THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 9 Pengawal Kerajaan


__ADS_3

“Hak! HYAAK ...!! Hak!” menghayun-hayunkan pedang ke kiri dan ke kanan.


Keringat membasahi tubuh Tuan Dalmar yang kekar. Meski usianya telah mencapai lima puluh tahun, tidak terlihat rasa lelah dan sakit pada diri Tuan Dalmar. dengan lihai ia menggerakkan tubuhnya dengan pedang yang berhayun-hayun menebas hawa dingin pagi yang belum terang.


“Anda hebat sekali, Tuan.” Ucap pedagang tua itu sembari tersenyum kagum kearah Tuan Dalmar.


Segera Tuan Dalmar menghentikan latihan pedangnya saat mendapati pria tua yang berprofesi sebagai pedagang Ibu Kota itu menghampirinya dipekarangan. Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


“Anda sudah bangun rupanya.” Ujar Tuan Dalmar dengan ramah.


“Seorang pedagang harus bisa bangun cepat jika ingin sukses.” Ucap pedagang tua itu dengan bangga.


Tuan Dalmar tersenyum menanpakkan deretan gigi putihnya kearah pria tua di depannya.


Matahari sama sekali belum menampakkan diri di langit yang hitam. Setiap jam tiga pagi Tuan Dalmar selalu berlatih pedang di pekarangan kecil rumahnya. Seakan sudah menjadi kewajibannya untuk melakukan hal tersebut. Tuan Dalmar bukanlah sosok yang haus akan kekuasaan dan uang. Bahkan dia tergolong miskin daripada warga desanya yang lain. Dia sama sekali tidak berharap lebih atas kedudukannya sebagai Kepala Desa Alba. Ia hanya menjalankan tugasnya tanpa mengharap imbalan dan pujian dari warganya. Namun, dia bukanlah orang yang gampang diajak bernegosiasi jika sudah berkenaan dengan desa Alba dan warganya.


Selesai mengelap keringat di tubuhnya, Tuan Dalmar masuk ke rumahnya untuk membuat dua cangkir teh hangat untuknya dan pria tua yang tengah menelisik pekarangan rumahnya.


“Kemarilah, Tuan.” Pinta Tuan Dalmar kepada pria tua itu untuk duduk bersamanya di sebuah potongan kayu besar di dekat pintu rumahnya.


Pria tua itu melangkah mendekati Tuan Dalmar, “Terima kasih.” Ucap pria tua itu sembari menerima segelas teh hangat dari Tuan Dalmar.


“Desa ini terlihat sangat damai, ingin sekali saya menetap di sini.” Aku pria tua itu.


“Mungkin karena penduduknya sedikit dan terpencil.” Ucap Tuan Dalmar.


“Dulu, saya juga hidup dan tumbuh di sebuah desa yang damai dan tenang seperti ini. Kami saling membantu satu sama lain. Saling berbagi dan saling menyayangi. Mungkin karena kami hidup di pesisir. Saya sangat mencintai kampung halaman saya. Namun, itu semua hancur ketika para perompak datang dari laut menyerang desa kami. Mereka membantai penduduk desa tanpa rasa kasihan. Dalam sekejap semuanya hancur tanpa meninggalkan sisa. Pada akhirnya, para warga yang selamat harus meninggalkan desa itu dan pergi ke Ibu Kota. Setelah sampai di Ibu Kota, saya terpaku melihat kehidupan manusia di sana yang berbanding terbalik dengan kehidupan kami di pesisir. Seakan waktu berjalan dengan sangat cepat di sana. Tidak ada yang saling membantu, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka tidak ingin menolong orang tua yang terjatuh. Saya baru tersadar, bahwa dunia bukanlah tempat yang damai. Dunia bukanlah tempat yang indah. Namun, Desa ini membuat saya kembali menjadi diri saya sendiri. Saya kembali merasakan kedamaian bagaikan di kampung halaman saya.” jelas pria tua itu dengan wajah sedih.


Tuan Dalmar menyeruput teh dari cangkirnya, “Apakah Ibu Kota seburuk itu?” tanya Tuan Dalmar.


“Hmm ...” menghela nafas, “Bukan suatu kesalahan jika rakyat yang hidup di sana bertingkah buruk. Mereka hanya ingin hidup. Jika mereka ingin hidup lama di tempat yang sebesar dan sekeras itu, mereka harus sangat egois. Begitulah cara mereka bertahan hidup di Ibu Kota. Bukan rakyat saja, bahkan ada banyak predator yang lebih kejam dan sadis di sana. Kekuasaan dan kekayaan juga nyawa bagi rakyat Ibu Kota. Jika kita punya uang yang melimpah dan kekuasaan, kehidupan damai akan bisa kita rasakan di sana. Jika tidak, para predator itu akan memakan kita hidup-hidup. Itulah gambaran kecil kerajaan Emerald saat ini.” Jelas sang pedagang.


“Tidak ada kedamaian sebelum kita mati. Disetiap belahan dunia, dimana manusia itu hidup, hal yang seperti itu akan terus tumbuh dan tertanam dalam diri manusia. Apa yang bisa kita lakukan, karena kita hanyalah manusia. Hanya dua pilihan dalam hidup, menundukkan atau ditundukkan.” Tambah pria tua itu kembali.


Acie yang berdiri di balik pintu terbungkam dengan perkataan dari pedagang tua itu. Seburuk itukah kerajaan ini? Begitu pikir Acie. Dia sempat berpikir kalau di luar sana terdapat tempat-tempat yang menyenangkan. Namun, semua buyar ketika mendengar perkataan dari pedangan Ibu Kota itu. Seakan dunia dipenuhi oleh moster kejam yang mengerikan.


Saat matahari sudah terang dilangit, beberapa anak buah Basilio datang ke rumah Tuan Dalmar dengan membawa gerobak barang milik pedagang tua itu. Gerobaknya sempat rusak ketika ditemukan di perbukitan Albion kemarin. Kini gerobak tersebut telah diperbaiki oleh warga desa.


“Oh! Gerobaknya sudah selesai diperbaiki,” seru salah seorang pegawai pria tua itu.


“Iya. Barang-barang kalian ada di balai desa.” Ucap Basilio.


“Terima kasih banyak, Tuan.” Ucap pegawai itu dengan bahagia.


Terlihat Tuan Dalmar keluar dari rumahnya karena mendengar keributan di luar. “Ternyata gerobaknya sudah diperbaiki.” Ucap Tuan Dalmar menghampiri Basilio.


Pedagang tua itu berjalan mendekati gerobaknya sambil memeriksa keadaan gerobak barangnya yang semula telah rusak berat kerena kejadian beberapa hari yang lalu. Ia terlihat lega melihat gerobaknya sudah baik-baik saja.


“Kami permisi, Tuan. Ada hal yang harus kami kerjakan.” Ucap Basilio kepada Tuan Dalmar.


“Baiklah,” sahut Tuan Dalmar.


Segera Basilio dan beberapa anak buahnya beranjak dari sana. Acie, Caezar, dan Ciero berjalan mendekati ayahnya dan para pedagang itu di pekarangan rumah mereka. Acie melihat objek mati berwarna kuning berbentuk seperti gerobak dengan mata batinnya.


“Wah ... gerobak Paman sudah bagus sekarang ya.” Ujar Acie sambil menampakkan deretan giginya.


“Iya nak ...”

__ADS_1


Seusai sarapan pagi, Acie dan Caezar pergi berburu ke hutan. Tinggallah Ciero dan Tuan Dalmar di rumah menemani para pedagang itu. Terlihat barang-barang mereka yang semula disimpan di balai desa sudah memenuhi gerobak mereka kembali. Mereka akan meninggalkan Desa Alba beberapa jam lagi. Mereka akan kembali ke Ibu Kota untuk melihat keadaan di sana. Jika keadaan memungkinkan mereka akan kembali menetap di Ibu Kota.


“Semuanya sudah beres?” tanya pria tua itu kepada pegawainya.


“Selesai dalam lima menit lagi, Tuan.” Sahut pegawainya.


“Baiklah, siang nanti kita akan pergi dari desa ini.” Putus pria tua tersebut.


Saat matahari sudah berada di puncak kepala, Acie dan Caezar kembali ke Desa Alba dengan membawa hasil buruan mereka. seekor rusa gunung berukuran sedang menjadi buruannya kali ini. Ciero terlihat antusias melihat rusa gunung itu. Ia segera mengambil alih rusa itu dari Caezar untuk dijadikan makan siang yang lezat. Sebagai hidangan terakhir untuk para pedagang Ibu Kota itu.


Para pedagang itu pergi dari Desa Alba dengan rasa senang dan terima kasih. Seluruh warga desa mengantar kepergian mereka dengan suka cita.


“Hati-hati Paman ...!!!” seru Acie sambil melambai-lambaikan tangannya kearah para pedagang itu yang telah menjauh.


Tiba-tiba langit menjadi mendung dan rintik hujan pun turun dengan lebat membasahi bumi. Seluruh warga desa pun panik dan lari berhamburan ke rumah masing-masing. Tuan Dalmar megangkat wajahnya menghadap langit yang dipenuhi rintik hujan.


“Hujan di musim dingin?” gumam Tuan Dalmar.


“Ayah ...! cepat masuk ...,” seru Ciero melihat ayahnya masih berdiri di luar.


Mendengar seruan anaknya itu, Tuan Dalmar segera melangkah menuju rumahnya. Untuk sesaat terlintas perasaan yang tidak enak di hati Tuan Dalmar. seakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.


Sekitar dua puluh kilometer di bawah perbukitan Albion, terlihat puluhan kuda yang ditunggangi oleh orang-orang yang memakai baju besi lengkap dengan pedang mereka tengah berjalan menuju kearah bukit. Hujan lebat terus mengguyur bumi belahan utara itu tanpa jeda. Seakan tidak memerdulikan hujan yang tengah mengguyur mereka, para orang-orang berpakaian besi itu terus menunggangi kudanya dengan cepat. Derap kuda mereka memecah suara hujan yang jatuh ke bumi.


Disebuah ruangan besar nan mewah, terlihat orang-orang yang memiliki wibawa dan kekuasaan tengah duduk dengan diam di sana. Mereka seakan tengah membicarakan sesuatu yang amat penting. Tidak ada seorangpun yang berkutik.


“Negeri ini harus dibersihkan. Sebelum terjadinya pemberontakan, seluruh rakyat yang memiliki niat buruk dan tidak menguntungkan kerajaan harus dihancurkan.”


Ucap seorang pria tua yang duduk di atas sebuah singgahsana dengan mahkota emas di kepalanya.


“Yang Mulia, saya telah mengirim dua puluh kesatria ke wilayah Snieheuvel. Terdapat rumor bahwa di sana terdapat sebuah pemukiman yang diduduki oleh para buronan kerajaan. Selain buronan, di sana juga terdapat banyak rakyat yang menentang kerajaan. Hal ini sangat membahayakan bagi Kerajaan Emerald. Setelah saya rundingkan dengan kepala defisi keamanan di wilayah tersebut, kami memutuskan meninjau wilayah itu.” Jelas seorang pria bertubuh kekar dan besar yang berpangkat panglima kerajaan Emerald.


“Baik, Yang Mulia.” Sahut sang Panglima dengan gagah.


Angin yang kencang kini menerjang Desa Alba. Hujan terus turun dengan derasnya.


“Aneh, kenapa tiba-tiba datang badai hujan seperti ini?!” ujar Ciero memandang langit dari balik pintu rumahnya.


“Perasaanku tidak enak Kak,” ucap Acie yang duduk di dekat perapian.


“Ini adalah hal yang biasa terjadi, untuk apa dianggap aneh.” Sahut Tuan Dalmar dengan tenang.


“Jika di daerah tropis, bisa dianggap hal biasa Ayah, tapi ini di daerah perbukitan salju dimana musim panas saja hanya datang tiga hari dalam setahun.” Ucap Ciero dengan wajah bingung.


“Sudah ..., tidak perlu dicemaskan. Tutuplah pintunya kembali.” Putus sang ayah.


Sesaat kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Tuan Dalmar dengan keras. Seketika semua orang tersentak mendengar ketukan itu.


“S-siapa itu ...?” ucap Ciero pelan.


“Biar aku yang buka.” Ucap Caezar sembari berjalan kearah pintu.


Caezar begitu terkejut melihat Basilio dan Sol terlihat terengah-engah di depan pintu rumahnya.


“Ada apa?” tanya Caezar dengan wajah bingung.


“Tuan, kami harus bicara dengan Tuan Dalmar.” ucap Basilio dengan wajah yang amat tegang.

__ADS_1


“Kalau begitu masuklah,” suruh Caezar.


“Terima kasih, Tuan.”


Basilio dan Sol segera masuk ke rumah Tuan Dalmar. Terlihat Tuan Dalmar dan Ciero sedikit terkejut dengan keadaan dua orang itu yang terlihat amat lusuh dan basah kuyup. Sedangkan Acie hanya bisa diam merasakan hawa panas dari api di depannya.


“Apa yang terjadi? kenapa kalian kemari di tengah badai seperti ini.” Ucap Tuan Dalmar dengan bingung.


“Tuan, ada hal buruk yang tengah terjadi...! ” aku Basilio dengan wajah panik.


“Tenangkan dulu dirimu.”


“Baik ... Tuan.” Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan.


“Jadi begini Tuan, saat kami tengah berpatroli di area gunung, beberapa anak buah saya melihat puluhan kuda yang dikendarai oleh orang-orang berpaikaian besi tengah menuju ke perbukitan Albion. Jarak mereka dengan desa kita sekitar sepuluh kilometer. Tuan, saya rasa mereka adalah pengawal kerajaan Emerald. Itu bisa dikenali dari pakaian dan bendera yang mereka bawa. Tuan, apa yang harus kita lakukan? Jika para pengawal itu sampai ke desa ini, desa ini akan dalam bahaya.” Jelas Basilio dengan serius.


“Tuanku, saya tidak tau maksud dari para pengawal itu kemari, tapi mata-mata yang saya kirim ke Ibu Kota juga mendapatkan kabar buruk. Mereka mengatakan bahwa istana tengah melakukan inspeksi pada wilayah-wilayah di negeri ini. Hal ini dilakukan karena beredarnya rumor salah satu pengkhianat kerajaan telah kabur dari tahanan istana beberapa minggu yang lalu. Mereka dicurigai tengah bersembunyi disalah satu wilayah di kerajaan ini. Tuanku, desa ini adalah desa terpencil, banyak penduduk di sini yang merupakan buronan kerajaan. Jika sampai mereka tau hal itu, desa ini akan hancur, tidak ada satupun yang akan selamat.” Tambah Sol dengan wajah cemas.


“Kalian belum memberitau warga desa tentang hal ini?” tanya Tuan Dalmar.


“Belum, Tuan. Saya dan beberapa anak buah saya yang baru tau hal ini.” Aku Basilio.


Acie, Caezar, dan Ciero sangat terkejut dengan berita buruk itu. Wajah mereka terlihat sangat tegang dan cemas.


“Ayah, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Caezar dengan cemas.


“Kita harus memberitau warga desa tentang hal ini.” Ucap Tuan Dalmar.


“Tapi Tuan ... jika kita memberitau warga desa, mereka pasti akan sangat panik.” Sahut Basilio dengan cemas.


“Aku setuju dengan Ayah.” Ucap Acie.


“Jika kita tidak memberitahu warga desa tentang hal ini, justru mereka akan lebih panik karena tiba-tiba para pengawal kerajaan itu datang kemari, tapi jika kita memberitahu mereka sebelum hal itu terjadi, mereka bisa menahan emosi mereka dalam menghadapi para pengawal itu. Akan lebih baik jika warga desa dapat bersandiwara seperti penduduk biasa pada umumnya. Bukan bersikap seperti buronan yang takut akan hukuman.” Jelas Acie.


“Benar sekali, kita harus memberitahu warga desa jika ingin selamat.” Tambah Caezar.


“Basilio, kumpulkan anak buahmu kemari. Kita akan memberitahu para warga desa tentang hal ini.” Pinta Tuan Dalmar.


“Baik, Tuan.” Sahut Basilio dan segera keluar dari rumah Tuan Dalmar.


Para anak buah Basilio telah berkumpul di depan rumah Tuan Dalmar. Dengan segera Tuan Dalmar memberitahu apa yang harus mereka lakukan.


“Dengarkan saya baik-baik! Saat ini para pengawal kerajaan tengah menuju kemari. Kita harus memberitahu warga desa tentang hal ini. Katakan pada warga desa bahwa mereka harus bersikap seperti biasanya saat para pengawal itu sampai di desa kita. Mereka harus sebisa mungkin bersikap tenang. Tidak boleh ada yang memberontak dan menghadang para pengawal itu. Tidak ada yang boleh membawa senjata apapun saat menghadapi para pengawal itu. Dan katakan pada warga desa bahwa mereka akan sampai kemari besok. Jadi, mereka harus bersiap-siap. Satu hal lagi, sekedar untuk berjaga-jaga, suruh para wanita, anak-anak, dan orang tua untuk berkumpul di hutan berburu saat fajar nanti. Kalian mengerti ...!!!” jelas Tuan Dalmar.


“MENGERTI ....!!!!!” sahut para bandit gunung itu dengan serempak.


Dengan segera mereka melaksanakan perintah dari Tuan Dalmar. Para bandit itu pergi ke rumah para warga desa di malam yang penuh badai. Dan beberapa anak buah yang lain pergi bersama dengan Sol menuju ke penggunungan untuk memantau pergerakan dari para pengawal kerajaan.


Acie berjalan mendekat kearah ayahnya yang berdiri diambang pintu.


“Ayah ... aku merasakan hal yang buruk akan terjadi,” ucap Acie dengan lirih.


“Semua akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir Nak ...,” ucap Tuan Dalmar sambil mengusap pelan kepala Acie.


“Semoga saja ...,” gumam Acie.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2