
Berada dalam posisi seperti ini, membuat Era menjadi ketakutan akan terjadi hal-hal yang tidak baik. Mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ansel yang cukup begitu kuat, bahkan terasa sekali jika genggaman itu terlalu menyakitkan di tangannya.
"Tidak ada yang berubah, pergilah sebelum aku melakukan hal-hal yang tidak diinginkan padamu. Pergi!" Bentak Ansel.
"Ansel! Apa karena wanita ini, kamu menjadi berubah hah!" Clara menunjuk menggunakan telunjuknya kepada Era.
Tatapan tajam seakan pemangsa sedang mengincar dan mengunci targetnya, membuat siapapun yang melihatnya akan menjadi takut. Clara sengaja melakukan hal tersebut, karena ia menganggap Era adalah penganggu sekaligus menjadi ancaman untuknya dalam mendapatkan Ansel.
"Jaga ucapanmu, Clara! Pergilah dari sini, jika kamu masih ingin hidup." Ansel memberikan ketegasan pada Clara, dimana ia tidak ingin Era terpengaruh akan kehadirannya.
"Tidak! Seharusnya dia yang pergi dari sini, bukan aku! Kenapa harus aku yang mengalah dari dia, apa sih yang membuat kamu jadi berubah seperti ini." Clara mendekati Ansel dan sengaja memeluknya dari arah belakang.
Mendapati hal tersebut, membuat Era semakin berada dalam situasi yang tidak baik. Ingin sekali ia pergi dari tempat tersebut, apalagi setelah mendengar ucapan Clara yang menganggap dirinya sebagai penyebab Ansel dan dirinya bertengkar.
"Lepas! Lepaskan tanganmu dari tubuhku, Clara!" Suara berat dan keras itu membuat orang-orang menjadi merinding.
"Tidak, aku tidak mau melepaskannya. Aku merindukanmu, Ansel. Aku mau kita seperti dulu lagi, apa kami lupa akan kebersamaan kita." Clara mengeluarkan kalimat yang cukup membuat orang lain menjadi menduga-duga.
Dari tempatnya berdiri, Era rasanya ingin memukul pria yang ada dihadapannya kini. Apalagi genggaman tangan Ansel masih begitu kuat, hingga pada akhirnya dirinya harus lebih banyak beristighfar akan hal yang terjadi saat ini.
"Argh! A Ansel, sakit." Erang Clara saat merasa lehernya mendapatkan tekanan yang sangat kuat.
Tangan kokoh yang sedang menganggur itu mencengkram dengan begitu kuat leher Clara, yang dimana seketika membuat wanita tersebut tidak dapat bernafas dengan baik. Apa yang dilakukan Ansel, membuat Era langsung membekap mulutnya. Ia tidak menyangka jika pria dingin itu dapat melakukan hal tersebut kepada wanita.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, jangan pernah muncul lagi dihadapanku!"
"Tu tuan, tuan lepaskan. Nona itu tidak bisa bernafas, tuan Ansel." Era sangat tidak tega jika terus-terusan melihat hal tersebut.
Mendapati ucapan tersebut, membuat Ansel mengalihkan pandangannya kepada sang pemilik suara. Dengan tatapan mata yang sudah berair, terasa begitu sakit melihatnya. Langsung saja, tangan yang sebelumnya mencengkram leher Clara itu terlepas. Berganti dengan menghapus air mata yang telah membasahi sebagian kain dari penutup diwajah teduh itu, tidak ada penolakan. Namun, ketika sang pemilik wajah itu tersadar.
"Astaghfirullah, tuan. Mmm maaf, maaf." Era mendorong tubuh kekar itu dan segera berlalu dari ruangan tersebut.
Ingin rasanya Ansel menahan laju kepergian Era dari sana, akan tetapi ia juga memahami situasi yang ada saat ini. Menghela nafas beratnya, Ansel kembali menatap wajah wanita yang sedang mengatur pernapasannya.
"Apa mau mu yang sebenarnya?" Ucap Ansel dengan wajah berpaling memandangi ke arah lainnya.
Berusaha menormalkan kembali nafasnya, Clara bangkit berdiri dan menghadapi tubuh Ansel. Menggunakan cara yang sudah terlanjur diketahui banyak orang, dalam mendapatkan perhatian. Clara mengeluarkan sifat manja dan juga ia bergelut manja pada lengan Ansel, seakan tidak kapok dengan apa yang sudah Ansel berikan sehingga mengulangi kembali kemarahan yang sempat mereda.
"Ini terakhir kalinya aku mengatakan dan mengingatkanmu, Clara. Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapanku, dan ingat. Jika kau menyentuh wanitaku, maka artinya kau menyerahkan nyawamu kepadaku secara suka rela. Pergilah, atau akan aku hancurkan hidupmu selamanya!" Erang Ansel lalu mengehempaskan tangannya dari rambut Clara, membuat wanita itu kembali terhuyung hampir terhempas kembali ke lantai.
"Kenapa? Kenapa kamu tega melakukan ini semua kepadaku, Ansel? Dimana Ansel yang dulu aku kenal, dia begitu hangat dan selalu perhatian kepadaku. Dimana Ansel yang dulu, hah? Kamu benar-benar sudah berubah sangat jauh, apa kurangnya aku selama ini."
"Kamu jahat, Ansel. Kamu anggap apa aku selama ini, hah? Jawab! Jangan bilang karena wanita itu, kau berani berbuat seperti ini kepadaku." Dengan histerisnya, Clara mengungkapkan semua perasaan yang ia rasakan.
Memberikan waktu untuk Clara mengatakan semuanya yang ia rasakan, bagi Ansel. Sikapnya selama ini adalah biasa saja, hal tersebut biasa dilakukan oleh siapapun kepada teman, sahabat maupun orang terdekatnya. Perhatian dan juga kedekatannya pada Clara hanya sebatas seorang teman, namun semuanya itu disalah artikan oleh Clara.
Tanpa diketahui oleh Ansel sendiri, jika Clara mengakui Ansel adalah kekasihnya. Hampir dari seluruh rekan kerjanya mengetahui hal tersebut, maka dari itu Clara selalu memberikan sikap yang manja serta ingin diperhatikan lebih oleh Ansel.
__ADS_1
Namun, kini semuanya sudah berubah. Hal tersebut membuat Clara murka, menyalahkan Era yang saat itu berada bersama diantara mereka. Bahkan, perhatian Ansel terlihat begitu harta berbedanya, begitu perhatian dan juga sangat posesif terhadap wanita yang serba tertutup itu.
Mengakui jika dirinya lebih cantik dan sangat pantas untuk berada disamping Ansel, membuat Clara tidak ingin jika Ansel dekat ataupun menjalin hubungan dengan wanita lain selain dirinya.
"Diam! Pintu sudah terbuka, pergilah." Ansel masih dengan acuhnya.
Menatap seakan tidak percaya, Clara menjadi tidak berdaya. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Ansel, apalagi hal tersebut dilakukan dihadapan wanita yang membuat ia benci.
"Baiklah, kalau ini ada maumu. Tapi perlu kamu ingat, Ansel. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu pada wanita lain, jika ada wanita yang bersamamu. Maka aku akan menghancurkannya, terutama wanita itu!"
"Aku akan membalasnya, kamu sudah jauh berubah. Dimana Ansel yang aku kenal dulu, selalu bersahaja, membantu dan perhatian padaku. Kamu akan menyesal, Ansel!" Clara menghentakkan kakinya dan berlalu pergi begitu saja.
Memejamkan kedua matanya sesaat, membuat Ansel harus menghela nafas beratnya kembali. Seketika pikirannya tertuju pada wanitanya, mengambil ponsel dan menghubunginya. Tidak ada respon, sehingga membuat dirinya mencoba beberapa kalo dan berakhir nihil. Kaki jenjang itu segera berlari kecil menuju ruangan Nayaka.
"Dimana Era? Kau melihatnya?" Suara dan wajah panik Ansel.
"Bukannya tadi dia ada diruanganmu?" Nayaka pun keheranan akan sikap Ansel.
Ansel mencoba menghubungi ponsel Era kembali, tapi hasilnya tetap sama tidak, ada respon. Hal tersebut semakin membuat Ansel panik.
"Periksa karena pengawas, cepat!" Bentak Ansel dengan kepanikan.
Entah apa yang ada dalam pikiran Nayaka saat itu, ia hanya bisa segera melaksanakan perintah dari tuannya.
__ADS_1