besar sekali!" Setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki, akhirnya Budi dan Mizushima berada di depan sebuah rumah berukuran besar yang merupakan milik Mizushima. Budi saat ini mengagumi rumah milik Mizushima dan Mizushima menganggap konyol tingkah Budi.
"Ara-ara, hal kecil ini kau kagum-kagumi." Ejek Mizushima.
Budi tak memperdulikan perkataan Mizushima. Budi juga memang orang yang berada, bahkan orang tuanya adalah orang terkaya kedua di Indonesia dan rumah seperti ini adalah hal yang wajar baginya.
__ADS_1
Namun yang dia kagumi dari rumah besar ini adalah rumah itu milik Mizushima sendiri. Itu perkataan yang dilontarkan dari mulut Mizushima.
Jadi, mengapa Budi sedikit mengaguminya? Karena dia sangat mendambakan kehidupan seperti itu. Sendirian di rumah sendiri dan merasakan kedamaian di dalam rumah itu. Budi bebas melakukan apa saja di rumah luas itu dan bisa bersantai tanpa diganggu oleh perintah-perintah orang tuanya dan kenakalan adik serta kakaknya. Kedamaian dan kebebasan adalah segala baginya.
"Apa yang kau tunggu? Ayo masuk..." Gerbang di depan rumah Mizushima sudah terbuka yang sebelumnya Mizushima memerintahkan pelayannya di rumah untuk membuka gerbang.
Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam rumah Mizushima dan disambut dengan ruangan depan yang begitu besar.
"Ikut aku, pertama-tama kita sembuhkan dulu lukamu dulu..." Mizushima mengajak Budi ke ruangan tamu untuk menyembuhkan luka memarnya.
Budi disuruh duduk dulu oleh Mizushima dan Mizushima pergi ke suatu tempat. Ketika kembali, dia membawa sebotol yang terlihat salep.
"Buka pakaianmu..." perintah Mizushima.
"Apa?!" Budi sedikit terkejut. Perintah itu membuat dirinya salah paham.
"Sudah kubilang buka bajumu, bagaimana mengoleskan salep ini kalau tak dibuka bajunya?" Kata Mizushima dengan ekspresi dingin.
Akhirnya Budi menurut dan melepaskan pakaiannya. Dia dioleskan salep oleh Mizushima di bagian punggungnya dan secara ajaib salep tersebut membuat semua luka goresan dan luka memar hilang seketika.
"Aku merasa tidak sakit lagi ketika diolesi salep ini..."
"30 di dunia?! Apa tidak apa-apa jika aku menggunakan barang langka itu?"
"Jangan khawatir, masih ada 10 lagi di rumah ini."
"10 lagi?! Apa kau bercanda?"
Jika benar perkataan Mizushima, maka itu berarti bisa saja keluarganya memiliki semua salep tersebut. Budi ingin bertanya lagi, namun Mizushima pergi begitu saja dan menyuruhnya untuk melanjutkan sisanya.
Alasannya tidak etis jika ada satu orang pria telanjang dada dan satu perempuan di sana, hal itu membuat kesalahpahaman yang tidak diinginkan. Salep itu Budi olesi bagian lukanya dan dia begitu terkejut dengan lukanya yang langsung hilang dengan meninggalkan sedikit bekas.
"Hebat sekali, asosiasi Alkimia benar-benar hebat membuat penemuan barang seperti ini." Batin Budi.
"Selamat datang, nona muda." Seorang pelayan pria menunduk ke Mizushima yang ada diluar ruangan. Budi melirik ke luar dan melihat pelayan yang terlihat begitu berbeda itu dengan pelayan-pelayan pria yang lain. Dia yang merupakan orang keling terlihat besar dan berotot seperti seorang atlet binaragawan. Selain itu, wajahnya di penuhi brewok dan rambutnya panjang sebahu membuatnya seperti John Wick tapi versi keling.
"Oh, maafkan aku, Kamadev. Aku sedikit terlambat karena ada sedikit urusan tadi." Mizushima meminta maaf kepada pelayan pria itu yang bernama Kamadev itu.
"Ah, nona muda. Lain kali kau harus menelpon ke rumah kalau terlambat pulang. Saya sedikit khawatir terjadi apa-apa dengan nona muda." Nasihat pelayan itu.
__ADS_1
"Ok, Kamadev. Aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Mizushima.
Terlihat mereka berdua benar-benar akrab sampai-sampai batas antara pelayan dan majikan hampir tak terlihat. Ini terlihat seperti seperti kakak dan adik.
"Siapa dia, nona?" Pelayan itu melirik Budi yang masih memperhatikan mereka berdua dari dalam ruangan.
"Oh, dia? Dia adalah 'partner' dalam rencana."
"Dia? Kukira anda akan merekrut seorang siswa dari kelas bangsawan."
"Ah, kau tahu, merekrut mereka yang dari kelas bangsawan sangat sulit dan waktu kita terbatas."
Budi yang tak paham dengan pembicaraan mereka tak menahan lagi untuk mengganggu pembicaraan mereka, "apa sih yang kalian bicarakan itu?"
Mizushima dan Kamadev menengok ke Budi secara bersamaan.
"Ehm, Bukan apa-apa. Kau akan diberitahu olehku nanti," kata Mizushima.
"Kamadev, kita tetap pada rencana. Namun, kau harus memberinya 2 kali lipat dari direncanakan."
"Baik, nona. Saya akan melakukan yang terbaik..."
"Ok, sekarang aku ingin ke kamar dulu. Dan Budi, untuk latihan aku serahkan ke pelayanku ini. Pelayanku dan pelayanku yang lain akan menjadi pelatihmu dalam pelatihanmu."
Kemudian Budi menggangguk tanda mengerti dan Mizushima pergi ke atas untuk ke kamarnya.
"Baiklah, kita akan pergi ke suatu tempat sekarang juga." Pelayan itu mengajak Budi yang sudah selesai mengolesi salepnya di seluruh lukanya.
"Kita pergi kemana?" Budi bertanya dengan polosnya.
"Sudah, ikuti saja aku!" Ucap Kamadev dengan kasar dan dingin. Hal itu membuat Budi terdiam.
"Apa salahku?" Batin Budi.
****
Informasi yang didapatkan hari ini :
Salep "Miracle White Star"
__ADS_1
Salep luka yang ada 30 di dunia. Pembuatnya adalah Asosiasi Alkimia Dunia dan diproduksi 3 buah setiap tahunnya. Namun entah terlalu beruntung atau kepala keluarganya terlalu berambisi untuk mendapatkannya, semua salep itu masuk ke kantong keluarganya Mizushima Saya. Penemuan ini juga masuk ke daftar 50 penemuan yang mengubah dunia dan menggeser penemuan "Roti Goreng yang awet sampai 90 tahun".