
Sementara itu, saat tiba ditempat yang mereka tuju. Ansel dan Era bergegas untuk menyapa dan menghampiri klien mereka, klien tersebut merupakan klien yang sangat berharga untuk perusahaannya.
"Maafkan atas keterlambatan kami tuan, Ben." Ansel menyapa kliennya yang sudah menunggu.
"Selamat datang tuan Ansel, tidak apa-apa. Mari silahkan." Ben menyambut ukuran tangan Ansel dan mempersilahkannya untuk duduk.
Disana tidak hanya ada Ben, dia datang bersama dengan dua orangnya. Salah satu orangnya tersebut merupakan sekretaris pribadinya, namun usianya terlihat sangat jauh berbeda dengannya. Menggunakan pakaian yang cukup minim, membuat Ansel menjadi tidak nyaman. Sedangkan Era, ia juga merasa tidak nyaman saat mendapatkan tatapan yang tidak biasa dari orangnya Ben yang satu lagi. Dia adalah Zayyan, orang kepercayaannya Ben, dan hal tersebut dapat ditangkap oleh mata emangnya Ansel.
"Bisa kita mulai saja, tuan Ben. Lebih cepat akan lebih baik untuk pembahasannya, silahkan." Ansel dengan muka datarnya, memulai percakapan.
"Anda benar sekali, tidak baik jika membuang waktu sia-sia. Diana, kamu paparkan menemani proposal kita." Ben mengarahkan Diana untuk menjelaskan produk milik perusahaan mereka.
"Baik tuan. Tuan Ansel, saya akan menjelaskannya." Diana mulai menjelaskan apa yang sudah menjadi tujuan mereka untuk bertemu.
Namun, sikap Diana benar-benar sangat tidak patut untuk dilihat. Awalnya ia menyampaikan dengan baik dan juga sopan, lama kelamaan. Guratan wajah yang mulai memperlihatkan rayuan serta godaan kepada Ansel, melalui kedipan mata dan juga bahasa gerakan tubuh yang sangat menggoda.
Entah hal tersebut sudah direncakan atau hanya keinginan individu semata, namun Ansel sudah terbiasa dengan hal tersebut. Bukan kali ini saja ia dihadapkan dengan yang seperti ini, bahkan ada yang sampai menawarkan pada dirinya hal yang lebih jauh.
"Ra, tanggapan kamu mengenai penyampiannya, bagaimana?" Dengan santainya, Ansel membisikan pada Era.
"Mengenai produk, penampilan, atau yang mana tuan?" Era juga bingung mau memberikan jawabannya.
"Yang mana saja, asalkan bisa membuat pertemuan ini cepat berakhir. Sampaikan saja." Ansel dengan sikapnya yang tenang.
__ADS_1
Dari Era sedikit berkerut, namun hal tersebut tidak terlihat. Bagaimana bisa ansel mengatakan hal tersebut disaat seperti ini, Era kembali harus menggunakan pikirannya dengan bijak.
"Maaf sebelumnya nona Diana, saya ingin menanyakan mengenai tujuan dari pengadaan barang yang tidak anda sebutkan namun tertera dalam berkas. Bisa anda jelaskan maksudnya?" Era yang mengamati berkas ditangannya, mendapati ada yang tidak sama dengan pemaparan yanh ia lihat.
Sudut mata elang itu melirik dengan sangat tajam, namun berbeda dengan bibir yang bergerak membentuk senyuman tipis hampir tidak terlihat. Ansel merasa sedikit tertarik dengan apa yang dilakukan oleh sekretarishya itu, jujur saja jika ia amati secara seluruhnya. Memang ada benarnya apa yang ditanyakan oleh E0ra, dan itu membuat Ansel semakin tersenyum.
Dan Diana, disaat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Membuat dirinya menjadi panik, karena hal tersebut akan memang tidak ada didalam berkas tersebut. Akan tetapi karena adanya keteledoran dirinya, sehingga muncullah mengenai pengadaan barang disana. Ketika ia melihat ke arah bosnya, yaitu tuan Ben. Maka seketika wajah serta tatapan membunuh itu terlihat.
"Bisa anda tunjukkan nona? Sepertinya saya tidak pernah menuliskannya, anda tahu sendiri kan. Jika tidak ada yang kita lampiran dalam proposal maupun berkas lainnya, itu jelas tidak akan dibahas juga disaat paparan." Diana seolah-olah terlihat begitu pintar dan bijak.
"Maaf jika saya salah, anda bisa melihatnya sendiri pada lembaran setelah penjelasan mengenai produk. Kalimat tersebut tidak tertera disana, biasanya akan terlampirkan setelah penjelasan mengenai produk tersebut." Era menunjukkan lembaran yang ia bicarakan dihadapan Ansel dan juga klien mereka.
Dimana diketahui, jika dalam pemaparan telah disampaikan. Maka akan terlampirkan juga para berkas yang ada, jika hal tersebut tidak terlampir dan disahkan melalui keabsahan dari kedua belah pihak. Sudah dapat dipastikan tidak akan bisa tuntutan apapun untuk melawannya, karena semuanya sudah sangay jelas.
"Bagaimana tuan, Ben? Apakah pertanyaan dari sekretarisku bisa kalian jawab?" Ansel tersenyum penuh penekanan.
"Tuan Ansel, sepertinya ada sedikit kesalahan yang dibuat oleh sekretarisku. Hal itu tidak akan berpengaruh dengan kerjasama kita nantinya, yang penting itu adalah kerjsamanya kan." Ben mencoba untuk menyakinkan Ansel agar tidak membuat pertemuan tersebut menjadi sia-sia saja.
"Selama menjalin kerjasama selama ini, anda sangat mengetahui seperti apa saya, tuan. Orang-orangku tidak mungkin melewati sedikit saja kesalahan yang ada, sepertinya pertemuan ini cukup sampai disini." Ansel menatap tajam pada Ben.
Dalam sorot matanya, Ben pun tak kalah malu dan dirinya merasa direndahkan oleh Ansel. Memang terbukti terdapat kesalahan dalam pengajuan berkas untuk menjalin kerjsama diantara mereka, pada awalnya mereka yakin jika pihak Ansel tidak akan menemukan kejanggalan tersebut. Namun ternyata, waktu dengan pakaian yang sangat tertutup. Mata elang milik Era tidak bisa melewati kejanggalan tersebut, yang dimana berakhir dengan keputusan tidak ada kerjasama diantara mereka.
Ansel beranjak dari tempatnya, mengintruksi pada Era agar bergegas untuk pergi. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan tempat tersebut, Diana dengan seluruh kemampuan yang ia miliki segera menghadang langkah Ansel.
__ADS_1
"Tunggu tuan, maafkan kami. Kami sudah lalai dengan hal tersebut. Maafkan kami, tolong berikan kami kesempatan tuan. Saya mohon." Dengan menggunakan kemampuannya dalam merayu, Diana mencoba untuk meluluhkan hati dari pemilik Goldprez.
Bagi Era, hal yang sedemikian itu sudah menjadi rahasia publik, namun ia berpura-pura saja tidak melihatnya. Yang aneh baginya adalah, kenapa Ansel malah meliriknya dan tersenyum.
...Eh, kenapa tuan malah tersenyum seperti itu? Aneh, bukannya melihat lawan bicaranya....
"Menurutmu, bagaimana Ra?" Ansel bergumam namun wajahnya tidak berpaling dari menatap keteduhan yang berasal dari balik kain yang menutupi wajah tersebut.
"Maksud tuan? Kenapa saya yang ..."
"Tolong saya tuan Ansel, jika proyek kerjasama ini gagal. Saya akan kehilangan pekerjaan, tolong saya tuan." Diana semakin gencar menggoda Ansel, walaupun sebenarnya berhasil atau tidaknya proyek kerjasama itu. Tidak akan berpengaruh juga padanya.
Dari kejauhan, Zayyan masih menatap ke arah mereka. Hal tersebut tidak luput dari pengamatan Ansel, dimana ia menggunakan tubuhnya yang bisa menutupi sebagian tubuh target yang Zayyan lihat. Sedangkan Ben, dia memilih pergi terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
"Sayang, bagaimana penilaianmu?" Tiba-tiba saja, Ansel menggunakan kalimat tersebut sehingga membuat Diana maupun Era menjadi kaget.
Karena hal tersebut, membuat Era mau tidak mau menjadi menatap wajah pria yang sudah membuat hatinya tidak karuan. Ingin marah, ia masih takut dan memikirkan kehidupan dirinya dan sang adik.
"Tuan! Astaghfirullah, terserah anda saja." Era berjalan menjauh, sungguh saat itu ia ingin memukul kepala Ansel.
Kepergian Era, membuat hati Ansel terhibur. Sungguh dengan melihatnya seperti itu, menambah rasa gemasnya semakin besar pada wanita itu. Lalu pandangan itu beralih menatap tajam kepada wanita yang sudah terlihat kelicikkannya, begitu santainya ia mengeluarkan kalimat tajam.
"Wanitaku lebih pintar dan begitu menjaga dirinya, katakan pada tuanmu. Jika kerjasama ini tidak akan terjadi, dan kau. Sadar diri lebih penting." Ansel berlalu meninggalkan Diana yang masih terdiam.
__ADS_1