The Possessive

The Possessive
Menjaga.


__ADS_3

Davin kaget ketika Ansel berteriak dan memberikan perintah pada orang-orangnya untuk menup mata, dimana ia mendapatkan penjelasan jika pasiennya itu menggunakan hijab dan juga cadar. Wajar saja jika Ansel berkata seperti itu, namun yang membuat Davin menyimpan pertanyaan besar dalam kepalanya. Perubahan sikap Ansel kepada pasien tersebut, selama ini pria itu begitu dingin dan juga tidak pernah terlihat dekat dengan wanita.


Setibanya mereka di ICU (intensive care unit), Davin memastikan kondisi dan juga peralatan yang digunakan pasien dalam keadaan aman dna berfungsi dengan baik.


"Dia akan baik-baik saja, hanya butuh pengawasan intensif dalam 24 jam awal." Davin menghampiri Ansel yang masih memandangi pasien dari balik kaca yang membatasi mereka.


"Hmm." Gumam Ansel menanggapi ucapan Davin.


"Hei, ayolah Sel. Aku butuh menjelasan darimu, jika itu tidak aku dapatkan. Akan aku buat pasien didalam menjadi milikku, aku sungguh terpesona saat melihat wajahnya yang sangat cantik dan teduh." Davin benar mengaguminya ketika melihat wajah Era.


Bugh!


"Jangan pernah berharap!" Tegas Ansel setelah melayangkan satu pukulan yang cukup keras pada wajah dokter itu.


"Ampun Sel, bercanda doang. Aih, bonyok muka ganteng aku." Davin mengusap wajahnya yang terasa sangat ngilu.


Mereka berdua duduk bersama didepan kaca pembatas ruangan tersebut, dengan pandangan Ansel yang tak pernah berlaku dari wajah pucat didalam sana. Begitu pula Davin mengikuti arah pandangan sahabatnya itu, ingin marah akan tetapi dia tidak, bisa melakukannya.


"Kau menyukainya? Anselku akhirnya kembali normal, tapi aku sudah kalah cepat untuk mendapatkannya. Hahaha, jangan pukul lagi Sel. Ini masih sakit." Davin yang memang terkenal akan julukan dokter bocor.


" Diamlah." Gerutu Ansel yang geram akan kebocoran Davin.


Ponsel Ansel bergetar...


"Assalamu'alaikum dad."


"Apa yang terjadi bang? Kenapa bisa Era terluka? Sekarang bagaimana keadaannya?" Suara khas dari Kiya membuat Ansel mengehela nafas panjang.

__ADS_1


"Mom, jawab salam abang dulu."


"Eh lupa, Wa'alaikumussalam. Bagaimana keadaan Era bang?"Nada bicara Kiya terdengar begitu khawatir.


Sebelum menjawab pertanyaan dari mommy nya, Ansel menatap wanita mungilnya yang terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai peralatan medis pada tubuhnya. Wajah pucat itu membuatnya seakan hancur, air mata itu kembali mengalir.


"Masih belum sadar mom." Mengusap air mata dengan kedua jadinya, Ansel menundukkan wajahnya seakan tidak kuat untuk melihat kondisi wanitanya.


"Abang yang sabar ya, Era wanita yang kuat. Mommy sedang diruang Ejaz bersama daddy, saat ini dia sudah dipindahkan ke ruangan biasa bang. Kondisinya semakin membaik, mommy akan kesana. Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikumussalam mom."


Mendengar sekilas pembicaraan sahabatnya itu, menambahkan keyakinan Davin jika pasiennya itu adalah orang spesial untuk sahabatnya dan keluarganya. Perlahan Davin menepuk bahu Ansel, seakan memberikan dukungan agar sahabatnya itu kuat.


"Aku lanjut ya, seminar pending dan harus aku selesaikan. Kalau boleh saran, pindahkan dia kerumah sakit kita. Aku akan menanganinya, terlalu berbahaya jika dia masih berada disini. Apalagi jika para musuh kita tahu, dia orang spesial untukmu." Davin berdiri sambil menunggu tanggapan sahabatnya itu.


" Siapkan semuanya, kau dokternya dan harus bertanggung jawab dengan pasiennya." Ansel sedikit menegaskan ucapannya.


"Hahaha, siap bos. Laksanakan, aku akan hubungi orang-orangku." Davin segera melakukan tugasnya untuk melakukan pemindahan Era.


Karena tidak menutup kemungkinan jika para musuh mereka mulai melakukan pencarian informasi mengenai kejadian ini, mengambil jalan aman untuk melindungi wanitanya Ansel yang akan dimanfaatkan oleh banyak orang agar Ansel hancur.


.


.


.

__ADS_1


.


"Sial! Kenapa tidak, aku musnahkan saja mereka semuanya!" Erang Rayyan yang berhasil kabur dari orang-orangnya Ansel.


Semua anggota klan hanya terdiam mendapati kemarahan dari bos mereka, mereka tidak hanya mengalami kekalahan melainkan teguran keras dari orang yang sangat disegani dari organisasi dunia bawah, yaitu Azzam Arsalaan.


Mengetahui penyerangan yang dilakukan oleh seorang Rayyan, mengatasnamakan sebagai salam perjumpaan mereka kembali. Dengan menggunakan alibi melajukan kontrak kerjasama bersama perusahaan milik Ansel, menyakini jika dirinya bisa menjatuhkan Ansel. Membuat Ray merasa di atas angin, dan tanpa berpikir panjang memberikan salam pertemuan dengan mengakibatkan adanya korban.


"Sepertinya, aku harus mengatur strategi lebih baik untuk menghadapi mereka. Jika terus seperti ini, kedudukanku akan terancam. Bos ketua tidak akan melepaskan orang-orang sepertiku." Ray merasa jika posisinya saat ini sedang terancam untuk dilengserkan oleh ketua mereka, karena telah gagal memberikan salam pertemuan.


Menatap ke luar jendela, Ray berkacak pinggang dengan tatapan tajam. Tatapan itu penuh dengan kebencian yang teramat besar, salah satu tangannya menggenggam vas bunga yang berada dihadapannya hingga hancur berkeping-keping.


Ctash!!


"Tuan! Apa yang akan kita lakukan?" Seorang bawahan memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.


"Benar tuan, orang-orang kita banyak yang mengalami luka-luka." Sambung yang lainnya.


"Untuk sementara ini, cukup kalian pantau saja pergerakan mereka. Jika mereka lengah, langsung eksekusi saja. Tapi, tadi wanita yang bersama dengan Ansel itu terluka. Wanita itu yang membiarkan tubuhnya menjadi pelindung untuk Ansel, bukannya dia hanyalah seorang sekretarisnya?" Rawut wajah Ray berubah menjadi pemikir keras.


"Kalian cari tahu siapa wanita itu, dan hubungannya dengan Ansel. Sepertinya ada sesuatu yang sangat menarik dari pertemuan ini, hahaha." Ray menangkap adanya rahasia yang tersembunyi dari seorang Ansel.


Yang dimana biasanya, Ansel begitu anti dengan yang namanya wanita. Namun kali ini, wanita itu terlihat begitu dekat dan bahkan Ansel pun berbicara selayaknya pasangan kekasih bukan sebagai bos dan karyawaan. Hal itu semakin membuat Ray penasaran serta tertarik untuk mengetahuinya, jika dugaannya itu benar adanya. Maka itu akan semakin membuatnya bersemangat dan mendapatkan kemudahan dalam urusan lainnya.


"Hahaha, jika memang benar dugaanku. Maka itu akan mempermudahkanku, kau memang begitu bo**h Ansel." Rayyan tertawa akan apa yang baru ia sadari, tidak perlu bersusah payah dalam mencari kelemahan dari lawannya.


Dilain tempat, Ansel beserta Davin sedang dalam proses pemindahan Era dari rumah sakit menuju mansion milik Ansel pribadi. Ia berpikir ulang untuk memindahkan Era ke rumah sakit milik mereka, namun dengan beberapa pertimbangan yang cukup matang. Ditambah dengan usulan dari Azzam kepada anaknya, yang dimana pada putusan akhir berada di mansion Ansel.

__ADS_1


Semua peralatan yang dibutuhkan oleh Era sudah terpasang dan tersusun rapi, tidak ada perawat khusus yang ditugaskan untuk menjaga Era. Dimana Ansel yang memutuskan sendiri, jika dirinya dan Davin yang langsung menghadapinya. Bahkan Kiya dan Ayu akan turut bersama menjaganya, mereka melakukan hal tersebut bukan tanpa sebab.


__ADS_2