
Selepas pemindahan telah selesai, Kiya ingin menginap dimansion milik Ansel. Akan tetapi, pria yang sudah memberikannya tiga buah hati itu seakan tidak rela jika sang istri terlihat lelah.
" Mom, pulang saja. Beristirahatlah dengan baik, besok masih bisa kemari." Ansel mendekati wanita yang begitu ia cintai.
"Tapi bang, nanti kalau Era butuh apa-apa. Siapa yang akan membantunya? Kan kalian bukan mahram, walaupun situasinya seperti ini nak." Kiya mempunyai alasan tersendiri untuk keputusannya.
"Sayang, percayakan semuanya pada mereka berdua. Jika berani melakukan hal yang membuat mommy mu bersedih atau menanggis, abang tahu kan apa yang akan daddy lakukan." Azzam melirik putra sulungnga itu.
"Tapi mas..."
"Mom, percaya sama abang. Momny tahu abang seperti apa, bukan? Abang akan menjaganya dengan baik." Ansel mencoba menyakinkan Kiya akan apa yang menjadi ketakutannya.
Terjadi sedikit perdebatan diantara keluarga itu, membuat Davin memilih untuk beristirahat sejenak dari rasa lelahnya hari ini. Untuk kesekiannya, akhirnya Kiya menyerah. Mereka pun pulang, walau terasa berat saat kaki Kiya akan melangkah.
Setelah melepas kedua orangtuanya untuk pulang, Ansel lalu menghampiri tempat dimana wanitanya sedang berbaring dengan menutup mata. Dengan bersandar pada kursi sofa yang diletakkan pada sisi samping tempat tidur, mempermudah bagi yang menjaga untuk beristirahat.
Bagaimana bisa kamu melakukan hal ini? Mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku, namun dirimu sendiri yang terluka.
Sebelum Davin berisitirahat, ia melakukan pengecekkan pada kondisi Era. Memastikan tidak ada yang ditakutkan, lalu ia melanjutkan untuk beristirahat kembali. Begitu pun untuk Ansel, ia yang masih berada di sofa dan bertujuan menjaganya. Pada akhirnya ia ikut terlelap, dengan posisi bersandar dan kedua tangan bersedekap didepan dada.
Saat fajar menjelang, kedua mata sayu itu perlahan bergerak dan terbuka. Menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke mata, membuatnya harus menyipitkan matanya.
Mendapati ruangan yang cukup asing baginya, Era perlahan melihat kesegala sisi ruangan tersebut. Hingga tidak sengaja ia menangkap bayangan seseorang yang sedang duduk dengan mata terpejam, pada sofa disisi tempat tidur. Ya, dia adalah Ansel.
"Tenggorokanku terasa kering." Era melihat ada gelas berisikan air di atas nakas.
Akan tetapi ia ragu untuk mengambilnya, karena luka pada tubuhnya masih sangat terasa perih. Untuk membangunkan Ansel juga rasanya tidak mungkin, karena wajah pria itu terlihat begitu lelah. Era juga merasa senang, karena dirinya masih menggunakan hijab. Ia tidak tahu jika Ansel lah yang berperan untuk selalu melindunginya, bahkan untuk hal sekecil apapun.
__ADS_1
Tidak ingin merepotkan orang lain, Era dengan perlahan turun dari tempat tidurnya. Dengan rasa perih yang cukup lumayan jika diungkapkan, namun ia akhirnya bisa melakukannya.
"Alhamdulillah, ini sudah jam berapa ya? Aku belum, sholat." Era berusaha kembali ke atas tempat tidur.
Milihat jam yang memasuki waktu untuk sholat, Era segera melaksanakannya. Bertayamum pun Era lakukan, karena dirinya tidak memungkinkan untuk berwudhu. Menggunakan benda yang ada, ia pun melaksanakan kewajibannya.
Disaat Era melaksanakan sholat, telinga Ansel samar-samar mendengar suara yang menurutnya sangat ia kenal. Ia pun perlahan membuka mata, cukup kaget ketika melihat orang yang sebelumnya masih terbaring lemah diatas tempat tidur.
"Ra, kamu sudah sadar?" Ansel yang memastikan jika apa yang ia lihat itu adalah benar adanya.
Tidak ada jawaban apapun dari wanita mungil itu, hanya gerakan bibir dan beberapa anggota tubuh lainnya. Membuat kening pria yang menjaganya semakin berkerut.
"Ra, Era. Hei, jangan membuatku takut seperti ini. Era!" Ansel yang kesabarannya setipis tissue akhirnya menyentuh pundak Era.
"Hei, buka matamu. Era!" Ansel terus mencoba menyadarkan.
"Kamu, kamu sudah sadar. Kamu tidak apa-apakan?"
"Iya tuan, alhamdulillah. Saya sedang sholat tuan, anda menyentuh saya. Jadinya batal semuanya." Gerutu Era yang memasang wajah cemberutnya.
"Ah maaf, aku tidak tahu. Aku kita kamu kenapa-napa, mulutmu komat kamit seperti itu. Siapa yang tidak, khawatir." Ansel menyandarkan punggungnya kembali di sofa.
Perasaan lega akan kondisi wanita yang berada dihadapannya ini, walaupun dirinya merasa jadi malu sendiri atas sikapnya yang konyol. Disaat Era meneruskan untuk mengulang kembali sholatnya, Ansel segera menghubungi Davin untuk mengabarkan jika Era sudah sadar.
Pemeriksaan dilakukan dengan bantuan dari dokter wanita, yang merupakan sahabat mereka juga bernama Yohana. Ansel seakan tidak rela jika ada laki-laki yang menyentuh Era, cukup saat wanita itu berada dalam keadaan dan situasi darurat sebelumnya.
"Keadaannya cukup baik sampai saat ini, jangan memaksakan untuk bergerak ataupun turun dari tempat tidur jika itu tidak kepepet. Apa gunanya laki-laki berbadan besar ini disini." Yohana melirik Ansel dengan sedikit seringai.
__ADS_1
"Jangan mulai untuk berdebat, Yohana. Vin, bawa dia pergi. Telingaku berdengung mendengar suaranya." Sanggah Ansel atas sindiran dari Yohana.
"Tumben, Vin. Manusia batu ini protes, biasanya akan diam saja lalu pergi. Wah, kamu benar-benar top Ra. Hahaha." Yohana akhirnya tertawa dengan bebas.
"Mmpphh hahaha, sorry Sel." Davin pun tak tahan untuk tertawa.
"Kalian berdua, keluar!" Ansel menarik kedua lengan dokter tersebut untuk keluar, lalu pintu pun tertutup rapat.
Ingin rasanya Era juga ikut tertawa, memang benar adanya dengan apa yang dikatakan oleh Yohana mengenai Ansel. Hanya saja, ia harus menahan tawanya agar lukanya tidak terasa sakit dan menjaga perasaan dari tuannya.
Tahk!
"Aduh! Tuan." Tiba-tiba saja Ansel menyentil kening Era.
"Kalau mau tertawa, ya tertawa saja. Senang sekali sepertinya menertawaiku." Dengan wajah dinginnya, Ansel berdengus kesal.
"Huh, maaf tuan Ansel. Tidak baik marah, nanti bisa-bisa anda akan tidak terkendali. Mmm, tuan. Bagaimana kondisi Ejaz?"
"Aku tidak marah padamu, hanya kesal pada dua dokter sialan itu. Tadi mommy bilang, jika kondisi Ejaz sudah semakin membaik. Dia juga sudah dipindahkan ke ruangan perawatan biasa." Ansel mendekatkan dirinya pada sisi tempat tidur.
Mendapati Ansel yang merapat, membuat Era kaget dan bingung. Pria itu selalu tidak bisa ditebak, suka sekali membuat orang jantungan.
"Alhamdulillah, tu tuan mau apa?"
Tubuh mungil itu bergetar, jika saja ia tidak kesulitan dalam bergerak. Maka ia akan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut, namun saat ini lukannya begitu terasa menyakitkan saat bergerak. Apalagi sebelumnya ia begitu nekat untuk turun dari tempat tidur, dan kini ia berusaha menggeser tubuhnya agar tidak berdekatan.
"Hhmm, maaf. Karena menolongku, kamu jadi seperti ini." Ucapan itu sangat tegas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa tuan, saya juga spontan. Hanya saja, mungkin ini sudah takdirnya." Era merasakan jika saat ini, Ansel begitu merasa bersalah padanya.