THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 6 Hutan Larangan


__ADS_3

Terkisah 50 tahun yang lalu, di mana bumi masih banyak dihuni oleh para manusia yang memiliki ilmu sihir. Para manusia itu hidup berdampingan dengan ras moster dan iblis yang saling memberi dan menerima.


Manusia, moster, iblis, ke tiga ras ini hidup dengan damai di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Tidak ada perlawanan atau demonstrasi dari ketiga belah pihak. Namun, kenyataan yang pahit menghampiri kaum manusia. Karena hawa nafsu dan haus akan kekuasaan dan kekuatan, manusia lemah itu mulai mengatur taktik untuk menghancurkan dua ras lainnya. Mereka saling berbagi ilmu dan menyelinapkan mata-mata ke masing-masing ras tersebut.


Ras moster dan iblis tidak tahu menahu tentang demonstrasi besar yang tengah dipersiapkan oleh ras manusia. Hingga pada akhirnya, hari penghancuran dimulai.


Ras manusia adalah ras paling lemah dari kedua ras lainnya, sehingga membuat manusia tidak akan bisa unggul dari segi kekuatan. Namun, dengan mengandalkan pemikiran dan otak cerdas, ras manusia mulai melakukan serangan demi serangan kepada ras moster dan ras iblis. Hingga peperangan besar terjadi, ribuan ras manusia mati dalam peperangan sengit itu. Langit memerah bagaikan lautan darah. Tanpa rasa lelah dan putus asa, ras manusia terus berjuang dengan sekuat tenaga. Hingga kemenangan hampir didapatkan oleh ras manusia.


Karna merasa takut akan hantaman bertubi-tubi yang diberikan oleh ras manusia. Para pasukan moster lari untuk menyelamatkan diri dari pembantaian. Namun, tidak dengan para iblis yang sangat mengutamakan harga diri, mereka terus bertempur, walaupun kalah jumlah mereka tetap terus berusaha untuk meraih kemenangan yang sudah tidak mungkin dicapai. Pada akhirnya, para iblis pun hampir lenyap hanya meninggalkan sisa debu dari kehancuran mereka. Sang raja iblis pun turun tangan dalam peperangan yang hampir berakhir.


Tidak ada yang bisa mengalahkan sosok raja iblis yang kekuatannya bahkan lebih besar dari seribu pengikutnya. Namun, dengan harapan kemenangan yang sudah di depan mata. Sang penguasa manusia pun menjadi lawan tanding raja iblis. Kekalahan salah satu dari dua penguasa itu akan mengakhiri peperangan panjang tersebut.


Serangan demi serang terus datang dari dua penguasa. Seakan tidak ada jeda dari kedua belah pihak. Mereka terus menyerang satu sama lain. Mereka terus bergelut dengan kekuatan yang sama besar. Hingga salah satu dari mereka pun terjatuh. Merasa terpojok, ras manusia yang sudah tidak memiliki kekuatan, mengeluarkan sebuah benda pipih yang terbuat dari besi dengan bilahan yang tajam, serta cahaya biru memancar dari bilah pedang tangguh yang digenggam erat oleh penguasa ras manusia.


Dengan penuh keyakinan dan taruhan nyawa, sang penguasa manusia itu berlari sekuat tenaga kearah raja iblis yang juga mengeluarkan kekuatan pamukasnya. Dua kekuatan besar itu saling mendorong satu sama lain. Hingga bilah pedang itu menancap tepat di jantung sang raja iblis. Kemenangan telah didapatkan dalam genggaman ras manusia. Namun, semua itu belum berakhir, karena menyerap kekuatan dari raja iblis yang penuh dendam, pedang pusaka itu tidak bisa hidup di tengah-tengah kawanan manusia. Jika tidak, seluruh manusia akan musnah karna daya serap yang sangat kuat dari pedang tersebut. Sehingga para petinggi ras manusia memutuskan untuk mengubur pedang terkutuk itu di dalam hutan rimba yang jauh dari kawasan ras manusia.


Dikarna kekuatan yang sangat besar dari pedang terkutuk itu, menyebabkan para moster memburu pedang tersebut. Namun, hingga sekarang ini, tidak ada tanda-tanda akan keberadaan dari pedang terkutuk itu. Jika saja ada yang mendapatkannya, mungkinkah musibah besar akan kembali menjemput ras manusia? Hanya takdir yang akan menjawab.


Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, terlihat seorang manusia bertubuh kecil tengah bergulat dengan bilahan kayu di depannya. Terlihat semangat yang membara dari sosok tersebut. Seakan dia tengah bertarung dengan musuh terkuatnya. Tidak ada helaan nafas yang terdengar darinya.


Satu per satu batang kayu itu menjadi bagian-bagian kecil. Hingga sinar mentari menampakkan sosok tersebut dengan jelas. Bola mata emasnya saling bertautan dengan sinar mentari yang terang dan berkilauan.


“Acie! Bawa kayu itu kemari!” seru sang kakak perempuan yang bernama Ciero.


“Siap!” sahut Acie dengan semangat.


Air mendidih telihat menguap di dalam tungku besi berukuran sedang yang menggantung di atas api yang membara. Dengan terampil, Ciero memasukkan satu persatu sayuran yang telah ia potong kecil-kecil. Sedikit garam dan merica ia tambahkan untuk menambah rasa dari rebusan itu.


“Hari ini kakak ingin makan danging apa?” tanya Acie pada sang kakak yang tengah fokus dengan masakannya.


“Kelinci,” tukas Ciero datar.


“Baiklah! Hari ini untuk makan malam kita makan daging kelinci.” Putus Acie dengan antusias.


Selepas sarapan pagi, dengan membawa busur kesayanganya di punggung, Acie siap untuk mencari buruannya di hari yang cerah ini.


“Aku berangkat!” seru Acie dari depan pintu rumahnya.


“Hati-hati! Jangan sampai kemalaman!” ujar Ciero dari dalam rumah.


“Itu tidak akan terjadi!” seru Acie dan segera berlari menuju arah hutan.


Langkah demi langkah ia jajakan di dalam hutan salju itu. Sulit untuk mencari kelinci di dalam hutan yang dingin. Dengan teliti Acie mengerahkan indera pendengarannya untuk menangkap suara di sekitaran hutan. Hanya dengan satu gerakan kecil saja, Acie sudah dapat membedakan gerakan binatang apa yang ditangkap inderanya.


“Ah!” mengerutu, “Kenapa tidak ada satu pun kelinci yang lewat.” Keluh Acie.


Acie memutuskan untuk memasuki area tengah hutan. Dengan langkah yang hati-hati dan pasti, Acie menangkap jejak pergerakan dari binatang mamalia yang dicarinya.


“Dapat!” gumam Acie.


Segera ia menyiapakan busur dan anak panahnya dalam posisi siap untuk menembak. Terlihat seekor kelinci yang berwarna coklat tengah meloncat-loncat di atas salju. Acie mulai merekam posisi buruannya tersebut dengan mata batinnya. Jika Acie milihat objek yang bernyawa maka objek tersebut akan berwarna merah, lain halnya dengan objek yang tidak bernyawa maka dia akan melihat warna kuning. Dengan bidikan yang tepat pada jantung Kelinci itu, Acie mulai melepaskan gengaman jarinya dari anak panah. Namun, niatnya tertahan saat kelinci itu tiba-tiba berlari ke dalam hutan.


“H-hei ...!!! tunggu!!!! Tunggu ...!!!” teriak Acie.


Dengan cepat Acie berlari mengejar buruannya yang terlepas itu. Kelinci itu terus berlari masuk ke tengah hutan. Cahaya matahari mulai meredup karena daun pohon pinus yang rindang menutup jalannya cahaya.


Acie terus mencari-cari keberadaan kelinci coklat itu. Dengan mengandalkan penglihatan batin dan indera pendengarnya, Acie menemukan sasarannya kembali. Kali ini dia sudah siap untuk memanah jantung kelinci coklat itu.


“Baiklah ... jangan bergerak ya ...” gumam Acie pada dirinya sendiri.


Anak panah melesat dengan cepat dan mengenai tepat di jantung kelinci coklat tersebut. Acie terlihat sangat puas akan aksinya itu. Kini kakaknya pasti sangat senang saat melihatnya membawa pulang seekor kelinci. Segera Acie berlari kearah buruannya yang terjatuh. Ia singkirkan anak panah yang menancap di jangtung kelinci itu. Dengan wajah bahagia Acie membawa pulang buruannya tersebut.


Hari semakin bertambah gelap. Bukan karena akan malam, tapi karena awan hitam yang menutupi sinar matahari. Cuaca cerah kian berubah menjadi mendung. Acie masih berada di tengah hutan, dia tidak merasakan ada awan hitam atau cuaca buruk di sekitar hutan yang di masukinya.


Acie terus melangkahkan kakinya tanpa henti. Dia sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan pada kakak perempuannya. Namun, terlintas perasaan yang tidak enak di pikiran dan hati Acie. Dia menghentikan langkahnya, dengan diam dia mulai merasakan seperti sesuatu yang buruk akan terjadi. dia tersentak saat tiba-tiba Luna si serigala putih yang bersemayam di dalam tubuh Acie berbicara telepati dengannya.


“Tuanku ..., hamba merasakan kekuatan yang sangat besar disekitar sini.” Seru Luna pada tuannya.


“Aku juga merasakannya. Dari mana asal daya kekuatan besar itu? Kau tau?” tanya Acie pada perisainya.


“Hamba masih tidak yakin Tuanku. Sepertinya arah daya kekuatan besar itu berasal dari perbatasan desa.” Jelas Luna.


“Perbatasan desa?! Kau yakin?” Acie merasa khawatir dengan terkaan Luna.


“Iya, Tuanku.” Jawab Luna.


Dengan segera Acie berlari menuju arah perbatasan Desa Alba. Semakin ia berjarak dekat dengan arah perbatasan desa, daya kekuatan itu semakin kuat. Kekuatan Acie tiba-tiba seakan hilang, dia lemah dan tidak bisa berlari lagi.


“K-kenapa dengan tubuhku?” gumam Acie sembari memegang sebuah pohon yang berada di dekatnya untuk bisa menahan tubuhnya yang semakin lemah.


“Tuanku! Ini sangat berbahaya. Hamba merasakan kekuatan yang sangat buruk tengah menyebar dari arah hutan itu.” Jelas Luna dengan telepati.

__ADS_1


“A-aku tau, tapi tubuhku rasanya berat sekali. Aku tidak bisa melangkah lagi,” keluh Acie dengan nafas yang berat.


“Tuanku, biarkan hamba keluar. Tubuh hamba masih bisa menahan energi itu.” Pinta Luna pada tuannya.


“Baiklah, keluarlah ... LUNA!” Seruan Acie mengeluarkan sosok makhluk besar dari dalam tubuhnya.


Segera Acie naik ke atas tubuh Luna. Kini dia sudah sedikit lebih baik dikarenakan daya pelindung yang diberikan Luna padanya.


Perbatasan Desa Alba telah terlihat di depan mata Acie dan Luna. Dengan segera Luna melompati tumpukan karung goni yang menjadi pembatas wilayah Desa Alba dengan hutan rimba larangan.


“Tuanku, haruskah saya mendekat kearah daya besar itu?” tanya Luna pada Acie yang duduk di atas punggungnya.


“Aku tidak yakin kita bisa mendekat ke sana, tapi aku perlu tau apa penyebab munculnya kekuatan besar ini. Ayo Luna! Kita ke sana,” putus Acie.


“Baik, Tuanku.” dengan patuh Luna segera melaksanakan perintah tuannya.


Acie begitu tersentak ketika mendapati sebuah gundukan tanah setinggi satu meter mengeluarkan hawa sihir yang menakutkan. Acie mencoba melihat isi dari gundukan tanah itu. Namun, mata batinnnya tidak bisa menembus daya sihir kuat itu. Seakan penglihatan batinnya dihalangi oleh tumpukan kabut hitam yang tebal. Acie terus mencoba untuk bisa melihat isi gundukan itu. Secara tiba-tiba Acie memuntahkan darah dari mulutnya.


“HUKH ...!!” terbatuk hingga muntah darah.


“Tuanku!” seru Luna.


“A-aku tidak bisa melihatnya. Aku__HUKH!” Acie kembali memuntahkan darah dari mulutnya.


“Hentikan Tuanku! Ini sangat berbahaya. Hamba merasakan hawa kematian dari dalam sana.” Jelas Luna kepada tuannya yang terlihat tidak dalam keadaan baik.


Acie terus memupuk kekuatan agar dapat melihat apa yang ada dibalik gundukan tanah itu. Luna mencoba memberikan energinya kepada Acie. Dengan bantuan dari energi yang disalurkan Luna pada Acie, kini dia sudah mulai bisa bergerak kembali.


“Aku akan turun,” ucap Acie pada Luna.


“Baik.” Luna menundukkan kepalanya ke tanah.


Dengan segera Acie meluncur dari atas kepala Luna hingga menginjaki tanah.


“Luna! Masuklah kembali ke dalam tubuhku!” perintah Acie.


“Baik,Tuanku.” Sahut Luna patuh.


Serigala putih besar itu segera masuk ke dalam tubuh tuannya.


“Luna! Keluarkan sihir pelindungmu!” pinta Acie pada perisainya.


Acie begitu tersentak saat mata batinnya menangkap sebuah objek yang berwarna hitam bercampur dengan warna merah darah. Dia mencoba terus menembus cahaya hitam merah itu dengan mata batinnya. Acie berhasil menemukan sebuah benda mati yang berbentuk seperti pedang tertancap di dalam tanah itu.


“Luna! Kau melihatnya?” tanya Acie kepada Luna dengan telepati.


“Iya, Tuanku. Hamba melihat sebuah pedang yang mengeluarkan daya sihir yang begitu besar.” Aku Luna pada tuannya.


“Apa yang harus kita lakukan? Harus kah kita mengambilnya?!” tanya Acie pada sang perisai.


“Hamba tidak bisa menerkanya Tuan. Bisa saja benda itu sangat berbahaya. Menurut energi sihir yang keluar dari benda itu, bukan satu hal yang baik jika kita mendekatinya.” Jelas Luna.


Acie mulai berpikir keras dengan keputusan yang akan diambilnya. Jika dia mengambil pedang sihir itu bisa saja akan membahayakan dirinya. Namun, Acie memutuskan untuk menahan sihir itu dengan energi sihir Luna.


“Luna! Bisakah kau tahan energi ini dengan sihir pelindungmu?” tanya Acie pada Luna dengan telepati.


“Tentu, Tuanku. Namun, hamba harus berada dekat dengan energi sihir itu, jika tidak, sihir pelindung yang akan hamba berikan tidak berefek kuat.” Jelas Luna.


“Baiklah kalau begitu. LUNA! Keluarlah!” seruan Acie membuat Luna keluar dari tubuhnya.


“Luna! Dengarkan aku baik-baik. Kau harus menahan energi sihir ini agar tidak menyebar hingga kearea desa. Aku akan kembali ke desa dan memberitahu warga desa agar tidak ada yang mendekat kearea perbatasan. Luna ingat lah satu hal! Jangan paksakan dirimu! Jika kau sudah tidak sanggup, maka pergilah sejauh mungkin, Kau mengerti!” pinta Acie pada sang perisai.


“Tentu, Tuanku. Sesuai perintah Anda,” sahut Luna dengan patuh.


“Baiklah, aku akan pulang ke desa sekarang, dan aku akan segera kembali.” Jelas Acie.


Dengan cepat Acie berlari menuju Desa Alba. Jaraknya dengan desa kecil itu sekitar dua kilometer. Beberapa bandit yang berjaga di area belakang desa, tersentak saat melihat Acie yang berlari dengan cepat kearah mereka.


“H-hei! Bukankah itu... Nona Acie?!” tanya salah satu bandit pada teman yang duduk di sampingnya.


“Iya! Itu Nona Acie! Kenapa dia berlari seperti itu?” ucap bandit yang lainnya.


Sesapainya Acie di tempat para bandit itu berjaga, Acie segera berjalan mendekati mereka.


“Kalian berdua! Cepat kembali ke desa sekarang! Cepat!” pinta Acie dengan serius.


Para bandit itu terlihat bingung mendengar perkataan Nonanya itu. Mereka saling memandang satu sama lain bergantian.


“Apa yang kalian tunggu! cepat pergi dari sini!” suruh Acie dengan tekanan.


“T-tapi kenapa Nona? Kenapa kami harus kembali ke desa? Apa terjadi sesuatu di desa?” tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


“Lakukan saja perintahku!” tukas Acie dengan wajah serius.


“B-baik Nona!” sahut bandit itu dan segera beranjak dari sana.


Acie telah sampai di Desa Alba. Dia segera menuju ke rumahnya, dengan segera Acie mencari keberadaan ayahnya.


“Acie! Kau sedang apa?!” tanya Ciero yang bingung dengan gelagat adiknya itu.


“Ayah di mana?!” tanya Acie pada kakak perempuannya dengan menampakkan wajah gelisah.


“A-Ayah tidak ada di sini! Ayah di balai desa sekarang. Ada apa?! Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?!” tanya Ciero pada Acie yang tidak mengubris pertanyaannya.


Segera Acie berlari ke balai desa. Terlihat Tuan Dalmar tengah sibuk dengan para tetua desa di sana. Tanpa permisi Acie langsung berlari kearah ayahnya. Tuan Dalmar begitu terkejut melihat keberadaan Acie di tengah-tengah rapat.


“Ayah! Ada hal yang sangat buruk terjadi!” Aku Acie yang membuat semua orang yang berada di situ terkejut dengan ucapannya.


“Apa maksudmu?!” tanya Tuan Dalmar pada putrinya itu.


“Ayah! Dengarkan baik-baik! Di hutan yang dekat dengan perbatasan desa, muncul subuah energi sihir yang sangat besar. Jika ada yang mendekati perbatasan desa dan area hutan itu bisa sangat berbahaya. Itu bukanlah sihir yang bisa dihilangkan begitu saja! Aku melihat daya sihir itu bukanlah daya sihir baik, itu adalah daya sihir yang bisa memusnahkan apa saja yang di dekatinya. Area hutan tempat sihir itu muncul sekarang sudah tinggal debu. Semua pohon di situ sudah lenyap, bahkan binatang pun ikut mati. Untuk sekarang perintahkan para warga desa untuk menjauh dari area hutan atau perbatasan desa.” Jelas Acie.


“Baiklah! Kau segera kembali ke rumah sekarang.” Pinta Tuan Dalmar pada Acie.


Acie mengangguki perintah Ayahnya, ia segera bejalan menuju rumahnya. Namun, terlihat wajah para tetua desa dan Basilio yang juga berada di sana masih bingung dengan penjelasan dari Acie barusan.


“Tuan Dalmar, apakah yang dikatakan Putrimu itu benar?” tanya salah satu tetua di sana.


“Benar atau tidak, untuk sekarang kita hanya perlu wasapada terlebih dulu. Basilio! Perintahkan anak buahmu untuk memberitahu warga desa apa yang dikatakan oleh Acie barusan. Segera!” pinta Tuan Dalmar.


“Baik, Tuan.” Sahut Basilio patuh.


Acie tidak mematuhi perintah ayahnya yang menyuruhnya kembali ke rumah. Dia berlari ke arah perbatasan desa. Saat Acie tengah berlari menuju ke perbatasan desa, indera pendegarnya menangkap suara seseorang yang meminta tolong. Acie mempercepat gerakannya, ia mendapati seorang warga desa yang terlihat sangat ketakutan.


“Ada apa?! Kenapa kau berteriak?!” tanya Acie pada warga itu.


“D-di ... di sana ... A-ada yang-ma-ma-mati! Di-dia! Mati di sana!” ucap warga desa itu dengan terbata-bata karna ketakutan.


“Tenanglah! Sekarang kau kembali lah ke desa. Sebelum itu tenangkan dulu dirimu, jangan sampai warga desa yang lain cemas akan hal ini. Bisakah kau berjanji padaku? Jangan katakan ini pada warga desa lainnya. Kau pergilah ke rumahku dan katakan hal ini pada ayahku terlebih dahulu. Kau mengerti?” pinta Acie pada warga itu.


Warga desa itu hanya mengangguki permintaan dari Acie padanya. Setelah warga desa itu beranjak dari sana, Acie segera menuju ke tempat warga desa tadi melihat sosok mayat.


Sesampainya Acie di sana, mata batin Acie melihat objek manusia yang sudah tidak bernyawa dan berwarna hitam, Ini berbeda dengan mayat manusia lainya. Walau manusia sudah tidak bernyawa, mata batin Acie akan melihat warna ungu pada objek tersebut. Hal ini mendadakan saat energi jiwa dari manusia itu hilang ada energi jahat yang ingin menguasai tubuhnya. Tempat mayat itu berada terbilang dekat dengan wilayah perbatasan desa di mana sihir itu muncul.


“Luna! Kau masih di sana?” tanya Acie pada Luna dengan telepati.


“Iya, Tuan.” Sahut Luna.


“Ada mayat di sini! Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya, tapi dia tidak memiliki energi manusia lagi dalam tubuhnya. Apa kau tau kenapa?”


“Tuanku, ini disebabkan oleh energi sihir yang berasal dari pendang itu. Energi sihir yang dikeluarkan oleh pedang itu adalah energi sihir yang dapat menyerap energi dalam tubuh manusia. Pedang ini bukanlah pedang sihir biasa. Dia terus berevolusi dengan menyerap energi manusia sebagai kekuatannya. Tuan! Daya pelindung hamba telah menipis, apa yang harus saya lakukan?i” jelas Luna pada tuannya.


Acie begitu tersentak mendengar penjelasan dari Luna barusan. Dia semakin bingung akan masalah besar itu.


“Apa yang harus ku lakukan ..., jika tidak ini akan sangat membahayakan warga desa.” Gerutu Acie penuh kegelisahan.


“Tuanku ...! ada satu cara untuk menyingkirkan sihir ini, tapi risikonya akan sangat besar.” Jelas Luna pada Acie melalui telepati.


“Katakan padaku!” pinta Acie.


“Pedang ini terus mengeluarkan asap hitam yang menjadi tangan untuk menyerap energi dari makhluk hidup yang disentunya. Asap itu keluar karena pedang tersebut terkurung di dalam tanah yang berongga. Jika hamba memasukkan pedang itu ke dalam mulut hamba dan membuangnya ke dasar laut, mungkin daya sihir pedang itu akan berkurang atau bahkan bisa musnah. Namun, ada satuhal yang harus diwaspadai. Jika pedang itu terlalu lama di dalam tubuh hamba. Dia akan menyerap daya sihir hamba dan berevolusi menjadi makhluk pemusnah jagat raya. Tuanku ... bagaimana keputusan Anda? Apa yang harus saya lakukan?”


Ucapan Luna barusan membuat Acie merasa Dilema. Apakah dia harus mengorbankan sahabat barunya itu yang selalu melindunginya dan setia padanya. Atau dia harus merelakan sihir maut itu memusnahkan seluruh isi Desa Alba tempat ia tumbuh besar. Acie mulai kalut dengan pikirnanya sendiri. Apapun keputusan yang akan diambilnya, maka itu akan menjadi akhir yang tidak bisa ia ulang kembali.


Dengan cepat Acie berlari menuju ke tempat Luna. Mata batinnya melihat sosok luna berbentuk seperti cahaya berwarna kuning emas yang berkilauan. Langkahnya terhenti, seakan dia masih bimbang dengan keputusan yang diambilnya. Namun, waktu adalah yang paling penting. Semakin lama dia berpikir, maka akan semakin banyak korban yang berjatuhan nantinya.


“Luna, maafkan aku. Aku harus membuatmu seperti ini. A-aku tidak tau harus melakukan apa. U-untuk kali ini ... bantulah aku, LUNA! Biarkan lah aku menolong orang-orang yang telah menerima dan mengasuhku dengan kasih sayang.” ucap Acie dengan suara yang tertekan.


“Tuanku, perintah Anda adalah kewajiban bagi hamba. Melindungi Anda adalah hidup hamba. Melindungi orang yang Anda cintai adalah Tugas hamba. Serahkan semua ini pada hamba.” Jelas Luna.


“Tidak! Kau tidak akan sendiri. Aku akan bersamamu!” tukas Acie penuh keyakinan.


“Tapi Tuanku! Ini sangat berbahaya.” bantah Luna.


“Kau juga harus percaya pada Tuan mu kan?!”


“Baik, Tuanku. Sesuai keinginan Anda.” Putus Luna yang tidak bisa melawan tuannya.


Apa yang akan terjadi dengan Acie dan Luna? Akankah mereka sanggup mehanan sihir terkutuk itu?


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2