
Suara tapak kuda yang berjalan menuju gerbang Ibu Kota kerajaan Emerald membuat seluruh rakyat Ibu Kota terdiam merasa penasaran, kira-kira kabar besar apa lagi yang akan mereka dengar kali ini.
Gerbang yang amat besar itu terbuka perlahan menampakkan isi di dalamnya. Puluhan prajurit terlatih itu memasuki gerbang dan disambut dengan sorakan senang para warga Ibu Kota. Tanpa segan warga-warga itu melempari batu kearah sebuah gerobak kayu yang ditarik oleh seekor kuda.
“Dasar pengkhianat ...!!!”
“Bunuh dia ...!!!”
“Dasar manusia sampah ...!!! jangan ampuni dia ...!!!”
“Hukum mati pengkhianat itu ...”
Teriakan mereka membuat seseorang yang berada di dalam gerobak kayu itu melihat dari balik sela kayu yang mengurungnya. Dia melihat mereka terlihat sangat senang melemparinya dengan batu. Sesaat setelah melihat ke mana dia dibawa, dia kembali menundukkan kepalanya.
Seorang prajurit mendekatkan kudanya kearah pemimpin mereka yang berjalan di barisan depan.
“Kapten, apa tidak masalah jika kita membawa para pemberontak itu ke hadapan Yang Mulia? Mereka bukan pengkhianat yang dicari oleh kerajaan.” Tanya pengawal itu dengan wajah cemas.
“Ini lebih baik daripada tidak membawa apa-apa.” Jawab sang Kapten dengan wajah datar.
“B- baiklah.” Putus pengawal itu dan segera menjauh dari kaptennya itu.
Sebuah ruangan besar nan mewah berbalut emas, di sana terlihat seorang pria paruh baya berdiri di depan subuah cermin besar bersama dengan empat orang pelayan wanita yang tengah memakaikan pakaian padanya.
Dengan jangggut putihnya yang terpotong rapi, serta wajah wibawa dan tegasnya membuat semua orang yang melihat merasa segan dan takut. Dia adalah penguasa bumi matahari, penguasa kerajaan Emerald, Yang Mulia Raja TANZAN.
“Yang Mulia ...” panggil seorang pria dari balik pintu.
“Masuklah! ” suruh sang Raja.
Seorang pria paruh baya berumur sekitar 60 tahun berajalan memasuki ruangan sang Raja dengan penuh hormat.
“Yang Mulia ... hamba ingin melaporkan bahwa para prajurit yang dikirim ke wilayah Snieheuvel telah kembali ke kerajaan Emerald. Mereka membawa para pemberontak di wilayah itu.” Jelas pria yang berpangkat sebagai tangan kanan raja.
“Baiklah, suruh mereka segera menghadapku, dan bawa pemberontak itu ke ruang sidang istana.” Perintah sang raja.
“Baik, Yang Mulia.” Jawab pria itu dan segera beranjak dari ruangan sang raja.
Pemimpin pasukan yang baru saja kembali dari wilayah Snieheuvel itu bernama Gori Vatra. Dia sosok pria tangguh yang sejak masih muda sudah diangkat oleh Raja Tanzan menjadi pasukan pribadinya. Dia pria yang amat tangguh bahkan kekutannya lebih kuat dari seratus banteng. Dia termasuk ke dalam lima kesatria elit kerajaan Emerald. Gori Vatra sering di juluki dengan nama kesatria Batu dari Timur oleh rakyat Kerajaan Emerald. Dia dikenal dengan tubuhnya yang sekeras batu, tidak ada senjata yang bisa melukainya. Raut wajah datarnya yang tidak pernah berubah menambah ciri khas dari Kesatria Batu itu.
Sang raja telah duduk disinggahsananya dengan amat berwibawa. Gori Vatra dan dua orang bawahannya memasuki ruangan tempat diputuskanya hukum di istana dengan penuh hormat. Diikuti dengan dua sandera yang mereka bawa dari wilayah Snieheuvel. Gori Vatra dan para prajurit itu segera memberi hormat kepada sang Raja dengan penghormatan khusus para prajurit, yaitu tangan kanan digepalkan dan diletakkan di dada sebelah kiri serta kepala ditundukkan ke bawah.
“Hormat kami sang penguasa bumi matahari ...!!!” seru mereka bertiga sebagai penghormatan khusus bagi para prajurit yang telah usai menjalankan misi.
Yang Mulia Tanzan hanya mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda menerima hormat mereka. para prajurit itu kembali berdiri dengan tegak menghadap sang raja.
“Baiklah, bagaimana misi kalian?” tanya sang Raja.
“Hormat Yang Mulia ... kami para prajurit Kerejaan Emerald yang ditugaskan ke wilayah Snienheuvel telah berhasil mengamankan dan meratakan wilayah tersebut.” Jawab sang Kapten.
“Bagus jika begitu, lalu di mana buah keberhasilan kalian?” tanya sang Raja kembali.
“Kami berhasil menangkap pemimpin dari sebuah desa yang terdapat di atas gunung salju Albion, desa tersebut bernama Alba. Desa itu adalah desa pelarian dari para pemberontak kerajaan. Selain mereka berdua, kami telah menghabisi semua orang yang tinggal disana.” Jelas Gori Vatra.
“Bagus, bawa mereka ke hadapanku.” Pinta sang Raja.
Dengan segera kedua sandera itu dibawa mengahadap Raja Tanzan. Dengan tubuh yang penuh luka serta kedua tangan di belakang yang diikat dengan rantai tidak membuat Tuan Dalmar dan Basillio terlihat takut dan lemah. Mereka tertunduk ke lantai di hadapan Raja Tanzan.
“Angkat wajah kalian!” perintah sang raja.
Dengan segera dua orang prajurit yang berdiri di samping masing-masing mereka mengangkat wajah Tuan Dalmar dan Basillio dengan kasar.
“Kalian tau apa yang akan dialami oleh seorang pemberontak? Mereka akan di jatuhkan hukuman pancung dan kepalanya akan di gantung di gerbang Ibu Kota serta tubuhnya akan diberikan kepada burung pemakan bangkai. Itu adalah satu-satunya pilihan atau takdir yang akan kalian dapatkan. Tidak ada kata ampun bagi siapapun yang menentang Raja.” Jelas Raja Tanzan.
Ucapan Raja Tanzan membuat Basillio bergidik ngeri, ia tau kalau semuanya akan berakhir dengan kematian, tapi tubuhnya tak henti-hentinya gemetar. Tuan Dalmar terlihat tenang tanpa menjawab sepatah kata pun. Ia tidak ingin bersikap ceroboh, dia hanya memikirkan keselamatan warga desanya yang kini masih selamat. Jika dengan kehilangan nyawanya mereka yang di sana akan baik-baik saja, maka tidak ada hal yang lebih baik selain patuh pada sang penguasa bumi matahari itu, begitu pikir Tuan Dalmar.
“Tidak ada yang ingin kalian katakan? Mungkin saja aku bisa meringankan hukuman kalian.” Tanya sang Raja dengan acuh.
“Hamba tidak berani Yang Mulia,” Jawab Tuan Dalmar dengan tenang.
“Sungguh disayangkan kalau begitu, tapi karena hari ini adalah hari yang berharga bagiku, hukuman kalian akan diundur dua hari lagi.” Putus Raja Tanzan dengan wajah wibawanya.
Basillio begitu terperanjat mendengar keputusan itu, walaupun Cuma dua hari, setidaknya kematian telah mundur selangkah dari urat lehernya. Tuan Dalmar hanya bungkam di tempatnya.
“Bawa mereka ke penjara bawah tanah.” Perintah sang raja.
“Baik, Yang Mulia!” sahut sang kapten.
Segera Raja Tanzan turun dari singgahsananya dan keluar dari ruang sidang bersama dengan tangan kanannya.
Dengan kaki yang diikat rantai, Tuan Dalmar dan Basillio di bawa oleh dua orang pengawal penjara bawah tanah menuju ke tempat mereka akan dikurung. Udara yang dingin, gelap, bau, serta tanah yang lengket, akan menjadi tempat beristirahat sementara untuk Tuan Dalmar dan Basillio.
Basillio bergidik ngeri saat melihat tengkorak manusia yang tergeletak di dalam salah satu sel di sana.
“Masuk!” suruh pengawal itu.
Tuan Dalmar dan Basillio tidak disatukan di dalam satu sel. Basillio dimasukkan ke dalam sel yang berhadapan dengan sel Tuan Dalmar. Sel itu telah dikunci dengan baik tidak ada yang bisa membukanya. Kini nasib Tuan Dalmar dan Basillio telah berada di ujung tanduk.
“Tuan ...” panggil Basillio.
Tuan Dalmar mengangkat wajahnya melihat kearah Basillio, “Ada apa?” tanyanya.
“Apa tidak ada yang ingin Tuan katakan pada Yang Mulia? Jika Tuan mengatakan bahwa kita bukanlah pemberontak, mungkin saja Yang Mulia akan mengampuni kita ...” jelas Basillio dengan wajah yang lirih.
“Siapa yang akan percaya itu, bagaimanapun penjelasan kita, apapun yang kita katakan ... tetap saja kita akan dianggap pemberontak karena telah melawan prajurit kerajaan.”
“Tapi Tuan ... bagaimana bisa Anda menyerahkan nyawa Anda pada hal yang tidak Anda lakukan! Ini menentang dengan harga diri Anda bukan?!” tanya Basillio dengan wajah menuntut.
“Kadang, harga diri tidak selalu memberikan jawaban, jika dengan mengorbankan harga diri bisa menyelamatkan orang lain itu akan lebih baik. Setidaknya kematian yang tengah menunggu kita bukanlah kematian yang sia-sia.”
Basillio tertegun mendengar ucapan Tuan Dalmar barusan, “Baiklah, jika itu yang Tuan pikirkan ... maka saya juga tidak akan membuat harga diri terakhir saya tercoreng dengan rasa takut akan kematian.” Ucap Basillio dengan penuh keyakinan.
“Maafkanlah diriku ini ... yang telah membuat hidupmu berakhir gelap seperti ini,” ucap Tuan Dalmar dengan wajah bersalah.
“Apa yang Tuan katakan ... Tuan sama sekali tidak melakukan kesalahan!”
__ADS_1
“Jika saja kau dan anak buahmu tidak tinggal di desa, sungguh kau tidak akan ditangkap seperti ini dan anak buahmu juga tidak akan terbunuh begitu saja,”
“Tuan! Anda telah menyelamatkan nyawa saya dan anak buah saya, bahkan Anda telah berbaik hati menerima kami di desa Anda, bahkan ... kami yang hanya manusia pelarian, bisa tidur dengan hangat dan nyaman, bisa memakan makanan yang lezat dan bahkan tertawa bahagia, itu adalah hal yang paling saya syukuri selama masa hidup saya ... padahal Anda sama sekali tidak mengenal kami, bahkan kami ingin menghancurkan desa Anda, tapi... Anda tetap memaafkan kami dan menampung kami. Bukankah itu kebaikan yang besar? Tuan ... jangan berkata seperti itu lagi, setidaknya biarkan saya tetap bersama Anda sampai nyawa saya menghilang dari tubuh saya.” jelas Basillio dengan sorotan mata yang penuh keyakinan dan terima kasih akan sosok tuannya itu.
Tuan Dalmar hanya bisa menghela nafas yang dalam mendengar perkataan Basillio itu. Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya saat ini, jika saja dia bisa menebus nyawa Basillio dengan nyawanya, maka itu akan dia lakukan. Baginya Basilio sudah seperti keluarganya sendiri.
Dengan jubah indah bak seorang raja, Yang Mulia Tanzan berjalan dengan penuh wibawa menuju ke aula istana di mana semua bangsawan dan petinggi –petinggi kerajaan dan juga para petinggi negara tetangga berkumpul. Bukan karna perkara politik, tapi karna tengah diadakannya sebuah acara besar untuk penobatan Putri kerajaan Emerald sebagai Putri Mahkota.
Di sebuah ruangan mewah nan elegan, terlihat seorang wanita cantik yang tengah didandani oleh beberapa pelayan wanita.
“Tuan Putri, sebelum Anda ke aula Anda ingin sesuatu untuk di makan? Anda belum memakan sesuatu sejak tadi.” Tanya seorang pelayan wanita muda yang berdiri di sebelah wanita cantik itu.
“Aku tidak ingin makan Myla, nanti perutku bisa sakit saat penobatan ...” jawabnya sambil melihat pantulan wajah jelitanya di cermin.
“Tapi Putri, acara ini akan sangat lama ...” bantah sang pelayan yang bernama Myla dengan raut wajah khawatir.
“Ya sudah ... bawakan saja segelas air untukku,” putus sang putri.
“Baiklah, Tuan Putri.”
Alessia Filiae, nama sosok putri dari Yang Mulia Raja Tanzan dan Ratu Ineurem. Alessia merupakan satu-satunya anak perempuan Raja Tanzan yang kini akan diangkat menjadi Putri Mahkota kerajaan Emerald. Raja Tanzan tidak memiliki seorang selir pun kecuali sang Ratu. Ini menyebabkan tidak ada lagi keturunan kerajaan yang lahir selain putri Alessia.
“Anda sudah siap Putri, mari kita langsung ke aula.” Ucap Myla dengan sopan.
Gaun biru bertabur permata terbalut indah ditubuh Putri Alessia. Rambut perak sepunggungnya melabai-lambai halus. Kulit putih, wajah kecil yang cantik dan anggun serta bola mata yang berwarna silver menambah cahaya di wajahnya.
Dengan langkah pelan dan anggun putri Alessia berjalan menuju ke aula tempat acara dilaksanakan. Saat Alessia turun dari tangga, seluruh mata dan perhatian para tamu undangan tertuju padanya. Mereka terlihat terpesona melihat kecantikan dari sosok calon Putri Mahkota kerajaan Emerald itu.
Dengan senyuman indah di wajahnya, Alessia berjalan di tengah para tamu yang tak henti melihat dirinya dengan wajah kagum. Alessia berjalan ke tempat ayah dan ibunya yang kini tengah duduk di singgahsana mereka.
Melihat putri tercintanya tengah berjalan kearah mereka, Raja Tanzan dan Ratu langsung berdiri dari tempat duduk menyambut putri tercintanya itu.
“Selamat datang Putriku ...,” seru sang raja menyambut kedatangan Alessia dengan suka cita.
Alessia mengangkat sedikit gaun indahnya dengan kedua tangannya seraya menekukkan sedikit lututnya sebagai pemberian hormat untuk kedua orangtuanya.
“Terima kasih Ayahanda, Ibunda ...” sahut Alessia dengan sopan dan anggun.
Alessia segera duduk di kursi yang telah disediakan khusus untuknya. Dia duduk di sebelah kanan sang raja. Para tamu undangan terlihat sangat kagum melihat keluarga kerajaan Emerald. Tidak sedikit dari para tamu undangan memuji keluarga kerajaan Emerald.
Seorang bangsawan tinggi dari kerajaan tentangga berjalan dengan sopan kearah raja dan ratu kerajaan Emerald.
“Hormat saya Yang Mulia Raja Tanzan dan Yang Mulia Ratu...” ucap seorang pria dewasa yang berpakaian elegan dan mewah.
“Terima kasih telah datang keacara ini Tuan Elvir Viridi...” ucap sang raja dengah wajah ramah.
“Yang Mulia, saya sungguh minta maaf untuk ketidak hadiran Raja Branch dalam acara penting ini, beliau tidak bisa hadir karna tengah berada di negara bagian timur.” Ucap Tuan Elvir dengan sopan.
“Memang saya sedikit kecewa atas ketidak hadiran Raja Branch malam ini, tapi apa yang bisa dilakukan jika beliau tengah berada jauh bahkan jauh dari kerajaannya sendiri.” Papar raja Tanzan dengan bijak.
“Terima kasih Yang Mulia...” sahut Tuan Elvir Viridi dengan sopan sembari meletakkan tangan kanannya di dada dan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Nikmatilah acara malam ini Tuan Elvir,” ucap raja Tanzan kembali diiringi senyuman tipis darinya.
“Dengan senang hati Yang Mulia.” Putus Tuan Elvir.
Sejak sepuluh tahun lalu, setelah peperangan besar antara kerajaan Emerald dan kerajaan Armond, Raja Tanzan mulai mencari sekutu yang bisa bekerjasama dengan kerajaannya saat itu. Kerajaan Orbis merupakan salah satu kerajaan yang bersifat netral. Kerajaan Orbis bukanlah kerajaan yang bisa diajak kerjasama dengan mudah. Kerajaan Orbis adalah kerejaan yang lebih mengutamakan keuntungan dan kedamaian bagi kerajaannya dibandingkan dengan melakukan penjajahan kepada kerajaan lain untuk memperluas kekuasaan. Raja Branch adalah raja yang cerdik dan bijaksana dalam memilih teman atau lawan.
Oleh sebab itu, sangat sulit untuk menjadikan Kerajaan Orbis sebagai sekutu. Namun, dengan susah payah Raja Tanzan dapat mengikat tali sekutu dengan kerajaan Orbis. Dengan memberikan janji kedamaian tanpa adanya jajahan dan dibolehkannya para rakyat kerajaan Orbis untuk berdagang ataupun berbisnis dengan para pedangang kerajaan Emerald. Dan juga dibukanya jalur perairan yang bebas antara kedua kerajaan tersebut. Sehingga menguntungkan kedua belah pihak.
Tak dapat dipungkiri semakin bertambahnya tahun, Kerajaan Emerald dan Kerajaan Orbis semakin terlihat baik dan rukun.
Keluarga kerajaan itu berjalan kearah balkon luar lantai dua istana. Disana mereka saling melemparkan senyuman dan lambaian tangan kepada seluruh rakyat kerajaan Emerald. Sorakan dan pujian hormat terdengar nyaring di telinga. Setelah lima menit menyapa keluarga kerajaan diarahkan untuk kembali ke aula utama istana.
Penobatan sang putri pun dimulai. Seorang pria tua yang menjabat sebagai tetua kerajaan Emerald mulai membacakan pidatonya sebagai langkah awal penobatan. Seluruh tamu undangan diam mendengarkan dengan seksama.
Setelah pidato kehormatan selesai, langsung dilanjutkan dengan penyentuhan tanah pusaka. Purti Alessia diarahkan untuk meletakkan kedua belah tangannya di atas setumpuk tanah yang telah diletakkan di dalam sebuah nampan berukuran sedang. Prosesi ini dilakukan untuk menghormati tanah air tempat berdirinya kerajaan Emerald.
Selanjutnya, kedua telapak tangan Putri Alessia akan di basuh dengan air yang berasal dari sungai yang telah menjadi sumber mata air dan kehidupan di tanah kerajaan Emerald. Setelah prosesi itu selesai, Putri Alessia akan diarahkan untuk duduk berlutut di atas sebuah kotak besar yang terbuat dari emas. Saat itulah mahkota emas bertabur berlian disematkan di kepala Purti Alessia. Prosesi di tutup dengan sumpah kehormatan dari sang Putri.
Dengan suara lantang ia berkata:
“Dengan menjanjikan kedamaian, kerukunan, kemakmuran, kehormatan, kasih sayang, cinta, persatuan, dan kesatuan... Aku Alessia Filiae bersumpah dengan ikatan nyawa dan raga akan senantiasa bersama rakyat kerajaan Emerald. Baik dalam suka ataupun duka. Baik dalam bencana ataupun ketenangan. Baik dalam tangis ataupun tawa. Baik hidup ataupun mati. Mahkota sebagai simbol dan perbuatan sebagai bukti. Jiwa dan raga Alessia Filiae hanya untuk kesejahteraan dan kehormatan seluruh rakyat Kerajaan Emerald. Sang bumi matahari.”
Suguhan kata-katanya itu membuat seluruh raykat kerajaan Emerald besorak menyebutkan namanya dengan penuh kebahagiaan dan suka cita.
Penobatan Putri Alessia sebagai putri mahkota pun telah selesai dilaksanakan dengan saksi seluruh rakyat kerajaan Emerald dan para tamu undangan yang terhormat.
Acara dilanjutkan dengan dansa dari para tamu undangan. Dengan mahkota indah di kepalanya, Alessia duduk manis di kursinya dengan senyuman tipis mengihias wajah cantiknya.
Alunan musik yang indah dan klasik membuat para tamu undangan berdansa dengan keanggunan dan kehikmatan. Seorang pria muda yang mengenakan pakaian mewah dan elegan berjalan mendekati sang putri ditempatnya. Pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan sebuah topeng kaca yang dihiasi dengan tiga helai bulu merak di ujung mata kirinya.
Putri Alessia merasa sedikit terkejut dan heran saat melihat pria itu berjalan mendekatinya.
“Hormat saya yang mulia Tuan Putri Alessia...,” sapa pria itu dengan suara yang sopan dan lembut.
Dengan senyuman ramah Alessia membalas sapaan pria bertopeng kaca itu.
“Terima kasih telah menghadiri pesta ini. Saya merasa sangat tersanjung dengan kehadiran Tuan.”
“Ah... ini acara yang sangat indah Tuan Putri. Apalagi saat suara lembut Tuan Putri melantunkan kata-kata kehormatan itu, saya begitu terpesona dan takjub.” Jawab pria itu dengan penuh pujian.
“Syukurlah kalau begitu.” Jawab Alessia singkat diakhiri senyuman tipis darinya.
__ADS_1
“Maafkan saya Tuan Putri, Anda terlihat tidak begitu nyaman dengan saya sepertinya,” keluh pria itu dengan suara lesu.
“Tidak, saya tidak berpikir seperti itu. Tuan tidak membuat saya tidak nyaman.” bantah Alessia dengan cepat.
“Ah... ternyata saya berpikir hal yang salah. Maafkan saya Tuan Putri,” pintanya.
“Tidak apa-apa, itu tidak perlu dipermasalahkan. Nikamatilah pesta ini Tuan,” ucap Alessia disertai senyuman indahnya.
“Dengan senang hati Tuan Putri. Sebagai tanda penghormatan... bolehkah saya mencium tangan Tuan Putri?” tanya pria itu dengan berharap.
“Tentu saja Tuan,” izin diberikan oleh Alessia.
Setelah kecupan hormat itu, pria bertopeng kaca itu menghilang dalam kerumunan orang yang tengah asik berdansa dengan pasangannya. Masih dalam keadaan bingung, Alessia mengarahkan bola matanya ke arah kerumunan orang mencari keberadaan pria bertopeng kaca itu. Rasanya dia seperti hembusan angin yang sekejab datang lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.
Acara penobatan dan pesta malam itu selesai dengan hikmat dan penuh kebahagiaan. Para tamu undangan sudah mulai pergi dari istana baik kembali ke kediaman mereka atau menginap dipenginapan sementara mereka sebelum kembali ke tempat asal mereka esok hari.
Rasa lelah dan letih tak dapat dihindari oleh Alessia yang terbaring telungkup di atas ranjangnya yang empuk.
“Tuan Putri, minumlah segelas teh herbal ini! Tuan Putri... bangunlah sebentar dan minum ini agar tubuh Anda besok tidak terasa nyeri dan sakit karena kelelahan...,” seru Myla pelayan pribadi Alessia.
“Aku lelah sekali... aku tidak bisa menggerakkan tubuhku lagi...! lihat! Tanganku saja tidak bisa ku angkat lagi...” keluh Alessia kepada Myla.
“Tuan Putri... sedikit saja! Setidaknya dongakkan kepalamu saja! Ayo!” pinta Myla.
“Tidak bisa... aku tidak bisa bergerak lagi...” keluh Alessia kembali.
Myla menyerah dengan keras kepala tuan putrinya itu.
“Baiklah kalau begitu! Besok Tuan Putri jangan mengeluh pada saya kalau tubuh Anda sakit ya!”
“Emh... ”
“Kalau begitu saya permisi, selamat malam Tuan Putri,” Ucap Myla.
“Emhh... malam...” gumam Alessia.
Sinar matahari di langit sungguh sangat menyilaukan, tapi tak akan sampai di ruangan dingin nan gelap yang ditempati oleh Tuan Dalmar dan Basilio. Di pojok sel tahanannya yang gelap Tuan Dalmar duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya.
Saat seorang pengawal berjalan ke depan sel tahanan Tuan Dalmar dan memukul salah satu batang besi itu dengan tombak besinya, Tuan Dalmar dengan tenang membuka matanya dan mengarahkan pandangannya kearah pengawal itu.
Tuan Dalmar melihat seorang pria memakai jubah hitam dengan kalung giok hijau di lehernya. Tuan Dalmar menyipitkan matanya mencoba melihat siapa orang itu. Namun, dia tidak tau sama sekali siapa orang berpakaian hitam itu.
Pengawal itu membukakan pintu sel tahanan Tuan Dalmar. lalu pria berjubah hitam itu masuk ke dalam sel tersebut. Dengan tenang Tuan Dalmar masih tetap duduk bersila ditempatnya.
Pria jubah hitam itu mendekati Tuan Dalmar yang kembali menutup matanya. Pria itu juga duduk bersila di depan Tuan Dalmar.
“Sudah lama tidak bertemu. Dan saat pertama kali bertemu kembali langsung ditempat seperti ini.” Ucap pria itu yang membuat Tuan Dalmar membuka matanya.
Tuan Dalmar masih diam tanpa sepatah kata. Ia hanya menatap lurus kearah pria di depannya itu.
“Guru, Anda sudah lupa dengan saya?” tanya pria itu.
Tuan Dalmar sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria di depannya itu.
“Memang itu sudah sangat lama Guru. Saat itu saya masih remaja dan setelah lima belas tahun, saya baru bisa bertemu dengan guru kembali.” Aku pria itu.
Tuan Dalmar menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya dengan pelan.
“Saya tidak tau tujuan dan maksud apa Anda kemari, tapi maaf... saya tidak tau siapa Anda.” Ucap Tuan Dalmar dengan datar.
“Tentu saja Guru sudah lupa, ini sudah berselang lima belas tahun sejak kita bertemu. Tapi Guru... saya tidak pernah melupakan Guru sama sekali. Bahkan sampai saat ini. Saya tetap bisa mengenali Guru.” Aku pria itu kembali.
“Jika mendengar suaramu, kau sepertinya masih muda. Anak muda ... ini bukanlah tempat untuk saling bertegur sapa. Katakan saja apa tujuanmu ke tempat seperti ini, dan jika tidak ada hal lain selain perkataanmu barusan, pergilah dari sini. Tidak baik bagimu untuk berlama-lama di sini.” Jelas Tuan Dalmar mencoba mengakhiri percakapan yang tidak jelas itu.
“Baiklah, saya tidak akan berbasa-basi lagi. Tuan Arden Gorga, saya sangat berharap Anda bisa bekerja sama dengan kami kali ini.”
Seketika tubuh Tuan Dalmar membeku saat pria di hadapannya itu menyebutkan perkataannya barusan. Seakan sekujur tubuh Tuan Dalmar berhenti dialiri darah. Ia begitu sangat tersentak saat tiba-tiba pria itu menyebut nama Arden Gorga di depannya.
“Tuan Gorga, saya tau siapa Anda. Bahkan selama lima belas tahun ini... saya tau di mana Anda dan bersama siapa. Seorang putra dan dua orang putri yang tinggal bersama Anda di sebuah desa yang damai, tapi sekarang telah hancur. Anda dibawa kemari bersama seorang bawahan Anda yang dulunya adalah seorang pimpinan prajurit di benteng Utara. Selain itu, Anda juga ditangkap sebagai pengkhianat kerajaan ini.” Jelas pria itu.
“Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Tuan Dalmar merasa curiga.
“Tidakkah Tuan berpikir jika kerajaan ini aneh? Semua berjalan tidak ideal. Rakyat sekarang tengah mengalami krisis pangan dan tempat tinggal, tapi sang raja malah melakukan pesta besar-besaran untuk putrinya. Padahal rakyat miskin sama sekali tidak bisa merasakan sebiji gandum pun dalam hari-hari mereka. selain itu, saat masalah pengkhianat kerajaan yang kabur dari tahanan istana, raja malah menyuruh para kesatrianya untuk menghancurkan desa-desa terpencil dan mengambil pajak paksa kepada penduduk disana. Apakah Tuan tidak merasa kasihan dengan negeri ini? Tuan, saya bukanlah musuh Anda. Saya hanyalah musuh ketidak adilan negeri ini. Tuan, esok hari Anda akan segera dieksekusi. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi. Tuan, masih ada waktu untuk menolong nyawa yang tidak bersalah. ikutlah dengan saya Tuan!”
Penjelasan dari pria tersebut membuat Tuan Dalmar merasa sedikit gusar dalam diamnya. Dia berpikir apakah pria di depannya itu memiliki maksud jahat atau tidak. Dia tidak bisa menebaknya sama sekali.
“Tidak ada yang bisa dilakukan lagi sekarang. Tidak ada gunanya melarikan diri dari sini. Selain itu kau akan berada dalam bahaya besar jika membawa lari seorang tahanan kerajaan.” Ucap Tuan Dalmar dengan tenang.
“Tuan, saya hanya perlu persetujuan dari Tuan. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah keadilan Tuan.” Kukuh pria itu.
Sekilas Tuan Dalmar melihat kearah sel tempat Basilio berada. Andaikan dia bisa menyelamatkan nyawa pria malang itu pasti akan dia lakukan apapun itu.
“Saya tidak tau apa maksudmu sebenarnya, tapi jika saya menyetujuinya, bisakah dia ikut bersamaku?” tunjuk Tuan Dalmar kearah sel Basilio.
“Tentu Tuan.” Aku pria itu meyakinkan.
“Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan.” Putus Tuan Dalmar dan kembali menutup matanya.
“Baik Tuan, saya akan segera kembali.” Segera pria itu keluar dari sel tahanan Tuan Dalmar dan menghilang dari sana.
Rasa bingung mendera Tuan Dalmar. Tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Namun, jika itu bisa membantu Basilio selamat dari kematian, maka itu akan sedikit membuatnya tenang. Akankah takdir berpihak padanya untuk hidup, ataupun malaikat kematian akan segera menghampirinya. Keputusan bulat pun telah diambil olehnya. Ia tidak bisa mengelaknya lagi ataupun membatalkannya.
Bersambung...
* * * * *
__ADS_1