THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu

THE QUEEN WAS BORN Terlahirnya Sang Ratu
Bab 10 Hari Pembantaian


__ADS_3

“Ibu ....” rengek seorang anak kecil yang tengah berjalan di samping ibunya.


“Ayo Nak ... sebentar lagi kita sampai ...” ujar sang ibu pada anaknya.


Dengan langkah cepat para wanita, anak-anak, dan orang tua di Desa Alba berjalan di tengah hutan berburu yang diselimuti kabut yang tebal. Mereka terus berjalan mengikuti langkah Acie dan Ciero yang berjalan di depan mereka. langit sama sekali tidak memberikan sedikit cahaya untuk mereka.


“Sebentar lagi kita sampai ...! jangan ada yang tertinggal! berjalanlah lebih cepat ...!” seru Ciero kepada para warga desa yang sudah terlihat lelah karena telah berjalan selama satu jam.


Tujuan mereka kali ini menuju ke sebuah rumah kecil yang terletak di area dalam hutan berburu. Di sana merupakan tempat persembunyian para buronan saat dulu mereka bersembunyi dari kejaran pengawal istana. Jarak mereka berkisar 1 kilometer dengan rumah kecil itu.


Acie terlihat sangat khawatir, hatinya terus saja tidak tenang memikirkan ayahnya yang berada di desa. Acie kembali teringat hal yang dikatakan oleh ayahnya semalam.


“Nak ... dengarkan Ayah baik-baik, besok saat fajar sudah mulai keluar, ajak semua wanita, anak-anak, dan orang tua desa kita pergi ke hutan berburu. Masuklah ke dalam hutan itu, pergilah kearah selatan. Sekitar 1 kilometer dari hutan ada sebuah rumah kecil di sana. Ada pohon apel kecil di dekat rumah itu. Pergilah bersama mereka ke sana. Dan lindungilah mereka baik-baik, Ayah percaya padamu.” Pinta Tuan Dalmar pada putrinya itu.


“Tapi ... kenapa Ayah?!” tanya Acie dengan wajah bingung.


“Nak ... tidak ada jaminan para pengawal itu tidak melakukan apapun pada desa ini. Jadi, Ayah ingin kau bisa menjaga mereka. satu hal lagi Nak, jika keadaan sudah aman, Ayah akan mengirim Basilio atau Sol ke tempat kalian. Sebelum mereka sampai ke tempat kalian berada, jangan pernah kembali ke desa. Kau mengerti ...?”


Terlihat rasa ragu dari raut wajah Acie, rasanya dia tidak ingin meninggalkan ayahnya.


“Baiklah, aku mengerti.” Sahut Acie dengan lirih.


“Bagus,” ucap Tuan Dalmar dan mengusap pelan kepala putrinya.


Mengingat perkataan ayahnya itu, Acie seakan tidak bisa melakukan apa-apa selain melindungi para warga desa yang tengah berjalan bersamanya itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengecewakan kepercayaan ayahnya.


Suara derap kuda semakin jelas terdengar di telinga Tuan Dalmar dan para penduduk desa Alba lainnya. Kini takdir yang akan menentukan jalan kehidupan Desa Alba. Akankah berakhir hari ini atau selamat hari ini.



Terlihat anak buah Basilio yang bertugas memantau keadaan digunung berlari kearah desa dengan tergesa-gesa. Segera Tuan Dalmar menghampirinya.



“Ada apa?” tanya Tuan Dalmar.



“Tuan ...! para pengawal itu sudah semakin dekat dengan desa. Sekitar tiga puluh menit lagi mereka akan sampai ke desa ini.” Jelas bandit itu.



“Baiklah, perintahkan yang berjaga di sana segera kembali ke sini.” Pinta Tuan Dalmar.



“Baik, Tuan.” Sahut bandit itu dan segera berlari kembali kearah gunung tempat mereka berjaga.



Rasa cemas kian mendera para kaum pria Desa Alba. Namun, mereka harus tetap tenang jika ingin selamat.



Seorang warga datang menghampiri Tuan Dalmar yang berada di balai desa.



“Tuan, bagaimana jika mereka menyerang kita?” tanyanya dengan cemas.



“Tidak perlu khawatir, kita bisa melawannya.” Ucap Tuan Dalmar penuh keyakinan.



Warga tersebut terlihat lebih tenang, mereka bisa memercayai pemimpinnya itu. Jika Tuan Dalmar berkata seperti itu, maka mereka tidak perlu khawatir.



Suara derap kuda para pengawal istana itu semakin dekat dengan arah gerbang Desa Alba. Para warga dan para bandit mulai semakin cemas. Mereka bukanlah para pengawal biasa, mereka adalah para kesatria tangguh Kerajaan Emerald.



Rasa tegang mulai membanjiri para warga desa. Suara derap kuda itu tiba-tiba tidak terdengar lagi. Dan sesaat kemudian puluhan anak panah api meluncur dari balik gerbang hingga mengenai rumah para warga. Semua panik melihat situasi itu.



“Semuanya ...!!!! Menjauh dari gerbang desa ....!!!!!” seru Tuan Dalmar.



Seluruh warga berlari menjauh dari gerbang desa. Satu persatu rumah mereka hangus terbakar. Suara dentuman keras terdengar dari arah gerbang desa. Para pengawal itu menghancurkan gerbang Desa Alba hanya dengan sekali hantaman. Semua pengawal itu masuk ke desa dengan hawa membunuh.



“Dimana Kalian sembunyikan pengkhianat itu ...!!!?!” seru seorang pria bertubuh besar dengan mengenakan zirah besi di tubuhnya.



“Cepat bawa kemari sebelum kami hancurkan desa kalian ...!!!”



Tuan Dalmar mencoba melangkah mendekati para pengawal bertubuh besar itu. Ia mencoba untuk bersikap tenang walaupun emosinya sudah memuncak melihat mereka membakar desanya.



“Tenanglah Tuan ... apa yang sebenarnya Anda inginkan,” ujar Tuan Dalmar mencoba menahan emosinya.



“Tidak ada waktu untuk bernegosiasi! Serahkan pengkhianat itu jika kalian tidak ingin mati ...!” seru pria yang bertunbuh besar satunya lagi dengan wajah penuh amarah.



“Baiklah, jika kalian menginginkan hal ini, maka kami juga tidak akan diam melihat desa kami dihancurkan oleh kalian ...!” ujar Tuan Dalmar dengan wajah serius.

__ADS_1



Dalam sekejap semua anak buah Basilio yang berjumlah sekitar dua puluh orang mengepung para pengawal berkuda itu. Para warga desa juga ikut berkumpul di sana.



Masing-masing memiliki senjata ditangannya. Mereka sudah siap bertempur. Sorotan mata mereka memancarkan kekuatan dan keyakinan yang sangat besar. Tidak akan mereka biarkan desa yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka, tempat anak-anak mereka tumbuh, tempat mereka tertawa dan bahagia, dihancurkan oleh para manusia kejam seperti mereka. Dengan nyawa, mereka akan melindungi desa yang telah mereka bangun dengan air mata dan darah yang bercucuran.



“SERANG ....!!!!!” seru Tuan Dalmar dengan suara yang lantang.



“HYAAAAAAAAKKK .....!!!!!!!!”



“Bunuh mereka semua!” perintah pria besar itu pada para rekannya.



Suara dentingan pedang terdengar nyaring di telinga. Warga desa Alba terus menyerang para pengawal kerajaan dengan sekuat tenaga.  Mereka tidak ingin membiarkan  siapapun menghancurkan apa yang menjadi milik mereka. Seakan tak mau kalah,  para pengawal kerajaan itu terus saja mengepung habis-habisan warga desa Alba. Dengan wajah yang angkuh para pengawal itu seakan meremehkan  keberadaan warga desa tersebut.  Namun,  melihat semangat yang membara di dalam sorotan mata Tuan Dalmar membuat warga desa Alba tidak ingin menyerah kepada pengawal-pengawal itu.



Para pengawal kerajaan itu terus saja menyerang satu persatu warga desa yang sudah terlihat sangat kelelahan disertai darah yang bercucuran dari tubuh mereka karna sayatan pedang tajam yang mengenai tubuh mereka. Dengan pedang yang mulai menumpul mereka terus mengayunkan pedang tersebut kearah pengawal itu dengan harapan pengawal itu jatuh tertunduk di hadapan mereka.  Namun, apa daya mereka yang hanya memiliki sedikit kekuatan untuk mempertahankan hidup yang  singkat.



“HYAAAAAAKKKK......!!!! TERUS BERGERAK ...! KERAHKAN SELURUH KEKUATAN YANG KALIAN PUNYA ...!!! BUAT MEREKA PERGI DARI DESA KITA! TIDAK ADA SIAPAPUN YANG BOLEH MEREBUT KAMPUNG KELAHIRAN KITA! TEMPAT ANAK-ANAK KITA TUMBUH! TEMPAT KITA MENUAI ASA! TEMPAT KITA MENJAJAKAN KAKI! TEMPAT KITA TERSENYUM DAN TERTAWA! TERUS BERJUANG SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN ...!!! HYAAAAAAKKKKK....!!!!! “



suara lantang Tuan Dalmar menembus ke otak dan jantung para warga desa, bagaikan sengatan listrik yang amat kuat mengalir ke dalam tubuh mereka yang mulai rapuh. Kata-kata itu menancap tepat di hati dan jiwa mereka. Walau nyawa sudah berada di ubun-ubun, mereka tetap bergerak maju, mereka tetap merangkak ke depan, mereka terus mengahayunkan pedang tumpul itu.



“TIDAK ADA YANG BOLEH MENGUSIK TEMPAT KELAHIRAN KAMI ...!!! TIDAK ADA YANG BOLEH MENGHANCURKAN MASA DEPAN ANAK-ANAK KAMI ...!!! HYAAAAKK....!!!!”


Suara serak sosok pria tua yang tengah berjuang untuk berdiri dengan kakinya yang telah putus, tidak ada rasa putus asa yang terpancar dari sorotan matanya, seakan harapan masih bersinar di hadapannya.



Terlihat wajah kesal dari pemimpin para pengawal itu mendengar teriakan dari warga desa Alba.



“DIAM...!!! DIAM KALIAN PARA MANUSIA SAMPAH! MATILAH KALIAN SEMUA ...!!!”



Satu persatu korban berjatuhan, anak buah Basilio pun banyak yang telah gugur.  Tuan Dalmar semakin dilanda kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam.  Dia Sempat berpikir apa yang bisa dilakukannya saat ini, Jika dia  tidak bisa menghentikan  para pengawal itu bisa saja warga desa Alba akan terbunuh semuanya.  Melihat ayahnya yang sangat tampak khawatir, Chaezar   mendekati Tuan Dalmar dengan sebilah pedang di tangan kanannya.




“Ayah tidak bisa mengatakan apapun  sekarang,  tapi kita tidak bisa mundur anakku, Jika saja kita mundur maka itu akan sia-sia, mereka tidak akan melepaskan kita, mereka juga akan menangkap para wanita yang sudah bersembunyi di dalam hutan.  Chaezar, kita akan berjuang di sini, mati atau tidak Kita harus tetap melawan semampu kita, Kau mengerti?”  seru sang ayah dengan penuh keyakinan.



“ Baiklah,  sesuai perintah  Ayah.” Putus chezar.



Cemas, khawatir, takut memenuhi bola mata para wanita dan anak-anak yang kini tengah bersembunyi di sebuah gubuk kecil di dalam hutan yang lebat. Mereka gemetar memikirkan nasip apa yang akan menjeput mereka kali ini. Air mata mereka mengalir memikirkan sosok suami, sosok ayah, sosok kakak yang kini tengah berjuang di ratusan meter sana. Akankah mereka dapat berkumpul bersama lagi, akankah mereka dapat berpelukan lagi. Saling tertawa bersama lagi, memakan makanan yang sama lagi. Otak mereka terus berputar seakan mengalir berirama dengan detakan jantung mereka yang semakin mengencang.


Dengan diam Acie berdiri di depan pintu gubuk kayu itu. Dia terus saja kepikiran dengan ayah dan kakak laki-lakinya yang kini tidak kunjung muncul sedangkan waktu sudah lewat dari dua jam.


“Ayah ...” gumam Acie penuh lirih.


Melihat adiknya yang berdiri tegak di depan pintu sejak satu jam yang lalu, Ciero bangun dari duduknya berjalan menghampiri Acie.


“Acie, masuklah ... untuk apa kau berdiri disini?” pinta Ciero dengan wajah khawatir.


“Aku tidak bisa tenang di dalam Kak, rasanya ingin sekali aku berlari ke desa sekarang.”


“Jangan macam-macam Acie! Ayah sudah meminta kita untuk tetap di sini. Kita tidak bisa kembali ke desa sekarang.” Bantah Ciero.


“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Kak?! Aku sangat khawatir, aku tidak bisa tenang sama sekali. Bahkan Basilio pun belum kemari sampai sekarang. Pasti terjadi sesuatu di sana Kak ...” ujar Acie dengan penuh kekhawatiran.


“Sudahlah Acie, kita hanya akan menjadi beban jika kita kembali ke desa sekarang. Kita juga tidak bisa membahayakan nyawa mereka.” Ciero menunjukkan jari telunjuknya kearah gubuk. “Ingat! Ayah sudah memintamu untuk tetap di sini bersama dengan kami.” Ciero dengan kuat memegang kedua bahu adiknya.


Acie terdiam, tidak ada yang bisa ia katakan sekarang. Benar saja kalau ayahnya miminta Acie menjaga para wanita dan anak-anak tetap berada di dalam hutan sampai Basillio ataupun warga desa lain menjeput mereka. namun, sanggupkah Acie menahan dirinya? Ataukah dia harus memenuhi hasratnya untuk kembali ke desa.


Matahari kini mulai menguning di langit, suara binatang malam mulai bersautan di dalam hutan yang lebat. Terlihat para anak-anak sudah mulai terlelap satu persatu dalam pelukan ibu dan saudaranya. Acie semakin gelisah, dia mulai mondar-mandir di depan gubuk kayu itu.


“Kenapa tidak ada satupun yang kemari? Kenapa bisa selama ini? Apa yang sudah terjadi di sana?” gumam Acie dengan penuh kekhawatiran.


Acie memutuskan untuk kembali ke desa, saat hendak dia melangkah Ciero menahan tangan Acie dengan kuat.


“Kau mau kemana?!” tanya Ciero.


“Aku akan kembali ke desa Kak,”


“Tidak! Kau tidak boleh kemana-mana.”


“Aku harus pergi Kak, aku harus kembali ke desa sekarang Kak!”


“Baiklah, setelah ke sana kau mau apa? Kau mau melawan mereka?! kau ingin memberikan nyawamu pada mereka?! HAH?!”


“Ya, aku akan melawan mereka. Aku ... aku akan menghancurkan mereka, aku akan_”


“BODOH! Kau pikir kau siapa bisa melawan mereka?! kau hanya anak kecil! Kau bahkan belum tau apapun tentang dunia ini ... kau tidak bisa melawan mereka Acie! SADARLAH!”


“Ya... aku rasa ... aku memang bodoh Kak, tapi! LEBIH BAIK AKU BODOH DARIPADA KEHILANGAN KELUARGAKU!” Acie melepaskan tangannya dari Ciero dan berlari dengan cepat ke dalam hutan.

__ADS_1


“ACIE ...! ACIE ... BERHENTI ...!!! ACIE!”


Ciero benar-benar buntu mengahadapi adik perempuanya yang keras kepala itu. Ciero terjatuh terduduk di tanah yang dingin.


“Acie ...” gumam Ciero dengan suara yang gemetar.


Dengan cekatan Acie berlari di dalam hutan yang di penuhi oleh pepohonan yang besar dan terjal. Seakan tidak ada yang bisa menghalangi jalannya saat ini.


Dia memfokuskan seluruh indranya untuk mempermudah jalannya menuju desa yang sudah semakin dekat. Dia buta, tidak bisa melihat, tapi kepekaan dan instingnya lebih sempurna dibandingkan manusia lainnya.


“Sebentar lagi aku sampai, ayah ... kakak ... aku akan segera menemui kalian.” Gumam Acie dalam hati.


Gadis itu terus berlari, kakinya terus bergerak dan melompat. Jarak ratusan meter seakan tak jadi halangan baginya. Hasratnya terus menekan otaknya. Namun, tubuhnya terhenti seketika saat mata batinnya melihat gumpalan cahaya biru yang melambai-lambai ke langit. Hawa panas yang luar biasa menyelimuti tubuhnya.


“A ... Api?!”


Acie yang terhenti di perbatasan desa, tepatnya di pos penjagaan di dekat hutan berburu, perlahan berjalan mendekati desanya yang kini terlihat seperti lautan api. Seluruh rumah telah terbakar, tidak ada yang bisa di selamatkan.


DEG!


Tubuh gadis itu membeku saat mata batinnya melihat puluhan jiwa yang berwarna ungu terkapar di tanah yang dibasahi darah. Dia terus bergerak dengan tubuh yang kaku dan gemetar. Hawa panas dari api yang membara tak bisa membuatnya berhenti melangkah ke depan.


“A-Ayah ... AYAH! AYAH KAU DIMANA?! KAKAK ... KAKAK JAWAB AKU!” Acie terus melangkah bergerak ke sana ke mari.


“PAMAN...! PAMAN BASILLIO ...! KENAPA KALIAN DIAM SAJA?! KENAPA TIDAK ADA YANG MENYAHUTKU ...?! Ayah kau dimana?! Kakak ... kakak jawab aku kak ...!”


Acie tak bisa mendapatkan keberadaan ayah dan kakak laki-lakinya. Semua jiwa terlihat sama, semua berwarna ungu yang menandakan warna itu keluar dari tubuh seseroang yang telah kehilangan nyawanya.


Tubuh Acie mulai gemetar, nafasnya mulai sesak karna asap yang kian menebal. Namun, dia terus memilah satu persatu mayat yang tergeletak di tanah dengan harapan dia menemukan sosok yang di carinya.


“Ayah ... Ayah ... hiks ... Ayah ... kumohon ... hiks ..., ”


Acie terduduk di tanah, harapannya itu tak kunjung sampai. Dia tidak bisa menemukan ayah dan juga kakak laki-lakinya. Tubuhnya semakin melemah, nafasnya sudah tidak teratur. Namun, dia tetap menompang tubuhnya untuk bergerak, dia terus mencari, tapi mata batinya belum bisa menemukan sang ayah dalam kerumunan api yang semakin membesar.


Sejak Acie berumur satu tahun, dia sudah bisa membedakan sosok ayahnya dari sekian banyak warga Desa Alba. Bukan karena perbedaan suara, tapi jiwa dan hati Acie sudah sangat mengenal sosok pahlawannya itu, sosok penyelamatnya itu, sosok pemberiharapan dalam hidupnya itu.


Bahkan Acie dapat menemukan sosok ayahnya walaupun tengah berada dalam kerumunan orang. Ikatan batin mereka sangat kuat, bahkan lebih kuat dari baja sekalipun. Acie sudah sangat mengenal keluarga kecilnya itu. Entah ini sebuah kelebihan ataukah keajaiban yang diberikan sang pencipta untuknya. Selain dengan mengandalkan indra pendengarnya sebagai pembeda antara satu orang dengan orang yang lainnya, Acie juga dapat membedakan setiap makhluk di bumi dengan indra penciuman dan perasanya.


Langit kian menggelap, matahari sudah tak meninggalkan jejak di angkasa. Malam yang dingin sama sekali tidak terasa kali ini. Api itu terus membara melahap setiap puing yang disentuhnya. Acie sama sekali tidak berhenti bergerak, dia terus mencari dan mencari keberadaan ayah dan kakak laki-lakinya.


Cairan merah nan lengket itu terus saja tercium oleh Acie di setiap dia menyentuh sosok tubuh yang telah tak bernyawa itu.


Satu persatu butiran air jatuh ke bumi, perlahan-lahan semakin banyak dan semakin banyak hingga membasahi bumi. Api besar itu perlahan meredup dilenyapkan oleh air langit. Tubuh Acie mulai basah, tenaganya sudah terkuras habis, seketika dia terjatuh tertunduk ke tanah yang basah. Terlihat sorotan mata yang penuh harapan kini berubah menjadi kelam tanpa cahaya.


Acie menjatuhkan kepalanya ke tanah, “Kenapa ... kenapa ini bisa terjadi... kenapa ... semua orang tak ada yang memanggil namaku, kenapa kalian diam saja ... hiks ... tidak ada yang menjawabku, semua orang tidak bicara disini ... hiks ... AYAH ...!!! KAKAK ...!!! hiks hiks hiks ...”


“Acie ...”


Acie menghentikan tangisnya ketika mendengar seseorang menyebut namanya. Dia segera mengangkat kepalanya dan melihat kesekeliling. Dia mencoba kembali memfokuskan mata batinnya kesekeliling desa yang sudah terlihat seperti tumpukan kayu yang telah hangus terbakar.


“Siapa?!”


“Acie ...”


Telinganya kembali menangkap suara samar itu, tapi dia seperti sangat mengenal sosok suara itu.


“K ... Kakak?! Kak Chaezar ... itu kakak kan?! Jawab kak! Kakak dimana?!”


“Di belakang mu ...”


Acie segera membalikkan tubuhnya, dia memfokuskan indra batinnya kearah reruntuhan rumah salah seorang warga yang tidak terlalu di dimakan habis oleh api. Dia tersentak saat mata batinnya menangkap sebuah cahaya berwarna merah terang di balik reruntuhan itu. Dengan segera Acie berlari menuju ke sana.


“Acie ... kenapa kau disini?” tanya Chaezar dengan suara yang bergetar menahan sakit dari luka tusukan di paha kanannya.


“K- kakak ...? apa yang terjadi?! kenapa kakak duduk sendirian di sini? Dan ... kenapa banyak sekali mayat di sana? Apa yang terjadi kak?!”


“Semua sudah berakhir Acie, semua ... sudah hancur sekarang. Tidak ada lagi yang tersisa, mereka telah merengut semua milik kita. Me ... mereka membakar semuanya, mereka membunuh semuanya, semua sudah berakhir ... hiks ... semua sudah berakhir ... semua__”


“Apa yang kakak katakan?! Apanya yang berakhir ...! di mana Ayah?! Dimana dia sekarang?! Kenapa dia tidak di sini ...! kenapa dia meninggalkan desa seperti ini?! Kemana dia KAK! Hiks ... katakan padaku dimana AYAH!”


Tubuh Acie gemetar menunggu jawabah dari sang kakak yang hanya bungkam tanpa kata.


“Baiklah ... jika kakak tidak ingin mengatakannya pada ku, aku akan mencarinya sendiri.” Acie berdiri tegak dihadapan Chaezar dan berjalan menjauhinya.


“Hentikan Acie ... kau tidak akan bisa bertemu dengan Ayah lagi ...” ucap Chaezar dengan wajah putus asa.


Acie menghentikan langkahnya, “Apa maksud kakak? Kenapa aku tidak bisa bertemu dengan Ayah lagi ...?” sahut Acie dengan wajah tidak percaya.


“Dia sudah pergi jauh Acie ... sangat jauh ...”


“Aku tidak paham dengan perkataan Kakak ...! katakan dengan jelas pada ku! Ke mana sebenarnya Ayah pergi ?!” ucap Acie dengan kesal.


“Mereka membawa Ayah pergi,”


“Mereka siapa?!”


“Para pengawal istana itu membawa Ayah pergi bersama mereka.” jawab Chaezar dengan putus asa,


“Aku tidak bisa menolong Ayah ... AKU TIDAK BISA MENGHENTIKAN MEREKA ...! hiks .... Aaaaaaakh .... sialan!” Chaezar terisak amat dalam.


Acie mendekati sang kakak yang tengah dipenuhi dengan keputus asaan. Dia membenamkan kepala Chaezar dalam pelukannya.


“Berhentilah menangis Kak ... Ayah pasti baik-baik saja. Jika Kakak terus seperti ini, siapa yang akan mendukung warga desa ini. Semuanya belum berakhir Kak... kita akan mengulang semuanya dari awal, kita akan mengembalikan desa kita seperti dulu... kakak harus tegar, jika kakak selemah ini bagaimana dengan kami? Kak ... jadilah penompang bagi warga desa kita yang masih tersisa. Kakak tidak sendiri... aku di sini besama kakak.” Acie mendekap kuat sang kakak ke dalam pelukannya yang hangat.


Bagi Acie rasa sakit yang kini telah merambat keseluruh tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh kakak laki-lakinya itu. Dia harus lebih tegar, tidak ada yang akan menompangnya sekarang selain dirinya sendiri.


Saat pagi tiba, para wanita, orang tua dan anak-anak yang bersembunyi di hutan telah kembali ke desa. Walau diselimuti oleh luka yang amat dalam, mereka tetap berjalan ke depan. Terlihat wajah bungkam dari para wanita itu. Mereka telah kehilangan ayahnya, suaminya, anaknya, saudaranya karena manusia biadab itu. Mereka membantai semua warga Desa Alba kecuali mereka yang bersembunyi di hutan. Kini mereka hanya bisa menerima takdir yang telah merengut segalanya dari hidup mereka yang singkat.


Namun, mereka tidak bisa terus terpuruk. Mereka harus tetap bangkit walaupun terasa amat sulit. Mereka harus tetap hidup demi mengenang jasa orang yang mereka kasihi. Mereka harus tetap berjuang untuk anak-anak mereka di masa depan.


Acie berdiri tegak di depan rumahnya yang telah terbakar, dia mengangkat kepalanya menghadap langit biru,


“Ayah ... matahari sepertinya sangat terang hari ini, terasa begitu hangat. Ayah ... tunggu aku untuk menjeputmu kembali.” Gumam Acie dalam hati.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2