
Kemudian Budi mengelap benda yang basah karena mucratan dari mulutnya. Setelah selesai, dia baru mendekati televisinya dan melihat sebuah foto kartu milik si korban di televisi.
Foto kartu itu ada bagian tempat untuk menaruh foto korban. Foto korban dengan ukuran 4 x 4 cm itu menampakan wajah seorang pria paruh baya dengan mata yang sedikit menghitam seperti orang yang sedang kelelahan. Wajah itu begitu asing bagi Budi dan ketika Budi melihat kartu itu lebih jelas, dia melihat bagian berwarna emas di pojok kartu.
"Ehm, guru itu jelas termasuk guru bangsawan, pantas aku tak mengenal dirinya." Budi mengangguk mengerti.
Informasi tambahan, setiap guru memiliki kartu yang digunakan untuk identitas ketika absen masuk kerja bersamaan scan sidik jari. Berdasarkan warna di pojok kartu, kartu guru dibagi menjadi 2. Yaitu, kartu guru umum yang di pojoknya berwarna perak dan kartu guru bangsawan yang di pojoknya berwarna emas.
"Tapi siapa pelaku yang berbuat sekeji ini? Apa mungkin ini perbuatan anggota dari The Normies?"
70 % dari diri Budi meyakini kalau itu perbuatan dari The Normies. Motifnya mungkin karena dia adalah guru dari calon-calon penerap "ajaran sesat" menurut mereka. Mengingat kejadian besar kemarin, itu sukses membuat dunia meyakini bahwa mereka adalah organisasi ekstrimis yang tak segan-segan mengambil nyawa manusia demi tujuannya. Selain itu, selama berdiri di dunia ini ada banyak kasus pembunuhan, *******, dan penyekapan yang mengatasnamakan mereka, tapi kejadian kemarin adalah bagian paling besar yang dilakukan mereka.
Tapi sisa dari diri Budi meragukan kalau itu dilakukan oleh The Normies. Jepang tak pernah terjadi kasus ******* yang mengatasnamakan The Normies. Bahkan Jepang sangat damai, sampai-sampai Budi khawatir akan kedamaian itu.
Bisa-bisa kedamaian itu adalah awal dari badai yang besar. Tapi, banyak yang meyakini tidak ada The Normies di dunia asia bagian timur saat ini.
Melihat jarum jam panjang mau mengarah ke angka 3, Budi langsung mematikan televisinya. Informasi itu tak akan terlalu menghebohkan bagi murid kelas-kelas umum seperti dirinya, sehingga dia bisa santai. Meskipun berada di akademi sama, kelas umum dan kelas bangsawan seperti berada di dunia berbeda. Mereka yang berasal dari kelas bangsawan akan menyombongkan diri kepada yang di kelas umum karena bakat mereka serta dari kelas umum akan menganggap jahat semuanya yang dari kelas bangsawan karena kesombongan mereka yang berasal dari kelas Bangsawan. Itulah membuat jarak mereka semakin meregang hingga masing-masing seperti membuat dunia mereka sendiri.
Setelah mematikan televisinya, dia pergi ke kamarnya. Membereskan tempat tidur, menata buku dan mulai pergi mencari mesin penyedot debu, dia berniat untuk membersihkan rumah yang tak dibersihkan selama 3 hari lebih dan dia sangat lelah kemarin untuk bersih-bersih.
Setelah selesai, dia membuat sarapan sambil menerima telepon dari ayahnya. Dia menanyakan kabar orang-orang yang ada di sana dan mengobrol sebentar sebelum mematikan teleponnya.
Setelah itu, dia selesai menanak nasi dan memasak lauk pauk lalu menaruh keduanya di piring. Kali ini, dia makan di meja makan dan menggunakan sendok. Budi sudah bisa menggunakan sumpit sebenarnya, tapi dia merasa aneh kalau menggunakan sumpit.
Sarapan sudah selesai dan dia sudah beres-beres rumah walau sedikit. Dia tinggal membersihkan diri untuk pergi ke sekolah. Singkat cerita, dia sudah berpakaian rapi dan mulai menghadap ke cermin.
"Aku tampan..." Itu yang dikatakannya ketika bercermin.
Dia memuji dirinya sendiri. Yah walau sedikit narsis, setidaknya memuji diri sendiri ada baiknya. Itu menjaga harga diri yang sehat.
"Baiklah, tinggal berangkat ke sekolah..."
Kemudian dia mengambil tasnya dan pergi dari apartemennya setelah mengunci pintu apartemennya. Dia pergi tepat jam 07.05.
__ADS_1
***
Setelah jam 08.24, Budi sudah sampai di sekolah. Dia harus melewati pintu pemeriksaan untuk memeriksa identitas dan mengisi absen kehadiran. Yang dibutuhkan dalam pemeriksaan ini adalah kartu dan sidik jari. Di pintu pemeriksaan, ada seorang penjaga yang bertugas untuk menjaga keamanan pintu, sekaligus memberikan bantuan ketika ada masalah dalam pemeriksaan kartu atau sidik jari.
Tanpa adanya masalah yang berarti ketika pemeriksaan, Budi lalu berjalan ke kelasnya. Dia harus melewati taman akademi, kantin, dan tempat ibadah untuk sampai ke gedung dimana kelas berada. Setelah itu, dia harus naik ke lantai atas karena kelasnya berada di lantai 2 dan bagi Budi itu sangat merepotkan.
Setelah sampai di kelas D, itu sudah ramai dengan siswa-siswa kelas D. Itu hal wajar, karena jam pelajaran akan dimulai 6 menit lagi.
Dia langsung pergi ke kursinya yang berada di paling depan kelas, dekat dengan jendela. Posisi seperti itu bukan keinginan Budi, melainkan terpaksa karena pada hari pertama dia terlambat memilih kursi.
"Ohayo, Budi-san~"
"Yah, selamat pagi, Iwatani-san..."
Budi disapa oleh Iwatani dan Budi melihat ada Awatake di belakang sedang memainkan smartphonenya, tapi Awatake tidak menyapa dirinya dan sibuk dengan smartphone. Budi lalu menyapa Awatake, karena tidak enak hati mengingat dia memberikan bingkisan berisi buah-buahan.
"Selamat pagi, Awatake." sapa Iwatani.
"Pagi..." Balas singkat Awatake.
"Kata Rein, kau tidak masuk karena sakit, yah?"
"Yah, aku benar-benar tak punya waktu untuk menelpon sekolah. Sakitku begitu parah sampai sangat susah untuk bangun di hari pertamanya..."
"Oh, lantas apakah luka lebam ada hubungannya dengan penyakitmu? Rein menceritakannya kemarin..."
Kemudian Budi sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakannya. Dia kemudian mengingat kejadian kemarin dan juga jawaban yang disiapkan waktu itu.
"Oh, aku ikut pelatihan bela diri dan salah satu murid di sana mengajakku sparing..." Kemudian Budi menceritakan cerita karangannya dengan fasih dan alasan mengapa dia ikut untuk pelatihannya.
Menurutnya dia tak mungkin menceritakan sebenarnya, karena sebelum pulang ke apartemen Budi berjanji kepada Fox-sensei untuk tak membicarakan ini kepada teman-temannya.
"Oh, jadi begitu. Jadi tak khawatir lagi, kan? Rein."
__ADS_1
"Mengapa kau membawa namaku segala?" Awatake berkata dingin kepada sahabatnya.
Budi sedikit tak mengerti dengan hubungan mereka tersebut. Mereka mengakui bahwa mereka adalah sahabat. Tapi, dalam berkomunikasi, Awatake berkata dingin kepada Iwatani tapi Iwatani tak tersinggung dan malah menyambutnya.
Apakah hubungan mereka sebenarnya adalah S dan M? S berarti Awatake dan M berarti Iwatani. Kalau mereka seperti itu, mungkin Budi akan menjauhi mereka.
Tapi Budi hanya menyimpulkan hubungan mereka ketika berhadap-hadapan. Ketika Budi tidak ada, Awatake akan menjadi malu-malu anak kucing dan Iwatani sebagai induk yang menyayanginya. Mereka akan seperti sahabat yang hebat dan ideal di mata orang lain.
"Ngomong-ngomong, Budi! Apa kau melihat berita heboh tadi pagi?" Tanya Iwatani yang nampaknya ingin mengganti topik.
Budi menaruh tangan di dagu, seperti terlihat berpikir. Yang ia pikirkan pertama kali adalah berita tewasnya guru dari kelas bangsawan.
"Yah, aku melihatnya..." Budi beramsusi bahwa itu yang dimaksud Iwatani.
"Oh, kau melihat, ya? Bagaimana menurutmu?" Iwatani menunjuk ke Budi.
"Apanya menurutku?" Budi bingung dengan pertanyaan tak spesifik Iwatani.
"Yah, pendapatmu tentang berita itu."
"Cukup menyeramkan dan membuatku sedikit takut keluar rumah..." Budi tak mau memikirkan jawaban yang sedikit lebih karena saat ini masih pagi. Ini bukan wkatu yang cocok untuk berpikir berat bagi Budi.
"Hanya itu? Berikan komentar yang bagus, dong? Kau begitu bodoh sekali."
Budi sedikit jengkel dengan sifat "ngajak gelut" dari Iwatani. Tapi hanya menelan kejengkelannya, mengingat ada gelar "gorila betina" dibalik tubuh manis Iwatani. Dia berharap kalau guru pelajaran pertama datang secepatnya agar 2 wanita itu pergi ke tempat masing-masing.
"Oh, pagi ini masuknya agak telat, karena banyak guru pergi ke aula milik kelas bangsawan untuk upacara berkabung."
Budi merasa Iwatani membaca pikirannya dan menatap diri Iwatani seperti bertanya "apakah kau membaca pikiranku?"
"Ah, katanya sih keadaan mayat Takenaka-sensei begitu buruk. Kepalanya dilepas dari badannya dan dibakar tak jauh dari badannya. Itu benar mengerikan."
"Yah, kau benar."
__ADS_1
Budi mencoba pasif dalam pembicaraan itu. Itu dikarenakan agar Iwatani tidak membahas dan mengganti topik pembicaraan. Bukan karena takut, tapi Budi hanya tak mau membahas mengenai beberapa hal dari orang mati. Cukup 2 jam saja, lalu tak akan ada waktu untuk membahasnya lagi.