
Saat ponsel itu sudah beralih pada tangan kekar milik Ansel, hal tersebut membuat Era kaget dan bermaksud untuk mengambil kembali benda tersebut. Namun Ansel terlebih dulu memberikan isyarat padanya dengan satu jari telunjuknya didepan bibir miliknya, menandakan jika dirinya harus diam.
Suara yang terus berbicara tanpa henti, membuat Ansel merasa penasaran lalu menempelkannya di daun telinga miliknya. Ketika suara itu terdengar sangat jelas, membuat kedua bola mata Ansel berputar dengan malas. Hembusan nafas kesalnya sangay cepat, mengenali siapa pemilik dari suara tersebut.
"Kami masih bekerja, jangan terus-terusan menganggunya. Atau abang akan mengadukan semuanya pada mommy."
" Abang! Ish, Ayu mau ngobrol sama kak Era. Kenapa malah abang ambil? Abang menjengkelkan." Mengetahui jika ponsel tersebut sudah berpindah tempat, Ayu pun memutuskan obralan tersebut dengan cepat.
Memastikan obrolan tersebut yang sudah berakhir, Ansel mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.
"Maafkan adikku, dia hanya ingin bertukar cerita padamu. Aku akan menghantarkanmu pulang." Ansel membereskan sedikit barang pribadinya dan melangkah menuju lobby.
Tidak ada yang Era katakan untuk menolak ataupun menerima ajakan tersebut, bagaimana pun juga ia menolaknya. Ya ada Ansel semakin membuatnya sakit kepala, selama perjalanan menuju rumahnya. Baik Ansel maupun Era tidak saling berbicara, dan ketika telah sampai pun. Mengucapkan terima kasih dan mereka pun berpisah.
"Terima kasih tuan." Era sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada bosnya itu.
"Hhmm, masuk dan berisitirahatlah. Besok akan banyak jadwal yang membutuhkan energi, Assalamu'alaikum. " Melajukan kendaraannya menjauh.
"Wa'alaikumussalam."
Memastikan mobil Ansel telah jauh, Era bisa bernafas lega. Padahal sepulang dari bekerja, ia berniat untuk mengunjungi sang adik. Akan tetapi, Ansel seakan mengerti akan kekhawatirannya itu. Lalu ia mengatakan jika Ejaz sudah ada yang menjaganya, menampilkan panggilan video melalui orang kepercayaannya. Membuat Era mempercayai semuanya itu, walau hati kecilnya masih tetap ingin melihat Ejaz.
"Hei Ra, baru pulang kamu?" Sapa salah satu tetangga disana, tante Lina.
"Iya tante, baru pulang." Jawab Era dengan memberikan senyuman.
__ADS_1
"Siapa itu? Kayaknya orang kaya, kamu ini. Tidak baik berdua-duan seperti itu, jaga harga diri dan nama orangtuamu. Jangan setelah mereka tidak ada, kamu malah semakin tidak terkontrol." Lina dengan mulut pedasnya mengharapkan Era.
"Iya tante, maaf kalau membuat tante tidak nyaman. Maaf saya mau masuk duluan, permisi." Era memilih untuk menjauh dari tetangganya itu, karena ia tahu karakter dari mereka.
" Hei, kamu ini kalau dinasehati kok malah lari. Tampang saja tertutup, tapi kelakuannya tidak sesuai. Huh!" Lina serasa belum puas untuk melampiaskan amarahnya.
Tetangga bernama Lina, adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang selalu mencari huru hara dengan tetangga lainnya, jika tidak ada bahan untuk ia bicarakan. Maka akan ada saja sikapnya yang membuat orang lain jengkel, namun semua orang diwilayah tersebut sudah mengetahui dan memaklumi karakter tersebut. Hanya belum saja ada yang tepat untuk menjadi lawannya, karena semua orang disana sudah malas untuk berdebat dengannya.
Meninggalkan sapaan Lina padanya, Era hanya bisa menghela nafasnya. Beristighfar sebanyak-banyaknya. Hari ini, bagi dirinya sudah cukup melelahkan. Membersihkan diri dan menampakkan semua Keluh kesahnya hanya kepada sang Khalik, dengan hal tersebut dirinya mendapatkan ketenangan yang tidak bisa diungkapkan.
Keesokan harinya, dengan seperti biasanya. Era berangkat bekerja menggunakan angkutan umum berubah bus, berangkat lebih awal agar tidak terlalu berdessakkan dengan orang lain yang juga beraktivitas. Setibanya diperusahaan, mengabsen kehadiran lalu melangkah menuju ruangannya. Namun, disaat berada didalam ruangan absen. Banyak sekali mata dan gumaman yang terdengar sedikit menyesakkan dada, berusaha berbesar hari untuk tidak terlalu larut dalam hal tersebut. Mempercepat langkahnya menuju lift, agar segera sampai ditempatnya. Menggunakan lift khusus milik CEO, maka semakin banyak pula deras desus mengenai dirinya.
Ya Allah, apalagi ini. Kuatkan dan lapangkanlah hati ini.
Pintu lift terbuka, dimana ia telah sampai di lantai yang khusus untuk CEO mereka dan beberapa staff khusus seperti Nayaka dan dirinya. Betapa kagetnya Era melihat bangunan dihadapannua sedikit mengalami perubahan, ruangannya tetap menyatu dengan ruangan utama. Akan tetapi, ada sekat yang seperti kaca trasparan sebagai pemisahnya.
"Selamat pagi, nona. Ini, jadwal baru untuk hari ini. Pastikan tuan Ansel tepat waktu untuk bertemu dengan klien kita, biasanya dia akan molor waktu sangat banyak. Mohon kerjasamanya." Nayaka lalu pamit menuju ruangannya.
"Ah iya, terima kasih." Menerima catatan tersebut dan sedikit membacanya.
Memulai harinya dengan niat untuk bekerja, Era mulai menyusun semua jadwal yang akan dilakukan oleh bosnya. Cukup padat untuk hari ini, dimana membuat dirinya harus bekerja ekstra.
Disaat menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa, ketika itu juga ponsel miliknya bergetar.
"Tuan Ansel?" Era merasa kaget, ada apa tuannya itu menghubunginya. Lalu menggeser ikon berwarna hijau dilayarnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, halo tuan."
"Wa'alaikumussalam, siapkan berkas-berkas yang akan digunakan. Sekalian kamu bawakan berkas di amplop berwarna biru diatas mejaku, lalu turunlah. Aku menunggumu di lobby." Setelah mengatakan hal tersebut, pembicaraan mereka terhenti karena Ansel sudah memutuskannya terlebih dulu.
Tidak ingin membuat tuannya menunggu lama, Era bergegas menyiapkan semuanya dan segera menyusul. Namun Lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan tatapan aneh dari beberapa karyawan lainnya, setibanya ia di lobby.
"Sudah siap semuanya?" Tiba-tiba Ansel sudah berada dihadapannya.
"Iya tuan, semuanya sudah siap." Jawab Era dengan sedikit bergetar karena kaget.
"Ya sudah, ayo berangkat. Nay, kamu pegang alih semuanya." Ujar Ansel pada asistennya dan berjalan menuju mobil.
"Siap tuan."
Menghantarkan kepergian Ansel depan Era, lalu Nayaka bermaksud untuk kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Akan tetapi, disaat ia akan menuju lift. Banyak sekali suara sumbang yang cukup membuat telinganya terasa panas, tatapan tajam itu langsung mengarah ke sumber suara.
"Masih ingin bekerja atau mulut kalian akan aku ledakan! Bubar!" Tegas Nayakan yang mendapati beberapa karyawan wanita sedang asyik bergosip.
Sedangkan para karyawan tersebut sontak saja menjadi ketar ketir saat mendapati orang kepercayaan dari pimpinannya berada disana, apalagi mengetahui jika mereka sedang membicarakan seseorang yang sedang dekat dengan pimpinannya.
"Ma maafkan kami tuan, kami akan kembali bekerja." Salah satu karyawan segera bergegas meminta maaf dan berlalu dari sana.
Dan yang lainnya, mereka hanya menundukkan sebagian tubuhnya dan mengikuti jejak karyawan sebelumnya untuk segera pergi dari hadapan Nayaka. Hal tersebut membuat Nayaka menarik nafas terberatnya, menghembuskannya dengan cepat dan sedikitp memijat keningnya.
"Benar-benar kamu Ansel, belum juga menyatakan perasaan. Tapi gosipnya sudah menyebar kemana-mana, bisa panjang urusannya jika dia tahu hal ini. Huh, menambah pekerjaanku saja." Nayaka bergegas masukmke dalam lift dan kembali keruagannya.
__ADS_1