THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 1 Kelahiran dan Pengorbanan


__ADS_3

Di tengah badai hujan yang menghancurkan seluruh kota, banjir lumpur yang menenggelamkan seluruh rumah dan juga manusia. Pohon-pohon berterbangan dihempaskan oleh angin topan yang dasyat. Tidak ada siapa pun yang akan selamat, tidak ada siapa pun yang dapat menghentikan bencana itu. Bangunan tinggi nan megah terlihat rampung dibalik angin yang menerbangkan apapun yang menghalangi jalannya. Cahaya lampu menandakan kehidupan di dalamnya. Terdengar suara seorang wanita yang tengah kesakitan. Dia menjerit sekuat tenaganya, terlihat ia tengah bertahan melawan kematian demi mendengar tangisan bayi yang keluar dari rahimnya.


“Yang Mulia, bertahanlah sedikit lagi.” Seru seorang wanita tua yang tengah mencoba mengeluarkan sosok manusia kecil dari rahim wanita itu.


“Aaaaaaaaahk .....!!!!” jeritan kesakitan terdengar lantang keluar dari mulut wanita itu.


“Sedikit lagi Yang Mulia!” seru wanita tua itu kembali.


Peluh dingin membasahi wajah seorang pria yang berpakaian elegan nan mewah dengan mahkota emas di kepalanya yang tengah berdiri di depan ruangan yang dipenuhi dengan jeritan dari istri tercintanya.


“Yang Mulia, Ratu pasti akan baik-baik saja.” Ucap seorang pria paruh baya yang berdiri tepat di samping pria yang bernama Tanzan.


Tangisan bayi kecil memenuhi ruangan teduh itu. Wajah lega dan bahagia terlihat dari sosok pria yang kini telah menjadi seorang ayah. Pintu ruangan itu terbuka dengan lebar, seorang wanita tua berjalan mendekati pria itu dengan wajah bahagia. Namun, terlihat rasa sedih yang tersembunyi terpancar dari sorotan matanya yang memandang sosok pria itu dengan tatapan sayu.


“Yang Mulia, masuklah. Lihatlah kedua putrimu yang telah lahir ke dunia dengan selamat.” Ujar wanita tua itu dengan sopan.


“Baiklah,” putus pria itu sembari melangkah memasuki ruangan tempat kedua putrinya berada.


Tak hentinya bayi kecil itu menangis dengan keras. Namun, tidak dengan bayi kecil satunya, bayi itu terus saja tesenyum.


“Yang Mulia, Anda telah menjadi Ayah dari putri-putri kita.” Ucap wanita cantik yang terlihat pucat dengan senyuman indah merekah diwajahnya.


“Terima kasih Istriku, telah melahirkan darah dagingku dengan selamat,” seru pria itu dengan bahagia semari memeluk lembut istrinya.


Wajah pria itu terlihat bingung saat melihat putri kecilnya yang terbalut dengan kain biru tidak menangis sama sekali. Bayi itu malah tersenyum memperlihatkan batang gusi kecil miliknya.


“Kenapa dia tidak menangis?” tanya pria itu merasa heran.


Wanita tua yang tandinya berdiri diambang pintu berjalan mendekat kearah sang raja. “Yang Mulia, sekali lagi saya ucapkan selamat untuk Anda dan Yang Mulia Ratu. Anda telah mendapatkan dua orang putri yang cantik dan sehat. Namun, dengan berat hati, saya harus mengatakan kepada Yang Mulia, bahwa salah satu putri Anda terlahir tanpa bisa melihat dunia ini.” Jelas wanita tua yang berdiri di ambang pintu dengan wajah sedih.


Rasa tidak percaya dan kecewa terpancar jelas di wajah Raja Tanzan, “M-manakah putri saya yang tidak bisa melihat?” tanya pria itu dengan wajah sedih.


“Bayi yang terbalut dengan sutra biru, Yang Mulia.” putus Wanita tua itu dengan berat hati.


Angin semakin buas menerbangkan isi kerajaan yang bernama Emerald itu. Hujan badai seakan tak ada hentinya. Seorang pria dengan pakaian yang lusuh dengan cepat berlari sempoyongan menuju ke kamar peristirahatan sang Ratu.

__ADS_1


“Yang Mulia!” panggil pria itu dengan nafas yang tersengal-sengal.


Dengan heran sang Raja berjalan mendekati pria yang menjabat sebagai pelayan priabadinya itu.


“Ada apa?” tanya Sang Raja kepadanya.


“Maafkan Hamba Yang Mulia. Para petinggi kerajaan telah berkumpul di aula, mereka terlihat rusuh Yang Mulia.” Jelas pelayan itu dengan serius.


Dengan segera Sang Raja keluar dari kamar Ratu dan bergegas menuju ke tempat perkumpulan.


Terlihat wajah tegang dan panik dari para petinggi kerajaan. Dengan langkah tegap Yang Mulia Tanzan berjalan menuju tahtahnya.


“Yang Mulia! Apa yang harus kita lakukan dengan keadaan kerajaan saat ini? Semuanya hampir musnah ditelan badai yang tak kunjung berhenti!” seru seorang pria paruh baya dengan jenggot hitam memenuhi wajahnya.


“Yang Mulia, jika kita tidak menindak lanjuti bencana ini, kerajaan ini bisa hancur tanpa sisa.” tambah seorang pria paruh baya yang memiliki tahi lalat besar di keningnya.


“Ini adalah takdir, apa yang bisa kita lakukan,” jawab Sang Raja yang membuat wajah para petinggi kerajaan itu terlihat kecewa.


“Yang Mulia, jika saya boleh usulkan, menurut ramalan dua puluh tahun lalu, saat cahaya matahari menembus bumi, maka akan terlihat cahaya bulan yang redup menimbulkan kemunculan bulan lainnya, sehinga terlihat dua bulan kembar di atas langit yang menandakan bencana besar akan melanda negeri ini. Hal itu telah terjadi saat siang tadi sesaat sebelum badai menerjang kerajaan Emerald. Saat bencana itu berlangsung, Yang Mulia Ratu pun tengah berusaha melahirkan keturunan kerajaan ini. Saya juga mendapatkan kabar bahwa Ratu melahirkan dua bayi kembar. Yang Mulia, kemunculan bulan kembar serta bencana yang disertai kelahiran sang bayi saling berkaitan satu sama lain, bencana ini hanya akan berhenti ketika bulan kembar itu menghilang salah satu dari mereka.” Jelas seorang pria tua dengan tongkat di tangan kanannya.


“Maafkan atas kelancangan saya ini Yang Mulia, bencana ini tidak akan berhenti jika kedua bayi itu masih ada di dalam kerajaan ini. Salah satu dari mereka harus dijauhkan dari kerajaan Emerald.” Jelas penasehat itu dengan wajah menunduk.


Wajah Sang Raja memucat mendengar ucapan dari penasehat kerajaan. Terpancar rasa takut dan bimbang di wajah sang Raja. Tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya, haruskah dia mengorbankan seorang putrinya yang baru lahir ke dunia ini demi menyelamatkan seluruh kerajaan dan rakyat dari bencana yang melanda? Atau kah dia hanya perlu pasrah dengan takdir.


Para petinggi istana lainnnya mulai riuh dengan pendapat mereka masing-masing.


“Yang Mulia, Anda harus segera memutuskan persoalan ini, jika tidak kerajaan ini tidak dapat diselamatkan.” Ujar pria paruh baya yang berjenggot.


“Baiklah para menteri, saya akan menyelesaikan masalah ini dan menghilangkan bencana terkutuk ini. Kalian semua bisa pulang ke kediaman kalian masing-masing.” Putus Sang Raja.


Para menteri telah meninggalkan aula, hanya sang Raja dan Penasehat kerajaan yang masih kukuh di tempat.


“Tidak adakah solusi lain untuk bencana ini penasehat?” tanya sang Raja dengan wajah yang sendu.


“Maaf Yang Mulia, tidak ada yang bisa saya lakukan, ini adalah ramalan dari para tetua kerajaan terdahulu dan hal ini ternyata terjadi di saat seperti ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain memutus tali bencana ini.” Jelas penasehat.

__ADS_1


Seorang pengawal kerajaan berlari dengan cepat menghadap sang Raja yang masih kukuh duduk di atas tahtanya. “Hormat saya Yang Mulia, daerah Barat Kerajaan Emerald telah habis ditelan badai. Saat ini topan besar tengah menuju ke daerah utara Kerajaan.” Jelas pengawal itu kepada sang Raja.


Seketika tubuh sang Raja menegang mendengar berita terburuk itu.


“Baiklah, kalian segera selamatkan para korban dan bawa para warga yang selamat ke pengungsian.” Titah sang Raja.


“Baik Yang Mulia.” Ucap pengawal itu dengan patuh.


Hati Raja Tanzan semakin dikecamuk rasa bimbang yang amat dalam. Haruskah dia mengorbankan putrinya atau dia hanya perlu berpangku tangan menyaksikan kehancuran kerajaan Emerald.


“Penasehat, siapkan upacaranya.” Putus Sang Raja dengan wajah yakin akan keputusannya itu.


“Baik, sesuai titah Anda Yang Mulia.” Ucap sang penasehat.


Sudah diputuskan, demi kerajaan dan rakyatnya, sang Raja Tanzan mengorbankan nyawa bayi kecil itu untuk menghentikan bencana yang tengah melanda kerajaan Emerald.


Isak tangis dan rasa kecewa memenuhi relung hati sang Ratu saat mendengar berita bahwa Raja Tanzan akan mengorbarkan salah satu bayinya sebagai penangkal bencana. Yang mulia Ratu sangat tidak terima dengan keputusan dari Raja Tanzan. Dia tidak ingin memberikan salah satu putri kecilnya sebagai tubal untuk bencana yang tengah melanda.


Sang ratu yang masih kesakitan pasca melahirkan, berlari sekuat tenaganya menemui Raja Tanzan di tepian sungai yang menjadi sumber air kerajaan Emerald itu.


“Yang Mulia! Jangan Yang Mulia ...! Pikirkan kembali keputusan Anda! Apakah Anda sanggup melihat bayi kecil ini ditelan oleh arus sungai itu! Yang Mulia! Saya memohon pada Anda! Yang Mulia!!!” air mata mengalir deras dari mata sang Ratu yang tidak bisa menerima keadaan yang menimpa bayi kecilnya.


Dengan wajah dingin Raja Tanzan membawa bayi kecil itu menuju hilir sungai yang sangat deras.


“Yang Mulia, persiapannya telah selesai.” Ucap penasehat.


“Yang Mulia! Saya mohon jangan lakukan itu! Saya mohon Yang Mulia!” jeritan sang Ratu sama sekali tidak didengar oleh sang Raja.


Seakan tidak memiliki rasa kasihan dan kemanusiaan, Raja Tanzan menjatuhkan keranjang yang berisikan bayi kecil yang tengah tersenyum tanpa menyadari ketidakadilan tengah menjemputnya serta kematian tengah menunggunya.


“Tidak... !!! Bayi ku ...!!!!” jerit Sang Ratu memecah badai malam itu.


Badai telah berhenti, seluruh rakyat telah kembali tenang. Kerajaan Emerald terselamatkan berkat pengorbanan dari sosok bayi kecil yang baru saja merasakan angin dunia yang kini telah hidup dengan tebusan nyawanya. Kini, akankah ada yang mengingat sosok bayi kecil yang telah berkorban demi seluruh nyawa kerajaan Emerald?


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2