
Saat mendapati wanita yang kini berada didalam dekapannya tidak ada pergerakan sama sekali, membuat Ansel panik. Apalagi disaat ia mendapati cairan berwarna merah dan itu berasal dari tubuh mungil tersebut. Bobby yang kala itu sedang mengemudikan mobil pun ikut kaget, Ketika Ansel berteriak jika Era terluka.
Memutar haluan menuju rumah sakit terdekat untuk mencari pertolongan secepat mungkin, melewati berbagai kendaraan yang ada. Bobby menjadi ikutan panik, dikala Ansel yang berubah menjadi tidak terkendali ketika hal ini terjadi pada seseorang yang Bobby belum terlalu mengenalnya.
"Bre***ek!! Cari mereka sampai dapat, akan aku hancurkan kau Ray! Argh!!! Cepat Bob!" Teriak Ansel yang begitu khawatir akan keadaan wanita yang ia cintai.
Tangan kekar itu tanpa sadar membuka jas yang ia kenakan, melepas kemejanya dan menekannya pada luka yang bersarang pada pinggang bagian samping tubuh mungil itu. Entah mengapa, kedua mata Ansel memerah dan panas. Air hati tak terhenti lagi untuk menetes, baru kali ini Ansel menanggis karena wanita selain dari momny serta sang adik.
"Bagaimana bisa kamu menahannya selama ini, Ra? Kenapa kamu mengorbankan dirimu sendiri untukku, maafkan aku." Dada itu semakin terisak dengan kondisi yang ada.
Gerakan menghalangi serangan yang ditujukan pada Ansel menggunakan tubuhnya, membuat Era kini harus menerima dua tusukan pada pinggang bagian samping kiri dan juga perut bagian depannya. Ekpresi rasa kesakitan yang ia terima terhalang oleh kain yang menutupi wajahnya, sehingga hanya dirinya sendiri yang merasakan kesakitan tersebut.
Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, wanita mungil itu memilih memberikan tubuhnya untuk menutupi tubuh kekar didepannya. Terhindar dari serangan orang yang merupakan suruhan dari musuh mereka, namun mengakibatkan orang lain terluka.
Ketikan mobil tersebut telah tiba dirumah sakit, dengan rekan cepat. Ansel membawa Era menuju ruang gawat darurat, pikirannya begitu kalut saat dirinya tidak diperbolehkan masuk untuk menemani.
"Biarkan aku masuk! Kenapa kalian menghalangiku? Buka pintunya, buka!" Ansel terus mengedor pintu ruangan tersebut dengan penuh rasa amarah.
Jika saja tidak ada Bobby disana, sudah dapat dipastikan Ansel sudah menghancurkan seluruh isi dari ruangan tersebut. Dengan tubuh yang tidak jauh berbeda dengan bentuk tubuh Ansel, namun kekuatan dirinya masih kau berbeda dengan tuannya.
"Tuan, biarkan mereka menangani nona. Ayo tuan, lebih baik kita menunggunya disini." Bobby membawa Ansel untuk duduk dikursi tunggu yang berada didepan ruangan darurat.
Wajah khawatir itu begitu terlihat jelas dari orang yang begitu dingin dan datar seperti Ansel, ketika itu ponsel milik Bobby bergetar. Pedro menghubungi mereka, sedikit menjauh dari tuannya untuk menerima panggilan telfon tersebut.
"Ya, hallo."
"Bagaimana keadaan disana, nona?" Suara Pedro yang bisa dibilang juga ikut khawatir.
"Masih ditangani oleh dokter, kalian?" Bobby juga menanyakan keadaan dari mereka semua.
"Keadaan disini sudah aman, jaga tuan dan nona. Kami akan segera menyusul, share lokasi."
__ADS_1
"Baik."
Kembali mendekati tuannya, Bobby berharap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak baik untuk nonanya. Karena jika hal itu terjadi, yang ada hanyalah peperangan besar diantara mereka.
Terdengar suara derap langkah seperti orang berlari mendekat, terlihat ada dua orang yang berpakaian seperti dokter dan satunya dengan pakaian biasa sedang menuju ruangan darurat.
"Dav, Davin!!" Panggil Bobby yang mengenali salah satu dari orang tersebut.
"Bobby? Loh, ada Ansel juga. Kenapa kalian bisa ada disini?" Davin, merupakan anggota mereka dan sebagai sahabat Ansel.
"Argh! Woi, apa-apaan ini. Sel, lepasin." Davin yang kaget dengan tiba-tiba Ansel menarik kerah dari pakain yang ia kenakan.
"Tuan! Tuan, lepaskan tuan." Bobby melerai keduanya dan mencoba melepaskan tangan Ansel dari Davin.
Dengam susah payah, akhirnya cengkraman tangan itu terlepas. Membuat Davin mengusap-usap lehernya yang terasa panas akibat gesekan dari pakain dirinya, Ansel benar-benar terlihat begitu kacau.
"Ada apa Bob? Kenapa kalian ada disini?" Davin mengulangi ucapannya.
Bingung dengan apa yang terjadi, membuat Davin menoleh ke arah teman satu profesi dan sahabatnya secara bergantian. Seakan-akan meminta penjelasan atas apa yang terjadi saat ini.
"Selamat nona Dav, dia ada didalam." Bobby menjawab ringkas.
"Tunggu, nona?" Memastikan jika apa yang ia dengar tidak salah.
Bobby bermaksud untuk menjawab dari ucapan yang Davin berikan, namun seketika Ansel berlutut dihadapan Davin dengan wajah yang sudah tidak karuan bentuknya.
"Aku mohon, selamat dia. Selamatkan dia, selamatkan dia Vin." Dengan wajah yang menunduk, Ansel memohon kepada Davin untuk menyelamatkan Era.
Sebenarnya, Davin yang tidak tahu tentang apa yang terjadi. Mendadak dihubungi oleh pihak rumah sakit yang sedang menangani pasien darurat, dikala ia sedang memberikan seminar dimulai rumah sakit tersebut. Mendapati sahabatnya berada didepan ruang darurat dan kini berlutut memohon padanya untuk menyelamatkan seseorang yang ia tidak tahu.
"Bangunlah Sel, kau terlihat seperti manusia bo**h seperti ini. Bob, bawa tuanmu ini untuk tenang dan duduk. Aku masuk dulu, siapapun pasien yang ada didalam. Sudah menjadi tugasmu untuk menyelamatkannya." Menepuk bahu Ansel sejenak lalu Davin bergegas masuk ke dalam ruang darurat.
__ADS_1
Cukup membutuhkan waktu yang tidak sedikit, selama lebih kurang dua jam lamanya mereka menunggu. Pedro dan juga beberapa orangnya sudah datang menyusul dan mengamankan lokasi, mereka tidak ingin terjadi serangan susulan dari pihak musuh.
Klek!!
Pintu tersebut terbuka, sehingga membuat Ansel dan lainnya selain yang berjaga menghampiri Davin. Dokter tersebut keluar dengan melepas topi dan juga masker yang dikenakan, memberikan tangannya sebagai tanda untuk tenang sejenak. Lalu terlihat jika brankar beserta pasiennya keluar dari ruangan tersebut, mata Ansel menbulat kala melihat kondisi Era.
"Tutup mata kalian!" Teriaknya dengan keras, sehingga orang-orang mereka mengerti dan menurutinya.
Begitu pula dengan Pedro maupun Bobby, mereka menuruti apa yang telah dikatakan oleh Ansel. Walaupun dalam hati mereka tidak mengerti, mengapa tuannya memerintahkan mereka semuanya untuk menutup mata.
Terlihat Ansel berbincang pada Davin, lalu sahabatnya itu tersenyum dan mengerti akan maksud dari apa yang Ansel teriakan. Brankar itu dipercepat menuju ruang ICU (intensive care unit), dimana kondisi pasien masih membutuhkan pengawasan khusus dari dokter dan juga tim medis. Baik Davin dan Ansel mengiringinya menuju ruangan tersebut.
"Bob, sudah boleh buka belum ni mata?" Pedro yang merasa sudah terlalu lama.
"Mana aku tahu, sudah diam." Bobby pun hanya menuruti perintah.
Mereka tidak menyadari jika tuannya sudah tidak ada disana, mereka semua pun masih menjalankan perintah yang telah diberikan. Terlalu lama mereka menutup mata, namun tidak ada yang berani untuk membukanya sebelum ada perintah lanjutan.
"Hei, kalian semuanya kenapa? Pake tutup mata segala." Suara khas Leon membuat semuanya mengenalinya.
"Lah, kamu tidak tutup mata apa. Tuan Ansel menyuruh kita semuanya untuk menutup mata." Bobby menanggapi ucapan Leon.
"Tuan Ansel? Kalian semuanya halusinasi ya, mana ada tuan Ansel disini. Hahaha." Tawa Leon pecah melihat kekonyolan mereka semuanya.
"Apa?! Jangan bercanda Leon, aku gamprat juga ni anak." Pedro ikut emosi.
"Hahaha, makanya buka tu mata." Tawa itu semakin nyaring.
Merasa ada benarnya dari ucapan Leon, dengan perlahan Bobby dan Pedro membuka kedua matanya secara perlahan. Memastikan apa yang diucapkan Leon itu benar atau tidaknya, betapa kagetnya mereka mendapati hal tersebut benar.
"Lah..."
__ADS_1