
Saat ini, ruangan itu terasa sangat menegangkan. Apalagi jika diharuskan berhadapan dengan orang yang membuat kesal, bertindak semaunya seakan-akan seisi dunia ini adalah miliknya yang bebas ia perlakuan.
Ansel dengan memunggungi Era yang masih menundukkan wajahnya, dirinya seakan tidak rela jika wanita ini bersenda gurau bersama orang banyak terutama jika itu adalah laki-laki.
"Jangan pernah menampakkan senyuman ataupun berinteraksi dengan pria lain. Aku tidak menyukainya." Ucap Ansel tanpa membalikkan tubuhnya.
"Hah, mmm. Apa tuan?" Era benar-benar kaget mendengar ucapan dari Ansel.
"Aku sudah mengatakannya, tugasmu adalah bekerja. Bukan untuk berkumpul bersama dengan orang-orang itu, apalagi ada pria disana." Kali ini, Ansel membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Era.
Dalam keadaan wajah yang menunduk, Era berusaha menahan dan menetralkan rasa amarah yang bergejolak didalam dirinya. Ia tidak menyangka jika Ansel selalu memberikan peraturan-peratura yang tidak sesuai dengan kontrak kerjanya, peraturan yang timbul secara seketika dan selalu meminta dirinya untuk mematuhi peraturan tersebut.
"Maaf tuan, saya benar-benar tidak memahami apa yang anda katakan. Peraturan apa lagi yang saya langgar? Bertemu dengan teman kerja dalam satu tim, berbicara, bersendau gurau untuk melepas lelah sejenak dari pekerjaan yang ada. Mendapatkan jamuan makan siang dari kepala divisi secara percuma, dan kami sebagai bawahannya menerimanya. Apa itu salah, tuan Ansel yang terhormat?" Begitu geramnya Era kepada Ansel kala itu.
"Kau menentangku?!" Ansel meninggikan suaranya.
Merasakan suasana menjadi tidak kondusif, Era memilih untuk beristighfar sebanyak banyaknya didalam hati, berhadapan dengan seorang pimpinan perusahaan besar akan menguras rasa kesabarannya.
Melihat Era yang terdiam, Ansel melangkahkan kakinya untuk menghampirinya. Dengan kedua tangan berada didalam saku celananya. Membuat Ansel merasa percaya diri untuk mendekati wanita tersebut.
"Aku tidak suka dengan wanita yang selalu menentang ucapanku." Ansel memilih untuk duduk di atas meja kerjanya yang berhadapan langsung dengan Era.
Bagi Era, apa yang telah dilakukan Ansel padanya kali ini sudah melampaui batas. Apalagi semua peraturan yang ia berikan hanyalah semata-mata untuk dirinya sendiri, berulang kali hal itu diberikan kepada dirinya. Seakan-akan jika ia bisa diperlakukan semaunya sendiri.
"Baiklah tuan, jika anda tidak ingin mendapatkan penolakan dari saya, maka anda bisa setujui saja untuk penandatanganan surat pengunduran diri saya. Maka tidak akan ada lagi yang membuat anda sakit kepala." Jawab Era dengan meluapkan semua isi kepalanya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, hah?! Kamu memintaku untuk menyetujui surat pengunduran diri milik kamu? Baiklah, akan aku kabulkan. Kamu diberhentikan dari tim mu dan beralih menjadi sekretaris pribadiku. Mau tidak mau, kontrak kerjamu masih ada beberapa tahun. Jika berhenti, maka ada konsekuensi yang harus dibayar. Silahkan pilih." Senyum serangai Ansel dengan penuh kemenangan.
Atas ucapan Ansel tersebut, membuat Era terdiam. Memang benar ia masih terikat kontrak kerja dengam perusahan Goldprez itu, jika ia berhenti atas keinginan sendiri. Maka, ia siap untuk mengantikan semua biaya pinalti untuk perusahaan. Kedua mata itu terpejam sesaat, ia seakan sedang berada dalam ruang sidang yang begitu mencekam.
Menggantikan semua biaya yang ada, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari serta biaya sang adik saja sudah membuat dirinya harus berhemat. Darimana ia akan mendapatkan biaya sebanyak itu jika harus mengundurkan diri, ujian akhir sang adik pun memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Klek!
"Hai! Ansel, sayang." Seorang wanita masuk begitu saja.
Mendapati kehadiran orang yang tidak ia sukai, membuat Ansel merubah mimik wajahnya. Saat wanita tersebut menghampirinya dan bermaksud untuk memeluk dan memberikan kecupan manis pada Ansel, langsung saja pria itu menolak akan hal tersebut dan sedikit memberikan dorongan sehingga wanita itu menjadi terdorong.
"Aaargh! Ansel, sayang. Kenapa didorong sih, kamu tidak kangen sama aku ya. Huh, pasti gara-gara wanita ini. Kamu! Pergi sana." Dengan membentak, wanita itu meminta Era untuk keluar dari sana.
"Era!!" Teriak Ansel dengan cukup keras, namun tidak didengarkan oleh yang bersangkutan.
Dalam amarahnya yang sedang bergejolak, Ansel begitu ingin meluapkan semua amarah tersebut kepada sumbernya. Akan tetapi, ia tidak bisa menyakiti wanita atas nasihat sang mommy.
"Ansel! Kamu ini kenapa? Aku sudah jauh-jauh datang kemari dan meliburkan diri pekerjaanku di sana, hanya demi bertemu denganmu. Tapi kamunya, ini sangat aneh." Gerutu wanita tersebut yang tak lain adalah Alisha.
"Diam! Aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah melibatkanku dalam persoalan bisnis keluargamu. Jangan sampai aku menghancurkan kariermu, Alisha!" Geram Ansel dengan penuh penekanan pada setiap ucapannya.
"Tapi Ansel, Ayahku sudah membicarakannya dengan daddy kamu. Lagian, kita juga sudah cukup dekat sejak kecil." Alisha membela diri akan ucapan Ansel padanya.
Tekanan emosi itu semakin besar, hingga pada akhirnya sorot mata Ansel menjadi tajam. Tanpa sengaja, ia menekan salah satu tangannya tepat di leher Alisha. Sehingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas, bahkan kedua matanya sudah berubah memerah.
__ADS_1
"Arkh, arkh. An sel le pas lepaskan." Eja Alisha yang meronta.
"Aku sudah mengatakan padamu, jangan mengusikku! Atau akan aku buat kau menyesal!!" Ansel menghempaskan Alisha dengan sangat kuat.
Brukh!!
Dengan memegangi lehernya dan mengatur nafas yang tidak teratur, Alisha juga merasakan sakit pada tubuhnya karena hempasan dari Ansel. Pria yang ia sukai sejak dari kecil, membuatnya tidak berpaling. Hanya saja, Ansel tidak pernah memberi kesempatan ataupun peluang bagi Alisha untuk dirinya.
"An sel, aku mencintaimu." Alishan berusaha berdiri dan mengejar Ansel.
Tanpa adanya tahu malu, Alisha melingkarkan kedua tangannya pada tubuh kekar itu dari arah belakang. Menggunakan air mata sebagai senjata agar pria seperti Ansel dapat luluh, namun bukan itu yang Alisha dapatkan melainkan.
Brakh!!
Brakh!!
Ansel menghantarkan kepalan salah satu tangannya tepat di atas meja kerjanya yang berlapis kaca cukup tebal, dan kaca itu seketika hancur serta meja yang terbelah menjadi dua. Hal itu membuat Alisha melepaskan tangannya dan menajuh, kepalan tangan Ansel mengeluarkan cairan berwarna merah. Lagi-lagi tanpa tahu malu, Alisha menghampiri Ansel dan ingin meraih tangan tersebut.
"Menjauhlah! Sebelum aku menghancurkanmu!!" Suara Ansel begitu tajam.
"Ta tapi Ansel..."
"Keluar!!!" Bentak Ansel dengan suara meninggi.
Tubuh Alisha bergetar atas bentakan itu, ia selalu mendapatkan penolakan dari pria yang ia cintai. Tidak ada kapok-kapoknya untuk Alisha mendapatkan perhatian serta perasaan dari Ansel, dengan berprofesi sebagai model papan atas. Tidak membuat Ansel tertarik dengan wanita yang sangat cantik itu, dan untuk hari ini. Alisha kembali ditolak.
__ADS_1