
Melupakan kejadian ditempatnya bekerja, Era berusaha dengan sangat kuat untuk tidak mengingatnya. Tepat pada lahir minggu, ia bersama dengan Ejaz meluangkan waktu untuk membersihkan rumah mereka. Setelahnya, mereka bermaksud untuk mengistirahatkan sejenak semua pikiran dari pekerjaan dan juga pelajaran sekolah.
Dengan mengendarai si jaguar, keduanya kini tiba disalah satu mall yang cukup besar. Berjalan seperti pasangan yang sedang bersama, namun tidak ada yang tahu jika keduanya adalah kakak dan adik.
Tidak ada yang mereka inginkan, hanya sekadar untuk berjalan-jalan saja dan sedikit membeli perlengkapan dapur. Setelah puas berjalan, keduanya bergegas menuju supermarket yang berada disana. Era memilih bahan-bahan apa saja yang telah habis, sedangkan Ejaz bertugas untuk mendorong trolinya.
"Mbak, jangan lupa buah-buahan ya. Biar sehat dan perbaikan gizi." Ujar Ejaz sambil bercanda.
"Kamu ini, perbaikan gizi bukan dengan makan buah-buahan saja. Tapi sayuran tu yang penting, bukan malah yang instan." Era sering mendapati sang adik menikmati makanan instan seperti mie.
"Hehehe, kan praktis dan cepat mbak." Ejaz membela diri dan tidak ingin mendengar celoteh kakak perempuannya itu.
Hanya bisa menggelengkan kepalanya saja yang Era lakukan, karena ia mengerti alasan kenapa adiknya seperti itu. Ingin rasanya ia memperbaiki keadaan ini, namun apa daya. Maka dari itu, Era selalu menghemat apa yang menjadi keperluannya. Karena sang adik ada prioritas yang harus ia utamakan, daripada dirinya sendiri.
Mereka pun telah selesai dengan semuanya, menggunakan si jaguar yang selalu siap dalam kondisi apapun. Walaupun ada beberapa kali ia ngambek untuk dibawa servis pada aslinya di bengkel, dengan begitu ia tetap bertahan hingga kini.
"Kita langsung pulang atau ada yang mau disinggahi mbak?" Sebelum berjalan menuju rumah, Ejaz menanyakan kepada sang kakak.
"Sepertinya langsung pulang saja, Jaz. Mbak capek, mana ini sudah sore." Era melihat langit sudan mulai menggelap.
"Siap."
Jaguar berjalan dengan kecepatan sedang, jalan pun mulai dipadati oleh berbagai kendaraan yang akan menikmati waktu akhir pekan. Namun, ketika mereka memasuki jalan menuju persimpangan jalan raya. Tiba-tiba saja, ada satu buah mobil yang terlihat sedang melaju dengan kecepatan sangat cepat.
Brakh!!
Keduanya terpental akibat dari tabrakan mobil yang berwarna putih tersebut, karena kecepatan itu begitu cepat. Membuat keduanya cukup jauh dari posisi tabrakan, dan jaguar pun kini sudah tidak berbentuk lagi.
"E Ejaz!" Lirih Era dengan berusaha menggerakkan tubuhnya yang sudah mati rasa.
__ADS_1
Pengemudi dari mobil putih itu turun dan menghampiri kedua korban dari tabrakan tersebut, ia begitu panik dan menelfon orang untuk segera datang ke lokasi kejadian.
"Kak, kakak bangun kak. Maaf, maafkan aku." Pengemudi tersebut ternyata seorang wanita yang baru beranjak dewasa dan terdengar sedang menanggis.
"Di dimana adikku? Tolong adikku." Era terus berusaha mengetahui keadaan adiknya.
"Maaf kak, dia dia tidak sadar. Orang kepercayaan daddy akan segera datang, bertahanlah." Wanita itu sangat panik ketika membuka helm yang digunakan Era terdapat bercak merah.
"Daddy, tolong. Mommy." Lirih wanita itu dalam keadaan bergetar.
Pandangan Era semakin gelap, lalu kemudian ia tidak sadarkan diri. Wanita itu terus menanggis dan tak lama kemudian datanglah beberapa mobil yang menghampiri mereka, lalu ada mobil ambulans pun tiba dan membawa kedua korban tersebut menuju rumah sakit.
.
.
.
.
.
Seperti biasanya, Ansel selalu menikmati akhir pekan dengan berolahraga diruangan khusus yang ia buat. Cukup lama ia berada didalam ruangan tersebut, setelah merasa cukup. Ia melanjutkan untuk berenang, dengan suasana yang sangat tenang seperti yang ia inginkan.
Tanpa sepengetahuannya, benda pipih itu terus bergetar dan memperlihatkan ada panggilan yang terus menerus. Sampai pada akhirnya, sehabis membersihkan diri dan sedang meneguk minuman ringan di tangannya. Ansel melihat sert menyadari jika ponselnya bergetar.
"Arick?!" Ansel merasa kaget, karena adiknya itu sangat jarang menghuhunginya.
"Hem, ada apa?" Jawab Ansel ketika menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Segera ke rumah sakit ... sekarang, Ayu kecelakaan." Ujar Arick dengan cepat.
Menutup panggilan tersebut, langsung saja Ansel mengambil kunci mobil miliknya yang berada didekatnya dan segera berangkat menuju rumah sakit. Isi pikirannya saat itu adalah sang adik perempuannya yang mengalami kecelakaan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisinya.
Dilain tempat, rumah sakit kini benar-benar dalam yang cukup menegangkan. Semua pihak keluarga Azzam dan Kiya menjadi panik saat mendapatkan berita anak perempuannya mengalami kecelakaan, namun setibanya mereka disana. Mendapati sang anak sedang duduk didepan ruang gawat darurat, Azzam dan Kiya segera menghampirinya.
"Sayang! Kamu tidak apa-apakan? Apa ada yang terluka?" Azzam dan Kiya memburu Ayu dengan berbagai pertanyaan serta memeriksa tubuh anaknya itu dengan penglihatan.
"Ayu tidak apa-apa mom, dad. Maafkan Ayu, sudah melanggar peraturan mommy dan daddy." Ayu menunduk, ia merasa ketakutan akan kedua orangtuanya memberikan hukuman kepada dirinya.
Azzam mengusap puncak kepala sang putri tercinta, serta Kiya memeluknya dan mengusap punggungnya dengan perlahan. Mereka tahu jika putrinya itu dalam keadaan yang cukup kaget, lalu Kiya membawa Ayu untuk duduk pada kursi tunggu disana.
"Mom, dad." Arick baru saja tiba.
Ia hanya menatap wajah sang daddy, dari wajah itu ia mendapatkan jawaban jika situasi sedang tidak baik untuk banyak bicara. Lalu Arick ikut duduk disamping mommy nya, Ayu pun merasa sudah baikan dan menceritakan mengenai peristiwa awal sampai terjadinya kecelakaan.
"Mom, Ayu takut. Keadaan kakak perempuan dan laki-laki itu bagaimana, Ayu bersalah sudah menabrak mereka." Ayu sangat merasa bersalah atas sikapnya.
"Sudah sayang, kita tunggu dulu saja ya. Teruslah berdoa agar keduanya tidak apa-apa." Kiya terus berusaha menenangkan putrinya.
Mereka semuanya menunggu kepastian mengenai keadaan dua korban tabrakan tersebut, tak berselang lama. Ansel pun tiba dan menghampiri keluarganya, ia bersama Azzam dan Arick sedikit menjauh dari kedua bidadari mereka. Sedikit banyaknya membahas mengenai peristiwa tersebut, namun perbincangan mereka terhentikan ketika seorang dokter keluar dari ruang tindakan dan mereka segera mendekatinya.
"Dokter, bagaimana keadaan mereka?" Azzam mendahului untuk menanyakannya.
"Mmm, tuan Azzam. Maafkan kami, kedua pasien sedang menjalani penanganan. Akan tetapi, pasien yang laki-laki harus segera kita operasi. Karena ada benturan keras dibagian kepalanya, terdapat gumpalan darah yanh harus segera dikeluarkan." Ujar dokter tersebut.
"Lakukan yang terbaik, mereka keluarga kami." Azzam menegaskan jika ia yang bertanggung jawab atas semuanya.
"Baik tuan, untuk pasien yang perempuan. Ia akan kami pindahkan ke ruang perawatan, saya permisi." Dokter tersebut pamit untuk melanjutkan tugasnya.
__ADS_1
Mereka menjadi tidak tega dengan keadaan pasien laki-laki tersebut, melihay keadaannya saat akan dipindahkan menuju ruang operasi. Namun, ada sesuatu yang sangat membuat Ansel menegang. Ketika pasien wanita akan menuju ruangan perawatan.
"Era!" Wajah Ansel menjadi begitu tegang.