
Sorot mata Diana mengikuti kemana arah bayangan tubuh Ansel menjauh, ia sangat tertarik ketika mengetahui jika klien yanh akan mereka temui adalah Ansel. Pria yang menjadi incaran dari para wanita, siapa yang tidak tertarik dengan pria tampan itu.
"Sial! Apa kurangnya aku, heh. Apa tidak salah jika dia memilih wanita yang berpenampilan seperti itu? Lihat saja, aku akan mendapatkannya dengan cara apapun." Gumam Diana yang melepaskan kekesalannya.
.
.
.
.
Menjalani hari-hari yang begitu membutuhkan kekuatan, baik fisik maupun batin. Era berusaha menjalaninya dengan melapangkan dada, begitu banyak cobaan yang datang silih berganti. Seakan Sang Pencipta sedang memberikan bentuk kasih sayangnya kepada dirinya.
Pada hari ini, Era akan berangkat pergi bekerja dari rumah sakit. Sepulang dari bekerja kemarin, ia tidak kembali kerumahnya melainkan menginap dirumah sakit untuk menjaga sang adik. Masih dalam keadaan yang betah dalam tidurnya, tetesan air terus mengalir dari kedua sudut mata yang terlihat begitu lelah.
"Jaz, bangun yuk. Mbak kagen sama kamu, jangan tinggalin mbak sendirian seperti ini. Bangun ya, nanti kita makan mikote lagi ya. Mbak sudah sampai ileran pengen makanan itu, bangun ya Jaz." Air mata Era semakin, membasahi wajahnya.
Tidak ada yang mengetahui jika Era menginap disana, melainkan perawat yang berjaga serta dokter yang menanggani Ejaz. Pada pagi yang cerah ini, Era membersihkan tubuh sang adik dan memberikannya sedikit terapi melalui tilawah yang ia lakukan. Dimana mengharapkan dan menguntungkan harapannya untuk Ejaz, hanya kepada Rabb Nya.
"Mbak kerja dulu ya, terus berusahalah untuk membuka mata. Assalamu'alaikum adikku."
Menitipkan dan berpamitan kepada perawat yang berjaga saat itu, Era pun segera menuju perusahaan. Setibanya disana, ia sudah disuguhi oleh pemandangan yang tidak biasa. Ketika itu, Ansel dengan tubuhnya yang kekar dan tinggi. Beserta Nayaka juga bersamanya sedang berasa dilobby.
Tidak ingin terlibat oleh orang tersebut, Era mengambil jalan lain untuk segera sampai ditempatnya. Jika ia bertemu dengan Ansel disana, maka akan semakin banyak gosip yang beredar mengenai dirinya. Lebih baik menghindar saja, itu yang ada dipikirin Era. Bersyukur ia tiba diruangannya dan segera memeriksa beberapa pekerjaan yang akan ia lakukan, tak lupa juga menyusun jadwal untuk Ansel.
__ADS_1
"Hari ini ada pertemuan dengan perusahaan dari Belanda? Bukannya ini sudah dikonfirmasi via telfon kemarin, kenapa hari ini berubah lagi?" Era menatap jadwa untuk Ansel.
Mengetuk-ngetuk keningnya menggunakan pena yang berada ditangannya, Era nampak berpikir keras untuk mencerna semuanya.
"Kenapa ponselmu tidak aktif, jawab!"
"Astaghfirullah." Era kaget dan tersentak.
Tanpa disadari olehnya, Ansel bersama Nayaka sudah berada dihadapan Era saat itu. Ansel menatap tajam pada Era, seakan-akan sedang mendapatkan target dari perburuannya.
"Tuan, maaf. Saya lupa mengisi dayanya, maafkan saya." Era memang akan ponselnya, semalam ia juga fokus pada Ejaz.
Cukup lama Ansel terdiam menatap wajah yang kini tertunduk, dengan kedua telapak tangan yang saling menguatkan. Untuk Nayaka, ia memilih berjalan mundur dan membiarkan tuannya itu meluapkan perasaannya kepada wanita yang sudah membuatnya khawatir.
"Jangan ulangi lagi, aku tidak suka. Bersiaplah, satu jam lagi kita menemui klien. Saat istirahat siang, kamu harus ikut makan siang bersamaku." Ansel kembali ke mejanya.
"Astaghfirullah, tuan Ansel?" Mendapati orang yang ia hindari, kini berada didekatnya.
Perasaan apa yang kini ia rasakan, detak jantung itu bergerak dengan sangat cepat. Membuat Era harus segera menormalkannya, sungguh sangat menyiksa. Persiapan semuanya sudah siap, mereka pun berangkat untuk menemui klien kembali. Yang membedakan kali ini adalah, dimana terdapat Leon dan juga Pedro ikut bersama mereka.
"Tuan, mereka siapa?" Era yang merasa adanya kehadiran orang-orang baru untuk ia lihat pertama kali.
"Mereka adalah orang-orangku, tidak usah khawatir. Saat pertemuan dengan klien nanti, jangan pernah jauh-jauh dariku. Mengerti?" Ansel dengan nada bicara yang cukup tegas.
"Apa ada sesuatu?" Era juga merasa ada yang aneh, kenapa secara tiba-tiba situasi berubah menjadi begitu tegang.
__ADS_1
"Cukup dengar dan ikuti saja apa yang aku katakan, selebihnya kamu hanya diam saja. aku harap kamu menurutinya." Kali ini, Ansel menatap Era dengan cukup dalam.
Tidak ingin berdebat, Era hanya bisa menuruti apa yang telah dikatakan Ansel padanya. Pertemuan dengan klien yang kali ini cukup menengangkan, dimana ia hanya bertugas untuk duduk manis disamping Ansel. Sedangkan untuk membahas masalah yang ada, semuanya sudah Ansel yang menanganinya.
Menggunakan dialog bahasa Belanda, yang dimana membuat Era hanya bisa mendengarkan tapi tidak bisa mengartikannya. Dari pembahasan tersebut, dapat ditangkap jika raut wajah Ansel maupun klien mereka itu menjadi berubah. Seperti hendak berdebat dan sikap mereka tetap dalam kondisi tenang.
"Bisakah kamu mengambilkan cemilan untukku? Aku sedikit lapar." Ansel berbisik disamping telinga Era.
"Mmm, baik tuan." Menginggat jika harus menuruti apa yang dikatakan Ansel dan tidak banyak bertanya.
Sepeninggalan Era mengambil cemilan untuk bosnya, terjadilah berdebatan diantara mereka.
"Jangan pernah mengusikku Ray! Aku sudah memperingatimu berulang kali." Suara Ansel penuh dengan penekanan.
"Hahaha, Aku tidak mengusikmu. Aku hanya ingin sedikit bermain dengan daerah baru, ternyata. Wilayah ini adalah milikmu, sorry brother." Ray tertawa.
Rayyan Scarlot, dia adalah saudara Ansel dari keluarga Azzam. Hanya saja, mereka bukan saudara kandung melainkan saudara satu organisasi saja. Tidak senang melihat keberhasilan dan juga kebahagian meliputi keluarga Azzam, maka Ray di utus oleh ketuanya untuk mengusik semuanya itu.
Melakukan Rayyan, yang usianya tidak berbeda jauh dengan Ansel. Membuat ketua mereka mengutusnya, dengan berdalih menjalin kerjasama diantara perusahaan yang ada. Namun semuanya sudah terlebih dahulu diketahui oleh pihak Ansel.
"Aku sangat suka dan rindu dengan keluarga kalian, jadi. Boleh kan, aku sedikit membuat salam pertemuan yang sangat berkesan padamu? Hahaha." Tawa Ray berhasil membuat Ansel mengkerutkan keningnya.
Sambil membawa piring kecil ditangannya, Era sudah mengambil beberapa cemilan kecil untuk bosnya itu. Tak lupa dengan air yang melengkapi kudapan itu, namun dari kejauhan. Ketika Era akan kembali menuju tempat pertemuan mereka, terdengar seseorang yang hendak melakukan penyerangan terhadap bosnya. Orang tersebut berjalan menuju dimana Ansel berada dengan menggunakan penampilan seorang pelayan, dan dari balik nampan yang ia bawa itu terdapat sebuah senjata.
"Tuan Ansel!"
__ADS_1