
"Tidak perlu merasa bersalah atas semuanya yang sudah terjadi, tuan. Anggap saja ini adalah perjalanan hidup yang harus dijalani, alhamdulillah saya sudah baikan." Berharap dengan ucapannya, bisa membuat Ansel nyaman.
"Tapi, mereka sebenarnya mengincarku. Ah, seandainya kamu sedikit berlama-lama mengambil cemilan untukku." Lagi-lagi Ansel menghela nafasnya beratnya.
"Jadi, tuan sengaja ya menyuruh saya saat itu? Karena tuan sudah tahu jika mereka akan melakukan sesuatu pada anda?" Era pun kaget mendengar ucapan itu.
Sejenak Ansel terdiam, ia melihat ke arah langit-lagi ruangan tersebut. Lalu mengehla nafas dan kembali menatap Era, sungguh dirinya seakan berhenti bernafas saat mendapati wanita dihadapannya ini terluka.
"Ya, aku tahu jika mereka akan melakukan sesuatu. Maka dari itu, ada orang-orangku yang ikut." Jelas singkat Ansel.
Menelaah ucapan Ansel, Era membenarkan jika ia juga merasa heran saat ada orang yang tidak ia kenal mengikuti mereka saat menemui klien tersebut. Ternyata, mereka adalah orang suruhan dari Ansel. Keduanya pun terdiam satu sama lain, seakan tidak percaya akan ada hal yang seperti ini akan terjadi.
"Ini, ada titipan dari mommy. Tadi mereka kemari disaat kamu masih belum sadar." Ansel meletakkan paper bag yang berisikan barang titipan dari mommy nya.
"Apa tuan?"
"Aku kurang tahu, kamu bisa lihat sendiri."
Membuka paper bag yang ia terima, didalamnya terdapat makanan dan juga satu pakaian yang lengkap dengam kerudung dan juga cadarnya. Betapa tersentuhnya hati Era kala mendapatkan perhatian seperti itu, kedua sudut matanya sudah menggenang air yang siap menetes. Namun itu adalah air mata kebahagian, yang kemudian disertai senyuman.
"Sampaikan ucapan terima kasihku pada mommy Kiya, tuan."
"Hhmm, nanti kamu bisa sampaikan sendiri." Ansel memang mencari cara agar selalu dapat berbicara dengan Era.
.
.
__ADS_1
.
.
Bebera minggu kemudian...
Keadaan perusahaan Goldprez saat ini sedang dalam situasi yang cukup menegangkan, dimana tersebut isu mengenai snag CEO nya. Dalam kabar tersebut menyatakan jika pemilik dari Goldprez adalah seorang mafia, yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kerjasama dengan berbagai kliennya.
"Tuan, sepertinya klien kita banyak yang menuntut untuk memutuskan kerjasamanya." Nayaka datang ke dalam ruangan Ansel dan menunjukkan bukti-bukti atas permasalahan yang ada.
Dengan tatapan dinginnya, sungguh saat ini Ansel sedang benar-benar tidak bersahabat. Tidak ada yang berani untuk berbicara padanya, karena sudah beberapa karyawaan dan kepala divisi habis terkena amukannya.
Disaat itu pula, Era yang perlahan mulai memahami karakter dari Ansel. Kini ia berperan sangat penting untuk keadaan tersebut, walaupun sempat ragu. Ia memberanikan diri untuk bersuara, berharap agar Ansel dapat tenang dalam menghadapi situasi seperti saat ini.
"Tuan, bisa berbicara sebentar?" Era menghampiri Ansel yang masih terlihat begitu tegang menghadapi berkas-berkas dihadapannya.
"Sel, Bobby. Terima telfonnya." Nayaka pun dihubungi oleh Bobby, agar ia memberitahukan pada Ansel untuk menerima telfon darinya.
Bukan jawaban yang mereka dapatkan, melainkan suara retakan dari rahang Ansel. Genggaman kedua tangannya pun sangat kuat, terlihat dari urat-urat tangannya yang begitu jelas.
"Woi! Kita berdua ini dianggap patung apa." Bentak Nayaka yang sudah merasa habis kesabarannya.
"Diam!!" Balas Ansel tak kalah kerasnya.
Bahkan kini Ansel berdiri dan menarik bagian leher dari kemeja yang dikenakan oleh Nayaka, nyaris tangan kekarnya itu melayangkan pukulan kepada wajah Nayaka.
"Astaghfirullah, jangan tuan." Era menahan tangan itu disaat akan melayang.
__ADS_1
"Istighfar tuan, jangan sampai amarah menguasai diri tuan. Semuanya bisa kita hadapi dengan tenang dan tanpa emosi, tangan dilepas ya." Tangan kekar itu perlahan melemah dan melepaskan cengkramannnya.
Duduk dengan terdiam, Ansel menghela nafasnya dan kedua tangannya menjadi tumpuan untuk kepalanya. Dengan perlahan, bibir itu bergerak mengucapkan kalimat yang diarahkan oleh Era. Wajah itu menunduk dan kedua matanya terpejam untuk beberapa saat, namun momen itu membuat Nayaka kaget bukan main.
"Diminum dulu, tuan." Era memberikan segelas air pada Ansel.
Perlahan tangan itu menyambut gelas yang berisikan air, meneguknya atas ucapan dari yang memberikannya. Hal itu terjadi begitu saja, Ansel dengan mudah menurutinya. Dan itu membuat Nayaka menjadi orang yang menyaksikan perubahan Ansel dengan nyata, jika biasanya akan selalu ada perdebatan bahkan baku hantam. Akan tetapi, kali ini pria itu begitu menurut sekali dengan satu kali ucapan.
"Heh, rupanya sudah ada pawangnya." Perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Nayaka.
"Tuan Nayaka, bisakah kita fokus terlebih dahulu dengan permasalahan yang ada." Era menyadarkan Nayaka dari sikap usilnya.
Berharap jika emosi tuan mereka akan tetap stabil, agar bisa membahas semuanya dengan tenang. Memang isu yang sudah menyebar itu sangat lebar biasa hebatnya meracuni isi pikiran dari orang-orang yang melihatnya, bahkan dalam hitungan jam mereka harus menghadapi kerugian yang cukup besar.
Mendapati situasi yang sudah bisa dibilang aman, Era menyerahkan ponsel Ansel yang dimana sebelumnya sempat terjatuh disaat pria itu akan menghadiahkan pukulan kepada Nayaka. Kedua sorot mata itu saling bertemu, lalu Era menganggukkan kepalanya agar Ansel menyambut ponselnya. Disaat itu pula ponsel itu kembali bergetar, Bobby.
"Hem, ada apa?" Jawba Ansel ketika menerima panggilan itu.
"Kami menemukan sesuatu tuan, saya sudah mengirimkannya ke email anda. Untuk klan, semuanya sedang kami selidiki tuan." Informasi yang diberikan Bobby.
"Segera dapatkan mereka, jangan mengecewakan Bob." Ansel memutus percakapan mereka.
Tangannya bergerak cepat untuk memeriksa apa yang diberitahukan Bobby padanya, sebuah rekaman singkat mengenai percakapan seseorang. Dan Ansel mengenali siapa dari pemilik suara itu, kembali suara retakan rahang terdengar.
"Sepertinya mereka sedang menantangku, baiklah. Sudah cukup untuk bermain-mainny. Kali ini, tidak akan aku beri ampun kalian!" Seringai tegas muncul dari sudut bibir Ansel.
"Tuan, sebenarnya. Apa yang sedang anda pikirkan, apakah ada yang bisa saya bentuk? Paling tidak bisa meringankan beban." Ujar Era yang sangat sedih, teringat akan ayahnya yang juga keras kepalanya.
__ADS_1
"Terima kasih Ra, tapi untuk kaki ini. Aku tidak mau jika kamu ikut terlibat lagi, cukup yang kemarin terjadi padamu." Ansel merapikan dirinya dan tersenyum pada wanita yang begitu ia cintai.