
"Pagi mom, dad." Sapa Ayu yang baru saja bergabung dengan kedua orangtuanya untuk sarapan pagi.
"Pagi sayang, abang sudah bangun?" Tanya Kiya yang tidak mendapati putra sulungnya.
"Loh, memangnya abang pulang ya mom?" Ayu kembali bertanya.
Sebelum pertanyaan itu tertawa, terdengar suara langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga. Langkah itu semakin terdengar semakin mendekat, dia adalah Ansel.
"Pagi mom, dad." Sapa Ansel lalu mengusap puncak kepala sang adik.
"Abang! Huh, berantakan lagi ni rambut." Ayu memprotes sikap Ansel tersebut.
"Sudah, sarapan saja dulu." Azzam menghentikan perdebatan diantara kedua anaknya.
Suasana pagi itu sangat berbeda, karena kehadiran Ansel di mansion utama namun keberadaan Arick yang tidak terlihat. Hal itu sudah terbiasa terjadi, karena Arick akan selalu melewati sarapan paginya. Tapi tidak bagi Ansel, semenjak ia mendirikan perusahaan dan sangat berkembang. Tak berapa lama kemudian ia memutuskan untuk hidup mandiri, menempati sebuah penthouse mewah miliknya sendiri.
"Bagaimana perusahaanmu, Ansel?" Azzam mengeluarkan suaranya setelah waktu sarapan selesai.
"Cukup baik, dad." Ansel memang sangat irit dalam berbicara.
"Bang, nebeng ya." Sela Ayu.
"Sayang, abang dan daddy masih ngobrol. Kamu berangkat dengan paman Jaka saja ya." Kiya menengahi putrinya yang sedang mencari perhatian dari abangnya.
"Tidak apa-apa mom, boleh saja. Setelah abang selesai bicara sama daddy. Bersiaplah." Ujar Ansel dengan senyuman yang cukup membuat wanita meleleh.
"Iya abangku yang baik hati, maaf mom. Ayu lagi malas berangkat sama paman Jaka, serasa lagi sama balok kayu berjalan. Hahaha." Ayu segera berlari menuju kamarnya untuk bersiap pergi ke sekolah.
Baik Kiya maupun Azzam hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap putri bungsunya itu, namun bagi Ansel itu adalah perhatiannya bagi sangat adik. Berpindah ke ruangan keluarga, Ansel sedang berbicara yang cukup serius dengan Azzam. Membahas mengenai persoalan yang kini sedang dihadapi oleh dirinya, membuat Ansel ingin menyelesaikan hal tersebut sendiri. Namun apa daya, kalau daddy nya sudah terlebih dahulu mengetahuinya.
"Kau terlalu tenang bang, bahkan daddy dulu tidak seperti mu. Kau memiliki ketenangan seperti mommy." Azzam membuka suaranya ketika Ansep terlihat engan untuk bercerita.
__ADS_1
Saat itu, Ansel lebih memilih memandangi sang mommy yang sedang berjalan menuju taman kesayangannya. Hanya Kiya yang bisa mengambil hatinya sampai saat ini, karena dirinya memiliki jiwa seperti daddy nya.
"Jangan terlalu tajam melihat mommy, daddy akan menghancurkan isi kepalamu bang." Sindir Azzam yang mulai timbul jiwa posesifnya.
"Huh, daddy daddy. Abang hanya memberikannya waktu untuk bernafas lebih lama, tapi tidak untuk selanjutnya." Seringai Ansel atas ucapan Azzam padanya.
"Bergeraklah dengan menyusun rencana terlebih dahulu, dia sangat pinta untuk menghilang. Lanjutkan saja, daddy ingin bersama mommy kalian." Azzam menepuk pundak Ansel dan berlaku menghampiri istrinya.
Tiba-tiba saja disaat mereka sedang mendiskusikan berbagai hal mengenai bisnis dan perusahaan, datanglah salah satu pelayan mendekati keduanya.
"Maaf tuan besar, tuan muda. Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan muda." Ujar pria paruh baya itu menjelaskan.
"Siapa?" Ansel yang menaikan salah satu alis matanya, tidak biasanya ada yang mencari dirinya di mansion utama.
"Maafkan saya tuan, tamu tersebut adalah seorang wanita. Dia adalah nona Alisha."
Tidak hanya Ansel yang kaget, namun Azzam juga ikutan kaget. Mereka mengetahui siapa pemilik dari nama tersebut, karena sudah beberapa kali orang tersebut datang ingin bertemu dengan Ansel.
"Stop dad." Ansel yang merasa sorotan mata Azzam semakin tidak mengenakan.
"Selesaikan, daddy mau menemani mommy. " Azzam meninggalkan putranya dan beralih kepada sang istri.
Mau tidak mau, Ansel harus menemui tamunya. Jika tidak, maka Kiya akan menceramahinya. Karena kata sang mommy, tamu yang datang adalah orang yang harus diperlakukan dengan baik. Akan tetapi, pemikiran itu tidak sejalan dengan apa yang Ansel pikirkan.
Berjalan dengan cukup malas menuju ruang tamu, disaat akan tiba disana. Sudah terlihat siapa orang tersebut, Lagi-lagi membuat Ansel membuang nafas beratnya dengan cepat.
"Apa tujuanmu datang kemari?" Ucap Ansel dari kejauhan.
"Ansel! Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu, aku sengaja langsung datang kemari dari bandara. Aku belum pulang kerumah, sengaja aku mengkhususkan untuk bertemu denganmu." Ujar wanita tersebut dengan nada suara yang sudah bercengkok manja.
Alisha Gutama, putri tunggal dari pemilik perusahaan Gutamation yang cukup terkenal dikalangan bisnis besar. Ia juga menjadi teman Ansel saat menuntut ilmu di universitas, wanita itu sangat menyukai Ansel. Hampir dari semua yang berada di universitas tersebut mengetahui jika Alisha menyukai Ansel, jika ada wanita lain yang mendekatinya. Maka mereka akan menjadi bahan permainan dari Alisha dan kelompoknya, tidak ada yang berani untuk melawan maupun membalas apa yang dilakukan olehnya. Karena akan sia-sia saja, jadi semuanya hanya diam dan tidak ingin mencari permasalahan dengan Alisha.
__ADS_1
Ansel hanya diam dan tidak menanggapi apapun dari ucapan Alisha padanya, bahkan untuk menatapnya saja rasanya begitu enggan. Mendapati Ansel yang hanya terdiam, membuat Alisha berinisiatif untuk mendekatinya.
"Aku ada oleh-oleh untukmu, Ansel." Alisha sudah berada dihadapan Ansel.
"Menjauhlah, letakkan saja semuanya itu di atas meja. Nanti akan ada pelayan yang menerimanya, jika kau tidak ada keperluan yang lainnya. Silahkan pulang." Ucapan Ansel benar-benar seperti mata pisau yang tajam.
"Ansel! Ini semuanya barang-barang yang sangat mahal, masa harus diletakkan begitu saja." Alisha dengan memberikan wajah cemberutnya.
"Tidak ada yang memintanya, pulanglah." Ketus Ansel yang sudah begitu muak
Seakan tidak terima dengan apa yang dilakukan Ansel padanya, Alisha masih tetap kekeh untuk bertahan. Sampai saatnya dimana Ayu yang telah bersiap untuk berangkat ke sekolah, turun dari anak tangga dan mendekati Ansel.
"Bang, ayok!"
"Hhmm, pamit dengan daddy dan mommy dulu." Ansel berjalan menuju taman dimana kedua orangtuanya berada.
"Eh, ada tamu rupanya. Siapa ya?" Ayu yang melihat Alisha dengan sangat tajam.
"Kamu Ayu, adik bungsu Ansel ya! Perkenalkan, aku Alisha. Teman wanita Ansel." Dengan percaya dirinya memperkenalkan diri.
"Yakin?" Seringai Ayu mempertajam aura tidak biasa.
Karena dari melihat tampilan serta gaya bicaranya, membuat Ayu tidak menyukai Alisha. Walaupun itu adalah pertemuannya yang pertama, ia segera menyusul Ansel. Berpamitan dengan kedua orangtuanya dan berjalan tanpa memperdulikan lagi keberadaan Alisha disana.
"Ansel, tunggu!" Alisha mengejar Ansel yang sudah memasuki mobil bersama sang adik.
Tanpa memperdulikan teriakan Alisha, Ansel terus melajukan mobilnya. Kaca pada bagian samping dari kemudi terbuka, memperlihatkan wajah Ayu yang tersenyum.
wwuueekk!!!
Ayu menjulurkan lidahnya kepada Alisha, terlihat jika wanita itu menjadi geram dan berteriak tidak karuan. Hal itu membuat Ansel menyeringai dengan senyuman tipisnya, menggeleng-gelengkan kepala akan sikap si bungsu.
__ADS_1