The Possessive

The Possessive
Kejadian tidak di inginkan.


__ADS_3

"Sepertinya, cemilan ini cukup untuk tuan Ansel." Era merasa sudah cukup dan berniat untuk segera kembali.


Ketika kakinya hendak melangkah, terdengar suara seseorang yang sedang berbicara melalui ponsel yang membuat dirinya kaget. Awalnya tidak begitu membuat ia penasaran, disaat nama bosnya itu disebut. Seketika itu juga dirinya yakin jika yang dimaksud oleh mereka adalah Ansel, bosnya sendiri.


"Baik tuan, akan saya laksanakan. Orang yang bernama Ansel itu sedang lengah, dia tidak akan menyadari jika saya mendekat." Pembicaraan mereka terhenti, orang tersebut dengan membawa nampan berisikan minuman berjalan mendekati targetnya.


" Tuan Ansel!"


Menyadari sesuatu akan terjadi, membuat Era mempercepat langkahnya untuk memberitahukan hal tersebut. Rasa khawatirnya jika orang tersebut benar-benar melakukan hal jahat pada Ansel, ketika langkah itu semakin mendekat. Terlihat jika orang tersebut mengeluarkan senjata tajam dari bagian bawah nampan yang ia bawa, senjata itu dia arahkan pada targetnya yaitu Ansel.


"Tu tuan, ini cemi cemilannya."


Mendapati keberadaan Era yang secara tiba-tiba dibalik tubuhnya, membuat Ansel kaget. Membalikkan tubuhnya untuk menerima pemberian tersebut, yang dimana ia dapati tangan mungil itu bergetar. Hampir saja piring kecil berisikan makanan ringan itu terjatuh, jika saja tidak segera Ansel terima.


"Terima kasih, duduklah." Belum saja ia menaruh piring tersebut, kehadiran Leon semakin membuatnya bingung.


" Tuan!" Sapa Leon dengan wajah datar dan dinginnya, berdiri dibalik tubuh pelayan tersebut yang masih berdiri tepat dibelakang Era.


"Hahaha, rupanya kalian terlalu peka dengan kejutan yang akan aku buat. Sayang sekali, semuanya tidak berjalan dengan seprti yang aku mau." Ray tertawa dan menendang meja dihadapannya sebagai cara untuk pengalihan perhatian.


Brakh!!


"Bre***ek kau Ray!!" Ansel menarik sesuatu dari balik jas yang ia kenakan.


Sebuah tembakan kecil namun kekuatannya sama saja dengan penghancur, mempersiapkan benda tersebut untuk menghancurkan targetnya. Ternyata benar apa yang sudah mereka predikat sebelumnya, disana sudah banyak sekali orang-orang dari Ray yang mengepung tempat tersebut.


Semua fokus mereka tertuju untuk menahan dan mendapatkan musuhnya, walaupun keadaan disana cukup ramai dengan para pengunjung dari tempat tersebut. Tidak dapat dihindari jika mereka harus terlibat dalam kejadian saat itu, menyelamatkan diri masing-masing adalah jalan yang mereka lakukan.


Membidik Ray yang menjadi dalang dari semuanya, Leon sudah terlebih dahulu mengejarnya. Begitu pula dengan Pedro, ia bersama anggota yang lainnya mengamankan orang-orang dari pihak musuh mereka.


"Hei, jangan berlari." Pedro berteriak kepada targetnya yang terus berlari menghindar darinya.


Dugh!


"Argh!" Orang tersebut tersungkur begitu keras, akibat dari hantaman kaki jenjang milik Pedro.

__ADS_1


Bukh!


Bukh!


Dengan leluasanya Pedro menghantamkan tangannya untuk orang yang sudah membuatnya lelah berlari, tak hanya itu. Ia mendapatkan perlawanan yang cukup kuat dari orang tersebut, namun dengan kepiawaiannya bertarung. Pedro dapat menahan dan menangkis serangan tersebut.


"Makanya, aku bilang jangan lari. Membuatku lelah saja." Pedro terus menghajarnya.


Dirasa tenaga itu terlalu banyak terbuang, Pedro segera mengakhiri pertarungannya. Mengeluarkan senjata khas miliknya, dengan cepat ia arahkan pada orang tersebut dan berakhir dengan kemenangan.


"Huft!" Mengehela penuh dikeringkan, Pedro pun membantu yang lainnya.


Ditempat lain, Leon segera memberikan perlindungan untuk Ansel. Karena mereka tahu, kondisi saat itu tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran. Karena disana banyak orang-orang umum yang tidak terlibat, akan banyak korban jika mereka gegabah.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Leon memastikan keadaan Ansel.


"Hmm, sepertinya kita harus segera pergi dari sini." Ansel mengarahkan orang-orangnya agar segera menjauh.


"Baik tuan, lebih baik anda terlebih dahulu. Biar kami yang membereskan disini." Leon menjelaskan.


"Dimana Era?!"


Mengetahui wanita yang bersamanya tidak berada didekatnya, hel tersebut membuat Ansel menjadi panik. Leon bersama yang lainnya menyebar untuk mencari orang yang dimaksud oleh tuan mereka, namun sebagian lagi harus berjaga-jaga dari serangan yang ada.


Semua orang-orang Ansel mencari keberadaan Era, karena wanita itu tidak terlihat berada dimana. Dalam situasi seperti itu, semuanya bersiaga akan serangan balik dari musuh mereka.


"Tuan, nona terlihat!" Salah seorang mengatakan hal tersebut.


Mereka pun segera menghampirinya, kondisi tempat tersebut benar-benar sudah kacau. Sehingga membuat Era harus bersembunyi dari semuanya, ia berada dibalik salah satu meja yang sudah hampir hancur.


"Hei, kamu tidak apa-apakan?" Panik Ansel yang langsung membawa wanita mungil itu untuk ia lindungi.


"Tu tuan." Era menyakinkan jika tu adalah Ansel.


"Ya, ini aku. Kita harus segera pergi dari tempat ini, ayo." Menggenggam telapak tangan kecil itu dan mengarahkannya untuk mengikuti dirinya.

__ADS_1


Kini mereka telah masuk ke dalam mobil, didalam sana sudah ada Bobby yang menunggu. Dari kejauhan, sudah terdengar suara sirine dari pihak keamanan. Dan mereka harus segera pergi dari sana, apalagi musuh mereka sudah terlebih dahulu melarikan diri.


"Cari tahu keberadaan Ray, aku tidak ingin dia membuat ulah lagi." Ujar Ansel yang sedang menetralkan gejolak amarahnya.


"Baik tuan." Ujar Bobby yang mengemudikan laju mobil mereka.


Dalam situasi tersebut, ponsel Ansel bergetar. Disana terdapat nama 'daddy' yang melakukan panggilan secara langsung, untuk sesaat. Ansel menghirup udara dan menghembuskannya dengam cepat.


"Assalamu'alaikum, dad."


"Wa'alaikumussalam, apa yang terjadi bang?" Azzam langsung menanyakan ha, tersebut.


"Ini ulah Ray, dad. Dia kembali membuat kekacauan, sepertinya dia ingin balas dendam dengan keluarga kita." Jelas Ansel kepada Azzam.


"Jangan gegabah, bereskan dulu semua kekacauan disana. Akan kita bahas nanti, oke boy. Assalamu'alaikum. "


"Baik dad, Wa'alaikumussalam." Ansel kembali Mengehela nafas beratnya.


Tidak sengaja gerakan tangannya bersentuhan dengan lengan mungil disampingnya, ia baru menyadari jika ia bersama dengan Era.


"Ra, kamu tidak apa-apa? Maaf, jika kamu harus menyaksikan semuanya ini." Ansel merasa bersalah sudah membawa wanita yang ia sukai ke dalam bahaya.


Merutuki diri sendiri atas apa yang telah terjadi, awalnya Ansel tidak ingin membawa Era ikut bersamanya. Namun hatinya seakan tidak bisa jauh dari wanita teduh itu, setelah menanyakan hal tersebut. Tidak ada pergerakan sedikit pun dari wanita itu, kedua matanya tertutup dan punggung yang bersandar pasrah.


"Ra, you oke?" Ansel memberanikan diri untuk menyentuh tangannya.


Tetap tidak ada pergerakan apapun, Ansel Menepuk-nepuk sisi wajah yang tertutupi oleh selembar kain itu dengan perlahan. Jemari tangan yang ia genggam terasa begitu dingin, kepanikan pun muncul.


"Ra, bangun? Apa yang terjadi padamu, Ra bangun. Buka matamu!" Ansel mendekap tubuh mungil itu dan terus mencoba membangunkannya.


Memberanikan diri untuk membuka kain penutup wajahnya, Ansel memastikan jika Era dalam keadaan baik. Akn tetapi, saat wajah itu terbuka. Warna putih pucat yang ia dapatkan, tangan itu terus menguncang tubuh mungil itu agar segera membuka mata. Dan ketika tangan kekarnya itu menyentuh rahang wajahnya, terdapat warna merah disana.


Seakan tertipu dengan kondisinya yang sebelumnya terlihat baik-baik saja, Ansel meneliti sumber dari cairan merah tersebut.


"****! Era terluka!"

__ADS_1


__ADS_2